Istri Sarpin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 28 September 2015

Istri Sarpin


PARA tetangga Sarpin sudah maklum bahwa lelaki setengah baya itu tertekan. Stres. Tanpa diproklamasikan Sarpin pun, semua orang dapat melihatnya.

Sarpin sering termangu berlama-lama di beranda rumahnya. Ia juga mengabaikan sapaan ramah orang-orang yang lewat. Semua ucapan salam dan pertanyaan basa-basi dibiarkannya menguap begitu saja, tanpa jawaban sama sekali.

Karena itu, para tetangga Sarpin senang mendengar kabar bahwa Sarpin akan berkonsultasi ke psikolog yang praktik persis di samping mal itu. Mereka ingin Sarpin kembali seperti dulu. Penuh semangat. Ceria. Senang bergaul.

***
“Dia berubah begitu mendadak, Dok. Berubah dramatis,” cerocos Sarpin ketika baru saja duduk di depan dokter yang sekaligus psikolog itu.

“Siapa yang Bapak maksud?” tanya sang psikolog.

“Istri saya. Ini semua tentang dia. Dia tiba-tiba seperti orang lain yang tak saya kenal.” 

“Coba Bapak ceritakan semuanya. Saya akan mendengarkan.” 

“Saya memilihnya menjadi istri karena dia sangat perhatian. Semua hal dia perhatikan. Dari soal kecil seperti kaus kaki saya yang kendur dan gampang melorot, hingga soal besar dan penting seperti cara perawatan paling tepat diabet yang diderita ayah saya. Dia telaten menemani ayah saya mengubah gaya hidup dan pola makannya.” 

“Dia sangat lembut. Saat marah saja dia tak pernah berkata kasar. Kemarahannya tak pernah menyakitkan. Kelembutannya bukan cuma keluar dari mulutnya, tapi terpancar juga dari sorot mata teduhnya.” 

“Dia selalu antusias. Seperti tak ada cerita yang tak menarik buatnya. Sekalipun saya cuma menceritakan kemacetan kota yang sudah rutin jadi cerita sehari-hari, dia akan mendengarkannya penuh perhatian. Seolah-olah itu peristiwa baru dan luar biasa.” 

“Dia hangat dan manja. Sehari tak saya peluk dia akan merajuk. Dia hanya mau tidur dalam pelukan saya. Katanya, berjauhan sedikit saja dengan saya dunianya langsung oleng tak seimbang. Kami pun selalu berjalan dengan berpegangan tangan.” 

“Dia sangat hormat dan respek pada saya. Dia selalu tempatkan saya sebagai kepala rumah tangga, imam dalam hidupnya, Dok. Dia selalu sigap mencium tangan saya setiap selesai salat, lalu sebelum melepas mukenanya dia sorongkan keningnya untuk saya kecup.” 

“Tapi semua sudah berlalu. Cerita lama. Tinggal sejarah.” Sarpin menghela napasnya, mencoba menghela himpitan yang memberat di dadanya.

“Perubahan apa yang Bapak lihat pada istri Bapak sekarang? Coba Bapak ceritakan. Nanti kita sama-sama cari tahu mengapa itu terjadi,” psikolog itu memandang Sarpin penuh empati.

“Dia tetap sangat perhatian pada semua orang, Dok. Kecuali saya,” Sarpin menghela napas lagi.

Lalu terdiam.

“Lalu?” Sang psikolog berusaha memotong jeda bicara Sarpin yang terlalu lama.

“Dia juga tetap lembut pada semua orang, kecuali pada saya. Dia masih seperti dulu, penuh antusiasme dan pandai menyenangkan banyak orang, tapi dia tak memperlihatkan itu lagi pada saya,” Sarpin kembali menghela napas, mengatur tenaga untuk tetap bisa menyangga beban hidup berat di pundaknya.

“Ada lagi, Pak?” 

“Ya. Dia masih tetap hangat, manja, mesra, kecuali pada saya.” Sang psikolog melihat air mulai menggenang di kedua mata Sarpin dan segera mencondongkan badannya mendekat sebagai isyarat simpati.

“Dia juga masih memperlihatkan respek pada lawan bicaranya, hormat pada semua orang, kecuali pada saya, Dok.” Air mata Sarpin tak tertahan, bergulir turun.

Sarpin sesenggukan.

“Bapak, boleh saya tahu, apakah perubahan seperti ini baru sekali ini terjadi atau pernah terjadi sebelumnya?” Dengan hati-hati sang dokter bertanya setelah sesenggukan Sarpin mulai agak mereda.

“Ini bukan yang pertama, Dok. Dulu hal seperti ini pernah terjadi satu kali. Tapi sudah cukup lama,” jawab Sarpin mengangkat wajahnya yang memerah bekas tangisan. 

“Coba Bapak ingat-ingat, sewaktu perubahan seperti ini terjadi dulu, apa penyebabnya? Peristiwa apa yang memicu perubahan itu?“ 

“Ya, saya sangat ingat, Dok. Waktu itu istri saya kecewa karena saya belum juga mendapatkan pekerjaan, menganggur terlalu lama, banyak buang waktu, tak produktif. Dia kecewa karena saya dianggap terlalu lembek, manja, gampang menyerah dalam perkelahian dengan hidup kami.Saya dianggap pecundang.

“Jadi, saya sangat mengerti, bisa menerima, sewaktu dia tiba-tiba berubah. Tapi sekarang? Ekonomi kami baik-baik saja. Penghasilan saya lebih dari cukup. Semua kebutuhan rumah tangga saya cukupi. Lalu tiba-tiba saja dia berubah. Saya dibuatnya bingung, tertekan, Dok.“

Ketika psikolog itu menggali lebih jauh, Sarpin tak bisa menyebutkan secuil pun kemungkinan penyebab perubahan mendadak istrinya. Sesi konsultasi itu diakhiri dengan janji konsultasi berikutnya. Beberapa hari kemudian.

***
Berbeda dengan konsultasi pertama, Sarpin terdiam saat duduk di depan psikolog itu.Wajahnya lebih menekuk. Sepertinya langit di atas kepalanya beringsut turun makin menjepitnya.

“Bagaimana, Pak? Ada perkembangan baru dengan sikap istri Bapak?“ sang psikolog yang harus memulai.

“Ada Dok. Tapi memburuk, bukan membaik,“ tutur Sarpin lirih.

“Silakan Bapak ceritakan. Saya mendengarkan.“

“Sekarang sudah menjalar ke soal seks, Dok.Kami terbiasa melakukannya cukup sering. Rata-rata dua kali seminggu.Semuanya berjalan spontan. Jika tiba saatnya, kami seperti tahu begitu saja, saling merapat bagai kutub magnet positif dan negatif yang saling mendekat. Sekarang dia seperti hilang gairah. Saya ajak bercinta, dia selalu mengaku lelah, sakit kepala, tak enak badan. Saya tidak lagi menarik minatnya. Tak lagi dilirik. Bagi dia tubuh saya sudah seperti aliran listrik yang kehilangan setrum.“

Sarpin menahan napas dan mulai terisak.

“Ngomong-ngomong, apakah Bapak dan Ibu sudah punya anak?“ tanya sang dokter setelah isakan Sarpin mereda.

“Sayangnya tidak.Lebih tepatnya, belum, Dok. Dia belum mau punya anak dan tak pernah mau menjelaskan alasannya. Padahal usia kami tidak lagi muda.“

“Saya merasa dia sudah tak mencintai saya lagi, Dok. Saya merasa tak ada lagi yang tersisa. Sebab, cinta adalah barang paling berharga yang kami miliki. Saya boleh saja kehilangan apa pun kecuali cintanya.“

Sarpin sudah tak lagi terisak, tetapi mulai sesenggukan.

“Ada lagi Pak selain soal seks tadi?“ Sang psikolog melanjutkan.

“Ada. Dan ini jauh lebih genting. Saya jatuh cinta padanya belasan tahun lalu lantaran matanya yang berpendar-pendar. Bukan sekadar berpendar, kilatan cahayanya jelas ditujukan untuk saya. Sering dia menatap saya dengan tatapan bercahaya yang membikin saya bahagia.Sekarang saya tak lagi menemukan pendar yang berkilat khusus untuk saya itu, Dok. Matanya memang tetap indah, tapi tinggal keindahan yang pasif. Bahkan, sekarang dia lebih sering menghindari bertukar tatapan dengan saya.“

Genangan air jelas membayang pada kedua mata Sarpin. Akhirnya genangan itu membuncah keluar terdorong guncangan sesenggukan Sarpin.

“Bukan hanya itu, Dok. Berkali-kali saya lihat dia menatap Pak Bambang dengan tatapan yang dulu ditujukannya untuk saya. Ada kilatan cahaya yang jelas menerobos batas yang memisahkan antara dia dan Pak Bambang yang tersenyum dari kejauhan, dari seberang jalan di depan rumah kami.“

“Bisa Bapak ceritakan siapa Pak Bambang?“ dokter yang psikolog itu dengan cepat mencegat cerita Sarpin, khawatir akan tersesat dalam cerita yang terlalu jauh tetapi tak ia pahami.

“Pak Bambang adalah pemilik tanah yang diwakafkan untuk Taman Bacaan dan Taman Bermain di dalam kompleks kami, Dok. Semua orang mengenal Pak Bambang sebagai orang yang ringan tangan, yang tak pernah berhitung soal harta. Ia tak punya kata `kehilangan' atau `rugi' dalam kamus hidupnya. Sepertinya istri saya memuja lelaki dermawan ini.“

“Jangan-jangan istri Bapak berubah karena ia merasa Bapak sudah kaya tapi kurang peduli pada orang lain. Kurang bederma seperti Pak Bambang?“ pancing sang psikolog.

“Oh tidak seperti itu, Dok. Justru dia selalu meminta saya agar lebih berhemat. Dia mau harta dan aset kami tersimpan dengan baik. Tak pernah soal kurang bederma ini jadi pembicaraannya,“ sanggah Sarpin cepat.

“Baiklah, Pak. Akan jauh lebih baik jika Bapak ajak istri Bapak untuk berkonsultasi lagi ke sini dalam pertemuan kita berikutnya. Saya membutuhkan cerita kedua belah pihak untuk tahu sebab musabab di belakang perubahan sikap istri Bapak. Kita juga perlu kehadiran istri Bapak untuk membuat keadaan tak makin memburuk, tetapi sebaliknya membaik bagi Bapak dan istri Bapak.“

*** 
Para tetangga maklum bahwa Sarpin perlu bolak-balik berkonsultasi dengan psikolog yang berpraktik di dekat pusat pertokoan itu. Tapi, mereka sama sekali belum melihat keadaan Sarpin membaik.

Sudah berpekan-pekan Sarpin tak terlihat pergi bekerja seperti biasanya. Sarpin hanya membunuh waktunya sepanjang hari, dari mulai fajar merekah hingga gelap mengepung kompleks perumahan mereka, dengan termangu di beranda rumahnya.

Ia tetap saja tak menggubris sapaan para tetangga yang lalu lalang di depan rumahnya.Sarpin seperti ada tapi tiada. Tampaknya, bagi Sarpin, para tetangganya yang lalu lalang itu juga seperti ada tapi tiada.

Daya tahan Sarpin berperilaku aneh menimbulkan rasa heran semua tetangganya.Tetapi di luar itu, ada satu sumber rasa heran para tetangga Sarpin yang jauh lebih besar: dalam usia yang sudah memasuki kepala lima, Sarpin belum juga berumah tangga, masih terus membujang, dan hidup sendiri...

Kualanamu-Cengkareng, 2015 

Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik yang menekuni dunia sastra. Cerpen-cerpennya tersiar di sejumlah media.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eep Saefulloh Fatah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 27 September 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi