Di Balik Air Matamu - Nikah Air Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 15 Juni 2015

Di Balik Air Matamu - Nikah Air Mata


Di Balik Air Matamu

setiap aku kembali dan menangis
yang tersisa hanya rumah dan basah pipimu, sunia

musik jazz dan katalog yang berisi puisi
selebaran koran mingguan tak terpakai
terus hanyut dan lupa dibaca pagi ini

setiap aku pulang di belakang rambutmu
hari dan tahun berusaha memahami waktu
di mana tubuhmu tak lagi bisa kusentuh
dan punah di lebamnya hujan

kau perempuan yang ku panggil laut, sunia
dengan arus dan angin yang pernah kita
kukus dan lukis dalam dapur dan masakanmu, yang
begitu aku rindukan meski tak manis di lidah
namun senyummu paling nikmat di atas meja makan kita

di sini begitu banyak cerita masa lalu
tentang darah dan air keringatmu
saat di balik airmata bahagiamu kutemukan
cuaca dan musim adalah anak kita datang dari semesta
seperti kembali pada nostalgia masa lalu
batu cincin dan bunga sajadah hanya mas kawin
dalam kanvas lukisan pernikahan kita

kutunggu sore itu datang bersamamu sunia
membawa hutan dan sungai yang
sudah hilang dari rumah kita
sedangkan buku puisiku saja tak lagi
terlihat baru di bibirmu, inilah aku dengan
bulan menetas di ujung kesepian dan lahir
kembali di atas matamu yang merona

sunia, kutemukan sisa gelas dan bir di balik airmatamu
yah... aku temukan itu
kau percaya di mana-mana puntung rokok dan kulit
kacang berserakan
membuat kamar kita menjadi lukisan harimu yang buruk

ornamen fotomu, dinding kaca, lemari es
yang sudah ku hafal tempatnya
kini sudah kau sulap menjadi luka
jumlah kursi dan meja yang berkurang
dan kunang-kunang mulai paham bagaimana
malam ini terjadi lalu berganti dengan pagi

sunia, aku benarbenar tahu
apa yang ada di balik celana dalammu
‘’hanyalah sesaat dan tak abadi’’

2013

Nikah Air Mata

Utia, melewati tanah ini
kota yang berdiam dalam doa

(1)
Di wajah tawangmangu kau tersenyum
mencuramkan hujan bulan januari
melumpuri tubuhku dengan sabit kerinduan
yang lunas oleh waktu
hanya diamku menunggu malam
minggu denganmu

(2)
Utia, lebih dari bahasa air mata dan
curam-curam doa yang
terlampaui kita beli di ngarsapuran
hingga magrib berdarah dalam
matamu

(3)
kalau kau melihat bintang, utia
di antara jalan diponegoro yang penuh lampu dan
orangorang dengan
ciuman sejarah yang tersisa disini
membuatku
semakin jatuh cinta padamu, sampai pada
suatu pagi yang cahaya
gladag langen bogan yang katamu
adalah riwayat nenek moyang mencintai
ibu dan anak-anak kita kelak
saat purnama tengah mengandung mimpiku
dan kau tetap menjadi nama
di antara doaku yang tak selesai dan umrah

(4)
apakah kau lelah, utia
pernikahan airmata kita belum juga
ijab qabul dan sah
jika pada akhirnya akulah air matamu
dan sebuah surat dan puisi telah berkalikali kau baca
sampai halaman
terakhir
sebutlah aku, di ramai kotamu yang
tak bisa aku lupakan
sampai
kau, utia
adalah perempuan dengan
kerinduan yang tak terbaca oleh mataku,
oleh kerinduanku
yang mati suri disunati air mata

2013



— En Kurliadi Nf, nama pena dari Kurliadi, lahir di Kepulauan Giligenting, Sumenep Madura, alumnus Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan Sumenep, menulis karya sastra berupa puisi, cerpen, novel, dan lain-lain dalam dua dua bahasa (Indonesia dan Madura).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya En Kurliadi Nf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 14 Juni 2015


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi