Perihal Puisi Dan Jodoh - Puisi Sayap - Jadi Peluru - Pohon Sunyi - Empu Hening | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 16 Maret 2015

Perihal Puisi Dan Jodoh - Puisi Sayap - Jadi Peluru - Pohon Sunyi - Empu Hening


Perihal Puisi Dan Jodoh

Bagi Ulfatin Ch

Daun-daun kering
Debu-debu terbang tak berumah
Di tengah rima melodi puisi
Hijau segar sejuk membasah

Engkau berjodoh dengan puisi
Di tengah ruas ruas yang berlari
Mengeja huruf dan baik baik sunyi
Seluruh hidup puisi tak henti henti

Yang mendekap senyummu berhari hari
Yang mereguk kopi malam sunyi
Yang kau hantar doa di malam sepi
Yang pelihara kicau kacer dan nuri

Di rumah bathin terdalam
Itulah puisi abadimu
Hingga rambut memutih beruban
Menyatu dalam nafas siang malam

Mengasah anak sambil bersajak
Pada puisi mengabdi
Bersatu langkah mengeja hari
Bersatu kiblat hingga membumi

Pituruh Purworejo, Agustus 2014

Puisi Sayap

Bagi Dorothea

Bertandang, rumah terkunci
Terakhir surat post card kau kirim
Ada di rotersdam

Seperti meledek keheningan
Di ruang bathinku terdalam
Wajah jawamu, diantara bule jiran

Puisi puisi itu berubah
Menjadi sayap
Kau pun terbang tanpa hinggap

Tiba tiba kau e-tag foto
Baid sajakmu mengepak di jerman
Di festival puisi penyair pilihan

Engkau masih tetap jawab,sederhana
Di sorot matanya menyimpan
Pengunungan menoreh.

Serta senyum bukit tidar
Yang memancar.
Disitulah rahim puisimu berawal.

Pituruh, Purworejo Agustus 2014

Jadi Peluru

Bagi Wiji Thukul

Menjadi suratan sudah
Jadi misiu

Pelatuk jiwa sajakmu
Melesat membidik sesuatu

Mengarah yang nanah
Menusuk yang busuk

Tapi terlalu mahal
Sekali dalam lesatanmu

Berkali setiap ledakanmu
Tak kutemukan

Dimana selongsong tubuh itu.
Hilang!
Jogjakarta, Agustus 2014

Pohon Sunyi

Bagi Triyanto Triwikromo

Hidup pohon berasal dari biji
Hati yang lebat buah itu
Semestinya terbentang, rindang

Seperti laut hamparan samudra
Yang siapapun mencebur
Di kedalamannya

Tapi, adakah mereka bersalah
Jika ingin merasa punya ?
Kaulah pohon sunyi itu.

Tumbuh besar di halaman rumah jawa
Tak berukur tingginya
Berbuah saja,aduhai melodiusnya

Pituruh, Purworejo, Agustus 2014

Empu Hening

Bagi Iman Budi Santosa

Air laut tak tidur oleh ombak
Seperti keris meliuk dalam luk
Hidup laksana dibakar tungku
Membara memanggang baja

Setiap keris memiliki riwayat tubuh
Langit tempat berumahnya awan
Tempat bulan bersandar
Tempat bintang bertebaran.

Engkaulah langit itu
Engkaulah tungku itu
Engkau juga laut muaranya ikan ikan
Langit pemberi keluasan purnama bulan.

Yang menyebarkan biji biji puisi
Bergayutnya awan yang bersajak
Dan engkaulah langit teduh itu
Empu hening di ketinggian langit biru

Jogjakarta, Agusus 2014


*) Sumanang Tirtasujana, tahun 1987.  Aktivis di Kelompok Sastra Pendapa (Ksp) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Sejumlah antologi puisi nasional dan daerah telah menampung puisi puisinya. Puisinya dimuat di sejumlah media. Sesekali menulis esai dan lakon teater. Kini tinggal di Pituruh Purworejo. Sembari terus setia dengan dunia pilihannya. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sumanang Tirtasujana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 15 Maret 2015



Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi