Selamat Tinggal - Tukang Kunci - Hidangan - Raminthen | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 15 Juni 2015

Selamat Tinggal - Tukang Kunci - Hidangan - Raminthen


Selamat Tinggal

Kuletakkan kepalaku
Sejajar dua dengkulmu

Kau mengangkangi wajahku seperti penyanyi dangdut
aku menyesap semua getahmu serupa babi penurut

Susumu terbuka seperti setengah kubah
kujilat latah seperti mencecap cinta pelupa

Tidak. Tidak. Cium dna cinta
telah kulepas bersama kulit-kulit remajaku

Kulepas pula sisikku, culaku, ekorku dan taringku
agar aku lekas mengelupas kulup upasmu, sayangku

Tapi kau memasang sisikmu, susukmu juga tiga tandukmu
bocah-bocah gundul itu pun mendengung dan merubungmu

Tidak. Tidak. Mereka tak benar menggandrungimu, sayangku
bocah-bocah semprul itu, seperti juga diriku

Adalah begejil manis, begejil lamis
mereka tak gampang kepincut getah iblis

Sebab, seperti aku, dari cangkang keras mereka meretas
mereka lebih mencitai tikus, curut dan cuwut, sebenarnya

Dan tentu berpura-pura memujamu sekadarnya, kau
yang kadung mengangkang bagai dewi balak tujuh itu

Alamak, kenapa kau bayangkan diri bagai berhala begitu?
sedang mereka telah menyaru sebagai tuhan-tuhan tengil


Seperti semut-semut geramang yang mabok kepayang
dari bergandengan meninggalkan ciut lubang

(2015)

Tukang Kunci

Berpeci putih, perangaimu mirip orang suci
Rautmu serupa petapa paling sabar di bumi
Ditebali jenggot dan cambang kusut masal
Kau seperti pengkhutbah yang lari dari toa.

Tidak. Tidak. Kau tak ingin berkhutbah.
Kau tak suka cocot corong dan pengeras suara
Sebab kuping adalah gua, tempat para nabi
Menemukan kembali diri dan Tuhannya.

Tidak. Tidak. Kau tak tahu jarak diri dan Tuhan
Tabir tipis yang tak tertembus mulut dan mata bebal.
Maka kau pun memilih menjadi perajin besi
Mengantur logam berat di mana malam berkarat.

Tidak. Tidak. Kau yakin, tak ada yang paham,
Paham hatam kelambu alam dan rahasia malam.
Sebab itulah demit, jerangkong, jenglot, begejil,
Weleg, genderuwo dan asu buntung melolong

Di sisimu, saat kau menyalakan lampu putih
Mengambil gagang gerendo dan kasar kikir
Menaksir sandi-sandi sulit dan watas wingit
Membikin bolongan alit seperti lubang langit

Tidak. Tidak. Kau tak paham tentang bolongan
Dan lubang langit. Jemarimu juga tak terampil
Memutar bebutir tasbih dan pentil. Jemarimu
Hanya karib dengan seperangkat alat tukang

Di mana gerendo, kikir, obeng, gergaji, palu
Dan uncek bekerja, mengatur logam, memutar
Sandi besi yang mengunci kaki dan langkah 
Agar belenggu dan pintu-pintu kembali terbuka.

(2014)

Hidangan

Buya menyesap kua sup buntut. Jarak tuwung
Dan mulut Buya begitu rapatnya.
Tidak. Tak ada jarak
Antara tuwung dan mulut Buya, bahkan.
Mungkin renyah kerupuk rambak yang kukunyah
Mengacau pikiran Buya
Atau gumpalan lemak lembut yang meruapkan aroma rempah
Naik ke mata Buya. Hingga mata Buya
Tak bisa membedai putih bawang dan belatung kembang.
Tidak. Tidak. Minyak dan lemak tak akan mampu
Mengecoh tajam mata Buya.
Maafkan aku yang tumpul dan semprul ini, Buya.
Mungkin sudah kodrat.
Bila bawang goreng remuk dan daging gampang membusuk
mengambang. Belatung daging mengambang.
Keduanya mengambang putih, seperti jubah mini saat dio
Tidak. Tidak. Sekali lagi, maafkan aku, Buya.
Aku tak punya kasyaf tinggi, tak bisa membedai
Belatung banal dan bangkai batal.
Tak paham seluk-beluk biologi dan dalil kimiawi.
Tak percaya jika belatung mengandung protein tinggi.
Tak ngerti bila belatung semacam pelaku sufi
Yang membimbing jalan busuk di bumi.
Tidak. Seperti bumi, perut tabah
Mencerna apa saja yang Buya telan.
Mungkin Buya hatam menyelam kalam, menyunting birahi
Jadi berkah dalam, hingga daging
(yang kini bonus belatung)
Juga gajih, limpa, usu, akcnag, bawang, buncis, cabai, seledri
Dan kubis Buya kunyah, seperti omnivora radikal.
Sehingga perut Buya meorot mirip perut Semar.
Badan Buya melar dan jubah Buya pun bubar.
Alamak, apa Buya titisan kiai Semar? Tidak. Tidak, Buya
Jauhkan aku dari kentutmu yang tak terpahamkan.

(2014

Raminthen

Kelak
kau akan menangis
mengingat ambin licin
di hotel kecil
di kota sultan tengil
ketika padaku kau dongengkan
riwayat buyamu
yang menyaru serupa harem
demi mengecoh juru mudi
dan petugas imigrasi.

Tidak. Tidak.
Kelak kau akan tersenyum
mengingat kafe kampung kimpet
saat aku menyesap kopi iblis
kau menatap cawan es krim melankolis
sementara dari langgar terdekat
terdengar tarkhim terakhir
dan dua banci di kiri meja kita
bercinta-cintaan
sambil mengutuk Tuhan
san simpul kemaluan.

Tidak. Tidak
Kelak kau tidak menangis atau tersenyum
Sebab kita mungkin telah modar
dan (seperti kita) puisi ini pun bubar
ke nusa nasib nun samar.

(2015)


A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku Puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2010) dan Tetralogi Kerucut (2014)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 14 Juni 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi