Menunggu Lebaran - Waktu Hijrah - Meditasi Batu - Rumah Ibu - Di Antara Subuh ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 13 Juli 2015

Menunggu Lebaran - Waktu Hijrah - Meditasi Batu - Rumah Ibu - Di Antara Subuh


Menunggu Lebaran

Masih saja kau tunggu lebaran
sebagai kertas putih tanpa coretan
Kau lupakan jejak kaki berdarah
yang tertinggal di jalan berliku
dalam tubuhmu. Luka jiwa menganga
meminta tuhan di langit malam
menurunkan cahaya seribu bulan
di antara detak jantung dan hati

Masih saja kau tunggu lebaran
sebagai alas rindu dan kemenangan

Kau biarkan lapar dan hausmu 
menari-nari di bawah terik matahari 
tanpa ingatan. Seperti bisikan setan
yang terus bergema di daun telinga
sampai kalender menanggalkan usia
di antara kehidupan dan kematian

Masih saja kau tunggu lebaran
sebagai halte dan stasiun keberangkatan 

Kemana lagi kereta waktu akan pergi!!!

Waktu Hijrah

Waktu hijrah, tawakkal dan taubat
saling bertemu dalam rumahmu
tak ada kata yang bisa mewakili
selain musafir mencari alamat
di gurun sunyi. 
Tak ada lagi nafsu
yang bergolak mencari musuhnya
sepanjang siang dan malam hari

Saat cinta dan rindu telah merapat
lapar dan haus bukanlah seteru
yang tertinggal di bawah jembatan
antara usus dan lambungmu

Apalagi yang dicari para pencari
yang diburu para pemburu
selain diri di urat nadi !!!

Meditasi Batu

Kaucari-cari sejarah masa lalu
dalam batu. Segumpal debu yang hilang
di antara lahar berapi dan banjir bandang
kelopak jiwa meneteskan airmata 
mengepakkan sayapnya tanpa bulu
terbang tinggi menuju langit ketujuh

Kaugali-gali kuburmu sendiri
sebagai hiburan. Kilau cincin permata
menembus waktu sepanjang zaman
sampai engkau pun tahu, tanpa cahaya
siang dan malam sama gelapnya

Kausaksikan seribu anak panah 
melesat dari gundukan tanah
membawa rupa segala yang fana
lalu berserah pada sunyi yang baka

Kaulupakan asal hujan dan air garam 
muara laut dan sungai-sungai kehidupan
yang mengalirkan darah dalam tubuhmu  

Gunung-gunung menyimpan rahasia 
gulungan ombak dan badai katulistiwa

Sepasang batu menangis di jari manismu

Rumah Ibu

Waktu angin dan badai 
menghanguskan rumah ibu
engkau datang dan meradang 
seakan milikmu sendiri 
yang terpanggang api

Tapi kenapa engkau pergi
dan memasang palang pintu
di jalan persimpangan itu
ketika rumah yang sama 
dibakar para pendusta 
seolah luka tak pernah ada
dalam dadamu, menutup diri
jejak-jejak kaki di sorga 
sampai debu dan tanah berseru
memasuki telinga seribu kota

Setiap rumah memiliki penghuni 
yang satu: manusia seutuhnya!

Di Antara Subuh

Di antara subuh dan langit keruh
para nelayan tak pernah bosan
membawa mimpi gulungan ombak  
yang bakal bersinar sepanjang hari
di sela pasir dan gerak bumi 

Seperti ikan-ikan dalam samudra
kita juga mesti bergandeng tangan
merinci segala yang pernah terjadi 
di depan mata, di cekung hati
walau angin lantang bicara
mengulang-ngulang kisahnya
tanpa kata yang bisa diterka

: buih berputar di atas gelombang

Janji-janji tak pernah pergi  
dari halaman buku dan kitab suci
menolak diam yang mengampas
bagai kopi di dasar gelas
walau laut dan pantai menghitam
perahu dan jaring tenggelam

Tak ada makam di ruang pengadilan! 

[2015]

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamdy Salad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 12 Juli 2015


Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi