Langit tanpa Warna* ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 29 September 2015

Langit tanpa Warna*


AKU dulu bersumpah, akan kuhabiskan sisa hidupku untuk menanam sayur, buah, dan bunga di rumahku yang mungil. Halaman depan, samping, dan juga di tepian jalan gang akan kutanami segala tumbuhan yang bisa hidup. Aku masih ingat nasihat ibu, kalau nanti punya rumah, yang mungil saja, yang penting halamannya cukup luas, dan tanamilah buah, bunga, dan sayuran. Gaji jangan dihabiskan untuk rumah, tabunglah sebagian di tempat yang aman.

Tapi sayang, ternyata sumpahku itu tak berwujud. Aku juga sudah melupakan amanah ibu tersebut. Pulang kantor sambil tertawa-tawa aku langsung masuk kafe untuk mengasihani diriku yang dikepung kehampaan. Pemilik kafe juga tertawa-tawa menyambut kesetiaanku kepada kehampaannya. Sambil menyeruput kopi latte kesukaan masa kecilku, yang sekelilingnya serba hijau, langitnya biru; masa kecil yang tak pernah sirna dari hidupku.

Sekarang malam gelap gulita, kikir bulan. Sudah lupa aku, sudah berapa lama hal ini terjadi. Sudah ratusan malam kulalui tanpa sebundar bulan pun. Yang ada hanya sesabit bulan, itu pun posisinya selalu terjepit (kegelapan). Kalau siang selalu mendung, mentari disembunyikan kemurungan. Meski mendung itu kecil, tapi mampu menghadang mentari di langit kota. Karena itu, tak ada lagi beda siang atau malam, malam atau siang.

Jalan Raya Darmo yang dulu banyak mengukir prestasi --juga sakit hati--, saksi sejarah di jantung kota, sekarang telah lumpuh tak berdaya. Gedung-gedungnya mulai terasa runtuh. Mur bautnya banyak yang berkarat berat, mau copot. Tulang-tulang besinya terkesan mulai nggleot ke kanan atau ke kiri ke kanan, seperti orang yang tulang punggungnya stroke. Dan tembok-temboknya kusam-kusam di sana-sni. Kadang sesabit bulan singgah sebentar di atas gedung SMAK Santa Barbara, api setelah itu cepat lenyap, seolah takut dipandang Sang Yesus yang bermata cinta. 

Atau di ujung selatan Jalan Raya Darmo sana. Ada Masjid Al Barokah, juga sepi tanpa umat, entah ke mana. Biasanya kalau subuh terdengar azan, tapi sekarang telinga tak menangkapnya. Ke mana saja orang-orang tercinta itu, ke gunung atau ke mana, atau ke surga? Orang-orang tercinta itu selalu dalam sehari menyempurnakan angka lima menjadi angka tujuh alias surga yang ke tujuh. Dan kebahagiaan yang abadi adalah surga yang pernuh para kekasih.

Tapi ke mana mereka sekarang, atau (dahulu) dari mana mereka itu. Ke mana atau dari mana sebenarnya jawabannya sama, ke surga atau dari surga. Sudah jelas to, kata kuncinya adalah surga. Anehnya, kenapa meraka masih bertanya-tanya, dan menyangsikan kata itu, dan akhirnya jawabannya adalah kesedihan demi kesedihan yang malam ini ikut kurasakan.

***
Lamat-lamat di Jalan M. Jasin Polisi Istimewa di depan SMAK Saint Fransiskus, ada suara-suara anjing bertengkar. Suara-suara mereka keras, mengeras, dan kemudian pelan-pelan menghilang. Aku lari ke arah halaman SMAK Saint Fransiskus, ternyata kosong belaka. Yang ada hanya daun-daun berserakan dan kegelapan, karena cahaya bulan sabit tertutup rimbun pohonan.

"Mereka itu apa, hanyalah seonggok impian, produk keserakahan sang raja. Mereka itu bidak yang disuntik premium atau pertamax. Ketika premium dan pertamax habis, mereka juga habis."

"Tapi kau jangan omong besar melulu."

"Sudah kutelusuri seluruh gang di kota, tak ada gerakan yang bisa diarah. Mereka benar-benar seonggok impian."

"Jangan omong melulu, coba telurusi dulu semua jalan dan gang di kota, bila kau masih punya cinta."

"Cinta gombal. Cintaku pada diriku sudah habis, apalagi kepada orang lain. Jangan omong kosong kamu."

Kumasuki sebuah rumah di salah satu Gang Dinoyo. Di meja makannya masih ada stoples rempeyek, dan penyetan ular yang sambalnya kering menjamur. Ada juga bangkai cicak terlentang di sebelah cobek. Wah, jangan-jangan cicak itu keracunan bisa ular yang kepalanya kurang dibersihkan. Pedagang penyetan ular itu pasti bandot yang pkirannya untung melulu.

"Kamu beropini melulu."

"Apa? Kamu berlagak jaksa ya. Bukti-bukti sudah terlalu banyak. Sapi digelonggong. Ikan-ikan, ayam-ayam, diberi borax. Tahi kucing diberi pengawet, biar sosoknya tetap eksis tahan lama, dan sebagainya."

Bandot-bandot itu menolak cerita-ceirta lama bahwa manusia berasal dari surga dan akan kembali ke surga. Untuk kembali ke surga, orang harus berbuat baik setiap menit, amal harus ditabung dimasukkan celengan. Tapi mereka benar-benar menolaknya. Akhirnya mereka berpikir tentang untung melulu. Mereka, melalui penderitaan demi penderitaan, akhirnya menerima fakta bahwa ma+nusia berasal dari kegelapan dan akan kembali kepada kegelapan.

"Kalau kamu tidak menipu, tidak merampok, tidak meyabot, maka kami tidak bisa makan. Itu yang terjadi. Kami tidak lagi perlu berpikir yang seharusnya terjadi. Kami harus berhenti berbuat jahat. Kami harus terus berbuat baik. Itu omong kosong. Kami bukan malaikat alap-alap yang luar dalamnya serbasuci. Kami adalah setan-setan yang luar dalamnya kegelapan. Habis perkara."

Itu adalah debat yang pernah kusaksikan antara PetugasPerlindungan Konsumen dengan seorang profesor yang hidupnya gagal kemudian memilih jadi pedagang ayam di trotoar Pasar Wonokromo. Profesor gagal itu sok sekali kalau omong. Meledak-ledak tanpa tahu siapa yang harus diledakkan. Teman-teman pedagang ayam lainnya hanya komat-kamit melihatnya, seolah berdoa semoga ayam-ayam yang sudah tanpa bulu itu segera masuk surga. Sementara ayam profesor gagal merah muda seperti wajah cewek-cewek yang baru keluar dari salon.

Dulu, kalau siang jam pulang, Jalan M. Jasin Polisi Istimewa macet atau setengah macet karena anak-anak SMAK Saint Fransiskus yang keluar kelas dijemput sopir-sopir atau orang tua mereka. Mobil-mobil mewah mereka ada yang muter ke kanan, lurus, atau masuk halaman sekolah, atret di dalam lalu keluar lagi. Hal-hal sepele seperti ini sudah cukup membuat keramahan Jalan M. Jasin Polisi Istimewa seperi orang tua keriput yang wajahnya menciut.

"Wajah Anda kok lencu. Kenapa ya," begitu tiba-tiba sapa Suster Lusia. Aku kaget dibuatnya. Aku tahu, sudah lama Suster Lusia memendam hati padaku, tapi aku kurang meresponsnya. 

"Sudah menjadi suster kok masih jatuh cinta; tapi suster kan manusia?" pikirku bingung. Sebenarnya wajah Suster Lusia seger seperti habis mandi dari air tujuh sumur. Kulitnya halus, tubuhnya sintal terawat. Parasnya imut, juga pinter. Wah kalau ngegosip Suster Lusia tak habis-habis. Suster Lusia sering menceritakan seorang pastur yang akhirnya kawin dengan jemaatnya yang cantik dan menemukan kebahagiannya di situ. Mahkota pasturnya tentu saja dilepas diganti mahkota kepala rumah tangga: suami yang baik, bapak yang mengerti, menantu jempolan, dan seterunya.

"Saya baik-baik saja kok Suter," aku menjawab sekenanya meski dalam hati berdebar-debar. Dan ternyata benar, tahun ajaran baru aku tak dipasang lagi di SMAK Saint Fransiskus alias kontrakku diputus. Dalam hati aku mengumpat pasangan kumpul keboku. Ternyata tidak setiap wanita itu keibuan. Pacarku itu kalau di ranjang maniak. Di depannya aku buruhnya. Untung dia sudah menghilang ikut terkena isu air laut naik, kota-kota pantai tenggelam, begitu. Mungkin dia itu sekarang ngumpet di gunung, entah gunung mana, bertobat atau makin kumat.

Dan sudah cukup lama tak kudengar lagi bunyi sirine. Mereka pasukan penyelamat warga yang menyisir jalan-jalan utama, barangkali masih ada sisa warga yang belum terangkut. Tapi kalau ada bunyi itu aku segera ngumpet ke rumah terdekat. Setelah sirine menjauh ,aku merasakan kembali keberadaanku. Seperti kadal yang keluar dari bebatuan, kepalaku menoleh ke kanan ke kiri kemudian melompat ke tepi jalan. Dalam hati aku bersorak girang. 

Kalau mau, aku bisa pergi sendiri ke gunung, menghabiskan sisa hidupku di tempat yang sepi dan nyaman. Tapi di Kota Surabaya ini sekarang sangat sepi, lebih sepi dari yang di gunung. Karena itu, kalau ada bunyi sirine datang, aku cepat menyingkir. Ya, ternyata sampai sekarang pun, dari arah Tanjung Perak atau Kenjeran atau wilayah pantai lain tak mengalir setetes air laut pun. Ramalam-ramalan itu telah meracuni isi otak warga, ramalan-ramalan itu telah mengacaukan mereka. Dan ternyata, sampai sekarang, tidak setetes air laut pun kutemukan. 

Tapi, sudahlah, itu adalah kejengkelan masa lalu. Sekarang semua itu sudah lampau; ada sejumlah bangkai mobil yang malang melintang sampai ada yang terbalik seperi dalam film-film action. Mungkin dulu ada sejumlah orang yang lama menahan jengkel kepada kemacetan, lalu memporakporandakan mobil-mobil itu. Terdengar seperti ada suara erangan kesakitan sambil menyebut-nyebut perihnya kaki.

"Aduh kakiku. Aduh Tuhanku, mohon ampun aku. Kakiku tak sembuh-sembuh karena dosa-dosaku belum habis. Kakiku luka. Luka kakiku.** Diabetes laknat. Oh Tuhanku, aku mohon pengampunan-Mu."

Kukejar suara erangan itu, tampaknya di arah toko VCD dekat tikungan ke arah Jalan Sriwijaya yang menuju Hotel Olympic. Sesampainya di sana ternyata kosong-kosng saja. Malah di situ ada kandang-kandnang anjing yang sudah ditinggalkan penghuninya dan kutangkap juga ada kerangka dua ekor anjing yang terlentang di dalam kandang. Jalan Sriwijaya dulu memang ramai oleh pedagang-pedagang anjing, kucing, ular, monyet, dan biawak, terkadang trenggiling, landak, kalong, dan seterusnya. Kurang ajar sekali si pedagang. Hak Asasi Anjing (HAA) telah dilanggar. Seharusnya sebelum atau ketika terjadi huru-hara itu, pintu kandang dibuka, dan kalau kunci hilang harus dibuka paksa. Habis perkara. 

***
Seandainya sumpahku dulu kuturuti, aku pasti sudah punya rumah asri seperti yang ada difoto-foto rumah-rumah dari keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Keinginanku dulu hanya sederhana, halaman sampin dan depan rumah kutanami sayur-mayur sehingga tak perlu lagi beli sayur di pasar. Sayur di pasar sering disemprot pestisida. Katanya untuk membunuh hama, tapi lama-lama kupikir-pikir aku ini hamanya, akhirnya mati tanpa nama. Pestisida itu kini telah menyatu dengan tubuhku.

Halaman samping dan depan rumah juga bisa kutanami bunga-bunga. Lalu, para tetangga meniruku, kemudian keluarga-keluarga satu RT akan meniruku, juga lama-lama satu RW, setelah itu sudah puaslah aku. Matiku dimakamkan di malam kelurahan. Manisnya kenangan itu. Namaku akan selalu dikenang di komunitas RW. Sudah cukup.

Saat nikmatnya melamun seperti itu, aku dikejutkan langkah-langkah tak bernyawa dari arah Dinoyo. Kemudian langkah-langkah itu menjadi bernyawa. Kulihat rombongan benda-benda besar bergerak cepat. Mataku yang mulai rabun menangkap benda-benda hitam itu menyasar ke arahku. Tak lama aku di bawah Monumen M. Jasin Polisi Istimewa, aku cepat lari ke Wisma Cloud & Water di seberang perempatan, di Jalan raya Dr Soetomo. Mungkin gebangnya bisa dipanjat, dan kalau dikunci aku semakin senang, karena setelah berada di halaman Wisma Cloud & Water aku bisa lari mencari jalan ke lantai atas. Dan, dari lantai atas, lewat jendela kacanya, aku bisa melihat rombongan benda-benda hitam itu tak bisa masuk. Tapi bagaimana kalau benda-benda hitam itu mendorong gerbang beramai-ramai? Wallahualam...

Ternyata benda-benda tadi adalah rombongan gajah, badak, kuda nil, zebra, yang sudah mengurus. Juga jerapah yang kurusnya semakin meniang. Mereka setengah berlari seperti di belakangnya ada yang mengejar. Jangan-jangan yang mengejar singa-singa atau harimau-harimau yang juga sudah mengurus. Rombongan itu pasti dari bonbin depan Masjid Al Barokah. Mereka dari kejauhan sudah mencium tubuhku, lalu mengejarku. Apakah mereka mau menjadikanku pemimpin? Itu omong kosong. Ya, itu pertanyaan konyol.

Langit entah semakin malam atau semakin subuh, serba tak jelas. Yang jelas adalah hilangnya langit biru yang datang dari masa kecilku dulu. Sumpahku telah musnah, langit biru juga telah tiada. Kemudian ada serpihan suara membisikku, "Duduklah kau di menara Wisma Cloud & Water 1001 malam, nanti langit biru akan kembali, juga sumpahmu akan menjadi." Serpihan suara itu lalu lenyap, tanpa asap. ***

Surabaya, September 2015

Catatan

*) Judul cerpen diambil dari baris lagu Melly Goeslaw, "Apa ArinyaCinta" yang menjadi spundtrack sinetron Terlanjur Cinta, sutradara Ai Manaf.

**) Kakiku luka. Luka kakiku adalah baris puisi "Belajar Membaca" karya penyair besar Sutradji Calzoum Bachri.`

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wawan Setiawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 27 September 2015

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi