Dongeng Hutan Kesedihan ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 29 Desember 2015

Dongeng Hutan Kesedihan


DALAM darahku mengalir darah babi dan darah anjing. Darah binatang. Aku tidak bisa menampiknya. Ibuku keturunan seekor babi, ayahku seekor anjing. Dan cintaku, cintaku adalah seekor harimau yang terluka. Kupikir karena itulah kau lebih memilih monyet hitam itu. Namun ternyata, bukan, tapi kau memang sudah ribuan tahun menunggu kekasihmu. Aku datang ke hutan kesedihan, sebagai bagian dari kaum yang tersesat.

Ada baiknya kau ketahui, selepas kutendang melayang perahu yang semestinya menjadi pelaminan sekaligus ranjang bagiku, aku meminta kepada angin untuk membawaku pergi ke mana saja. Ke mana saja. Asal jangan ke langit. Aku membenci langit. Melebihi kebencianku pada apa-apa. Kuserahkan diriku pada angin. Aku tak peduli ke arah masa lalu ataupun masa depan.

Namun ternyata angin bertengkar hebat di atas telaga. Mereka tak sekata dalam menentukan arah. Mungkin angin itu masih kaki tangan Sumbi yang mengutuk cintaku. Mereka bertempur tak ada yang mau mengalah, pecah berhamburlah diriku. Sebagian dibawa ke utara, sebagian melesat ke selatan, sebagian melayang ke barat, sebagian meluncur ke timur.

Keping-keping kesedihanku mengembara. Berpencar. Menyeberangi lautan, jatuh di negeri-negeri yang jauh. Kesedihanku merangkak di empat penjuru angin. Menyaksikan segala peristiwa. Peperangan, bencana. Kehancuran, kebangkitan. Kelahiran, kematian. Di setiap tempat selalu saja ada kemenangan dan kekalahan. Puluhan, mungkin ratusan, atau bahkan ribuan tahun, keping-keping itu merangkak menempuh waktu untuk bersatu kembali.

Di sini, di hutan ini, di depanmu, setelah menempuh perjalanan jauh, seluruh keping kesedihan itu berhasil berkumpul kembali. Keping-keping yang teronggok saling menumpuk, seperti bagian-bagian tbuh yang bertemu namun tak bisa bersatu. Seakan sama-sama asing.

Aku tak tahu pasti kenapa mesti berkumpul kembali disini. Sebuah tempat asing, hutan yang dipenuhi kembang dan tembang. Keping-keping diriku berkumpul tepat di hadapanmu yang sedang bernyanyi sambil memainkan kipas segi empat dari anyaman bambu. Hihid. Yang biasanya digunakan untuk mengipasi nasi yang masih panas. 

"Geber-geber hihid aing, hihid aing kabuyuran...," suaramu yang merdu dan liuk lembut angin dari hihid seperti tangan-tangan yang dengan perlahan menyatukan keping demi keping hingga utuh kembali menjadi diriku. Aku tak ubahnya remah-remah nasi yang kau satukan kembali.

Aku yang berdiri di hadapanmu. Telah utuh kembali disebabkan merdu nyanyian dari bibirmu dan angin dari gerak hihid itu.

Kau terkejut. Menghentikan nyanyian dna menyembunyikan hihid dalam dekapan. Mundur selangkah dan mematung. Sejenak. Namun kau ternyata perempuan pemberani. Kau maju dua langkah. Ujung lancip jemarimu halus menyentuh ujung hidungku. Sepertinya lama sekali kau tak berjumpa dengan manusia.

Selanjutnya begitu banyak pertanyaan yang meluncur dari mulutmu yang mungil dan merah, matamu yang bulat jelita hampir tak berkedip menatapku. Rambutmu panjang tergerai seperti ombak yang terjun. 


BARANGKALI karena aku tak juga bergerak dan menjawab, kau penasaran dan mengangkat kembali hihid yang bersarang di depan ranum dadamu. Kau bernyanyi lagi sambil berjalan mengitariku, mengipasiku. Tak terhitung putaran tubuhmu mengelilingiku. Aku menghirup harum yang kubiarkan mengendap sedap dalam diriku.

Wajahmu yang jelita terus memandang ke arah wajahku. Kutangkap pesona yang tak terkatakan, tak kutemukan pesona itu di empat penjuru angin yang telah kutempuh. Aku dengan cepat bisa menduga, dalam kecantikanmu bersemayam kesedihan, justru kesedihan itulah yang membuat kecantikanmu sempurna.

Mirip dengan kecantikan Sumbi yang kuyakini memancar berkat kesedihan yang terpendam dalam dadanya. 

Tapi kau bukan Sumbi. Kau melebihi Sumbi.

"Aku mencintaimu, sebab aku hidup kembali oleh kecantikanmu!" tanpa sadar aku berbisik lirih.

Kau berhenti. Mendekap kembali kipas di dada. Memperhatikanku. Tersenyum manis, ada pancaran kegembiraan dari sepasang matamu, seakan kau telah berhasil memetik setangkai bunga atau menangkap seekor kupu-kupu.

"Kau siapa? Kau dari langit?" tanyamu menyelidik.

Aku menggelengkan kepala, seperti mengibaskan yang masih mengendap dari Sumbi. 

"Sayang sekali, kau bukanlah seseorang yang dikatakan sepasang anak kecil pemilik hihid ini, kau bukan yang sedang kutunggu, yang selama ini kurindukan?" ucapmu seakan sedang mengulitiku dengan suara yang indah.

"Aku membenci langit. Aku mencintaimu!" hanya kalimat itu yang dapat mengalir dari mulutku.

"Tapi siapa kau ini?" tanyamu mencari jawab.

Aku telah sampai di hadapanmu. Sulit untuk menjelaskan siapa diriku. Hidupku yang lalu yang ingin kuhapus sekali pun tak pernah kuhapus. Menjelaskan siapa diriku sama saka dengan mengungkit kembali segala yang telah kutinggalkan.

Aku hanya memandangmu, menikmatimu.

Pipimu merona. Kesedihan bangkit di wajahmu, setitik air mata menambah jelita sepasang matamu.

"Kau tersesat? Tersesat seperti diriku? Seperti hihid ini?" cecarmu dengan nada suara yang tetap seperti bersenandung.

"Lebih tepatnya aku telah sampai, sampai kepadamu," bisikku selembut mungkin. Aku tak ingin suaraku, yang di masa lalu selalu keras menentang takdir, memcahkan kecantikanmu.

Kau memejamkan mata, sekan membendung kesedihan yang menggeliat. Namun siapa dapat menahan kesedihan. Aku sendiri telah hancur menjadi keping-keping dalam sebuah perjalanan yang tak terkisahkan, disebabkan kesedihan.

"Aku sesungguhnya yang tersesat di hutan kesedihan ini, terusir dari rumah sendiri, gara-gara kecantikanku. Oh, kenapa kecantikan menjadi sumber malapetaka. Aku menangis sepanjang langkah, kupikir air mata ini akan habis, namun ribuan tahun, kesedihan ternyata sumur yang tak pernah kering." Kau duduk di tonjolan akar, bersandar pada pohon terbesar di hutan ini.

"Aku dibuang ke hutan oleh kakakku sendiri. Aku tiba-tiba diserang penyakit kulit. Aku tersiksa, namun bersyukur, sebab kecantikanku telah hancur. Barangkali mereka akan menerimaku kembali. Tapi aku tak tahu jalan kembali, terus saja tersesat, kemudian berjumpa dengan dua anak kecil yang menitipkan hihid ini. Sebelumnya mereka bernyanyi dan mengipasi tubuhku, mengembalikan kecantikanku. Aku memarahi mereka, namun mereka malah menitipkannya dan berkata bahwa akan ada seseorang yang membutuhkannya, seseorang yang harus kutunggu. Seseorang yang tersesat dari langit. Sebenarnya tak penting ia dari mana, namun ia tersesat dari langit. Seperti aku, seperti mereka. Tapi tenryata bukan kau, kau bukan dari langit dan ternyata tidak tersesat."

"Dua anak kecil?" tanyaku sekadar untuk membiarkanmu sejenak menarik napas.

"Dua anak kecil. Yatim-piatu. Seperti kakak beradik yang lahir dari kesedihan. Mereka juga tersesat di sini. Mereka sedang mencari jalan untuk keluar dari hutan ini. Merekalah pemilik Hihid Kahuyutan ini." Kau mengelus-elus kipas, seperti sedang mengelus kesedihan.

Aku mulai berpikir hutan ini adalah tempat berjumpanya segala macam kesedihan. Segala macam pesona kesedihan. Namun jika bukan aku yang sedang kau tunggu, lantas siapa. Adalah seseorang yang lain yang mempunyai kesedihan yang indah?

KEGADUHAN mendadak menyembur dari arah timur. Dengung dan gemuruh, tak lama terdengar seperti suara pepohonan yang rubuh. Suara satwa gelisah terdengar di mana-mana. Berlesatan hewan-hewan dari arah timur, lari tunggang-langgang. Tak tentu arah. Saling tubruk. Seperti sedang menyelamatkan diri dari kejaran pemangsa yang ganas.

Hutan yang tadinya tenang, penuh kembang dan tembang, mendadak riuh. Riuh kesedihan satwa-satwa. Kau berdiri, melambai-lambaikan kipas. Bernyanyi lagi. Satwa-satwa seperti menemukan tempat bersembunyi. Seluruh satwa itu berlindung di belakangmu. Seakan menemukan ibu. 

Kau berjalan menenangkan satwa-satwa itu. Aku mulai mengerti, kau sangat mengenal mereka. Ah, betapa panjang perjalanan tersesatmu. HIngga bisa kau kenali setiap satwa di sini, seperti kau mengenali saudara sendiri. Kau mencintai mereka, aku tahu itu dari tatapan dan gerak-gerikmu.

Satwa-satwa itu diam. Tak lama terdengar lagi dengung dan gemuruh, suara pohon-pohon rubuh dari sebelah barat. Dari utara. Dari selatan. Satwa-satwa terus berdatangan. Bermacam jenis satwa.

Kau dengan penuh kasih sayang, membelai mereka satu per satu. Kau benar-benar ibu. Semakin memancar pesona. Semakin aku mencintaimu, seperti kau mencintai mereka.

Suara gemuruh seakan mengepung semakin dekat. Tiba-tiba nampak bayangan hitam melompat dari pohon ke pohon. Bergelantungan di dahan-dahan. Semakin dekat, jelaslah seekor monyet hitam berekor panjang melayang jatuh tepat di antara tubuhmu dan tubuhku.

Tubuhnya dikoyak-koyak luka.

"Inilah dia, inilah dia yang datang tersesat dari langit!" kau tiba-tiba menubruk dan memeluknya.

Aku menarik napas merasakan alu yang menumbuk jantungku. Sepertinya dadaku menjelma lesung, dan ada banyak alu yang menumbuk jantungku. 

"Bicaralah, bicaralah! Jika kau mampu berbicara, maka kau benar-benar yang kutunggu. Lekas, kaulah yang akan menunjukkan jalan pulang dari hutan kesedihan ini." Kau mulai bernyanyi.

Semua satwa, termasuk aku, seakan serentak menahan napas, menatap ke arahmu yang erat memeluk monyet hitam itu.

"Ya, aku yang terusir dari langit. Jatuh ke hutan ini sebagai lutung. Hutan kesedihan ini. Ribuan tahun aku mencarimu. Aku benar-benar kasarung." Ajaib, monyet hitam itu bisa bicara. Benar-benar bicara, setelah seluruh lukanya pulih berkat nyanyian dan gerak hihid. 

Ada yang bangkit dalam dadaku begitu kudengar dia berasal dari langit. Barangkali cemburu. Bukankah dulu Sumbi juga bersekutu dengan langit. Seakrang kau menatap mesra pendatang dari langit. Apa mungkin nasibku selalu saja terbentur langit.

"Kau Lutung Kasarung, junjunganku. Namun, kenapa kau tak berubah menjadi seorang lelaki tampan. Ah, itu bukan soal, yang penting, lekas, tunjukkan jalan untuk keluar dari hutan ini!" Kau memohon sambil menjatuhkan diri dalam pelukan monyet hitam itu.

"Itulah masalahnya,s elama ribuan tahun tersesat aku di hutan ini, telah mencoba untuk mencari jalan keluar dari hutan ini, bahkan aku mencari jalan kembali k elangit. Namun tak ada. Tak ada jalan. Api berkobar di mana-mana. Mereka menutup seluruh jalan. Api dan asap mengepung kita. " Lutung itu mengelus rambutmu.

"Api? Asap?" Aku dan kau hampir bersamaan melontar tanya.

"Hutan kesedihan ini adalah hutan terakhir yang masih tersisa. Sebentar lagi akan lenyap beserta isinya. Tapi setidaknya aku telah menemukanmu, sayangku." Lutung memelukmu erat, sambil melirik tajam ke arahku. Seakan memberi isyarat bahwa kau adalah miliknya. Milik langit.

Aku melempar pandang ke arah satwa-satwa yang murung. Melempar pandang ke setiap arah. Sepasang anak kecil berlari sambil berpegangan. Memandang heran ke arahku. Mereka langsung memburu dirimu.

"Putri Purbasari! Tak ada jalan keluar dari hutan ini!" teriak keduanya, begitu mereka sampai di sini.

Kau yang sedang erat berpelukan lekas menyambut mereka. 

"Cepat, gunakanlah hihid ajaib ini. Bawa kita semua keluar dari kesedihan ini." Kau memohon dengan berurai air mata sambil menyerahkan Hihid Kabuyutan.

"Ya, selamatkan kita dari serbuan api. Lihat, mereka dekat." Monyet hitam dari langit itu menunjuk pohon-pohon yang rubuh bertumbangan.

"Tapi bukankah kita tersesat di sini. Barangkali mereka itu akan menunjukkan jalan untuk terbebas dari hutan kesedihan ini." Aku mulai gusar dengan segala kepanikan ini, Segala kemesraanmu dengan monyet hitam itu.

Semuanya menatap marah. Murka. Namun aku lebih murka lagi. Aku telah kehilanganmu, setelah semuanya kehilangan Sumbi.


SEPASANG anak yatim piatu itu pada awalnya nampak kebingungan. Namun kau dan kekasihmu itu berhasi meyakinkan mereka, akhirnya bersama-sama bernyanyi. Kipas pusaka yang bernama Hihid Kabuyutan itu mulai menebar angin lembut. Mereka bernyanyi semakin keras dan menggerakkan kipas lebih bertenaga. Namun tak ada kejadian apa-apa. Kita tetap saja berkumpul di bawah naungan pohon.

Asap mulai tercium, panas mulai terasa. Dari setiap penjuru pohon-pohon terus rubuh bertumbangan. Asap mulai menyerbu. Lidah api mengepung.

Aku memandangmu yang mulai berlinang dalam pelukan kekasihmu itu. Lutung Kasarung. Aku mulai berpikir seluruh pengisi langit semuanya seperti kekasihmu. Kebencianku semakin menjadi-jadi.

Sepasang anak yatim-piatu mengerutkan kening ketika hihid tak lagi memberi keajaiban. Lama-lama mulai kalap, bertingkah seperti orang gila. Bernyanyi sambil berteriak-teriak. Membabi-buta. Namun tetap tak ada lagi keajaiban. Malah hihid itu pelan-pelan hancur. Anyaman berlepasan. Hancur. Lama-lama tinggal pegangannya saja yang tersisa dalam genggaman anak perempuan. Karena kesal, pegangan itu dilempar ke tanah. Diinjak-injak. Mereka berdua saling peluk sambil menangis mengelilingi terakhir yang pohon besaryang menaungi aku, kau, kekasihmu, dan para satwa. 

Asap menelan segala pandangan. Samar kau memeluk kekasihmu. Sepasang anak itu saling memeluk. Satwa-satwa saling memeluk. Aku sendiri tak ada yang bisa kupeluk. Lantas kuingat bahwa dalam darahku itu terdapat darah babi, darah anjing, dan cintaku adalah harimau yang terluka. Aku lekas masuk dalam peluk para satwa. Pasrah menunggu saat-saat kehancuran datang, menanti lidah api melumat dan memusnahkan segalanya. Memusnahkan hutan kesedihan ini dan seluruh pengisi yang tersesat di dalamnya.

Diam-diam kuucapkan selamat tinggal untukmu, seperti dulu kuucapkan kepada Sumbi dan langit. Kupejamkan mata. Terdengar suara-suara yang dimangsa api. Sampai semuanya hening. Kenapa tak ada panas yang melumatku. Sialan. Mereka tak menyentuhku sama sekali. Aku dibiarkan sendiri. Ditinggalkan begitu saja.

Segalanya sudah hangus dan menghitam. Tapi aku tetap saja hidup memeluk abu para satwa terbakar. Barangkali abumu tanpa sadar ku genggam dan kuhirup. Harummu tak hilang dalam rakus api. Aku memeluk abu hutan kesedihan. Aku ingin mengejar api itu. Tapi yang kutemukan hanya sesa jejak mereka di mana-mana. Segalanya telah hangus tinggal abu.

Betapa sunyi di dunia yang asing ini. Sendiri tanpa jalan pulang. Sendiri dalam kepungan abu. Dulu kupikir senyum Sumbi adalah jalan pulang. Juga sempat kupkir senyummu adalah jalan pulang. Namun ternyata tak ada jalan pulang bagi seluruh kesedihan ini. Tak ada. Tak kutemukan jalan pulang sampai kutuliskan kisah ini untukmu, barangkali juga untuk Sumbi, yang entah sekarang di mana.

Di sini, aku menanti-nanti, dan bertanya-tanya sudahkah api itu pergi menyerbu langit. Kuharap begitu. Akan kutunggu keruntuhan langit di sini. Sendiri.


Toni Lesmana lahir di Sumedang, kini menetap di Ciamis, Jawa Barat. Kumpulan cerita pendeknya adalah Jam Malam Kota Merah (2012) dan Kepala-Kepala di Pekarangan (2015) 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Toni Lesmana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 27 Desember 2015

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi