Di Tepi Sungai Kerinduan - Melalui Cahaya - Senja Sepi - Unggun Perapian ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 08 Juni 2015

Di Tepi Sungai Kerinduan - Melalui Cahaya - Senja Sepi - Unggun Perapian


Di Tepi Sungai Kerinduan

Ra, pagi ini cuaca seperti menyambut kenangan kita
yang dahulu. Dingin.
hujan telah menyapu embun hingga menepi
di amuba musim. Pohon-pohon mengerat
merajut jerami, menyulam kehangatan
lebih dari wol. Satu-satu berterik
seperti senja, memecah langit sore
di kemendungan awan

Ra, kita tahu waktu tak dapat diunduh
Pertemuan mungkin terulang
aku akan mengulang waktuku
rindu saat ini. Sepertikota kenangan kita
semirip pertemuan di Heidelberg

di tepi sungai, kulihat
arus tak membawa kotak pesan
hal yang tak pernah dijumpai lagi
deras memulai langkah, teladku
menuju sungai kerinduan kita
di tepi sungai Neckar
Jakarta, 7 Februari 2015

Melalui Cahaya

Biar kulukis dirimu
ke dalam hidupku yang sunyi sepi
meniup secuil angin melewati lubang
senja di setiap ventilasi kamar

Jikalau bertemu sesaat dan kemudian selamat tinggal
siap kau berdampingan dengan lamunan
khayalku tiap waktu yangbersemu biru

kau biarkan aku lolos
untuk tetap menikmati setiap mimpi
dari bekas hidup yang segara berakhir
di antara sisi embun yang bernuansa minor


bagai Izrail yang datang untuk menjemputku,
di malam kesendirianku

Aku tak tahu bagaimana cara hidup sendirian
Aku bertanya-tanya? seperti anak yatim dalam harian
senja di lapuk gerhana bulan menyapu bintang
aku hanya ingin menulis dirimu di-ke dalam kehidupanku lagi

Senja Sepi

Aku mencari secercah kemilau senja
Di antara dedaun basah
Pelangi tak nampak juga
Mungkin karena gerimis belum reda

kakiku kulipat bersila
Di atas anyaman tikar tua
Di bawah atap jerami
Berharap kabut cuaca di hatiku
dapat menawar kata
dari pena yang kugenggam

Berlalu, suhu kini begitu dingin
Aku melewatkan senja yang tak begitu rupa
Karena hujan
Setapak becek, langit tak lagi cerah
Tapi setianya
malam hadirkan bintang 
sinari hatiku yang sepi barah
ingin Ketenangan

Unggun Perapian

Kutatap matanya penuh pesona
Riwayat teka-teki di dalam gairah
Memangsa sajak di mataku untuk bercakap
Tentang keindahan butir-butir
Lapuknya kenangan menujju
persinggahan

Jejak sepatu di lembut tanah penuh lumpur
Pun menceraikan asa di perapian
Jernihkan hati dan pikiran
dalam gentingnya rintik hujan
yang kesekian lewati gejolak mimpi

Dia terbakar dan terus terbakar.
namun heningnya memecah dingin menerawang
Jikalau gosong takkan jadi abu
Diketenangannya ada putik impian
yang terbang melintasi sejuknya surgawi


Debby Prihastika, penyair kelahiran Banyuwangi, 31 Desember 1993


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Debby Prihastika
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran rakyat" pada 7 Juni 2015

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi