Hujan Batu di Samalanga ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 12 Mei 2015

Hujan Batu di Samalanga


JIKA terjadi hujan batu maka kau akan kaya. Itu mitos diyakini oleh pemalas yang kerjanya duduk berjam-jam di kedai kopi. Di Samalanga, duduk di warung kopi sudah menjadi budaya yang mendarah daging. Bukan hanya di sana saja, itu sudah menjadi kebiasaan pria bersarung Aceh. Konon kedai kopi terbanyak di dunia ada di Tanah Rencong. Benar-benar memalukan. Kenapa bukan kopi Aceh saja yang terkenal? Kopi tubruk yang disajikan dengan gelas terbalik di atas sebuah piring kecil.

Kenapa pria Aceh minum kopi di piring kecil atau ceper? Konon katanya pria-pria Aceh berhidung mancung, jadi kalau minum dari gelas, hidungnya akan menahan mulut gelas. Ini omong kosong lainnya yang sering dibincangkan warga. Mengukuhkan opini bahwa pria Aceh memang gemar berada di warung kopi.

Tapi tidak bagi Matnasit. Tidak ada uang yang diturunkan dari langit. Semuanya harus diusahakan. Tuhan tidak akan berbelas kasihan dengan orang yang duduk sehari semalam sembari berdoa, ‘’Ya Gani... Ya Gani, Neubi peng saboh guni.’’ Dan uang juga tidak turun untuk pria-pria yang mendiskusikan klub sepak bola La Liga di kedai kopi.

Matnasit juga bukan tipe orang yang tidak menyakini Tuhan. Menurutnya Tuhan tidak ada untuk pemalas. Samalanga sudah lama dikenal sebagai kota pesantren. Dan lelaki berpostur tinggi itu jebolan salah satu pesantren. Sangat naif jika memvonis dia tidak percaya pada kekuatan doa. Hanya saja menurutnya, berdoa lima kali saja, selanjutnya adalah usaha. Matnasit mempraktikkannya dengan menggarap 10 rante sawah, memelihara dua puluh ekor sapi, sepuluh ekor kerbau dan tiga puluh ekor kambing. Dia menitipkan hewan piaraannya pada beberapa penduduk desa. Berbagi rezeki merupakan cara lain untuk menambah harta sudah lama diyakini lelaki berputra dua itu. Tapi
kalau pemelihara ternaknya terlalu sering terlihat di kedai-kedai kopi, dia tak ragu-ragu untuk mengambil kembali ternaknya dan memberikan kepada orang lain. Pemalas tak patut dikasihani.

Selain itu, Matnasit juga membeli pinang pada petani di luar kota, kemudian mengirimnya ke Medan. Dari mampu membeli satu karung pinang, bertambah menjadi dua karung dan seterusnya. Dia sangat pintar berimprovisasi dalam bisnis. Kini lelaki itu sudah mampu mengirimkan bertruk-truk pinang setiap bulannya ke Medan. Dan orang-orang mulai memanggilnya Touke Matnasit, sang juragan pinang Samalanga yang anti-kedai kopi.

***
SEBENARNYA Touke Matnasit tidak anti-kedai kopi. Itu bisa menjadi salah satu aset warga untuk berbisnis. Dia hanya tidak menyukai pemalas yang nongkrong berjam-jam di warung kopi. Dari membicarakan politik versi kedai kopi sampai menggosipkan istri tetangga. Terkadang mulut lelaki-lelaki itu lebih perempuan dari orang-orang berkerudung. Dia anti yang begituan, bukan anti pada kopi. Buktinya pagi ini Touke Matnasit sedang menghirup kopi tubruk Aceh yang disajikan sang istri tercinta.

Telinga Touke Matnasit mendengar suara-suara aneh yang berjatuhan di atap rumah. Dia meletakkan ceper kecil dan gelas kopinya ke atas meja. Siapa yang melempar atap rumahnya. Apa Bang Rasyip yang kerbaunya ditarik balik itu mengamuk?

Sejujurnya dia tak tega mengambil kerbaunya dari Bang Rasyip. Lelaki itu sangat miskin. Bang Rasyip dan keluarganya menempati sebuah gubuk beratapkan rumbia dan berdinding Bleut, daun kelapa yang dijalin sedemikian rupa. Gubuk itu dibangun di atas tanah wakaf warga. Yang menyedihkan lagi Bang Rasyip memiliki lima orang anak yang harus dihidupi. Touke Matnasit berang saat mendapat laporan bahwa lelaki miskin itu lebih mengenal kedai kopi dari pada anak perempuannya. Sanggup menghabiskan waktu seharian menyimak dan mencermati isu terkini khas omong kosong kedai kopi. Tidak peduli pada bininya yang kebingungan mau masak apa untuk anak-anak di rumah. Touke Matnasit menarik kerbau dari peliharaan Bang Rasyip sebagai bentuk teguran.
Kalau Bang Rasyip datang untuk meminta maaf dan berjanji akan berubah, dia akan memberikan kerbau itu kembali. Tapi Bang Rasyip telah pendek akal dan menjadi gila.

***
BATU-BATU terus berjatuhan di atap rumah. Bahkan semakin terdengar mengerikan. Interval jatuhnya batu semakin cepat. Ini tidak dilakukan oleh satu orang. Wajah-wajah mereka, pemalas penggarap yang pernah ditarik kembali sapi, kerbau atau tanah sawah muncul silih berganti dalam benak Touke Matnasit. Mungkihkan mereka berkomplot? Ini berubah mengerikan. 

Touke Matnasit memanggil istrinya. Hening, tidak ada jawaban. Lalu lelaki itu beringsut bangun dan berjalan cepat ke arah pintu depan. Dia ingin memastikan siapa yang melempari rumahnya, dan memberikan pelajaran pada orang itu. Kalau perlu diseret ke kantor polisi. Karena terburu-buru dia tak sempat menghindar ketika sebuah tubuh meluncur cepat dari arah berlawanan.

‘’Umi?’’ Matnasit menabrak istrinya yang terlihat sangat syok, ‘’Umi, kenapa? Siapa yang melempar atap rumah kita?’’ Matnasit menggoncang-goncang tubuh istrinya.

Perempuan berkerudung lebar itu belum bisa berkata-kata, dia menunjuknunjuk ke arah pintu. Pandangan Matnasih beralih ke pintu depan. Hatinya menebak-nebak apakah pelempar rumahnya membawa senjata. Apa itu memang Bang Rasyip?

‘’Tidak ada pelempar. Hu-hu-hujan batu,’’ jawab istrinya terbata.

Touke Matnasit melepaskan tangan dari wanita itu. Secepat yang dia bisa, dia menuju pintu. Tangannya terlihat bergetar saat menyentuh gagang pintu. Kemudian ditariknya benda tersebut dengan seribu satu perasaan berkecamuk di dada.

Pintu terbuka lebar. Touke Matnasit tak ingin percaya dengan penglihatannya. Batu-batu berukuran sebesar kelereng berjatuhan di depan rumah. Dan tidak ada seorang pun yang melemparkan benda tersebut. Batu-batu itu seperti dimuntahkan dari langit dengan teratur.

Tuhan! Apakah ini pertanda kiamat? Berapa lama atap rumah di desanya mampu menahan batu-batu itu? Jika hujan batu ini tak berhenti. Atap rumah akan runtuh dan batu-batu akan mengenai kepala pemiliknya. Desanya akan berubah menjadi kuburan yang mengerikan. Mayat-mayat dengan kepala hancur bergelimpangan. Atau jika hujan batu berlangsung lebih lama, mayat akan terkubur selamanya. Menjadi artefak yang akan digali cerdik pandai di masa depan. 

Touke Matnasik semakin terkesima ketika melihat ke halaman rumah. Batu-batu berwarna, hijau, merah, cokelat, putih, ungu, kuning terus berjatuhan. Cahaya matahari yang mengenai batu
memantulkan kilau indah. Tak henti mulutnya menyebut nama Tuhan. Mungkinkah doa-doa, ‘’Ya Gani, neubi peng saboh guni. Ya Tuhan, beri kami segoni uang, menjadi mustajab? 

Sebait mitos kuno, jika terjadi hujan batu maka kau akan kaya, menari-nari dalam pikiran Touke Matnasit.

***
SETELAH dihujani batu tak lebih dari lima belas menit, terjadi perubahan signifikan di Samalanga. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata batu-batu itu berasal dari lumut. Lumut yang berumur sangat lama mengeras sedemikian rupa. Dari mana asal lumut-lumut itu? Apakah awan yang menyerap air mulai menumbuhkan lumut dari rinbuan tahu lalu? Lumut itu mati dan awan memuntahkannya di Samalanga? Tidak ada satu penjelasan ilmiah pun yang mampu menjawab fenomena hujan batu di Samalanga. Para pencinta batu berdatangan dari pelosok negeri. Setiap warga kini mempunyai pekerjaan baru sebagai penjual batu berharga.

Touke Matnasit berjalan mengililingi desa. Dia memperhatikan perilaku baru warga Samalanga. Kini terdapat kios-kios batu di kiri kanan jalan. Wajah-wajah tak dikenal terlihat di sepanjang jalan. Hujan batu giok di Samalanga sangat cepat beredar ke seluruh negeri. Ilmuwan datang untuk meneliti, pencinta batu datang untuk berburu batu.

Apakah keberadaan kios batu menggusur kedai kopi? Tidak juga. Hanya menambah satu kegiatan kecil, selain minum kopi, mereka juga menggosok-gosok batu dengan serbuk intan. Gesekan batu dengan serbuk intan akan menyebabkan permukaan batu mengkilap. Serbuk intan bisa diperoleh dengan mudah di kios batu. Mereka merawat batu-batu itu lebih cermat dari merawat diri sendiri. Mereka juga mengenal setiap lekuk batu mereka. Bahkan ada yang mulai mengatakan batu-batu itu
bisa berubah warna. Yang lain membanggakan ada bunga dan kehidupan dari batu mereka. Sebuah kota berada di dalam batu sekecil kelereng.

Selain menyukai kopi, warga Samalanga juga mulai tergila-gila pada batu. Yang dulunya rajin ke sawah mulai ikut-ikutan menggosok batu di kedai kopi. Touke Matnasit mendesah pelan, ini sangat mencemaskan. Bukan hanya kerbau, sapi, kambing dan sawah miliknya yang ditelantarkan warga.

Tapi sampai kapan batu itu akan digilai penduduk negeri? Semua ada masanya, semua ada waktunya. Bila kegilaan pada batu ditemukan obatnya, apa yang akan dilakukan warga Samalanga? Tentu tidak cukup dengan duduk di kedai kopi sambil menangisi nasib. Entahlah.... (62)

— Ida Fitri, penulis dari Aceh

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 10 Mei 2015



Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi