Cerita Tentang Lelaki dan Cahaya Lampu Kota - Pintu Kata-kata itu Mati - Di Layar Kaca Jangan Tinju Mereka - Kau di Novel Temanku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 21 Desember 2015

Cerita Tentang Lelaki dan Cahaya Lampu Kota - Pintu Kata-kata itu Mati - Di Layar Kaca Jangan Tinju Mereka - Kau di Novel Temanku


Cerita Tentang Lelaki dan Cahaya Lampu Kota

dari sore lelaki ceking yang matanya cekung itu
resah mencari jalan pulang, susah mengendus kenyataan
jika rumah dan kamarnya pekat sekarat
sudah tentu rambu jalan tertutup garis hitam
pinggir korneanya tergores hingga ia tak melihat
sebiru cahaya menerpa
membuat sebentuk bayangan, menggandeng tangannya

mata lelaki itu tak secemerlang mata kucing
tak punya sorot kamera, apalagi lengking suara
untuk menaklukkan malam saja
ia meraba dengan getir yang dalam

Sejam lalu UGD rumah sakit kota mewartakan
sel kanker yang bersarang di paru lelaki itu
telah mengakhiri jalan cinta dan darah,
ia pulang dalam gelap kesumat
dalam getir satire, sedalam ketiadaan cinta
yang enggan merasuk di jantungnya

sebuah cahaya lampu kota
tak lagi menggandeng tangannya

Jangan Bunuh Masa Kanak Dinihari Sebab Ia Bahagia

Aku menarik garis yang kugores di tanah
"ini bagianku dan kau ada di sana"
telah kukumpulkan titik-titik menjadi garis
lalu kutumpuk angan di lingkaran kecil ini
sekadar ingin membongkar fosil ingatanku
yang tak lumer oleh api masa

Masalaluku selalu menerbitkan harapan
lewat kaki, mata dan tangan yang lincah
aku senang berlari menyudahi permainan
sebab jika menangis, ibu selalu marah
"anak yang cengeng, susah menjadi pencundang"

Di sudut permainan yang lain
aku dijebak oleh musuh-musuhku
dipaksa menyerahkan bidang setengah lingkaran
"itu bukan hakmu," hardiknya
maka jangan bunuh masa kanak dinihari,
sebab ia telah telanjur bahagia

Di Layar Kaca Jangan Tinju Mereka

Aku menonton hujan airmata di layar kaca
aku membayangkan jika aku yang nangis
aku menyaksikan orang berantem di gelas kaca
aku membayangkan jika aku yang ditonjok

Anak-anak sudah lelap dengan mimpi gulingnya
aku kumpulkan berbagai cerita tentang om narto
yang tak pernah pulang, tante narti yang sukanya bawel
tiba-tiba wajah mereka ada di televisi

Anak-anak bertanya, mengapa hujan airmata
sering ada di layar kaca, aku selalu menjawabnya:
karena di sana ada pasar sekaligus pabriknya

Kau di Novel Temanku

Selalu kutemukan kau dalam cerita novel temanku
tak tahu, mengapa kau seperti bidadari
hingga pena temanku menyentuh ujung bibirmu
nampak merah, lalu kau menunduk malu
temanku yang pandai merangkai kata
menutup cerita di novelnya
dengan very-very happy ending
Kini kubermimpi seperti itu
di ranjang coklat tua
saat renung ini melabrak jendela kayu
"ah kau dulu merinduku
kini rinduk itu menumpuk"
menyelinap di tumpukan bantal dan guling
di kamar kita yang selalu wangi, meski
sedikit pengap bau masa lalu


Pintu Kata-kata itu Mati

Di pintumu yang mati aku bicara
adakah kata-kataku yang silau oleh cahaya
memerahkan wajahmu, sehingga kau nampak layu
berkali mulutku tersedak
tak cukup untuk menyimpan kata

Aku selalu mengingat-ingat, bahwa 
setiap yang diikatkan selalu disebut pelarian
setiap yang digenggam selalu disebut ingin kabur
lalu aku ada di antara mana ?
tersandera di tubuh kata ?

Kata pintu:
"Contohlah bunga, meski tak wangi
tetap saja namanya bunga"

Belajar Membuat Sarang Burung

Burung itu sedang belajar membuat sarang
kakinya yang satu pincang, tapi
mulutnya lincah memindahkan jerami
ke ibu pohon yang berdaun rimbung

Mengapa ia memilih pohon mangga di depan rumahku
padahal ada pohon lain punya tetangga
yang lebih teduh dan aman
dari serangan musuh yang tak kelihatan,
pohon manggaku adalah tentara
yang setiap menjaga tumpah darah cinta

Usai bertelur, dan anak burung itu dewasa
aku tak lagi bisa berkisah, tentang kesetiaan
dan amsal cinta sejati yang mandah
sebab yang ada telah dibawa terbang

Bodohnya aku, lupa bertanya, numpang di pohon mana
setelah tak berumah lagi di pohonku ?

Puisi yang Tak Mati-mati di Parangkusumo

Kau mengenalku seperti halnya meja, mesin ketik
dan bau minyak wangi menyedak. Biasanya sisir tergeletak
seinchi di depan cermin. Lalu wajahku memastikan
aku masih punya rencana untuk mendatangi malammu
membagi kertas yang kutulis dengan tangan gemetar
"puisi yang luka oleh pisau cerita tapi tak mati-mati"

Kau adalah senja seperti Parangkusumo memenjarakan
perahu-perahu nelayan yang kotor oleh pasir basah
ikan-ikan tua yang baru belajar menghidupkan siripnya
aku kau kumpulkan bersama mereka, pasir letih menyisir


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 20 Desember 2015 
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi