Balada Qais dan Laila - Raponggi - Pulang Di Rumah Batu - Membaca Semesta - Jejak Reinkarnasi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 08 Juni 2015

Balada Qais dan Laila - Raponggi - Pulang Di Rumah Batu - Membaca Semesta - Jejak Reinkarnasi


Balada Qais dan Laila

elegi yang mengurai
hujan di musim luka
cinta bahasa semesta

bila telah terurai
pahami juga dukanya
perjalanan panjang
cinta yang tak sempurna

adakah yang bisa kuasa
memisahkannya

tak ada yang sempurna
di dalam Kesempurnaan

tak ada keindahan
tanpa kesejatian

menyihir mata
batin yang hening dan papa
jauh melekat di tubuh
adam dan hawa

Raponggi

dulu kita berjanji
bertemu di sini
di musim semi
musim gugur abadi

dulu kita sebangku
memadu dua daun waru

di stasiun ini
kereta membawa sakura pergi

dulu kita bertemu di sini
kini berpisah di raponggi

kita letakkan kunci
tergembok di sini
arca torrre kini sendiri

antara akayama dan akasaka
terlipat dua huruf lekat : novel tua
beauty and the beast

cinta tak memilih
dan puisi datang sendiri
tanpa kau pinta
:bila saat tiba

Pulang Di Rumah Batu

alam yang membuka dan menutup
kita hanya pejalan saja
mengikuti irama

seperti udara bisa terasa tak teraba
seperti juga benci dan cinta
tak ada yang bisa dijelaskan

sering kali bertemu sungai dan laut
sering kali cermin tak harus berkata
yang diam menirukan gerak tubuh kita

aku belajar menyimpan
segala yang terlihat di dalam mata
segala yang bersuara di dalam telinga

ya di sana bukan lewat celoteh air
yang menabrak bebatuan gaduh oleh keinginan

tetapi di keheningan batu segala tersimpan
yang terbuka dan tertutup alam mengajarkan
bahasa bertegur sapa

Membaca Semesta

menghitung diam di kedalaman cahaya munajat
taklagi akan ada kecipak ombak
yang bisa membangunkan wiku
bentangkanlah telapak tangan
seluas jagat raya semesta dengan puisi- puisi
semesta membaca mantra gaib pujangga
semua akan hening takjim
mendengar akan ada jejak panjang tirakat
agar beroleh berkat
Sang Maha Cinta.
semesta akan membaca sajak sajak dan kau sendiri
di pojok kata membiarkan kata kata ditafsir angin
dan ombak menuju kedalaman rasa

Jejak Reinkarnasi

Nietze meminum secangkir kopi berdua
dengan kematian yang sederhana
lalu ribuan jarak
memulangkanmu kembali di sini
mungkinkah ini waktumu ?
dan pengembaraan yang telah usai
bertemu dalam ruang maha sunyi
maha putih
hanya kita
telah tiba langkahmu
mengendarai angin di hulu musim bunga tulip dulu
sebelum menggugurkan daun daun muda
pohon apel tua
sajak seperti rambut perak
terbit di mata kanak kanak belia
yang ranum seperti rambut emasmu
mengurai jagat langit di kota tua
membentangkan rindu yang maha empedu
: penyair yang mati muda
namun bukan chairil
ia hanyalah Qais
yang merawat mimpi Laila

2015



*) Sus S Hardjono atau Susy Aning Setya, lahir 5 November 1969. Menamatkan studi di S1 UNS tahun 1992. Sudah tergabung dalam berbagai antologi sebanyak 30-an buku puisi. Aktif bergiat dikomintas KPPS Sragen, Gatra ,Kelana Kata, Serambi Sukowati, Manca Ceria, KSM Malmantaka dan berbagai komunitas sastra dan teater di Sragen. Mengajar di SMA IT Negeri 1 Sragen (MAN 1 Sragen)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sus S Hardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 7 Juni 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi