TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 13 July 2015

Cermin Retak Seribu - Cermin Lautan - Cermin Tubuh - Bulan Mei

Cermin Retak Seribu

Pernahkah engkau merasa hari-hari
berubah menjadi cakrawala?
sunyi menancapkan tiang-tiang, bendera
membisu
jamur membusukkan percakapan
bisikan dan siul pergaulan.

Di rumah-rumah kampung dan desa
cermin diretakkan kecemasan
yang disembunyikan dalam tawa
dan canda cabul tak mengenal harga.

Benarah masih ada republik dan negara
ketika pasar bingung
menghanguskan impian
menghajar langkah-langkah bayi?

Ini sudah melewati masa tangis dan luka
mengharap pada lagu
pengembara waktu
melepaskan panah-panah bercahaya:
senyuman
2015

Cermin Lautan

mana yang lebih berarti, gelombang dan air
menguasai permukaan
ataukah pelabuhan, dermaga dan kapal
kecil nelayan?
garis batas tak terbaca
pelanggaran tak terasa

Dalam kisah lamma disebutkan, pelayaran
jauh
untuk meneguhkan jiwa
bahasanya, jangkar-jangkar raksasa
ditancapkan pada kedalaman sunyi

Kadang muncul kegaduhan
laut menjadi wilayah perang
kapal dan pesawat bernafsu mesiu
saling menghadang dan menembakkan
kematian

Siapa kehabisan nyanyi?
Siapa kehabisan doa?
Ketika mesin bor menusuk wajah bumi
Di bawah air, tambang dan gas
                           dihisap ke angkasa

Peta penaklukkan selalu dibuat baru
disambut gembira, "Silakan Mister
kuasailah lautan kami."
Ruh-ruh yang terkubur di sana
                            menyalakan mata.
2015

Cermin Tubuh

Membaca usia wajah, rindu bergera bersama
malam. Nama-nama berbaris di bulu mata, panggilan sunyi
Senantiasa wangi embun dada, membuat 
janji mencumbu. Gemetar, gugup, kurang
tuntas dalam menari.

Serpihan gelisah, berlayarlah kisah-kisah
lama. Tanpa pelabuhan,
berputar-putar pada yang samar

Hei, ini sejarah tubuh. Jangan kau lupakan
hangatnya. Kaki dan pelukan
Malam menghisap keringat, siang
membuatnya banjir,
Bayang-bayang licin dari waktu. Hasilkan
nada, warna kulit,
menuju keript senja
Melahirkan kembali
Cinta.

Bulan Mei

Apa kau kira langit tidak bisa mendidih
kembali?
Hujan telah lewat dan sembunyi di balik
musim
Kadang masih ada mendung, menghadang
pengembara
Menyerah ke mana? Menyerah kepada
siapa?
Rindu kebebasan belantara, dan hari meledak
satu-satu
lewat dinding kota.

Apa kau kira langit tidak bisa menghantam
bumi?
Dengan gema dan gempa yang tidak
terduga
Arah selalu disembunyikan oleh Tuhan
Agar yang suka menebak makin mabuk
makna
lupa pada jejak semut yang rapuh di rerumputan
terlindung doa semesta.
2015


Mustofa W. Hasyim, ketua Studio Pertunjukan Sastra Jogjakarta, kumpulan puisinya, antara lain, Pohon Tak Lagi Bertutur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustofa W. Hasyim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" pada 12 Juli 2015

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home