Air Sakti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 11 Januari 2016

Air Sakti


BAPAK Mahwi sudah telanjur yakin bahwa Ki Saruk adalah orang yang dipilih Tuhan. Sebab itu Ki Saruk diberi semacam mukjizat berupa air sakti yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Bapak Mahwi yang terserang stroke selama bertahuntahun, dan urung menemukan obat yang cocok, seperti menemukan jalan terang. Ya, ia wajib minum air sakti dari Ki Saruk. Harus. Tidak boleh tidak.

Dulunya, Ki Saruk hanya seorang dukun pijat biasa. Jika order pijatan sedang sepi, Ki Saruk akan pergi ke pinggiran hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Kadang untuk dijual, kadang untuk mengasapi dapurnya sendiri. Hingga suatu ketika, saat Ki Saruk memapras reranting kering di hutan perbatasan dusun, ia menemukan sebuah paku raksasa sebesar pensil, paku itu berwarna keemasan dan meruncing di salah satu ujungnya, sementara satu ujung yang lain berbentuk seperti kepala ular.

Entah siapa yang memulainya, beberapa warga dusun menganggap benda itu adalah benda bertuah. Maka salah seorang warga yang kebetulan tak tahan dengan pipinya yang bengkak lantaran sakit gigi, merengek meminta Ki Saruk membuatkan ramuan apa saja yang harus diaduk menggunakan tongkat
kecil itu. Warga yang sakit gigi itu meminumnya dan sembuh satu hari setelahnya.

Semenjak itu, warga yang percaya, berbondong-bondong mendatangi Ki Saruk. Ada yang meminta kesembuhan bagi demam anaknya, ada yang meminta diterangkan mata ibunya yang katarak, ada yang meminta ditegakkan kaki saudaranya yang lumpuh, ada yang meminta dipekakan telinga kerabatnya yang tuli, ada juga yang meminta dipertemukan jodohnya.... Entahlah, penyakit-penyakit itu sembuh atau tidak, yang jelas beberapa dari mereka kembali pada Ki Saruk dan meminta mengobati penyakit-penyakit mereka atau kerabat mereka yang lain.

Kedatangan pasien yang semula dapat dihitung jari itu, kian hari kian membeludak. Beberapa pemuda kreatif, mulai membersihkan ladang kosong di sebelah rumah Ki Saruk dan menjadikannya
lahan parkir. Sudah seperti artis, Ki Saruk punya manajer dan beberapa pegawai yang mengurusi tugas masing-masing: mengatur pasien yang mengantre, menarik uang infak seikhlasnya, sampai menyiapkan air sumur yang akan segera menjadi sakti setelah diaduk dengan tongkat sakti Ki Saruk.

Rumah Ki Saruk sebenarnya berada di dusun seberang, namun berita-berita janggal memang datang seperti wabah. Mudah sekali menyebar. Tak ayal, secepat kilat kabar itu pun sampai juga ke telinga Bapak Mahwi. Mendengar kabar seorang dari tetangga dusunnya mampu mengobati segala macam penyakit, Bapak Mahwi tak mau tinggal diam.

”Wi, pergilah kau ke Ki Saruk. Mintalah air sakti dari sana, siapa tahu jodoh,” demikian ujar Bapak Mahwi. Dan Mahwi yang tak biasa membantah itu pun tak hendak membantah.

Pertama kalinya Mahwi ikut mengantre berjam-jam demi segelas air sumur yang diaduk dengan tongkat yang katanya keramat itu. Mahwi juga baru tahu, bahwa uang infak seikhlasnya itu ada nilai minimalnya, dan nilai minimal itu adalah Rp 50.000. Mahwi membayangkan jika satu orang membayar lima puluh ribu untuk segelas air, maka Ki Saruk akan segera menjadi jutawan dalam hitungan pekan tanpa perlu memelihara tuyul atau babi ngepet.

”Ingat, supaya penyakit bapakmu sembuh total, kau harus berkunjung kemari secara rutin, bertahap, mulai dari tiga hari sekali, jika bapakmu menunjukkan perkembangan membaik, kau bisa ke sini seminggu sekali, tergantung seperti apa kondisi perkembangan bapakmu,” kata Ki Saruk setelah mengaduk air bening dalam gelasnya itu sebanyak sembilan kali putaran.

Setelah menceritakan perihal uang infak minimal yang lima puluh ribu itu ke bapaknya, juga tentang kunjungan bertahap itu, Mahwi segera menyerahkan segelas air yang telah dibungkus dalam plastik bening itu ke bapaknya. Dan bapaknya hanya berujar, ”Kesehatan memang mahal, uang segitu tidak ada apa-apanya,” sebelum meneguk air bening itu hingga tandas. Beberapa jam setelah meneguk air sumur itu, Bapak Mahwi berujar lagi,

”Rasa-rasanya tubuhku menjadi semakin segar,” Mahwi tak menggubris. Faktanya, Mahwi melihat bahwa wajah bapaknya tetap saja keruh dan pucat.

Tiga hari berikutnya, Bapak Mahwi meminta Mahwi datang lagi ke dusun seberang, begitu pula tiga hari berikutnya an berikutnya. Lambat laun Mahwi merasa jengah dan kesal, harus mengantre berjam-jam, membuang-buang uang ratusan ribu, hanya untuk segelas air mentah yang diaduk dengan paku tua yang ditemukan di hutan. Setiap kali Mahwi mengingatkan bapaknya bahwa penyakit dan kesembuhan itu adalah milik Tuhan, dan meyakini segelas air dan sebatang tongkat adalah perbuatan konyol, bapak Mahwi selalu menjawab bahwa Tuhan telah menurunkan perantaranya, yaitu lewat Ki Saruk.

Mahwi benar-benar tidak yakin, bahkan pada hari Jumat, Ki Saruk lebih memilih melayani pasien-pasiennya, ketimbang pergi ke masjid untuk salat Jumat. Jadi, apakah Tuhan tidak menemukan orang lain yang lebih tepat sebagai perantara. Benar-benar khayal dan mengada-ada.

Karena kejengkelannya, ketika ke sekian kalinya bapaknya menyuruhnya kembali ke Ki Saruk, diam-diam Mahwi berjalan memutar haluan. Ia berbelok ke sumber air yang menyembul di tepi sungai, yang jaraknya tak seberapa jauh dari dusun. Mahwi mengucap basmalah dan membungkus air jernih itu ke dalam plastik untuk kemudian membawanya pulang.

”Tumben cepat sekali,” komentar bapaknya.

”Antreannya tidak terlalu panjang,” balas Mahwi datar. Mahwi merasa kurang enak sudah mengibuli bapaknya, tapi ia merasa itu lebih baik ketimbang memercayai sebatang paku dan membuang-buang uang.

Kelewat hitungan  bulan Mahwi mengibuli bapaknya dengan air jernih dari sumber air di tepi sungai itu. Anehnya, kian hari, kian pekan, kian bulan, kondisi Bapak Mahwi kian membaik. Bapak Mahwi yang semula hanya melata di kursi roda sudah mulai bisa berdiri, dan bahkan kini berjalan satu-dua jengkal dengan menggunakan tongkat. Terakhir, ketika Mahwi mengajak bapaknya cek up ke dokter, bapaknya menolak,  dan malah bilang, ”Aku tak perlu ke dokter, air dari Ki Saruk sudah cukup. Beberapa kali kunjungan lagi, bapak yakin bapak bakal bisa jalan tanpa tongkat. Lagi pula cek up mahal, duitnya sudah habis buat berobat ke Ki Saruk.”

Mahwi hanya tersenyum, beranjak ke kamarnya sejenak dan kembali ke hadapan bapaknya dengan lembaran-lembaran uang lima puluh ribuan yang bertumpuk, ”Bapak harus cek up, wajib, tidak boleh tidak. Ini uangnya,” singkat Mahwi.

”Dapat uang dari mana kau?” bapaknya menelisik curiga.

Mahwi tak menjawab, ia berlalu begitu saja dari hadapan bapaknya dengan sunggingan senyum yang teramat geli.*** - k

Madiun-Malang, 2014-2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 10 Januari 2016 

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi