Api - Darah - Kuil | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 22 Juni 2015

Api - Darah - Kuil


Api

bunuh aku dari skripsi tempurung kepalamu
kubur mayatku – jauhkan dari kenanganmu 
– sedalam lubang dada yang kugali demi sinar-Nya
demi hidup di mulut tungku pembakaran semesta

masih tentang cinta yang menjelma soneta
bait-baitnya yang basah kuperban pada luka
pada darah hitam di punggung dan dada
tapi saksikalnlah; duniaku akan berkobar-kobar

sebentar lagi, ribuan kaki telanjang berlari
dari segala penjuru arah bersama teriak cinta
hanya pada kobaran api duniaku mereka nuju

jadilah saksiku, jadilah sebelum api neraka
menyempurnakan riwayat cinta duniaku
sebelum sinar-Nya lenyap dari api nyalaku

2012/2015

Darah

aku mempertanyakan diriku pada diriku 
mencari nama dan bentuk penyakitku pada sakitku
sebab aku mencintai sekaligus membencinya
hanya pada diriku yang kamu kupasrahkan ia

aku terlampau akrab dengan getir dan khawatir
lantas aku menjadikannya pedang dan taming
untuk sebuah perang batin di republik cinta
yang menjunjung tinggi undang-undang penindasan

hanya cinta dan kebijaksanaan yang kudaulat
di lubuk setiap orang yang mengadukan lukanya
di otak segala manusia yang menyebut duka dunia

ungkapkanlah kenyataan yang sebenarnya!
lihat isi dunia ini penuh tangis durjana
dan di sini aku melukisnya menjadi soneta darah

2013/2015

Kuil

milik siapa air mata di kelopakmu?
musim hujan baru saja tiba di kota ini
kota tua kehilangan jiwa-jiwa penghuninya
dan sudah lama tiada tangis nurani di sini

kita mesti terima setiap pahala jatuh
usai kerja dan amal shaleh tertunaikan
bukankah detak dan gerak dari tubuh
tak lain dari perjuangan kehidupan?

kata-kata cinta dalam prosa dan puisi
sudahlah merata jadi hiburan sepi di kota ini
lalu kita akan berpuas diri dalam mimpi

mari kita galih tanah sedalam sejarah peradaban
buat kuburan fantasi dunia kota-kota 
di atasnya kita bangun kuil-kuil kebijaksanaan

2013/2015

Selendang Sulaiman, Lahir di Sumenep, Madura 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa, seperti; Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Metro Riau, Merapi, Harian Jogja, Joglosemar, Waspada Medan, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Sarbi, dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Salaka (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), dlsb. Antologi Tunggulnya: Hymne Asmaraloka (Bitred Digital Book 2014).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Selendang Sulaiman 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" pada 21 Juni 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi