Yang Terjaga Dalam Azar - Air di Waktu Subuh - Siang Pada Dhuhur - Matahari Maghrib - Dari Waktu Isya' - Kemarin Pada Hitungan Yang Sama | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 15 Juni 2015

Yang Terjaga Dalam Azar - Air di Waktu Subuh - Siang Pada Dhuhur - Matahari Maghrib - Dari Waktu Isya' - Kemarin Pada Hitungan Yang Sama


Yang Terjaga Dalam Azar

menggigit siang berganti sore
tetap akan menyatu dalam gelora
dari gulungan jarak antara panas

begitu samar jalan dihadapan
telah memberi warna setiap alam
kembali menghitung gerak
jatuh di bumi penuh janji
waktu akan menghitung
menunggu giliran tiba

yang terjaga dari segala arah
tak pernah berhenti berharap
membawa janji tertanam
Magelang-Blitar, 1552015

Air di Waktu Subuh 

air yang jatuh dari kegelapan
mengetuk pintu jendela malam

hari-hari yang membatu
pada jalan keterasingan
terasa begitu dalam

mencari wajah ini
dari segala kesejukan
menyisakan tanda

menunggu suara
di ujung waktu
Omah Wong Jawa, Blitar 1652015

Siang Pada Dhuhur

air laut menyisakan rasa asin
embun semalam sudah tidak tersisa
di antara jalanan panjang menuju matahari

siapa pemilik waktu yang tersisa
masih tetap menyimpan getar angin
yang selalu mempermainkan air
dengan membawa gelombang
segera menepi di pinggiran pasir
bernama pantai yang bergaris

tepian yang memanjang
untuk segera disapa
menjadi api
Pantai Utara, Caruban 1652015

Matahari Maghrib

: di atas bus patas eka

panas itu masih menyimpan
dari sinar yang jatuh dipermukaan bumi
sebagai batas pandangan mata
tetap memberi jarak terbagi
antara siang dan malam
Blitar-Magelang, 1652015

Dari Waktu Isya'

mata, mata yang menatap
telinga, telinga yang tak mendengar
hati, hati yang kehilangan arah

keluasan telah memberi waktu
jatuh dalam dekapan peradaban
yang akan memberi tanda

tangan, tangan hanya menggapai
tubuh, tubuh tegak mematung
kaki, kaki tertanam di kaki cakrawala

di sini semua telah menjadi hitungan
permainan tak pernah berhenti
akan menjadi titik permulaan kembali
Ngawi, rumah makan duta 1652015

Kemarin Pada Hitungan Yang Sama

Kemarin, pada hitungan yang sama
menetapkan satu tunas untuk tertanam
kepastian untuk kembali berjalan
pada kehidupan panjang yang terjaga
masih sebatas harapan tak pernah usai

hari ini, masih tetap menatap
pada hitungan tersimpan di tanah
masih dari bagian permainan musim
menyongsong letak hari terus berlari
esok, masih menjadi tanya
menunggu jawaban dari langit
pada persimpangan ketidakpastian
Padhepokan Djagat Djawa, Magelang 252015

Di Ujung Sunyi

tumbuh sudah
semak belukar
menutup halaman
tersimpan hati
tetap sunyi
tak ada ujung
Padhepokan Djagat Djawa, Magelang 752015

Suara Adzan

daun-daun menghijau
ranting-ranting mencengkeram daun-daun
dahan-dahan menggenggam ranting-ranting
batang berdiri tegak menantang dahan-dahan
akar mengikat bumi dengan kuat menjaga dahan
tumbuh terus tumbuh, musim yang terus terjaga
Padhepokan Djagat Djawa, Magelang 1752015


*) Triman Laksana, menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Tahun 2012 mendapat Penghargaan
Sastra untuk Pendidik Nasional, dari Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Pusat Bahasa)
Kemendikbud. Buku Antologi Geguritan Sepincuk Rembulan├« mendapat Penghargaan Sastra Rancage 2015. Novelnya ‘Menjaring Mata Angin’(Penerbit Maharsa, Yogyakarta, 2015) baru saja terbit. Mengelola Padhepokan Djagat Djawa (Komunitas Sastra Magelang). Tinggal di Soto Citran. Jln. Raya Borobudur Km 1 Citran, Paremono, Mungkid. Magelang 56551.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 14 Juni 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi