Wajah Air yang Bisu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 03 Agustus 2015

Wajah Air yang Bisu


“COBALAH kalian mengunci rapat-rapat mulut kalian. Membisu. Sering kali lidah kita mengeluarkan bisa fitnah yang tak kita duga. Karenanya, cobalah menjalani tapa bisu. Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa, namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun, tentang apa pun.“

“Jika ada yang membayar kurang dari seharusnya?“ sela Tarka, ketika itu.

“Terimalah. Jangan bertanya atau mempertanyakan. Terimalah. Mudah-mudahan Yang Maha Adil akan memberimu keadilan.“

Maka, sejak 40 hari lalu, kedua kakak beradik itu (Tarka dan Sarka) bekerja dalam kebisuan. Mereka hanya tersenyum atau mengangguk. Kadang menggeleng.Berapa banyak pun kepingan uang yang diberikan para penumpang, mereka terima dengan dada lapang. Dan nyatanya, pendapatan mereka lebih besar dari sebelumnya. Para penumpang--umumnya istri-istri tentara Hastina--yang tentu saja memiliki uang lebih, dengan senang hati memberi bayaran lebih karena menganggap kedua juru getek itu sangat sopan dan tak banyak tanya.

Sore itu, ketika mereka menambatkan rakit bambu di tepi selatan, sambil menunggu penumpang, Tarka dan Sarka dikejutkan suara mendesing dan ceburan kuat di permukaan sungai. Bola kulit.Mereka hanya diam dan membiarkan bola itu hanyut ke muara.

Di masa itu, sepak bola ialah permainan baru yang hanya boleh dimainkan kalangan istana. Tentunya bola itu milik kaum bangsawan Hastinapura. Permainan aneh yang dibawa dari mancanegara.Bulatan itu mereka kejar untuk mereka tendang. Memang kelihatan menarik, tapi bagi Tarka dan adiknya, tak lebih dari permainan orang bodoh. Mereka tak tertarik dan karenanya mereka diamkan saja bola itu hanyut dibawa arus Sungai Limanbenawi.

Tiba-tiba. “Ah, pasti masuk sungai. Sena, kau yang harus mencarinya. tendanganmu terlalu kuat!“ Ketiga kesatria muda Hastina itu sampai di tepian sungai. Mereka tak melihat apaapa kecuali gelegak arus sungai dan kakakberadik Tarka dan Sarka.

“Hei, kalian? Apakah kalian melihat bola kami yang meluncur ke arah sini?“ tanya Dursasana pada Tarka dan Sarka. Kedua orang itu menyembah. Lalu, salah seorang menunjuk arah sungai dengan ibu jarinya.

“Bodoh! Mengapa kalian diam saja?
Seharusnya kalian mengejarnya!“ sergah Duryudana.

Kedua orang itu diam saja. Sena segera melompat ke dalam sungai dan berenang menuju muara. Sepeninggal Sena, Duryudana dan adiknya mondarmandir gelisah. Napas mereka masih memburu.

Sementara itu, Tarka dan Sarka masih bersimpuh di tanah, menunduk dan memandang ke bawah. Entah nasib apa yang berikutnya akan menggilas mereka.

“Hei, siapa namamu?“ Tiba-tiba Duryudana membentak.

Tarka diam saja karena hari itu ia sedang bertapa bisu. Duryudana tercenung. Tak biasanya seorang jelata diam bila ditanya bangsawan.

Tiba-tiba kaki Dursasana bertengger di pundak Tarka, “Hei, tanah liat, apakah kau tuli? Pangeran Duryudana bertanya siapa namamu, mengapa kau diam saja?“ Digerakgerakkannya tubuh Tarka dengan kaki kirinya.Tarka masih diam.

“Dan kau. Apakah kau juga bisu-tuli?“ sergah Dursasana pada Sarka.

Sarka menggigil ketakutan.

“Siapa namamu?“ ulang Duryudana geram.

Keduanya masih saja membisu.Sebuah pelajaran penting yang mereka rasakan begitu berat terjadi di senja itu. Pesan sang ayah, agar mereka tidak berbicara, tiba-tiba mengubah situasi menjadi pilihan yang sangat mungkin berakhir buruk.

Burungburung kembali ke sarang. Udara mendingin. Cericit monyet bersahutan berebut dahan di hutanhutan. Semua berubah tanpa ada yang pernah menyadarinya. Duryudana naik pitam. Siapakah kedua manusia jelata ini, yang dengan keras kepala berani menentang seorang Pangeran Hastina?
Baru kali ini, Duryudana merasa dirinya diabaikan rakyatnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

“Apakah kau akan tetap membisu, manakala rajamu bertanya padamu? Apa kau pikir dengan begitu kau bisa lebih hebat dari penguasamu? Hah? Jawab!“ Dan sebuah tendangan menghantam wajah Tarka. Ia terguling, hidungnya mengucurkan darah. Sarka mencoba membantu kakaknya, namun tendanganlah yang mencegahnya.

Kedua kakak-beradik itu terguling dengan darah bercampur tanah di wajah. Berkelebat pesan sang ayah bahwa membisu, menjaga lidah agar tak melisankan apa pun, sepertinya laku yang mudah. Tapi, pada kenyataannya, apalagi di tengah masyarakat yang suka mengobral lisan dengan berbagai dalih, adalah sesuatu yang sangat sulit.

Membisukan lidah pada hakikatnya ialah membiasakan diri berserah tanpa bertanya. Dengan berserah tanpa suara, seseorang akan berlatih menuju alam kekosongan dirinya sendiri. Dengan mengosongkan diri, seseorang akan dengan mudah menerima keheningan dari Sang Maha Hening. Hanya dengan menyatu pada Sang Maha Hening inilah manusia mampu mencapai kesempurnaan dirinya. Demikian kelebat ucapan sang ayah ketika menuturkan rahasia laku bisu.

Karenanya, Tarka dan Sarka hanya diam, tak melawan ketika kedua bangsawan Hastina itu menghajar mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih mulia dan layak diperoleh dengan mengorbankan nyawa sekalipun, yang membuat mereka tahan terhadap siksaan badaniah.

Tapi, kedua orang bangsawan Hastina itu, yang dengan bangga mengatakan berdarah Kuru, anak keturunan keluarga Kuru itu, bahkan seakan ingin menunjukkan kekuasaan.

Tak ada bola, tubuh manusia pun jadilah! Senja yang menggelap seakan memekatkan hati nurani mereka.

Kejengkelan mereka memuncak, setiap kali terjungkal, Tarka dan Sarka berusaha bangkit dan bersimpuh seperti semula.

Duryudana yang bertubuh tinggi besar, kuat, tegap, dan selalu berlatih gulat di kasatriannya bukanlah tandingan Tarka; pemuda desa yang bertubuh kurus kering, kecil, dan berkulit cokelat gelap itu, yang bahkan lebih menyukai puasa dan bersepi diri. Tak mengherankan jika tubuhnya menjadi bulan bulanan Duryudana.

Begitu pula dengan Dursasana. Kekuatan tenaganya seakan ditimpakan ke tubuh Sarka.

Entah pada hantaman yang ke berapa, batas kekuatan tubuh kakak-beradik itu sampailah. Sebuah detak teredam, tulangtulang remuk. Duryudana dan Dursasana sebetulnya merasakan dan mengetahui bahwa tulang-tulang dua manusia malang itu remuk, namun entah mengapa mereka tak berhenti.

Adik-adik Duryudana yang lain, karena merasa ketiga orang itu cukup lama tak kembali ke lapangan, menyusul dan menyaksikan kedua orang itu tengah menghempaskan Tarka dan Sarka. Mereka ngeri menyaksikan tubuh Tarka dan Sarka, yang berlumuran darah bercampur tanah.

Seekor burung hitam secara aneh terbang melintas dan merobek sunyi dengan teriakan paraunya. Hening berlalu begitu saja. Senja menjadi kereta kesunyian yang mengantarkan Tarka dan Sarka kembali ke alam keabadian.Bahkan, lihatlah, matahari seakan bergegas menarik tirai malam tak sampai hati menyaksikan penderitaan yang dialami kakak-beradik yang bahkan tak melakukan kesalahan apa pun itu.

Angin membeku, seakan tak percaya bahwa Tarka dan Sarka yang selama ini mereka belai-belai ketika beristirahat di atas rakit mereka nyaris membentuk seonggok daging berbalut debu darah.

Duryudana dan Dursasana tertegun, seakan baru tersadar pada perbuatan yang baru saja mereka lakukan. Napas mereka memburu, namun ada kekosongan yang menganga dan entah bagaimana.Mereka berupaya mengusir kekosongan itu. Dursasana, bahkan bertingkah aneh, bagai orang gila ia menceburkan diri ke sungai, membasuh diri dan berteriakteriak. Sena yang kebetulan baru saja tiba di tempat itu, terdiam. Begitu dilihatnya Tarka dan Sarka telah menjadi mayat, Sena berteriak dan melompat ke arah Duryudana. “Binatang!“ Dihantamnya rahang Duryudana, hingga ia terjengkang.

***
Sena tercenung memandangi dua tubuh malang yang telah membisu abadi itu. Dipanggilnya para pengawal, diperintahkannya untuk membersihkan kedua jenazah itu. “Aku yang akan mengantarkannya kepada orangtua mereka. Apakah ada di antara kalian yang tahu, anak siapakah mereka?“ Kali ini Sungai Limanbenawi hanya mendesis, menggelegak di sela-sela bebatuan. Tetap tak ada jawaban....

Pinang 982 

Yanusa Nugroho, sastrawan, tinggal di Ciputat. Buku terkininya, Setubuh Seribu Mawar (2013).

Rujukan:
[1] Disalin drai karya Yanusa Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 2 Agustus 2015


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi