Cinta Sejati - Samudera Kesabaran - Penyesalan - Jangan Bersedih - Iblis - Aku - Syukuri Nikmat - Kematian ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 11 Januari 2016

Cinta Sejati - Samudera Kesabaran - Penyesalan - Jangan Bersedih - Iblis - Aku - Syukuri Nikmat - Kematian


Cinta Sejati

Tahukah kamu bahwa Majnun dibunuh oleh 
cintanya kepada Laila?
Tahukah kamu bahwa Qarun dibunuh oleh
cintanya kepada harta?
Karena itu, maaf bila aku tak bisa menjual, 
apalagi memberikan,
cintaku yang telah kugadaikan kepada-Nya.
Pinjamlah cintaku dari Dia.

Samudera Kesabaran

Aku ragu, apakah kebencian yang kau curah-
kan kepadaku akan kurasa menyakitkan. Se-
bab, setiap malam telah kugali relung hatiku
menjadi seluas samudera.
Kotoran sepekat apa pun yang mewarnai ke-
bencianmu akan tercuci bersih.
Bau bacin semenyengat apa pun akan kem-
bali hambar.
Bibit penyakit seganas apa pun akan men-
jadi tawar.

Penyesalan

Aku tak sadar bahwa ketika kutanam benih
dendam di dadaku, sejatinya aku telah ter-
jerat utang. Utang yang harus kubayar den-
gan teramat mahal. Apalagi ketika kuncup
dendam itu kutaburi pupuk kedengkian.
Sepanjang sisa hidupku, tanpa sadar, aku ter-
paksa membayarnya dengan darah, daging,
hati, perasaan, kedamaian, dan kebahagiaan.
Tak ada yang tersisa.

Jangan Bersedih

Mengapa kita harus bersedih, bila kita tahu:
Hilangnya malam selalu disusul datangnya siang.
Air mendidih pasti menguap.
Panas menyengat pada saatnya diselimuti hujan.

Iblis

Kita diserang iblis dari depan dengan bayang
ketakutan.
Kita diserang iblis dari samping dengan cin-
ta keluarga.
Kita diserang iblis dari belakang dengan dilu-
pakan sejarah.
Kita diserang iblis dari bawah dengan meng-
elus kemaluan.
Kita diserang iblis dari atas dengan penga-
gungan akal.
Kita tak mungkin sembunyi atau sempat berlari.
Kita harus melawan dengan senjata di dada.
Ada apa didadamu?

Aku

Perkenalkan Aku:
Akulah yang menyelamatkan orang yang
tenggelam.
Memberi jalan keluar orang-orang yang men-
galami kesulitan.
Menolong orang yang dizalimi.
Memberi petunjuk orang yang sesat.
Menyembuhkan orang yang sakit.
Meringankan beban orang yang mendapat cobaan.
Aku pernah berjanji, tapi hanya untuk yang minta pertolongan-Ku:
Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya akan 
Kuperkenankan bagimu.

Syukuri Nikmat

Kamu sering merasa biasa bisa berjalan te-
gak, bahkan berlari kencang.
Kamu sering merasa biasa bisa tidur nyeny-
ak, bahkan mendengkur keras.
Kamu sering merasa biasa bisa belanja ba-
rang, bahkan sering memborong.
Kamu sering merasa biasa bisa makan enak,
bahkan kekenyangan.
Pernahkah kamu bertemu si kaki pincang
dan kesulitan melangkah?
Pernahkah kamu dirawat di rumah sakit
dengan tubuh penuh kabel?
Pernahkah kamu kerampokan dan rumah-
mu terbakar habis?
Pernahkah kamu tersedak dan sulit bernapas?

Kematian

Kita selalu membawa kematian.
Kita berjalan menuju kematian.
Kita sedang menunggu kematian.
Dia pasti akan datang; entah pagi, siang so-
re, atau malam.
Sebab, siapa pun yang lari dari kematian, seja-
tinya dia sedang menjemputnya di tujuan.
Kematian tidak pernah meminta izin kepa-
da siapa saja.
Tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja.
Dan tidak pernah merajuk.
Kematian tidak pernah memberi aba-aba.
Dia datang dengan sangat tiba-tiba.

Bayang-Bayang

Kita tidak akan pernah menang perang me-
lawan bayang-bayang.
Biarkan dia melewati dan menghantam kita.
Kita juga tidak akan pernah kalah, asal kita ti-
dak pernah menyerang.

Akan Tetapi

Kawan, jangan pernah berteman dengan
penyuka kata akan tetapi.
Sebab, mereka akan selalu menyertakan ke-
burukan dalam kebaikan.
Dan akan selalu menyertai kebaikan dengan
keburukan.

Selalu Ada Jalan Keluar

Jika tali telah menegang kencang, maka itu
tandanya akan putus.
Jika malam telah sangat kelam, maka kegela-
pan itu akan segera pergi.
Jika sebuah masalah sudah sangat menghim-
pit, maka itu tandanya akan segera muncul
jalan keluar.

Jangan Bicara

Jangan pernah bicara kalau nantinya kamu
hanya akan minta maaf atas apa yang perna-
hkamu ucapkan itu.

Tak Ada Yang Hilang

Tidak ada sesuatu yang hilang.
Yang ada adalah berubah tempat dan beru-
bah wujud.
Atau justru kita yang lupa?

Ada Saatnya

Tidak ada gembok yang tidak bisa dibuka.
Tidak ada simpul yang tidak bisa dilepas.
Tidak ada jarak yang jauh yang tidak bisa di-
dekatkan.
Tidak ada yang hilang yang tidak bisa dite-
mukan.
Semua ada saatnya.


Yuli Setyo Budi, wartawan dan penyair. Tinggal di Surabaya. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuli Setyo Budi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 10 Januari 2016

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi