Janji di Perpustakaan ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 28 Desember 2015

Janji di Perpustakaan


RUDI merengut kesal saat keluar kelas. Ia tidak mengerjakan tugas bahasa Indonesia dari bapak guru Yadi. Tugas membikin resensi novel yang sebenarnya harus dikumpulkan hari ini.

”Kemarin tidak mengerjakan tugas membuat puisi. Minggu kemarin tidak menyelesaikan tugas membuat cerita pendek. Minggu ini tidak mengerjakan tugas membuat resensi buku.” Pak guru Yadi memandang lekat-lekat murid didiknya.

Rudi bersikap masa bodoh. Ia tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran apa, sih, itu? Pelajaran kok membahas nama-nama pengarang dan cerita yang dikarangnya. Pelajaran kok membahas hasil kerja orang kurang kerjaan—melamun, diketik, dicetak jadi buku, dan dibaca banyak orang. Mau-maunya orang-orang membeli buku hasil lamunan orang kurang kerjaan—dan sekarang ia harus membikin resensinya. 

“Pelajaran bahasa Indonesia akan mengajarkanmu mencintai karya sastra Indonesia. Kalau bukan kalian, dan utamanya kamu Rudi, lalu siapa lagi yang akan mengapresiasi karya anak negeri?” Pak Guru Yadi masih terus melanjutkan nasihatnya. 

Di telinga Rudi, nasihat itu terdengar bagai omelan.

“Sekarang, bapak beri kamu tugas membuat resensi tiga novel karya pengarang Indonesia. Dikumpulkan seusai jam pelajaran ini.“

Rudi mendongak. Eh? Apa? Ia harus membikin resensi tiga novel harus selesai dalam waktu singkat? Enggak salah, tuh?

“Sekarang Bapak persilakan kamu meninggalkan kelas untuk pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas.”

Rudi bangkit ogah-ogahan. Ia merengut kesal saat keluar kelas. Setiba di perpustakaan tak banyak murid yang berada di sana. Ya, memang saja, perpustakaan kan tempat yang enggak asyik banget buat didatengin. 

Rudi mengambil tiga buah novel secara acak. Ia menghempaskan duduk dengan mendesah keras. Menunjukkan kejengkelan hatinya. 

”Enggak usah berisik bisa, nggak?“ 

Rudi menoleh. Mulutnya menganga. Rania, cewek paling cantik di sekolah, sedang mendelik ke arahnya. Ngapain cewek pintar itu ada di perpustakaan tengah-tengah jam pelajaran begini?

”Bolos,” jawab Rania masih dengan muka galak. ”Kamu ngapain di sini?“

”Bolos,” jawab Rudi menirukan ekspresi galak cewek di depannya. Mau tidak mau, Rania tertawa sedikit. ”Aku ditugasi membikin resensi tiga buku oleh pak Yadi, nih. Harus dikumpulin akhir jam pelajaran. Mana mungkin? Gila saja, tuh, bapak guru.”

Segumpal kertas ditimpukkan ke kepala Rudi. ”Enggak boleh ngata-ngatain pak guru gila.“
Rudi menggosok-gosok kepala yang kena timpuk sambil nyengir.

”Aku akan ajari kamu membaca cepat dan menunjukkan poin-poin membikin resensi buku,” tawar Rania. ”Tapi, janji… setelah ini kamu sudi memperhatikan dan mengerjakan tugas bahasa Indonesia dengan sungguh-sungguh.”

Rudi menunjukkan jari yang menandakan ‘swear‘. Dengan bantuan Rania, Rudi berhasil menyelesaikan resensi buku dalam waktu kurang dari satu jam.

”Ini bukan resensi yang sempurna,“ hadang Rania. “Ini hanya bantuanku supaya kau mau mengerjakan tugas bahasa Indonesia. Supaya lebih bagus lagi, kamu harus rajin membaca di perpustakaan.”

”Ya, deh,” jawab Rudi. “Terus kenapa kamu bolos di tengah jam pelajaran begini?”

”Aku bosan pelajaran matematika. Kurang menantang,“ sekarang gantian Rania yang cengengesan. 

”Jadi aku memanfaatkan jam pelajaran dengan kabur di perpustakaan.“

”Tapi, bukannya kau itu cewek pintar? Mau pelajaran apapun pasti gampang?” tanya Rudi heran.

”Justru itu. Karena pintar itulah, aku jadi bisa berbuat sesuka hati.” Rania nyengir. ”Aku sudah menguasai pelajaran matematika. Tidak masuk kelas hari ini, aku juga tetap jagoan berhitung.“

”Aku akan laporin kamu ke ibu guru matematika. Bu Yanti, kan?“

Rania menoleh kaget. ”Eh, jangaaan....!“

”Kalau begitu, kau juga harus berjanji padaku,“ kata Rudi. 

Memangnya cuma dia yang wajib berjanji harus selalu memperhatikan dan mengerjakan tugas-tugas di kelas? Enak saja. Rudi nyengir.

”Kamu tidak boleh membolos pelajaran matematika lagi. Sepintar apapun kamu, kamu harus menghargai penjelasan bapak dan ibu guru di dalam kelas,“ kata Rudi. ”Akan lebih bagus lagi kalau kamu mau membantu menjelaskan kepada teman-teman yang belum begitu paham.“

Rania menimbang-nimbang sebentar. Tak lama ia balas nyengir sembari menganggu. ”Oke, deh. Deal.”

Rudi menyodorkan kelingking. Rania segera menyambutnya dengan mengaitkan kelingkingnya.

”Kalau kamu dapat nilai dan pujian bagus dari pak Yadi untuk tugas resensi bukumu, aku kudu ditraktir semangkok bakso dan es teh lho, ya,” kata Rania ketika mereka sama-sama berjalan kembali menuju kelas. 

Bel pergantian jam pelajaran baru saja berbunyi. Rudi sudah menyelesaikan tugas hukumannya. Rania telah berjanji tak akan membolos-bolos lagi.

”Oke. Siap, deh!” kata Rudi sambil pamit menuju kelas.

Di depan pintu kelas, Pak Yadi memandang pekerjaan Rudi dengan sekilas tatapan takjub. Dilihat dari syarat-syarat membikin resensi buku, pekerjaan Rudi tergolong rapi. Bagaimana bisa bocah bengal ini mengerjakan tugas dalam waktu yang begitu mepet?

”Bisa dong, Pak,” kata Rudi sembari cengengesan. Lalu, ia membetulkan sikap. “Saya minta maaf karena selama ini tidak pernah memperhatikan pelajaran Bapak.”

Pak Yadi kembali takjub mendengar perkataan Rudi. Apakah ia sedang tidak salah dengar?

”Setelah ini saya berjanji akan memperhatikan penjelasan pak Yadi dan selalu mengejarkan tugas yang diberikan,“ lanjut Rudi kembali.

”Ya, ya...,“ Hanya itu yang mampu dikatakan pak guru bahasa Indonesia tersebut. 

Rudi pamit masuk kelas. Ia harus menyiapkan diri untuk pelajaran berikutnya, pelajaran Kimia. Pak Yadi tentu heran akan perubahan sikapnya yang begitu mendadak. Tapi, Rudi tidak. Karena ia sudah berjanji pada Rania. Janji di perpustakaan. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 27 Desember 2015

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi