Kutukan Rahim (13) ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 27 Oktober 2015

Kutukan Rahim (13)


"SAYA sepertinya mengenal beberapa orang yang belum lama mukuli kamu itu. Mereka semua sepertinya memang residivis. Kebanyakan kriminal."

Kalau yang saya bilang tadi, dugaan kuat si pemerkosa istri saya?"

Polisi itu diam sebentar.

"Ini hanya untuk kamu saja. Dia sangat licin, meskipun residivis juga. Banyak kasusnya lenyap karena di belakangnya pejabat. Cukup kuat."

"Jadi, ia peliharaan pejabat?"

"Hmmm.... kalau yang lain hanya anak buang dia."

"Bagaimana cara menangkapnya?"

"Kamu laporan resmi dulu di kantor. Saya tidak bisa asal tangkap tanpa bukti kuat."

Esok paginya, suami Zul melapirkan secara resmi apa yang ketahui mengenai kasus istrinya. Setidaknya, hal itu akan menjadi simpanan data bagi polisi. Pihak kepolisian pun kemudian mengutus polisi bagian intelijen tadi untuk menindaklanjuti penyidikan. 

Suatu sore suami Zul mengantar polisi intel itu ke arah rumah orang yang ia bidik. Ia berpura-pura menawarkan barang baru.

"Hei, kau kampret juling. Kau yang tiap Senin dan Kamis tukang jualan kucing di pasar satwa itu, kan? Ngapain ke mari?" tanya orang yang sedang menjadi target penyelidikan, si tersangka pemerkosa Zul.

"Ada barang baru, Bang. Kali ini saja mungkin Abang mau?"

"Apaan? Nyambi jualan sabu kau?"

"Nggak. Kucing colongan, Bang. Lumayan. Persia. Rp 250 ribu saja."

"Mana kucingnya goblog! Lagi nggak bisa makan kau butuh Rp 250 ribu saja."

"Iya, Bang. Kalau minat, besok kubawa."

"Aku nggak minat. Ntar coba yang lain. Besok bawa saja."

Intel itu kemudian pergi. Ia kembali bertemu suami Zul dan mereka pulang.

"Mereka mengenalku sebagai tukang jualan kucing di pasar satwa. Hahahaaa..."

"Aku juga. Aku pernah lihat Bapak begitu. Maka, ketika ketemu di kantor polisi itu aku kaget juga.  Zul juga nggak tahu kalau bapak polisi. Aku juga bingung pas tanya-tanya banyak orang pada nggak tahu. Padahal sekampung."

"Kau kebetulan saja ketemu aku di kantor. Aku ke kantor waktunya nggak menentu."

"Jadi, berkah buatku aku bisa membongkar Bapak sebagai polisi?"

"Ssst. Nggak usah bercanda macam-macamlah. Besok saya mau datang sendiri. Awas, kalau kau ngewer-ewer tentang aku, kujitak."

***
BENARLAH, polisi itu datang lagi sore berikutnya. Yang mau membeli kucing Persia sudah ada. Transaksi terjadi.

"Mana persenan buatku?" sergah orang yang menjadi target penyelidikan.

"Pengennya apa, Bang?"

"Mabuk sampai letoy, goblok! Kau sediakanlah!"

"Masak cuma laku Rp 25o ribu, persenannya minta yang buat mabuk? Nggak salah Bang? Kebanyakan kan?"

"Aku udah bilang gitu, goblok!"

Intel itu menyanggupi besok akan membawa dua botol minuman keras kelas rendahan saja. Kebetulan orang yang minta itu mau juga.

"Yang penting, bikin kepalaku sampai miring."

"Oke, Bang. Sampai ketemu besok."

Besoknya, intel itu jadi membawakan "Topi Miring." Saat mabuk itulah seseorang yang sedang menjadi target penyelidikan itu bicara tanpa kontrol. Intel itu pun diam-diam merekam menggunakan ponsel yang ia taruh di kaos kaki. Sebab, ketika mau mabuk bareng, orang yang menjadi target penyelidikan itu tidak bodoh. Saku jaket dan celanasi intel sudah diobrak-abrik dulu. Ternyata, saat itu tak ditemukan apa pun yang membahayakan. Misalnya saja: senjata tajam, senjata api, atau bahkan alat perekam.

Ponsel si intel benar-benar merekam pengakuan si pemerkosa Zul. Pelakunya memang orang yang menjadi target penyelidikan itu. Maka, tak perlu waktu lama, polisi pun meringkus orang tersebut. Kawanan lainnya, teman-temannya sesama spesies kriminal, bubar. Tunggang langgang.

Proses hukum sudah ada di tangan polisi. Suami Zul tidak sempat melakukan balas dendam karena sudah ditangani polisi. Suami Zul dan Zul tentu saja ikut diperiksa kaitannya sebagai pelapor dan korban. Namun, ada yang tetap mengganjal di dalam pikiran suami Zul. Bukankah si intel pernah bilang, pemerkosa itu bagian dari jaringan penjahat yang suka diorder pejabat? Siapakah pejabat yang dimaksud?

Tidak mudah mengorek hal ini. Meski begitu, tingkat penasaran suami Zul tetap saja di ubun-ubun.

***
TERTANGKAPNYA si pemerkosa itu membuat Mos kemudian bersikap agak aneh di mata Zul dan suaminya. Misalnya saja, ketika ia diundang main ke rumah baru, ada-ada saja alasannya. Intinya, Zul dan suaminya menangkap Mos memang menghindar.

Apakah Mos berada di belakang pemerkosa itu? Kenapa ia justru seperti kebingungan? Ketakutan kedoknya terbongkar? Siapakah sesungguhnya yang menyuruh Zul diculik? Apakah benar Mos sampai tega menyuruh sekalian mengorder agar Zul diperkosa?

Pikiran suami Zul dan juga Zul dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka mulai curiga akut kepada Mos. Apalagi, ketika mereka memunyai niat mau berunjung ke rumah Mos, Mos juga lebih banyak tidak bersedia dikunjungi. Tentu saja, alasannya macam-macam.

Ketika tiba vonis bagi si pemerkosa yang menurut Zul dan suaminya hukumannya setimpal, si pemerkosa sempat meminta maaf atas perilaku buruk yang pernah dilakukannya. Sebelum pihak pengadilan memindahkan orang tersebut dari ruang pengadilan ke rutan, pihak pengadilan memberi waktu sejenak agar si terpidana bertemu Zul dan suaminya. Pada saat itulah, hidayah Tuhan turun, si terpidana meminta maaf dan menyebut bahwa Mos ada di belakang semua itu.

Tentu saja, bagi Zul dan suaminya, pengakuan itu tidak begitu mengagetkan. Karena sebelumnya mereka sudah menangkap adanya gelagat perihal Mos yang bermain di belakang layar. Dan memang, perkosaan itu murni inisiatif si terpidana. Justru yang mengherankan Zul dan suaminya, menurut si terpidana pula, Mos melakukan suruhan menculik itu karena ia juga mendapatkan bayaran dari kandidat yang lain. Ah, Mos, Mos, benar-benar pandai bermain dua muka... ❑ c

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan - Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 25 Oktober 2015

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi