di dadu itu ada wajahku - pelajaran memanah - yang tertinggal di kaki gunung - kepada io - syair terakhir - hujan pertama - sajak 4 seuntai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 11 Januari 2016

di dadu itu ada wajahku - pelajaran memanah - yang tertinggal di kaki gunung - kepada io - syair terakhir - hujan pertama - sajak 4 seuntai


di dadu itu ada wajahku

debu telah menebal di rambutku
sementara kematianmu masih jauh
perang bahkan belum dimulai
tapi perangku telah berlangsung
sejak kulepas gelung rambutku
di sebuah hari sabtu
di mana segala tak menentu

2015

pelajaran memanah

ajari aku memanah
ingin aku berjumpa
dada yang terbuka
kosong tanpa cinta

di atasnya aku akan berhenti
melepas tubuh yang tak kumiliki

2015

yang tertinggal di kaki gunung

orang-orang mengerumuni bayang-bayang
bayang-bayang mengerumuni dalang
1700 meter di atas laut. tak ada wayang
mereka hilang di dalam hutan
mereka hilang dari ingatan
tinggal bayang-bayang berkerumun
tinggal orang-orang berkerumun
mengusir dingin dalam tempurung lutut

2015

kepada io

di ujung tahun yang becek
aku kehabisan cerita
untuk menidurkan argus
seratus matanya menyala
merayapi tubuhmu, io

2015

syair terakhir

: erwin zubiyan

di tepi river torrents
rumput tumbuh di sekujur tubuh kita, win
bersama angsa-angsa hitam
bebek-bebek kelabu
dan pelikan yang rakus
tidur. tidurlah sebagai tanah
perahu popeye V telah merapat
aku mesti berangkat
kapiten akan membawaku ke kebun binatang

sebentar, win,
angin akan meletakkan ibis di bahumu yang lebar
aku menyusur sungai mencari lagumu tenggelam

2015

light square

bersama oliver qadari hogg

sedikit berangin, katamu berulang
seperti merapal mantra
lalu sebagai angin kita melintas
di kuburan yang menyaru taman
duduk sebentar di tepi air mancur
lalu kembali meluncur
sebelum semuanya mengabur

2015

hujan pertama

: vina agusti

ingatan yang keruh:
nama-nama dan
aksara yang gaduh.
adalah jejak masa lalu
– gerak dan retak tak padu

ujung tak terbaca
sementara kepala basah
tilas hujan dan
perasaan tak tentu

ah, bagaimana memanggilmu
beratus kilo meter di seberang kamarmu
aku bahkan tak tahu apakah kau
telah rebah sebagaimana tanah

semalam dalam demam
aku menggigilkan rindu dan
ingatan mengeruh seperti kolam

2015

sajak 4 seuntai

#1
kau yang menyelinap diam-diam
seluruh lampu sudah kupadamkan
kita telah memesan malam
dan merumahkan percakapan

#2
dulu pernah kutanam sebatang cemara
di dadamu yang tenang dan damai
lalu tahun menumbangkan segalanya
tak ada yang tersisa dan sempat sampai

#3
puisiku bertualang
tak tahu kapan pulang
mereka pergi
mencarimu di setiap sepi

#4
kau menari di dadaku yang lengang
dengan payung mengembang
air menggenang di sela kakimu
aku mengenang setiap hela nafasmu

#5
kesedihan tak bisa sembunyi lama-lama
malam ini ia menemu bentuknya yang sempurna
di balik kelopak matamu yang tak terkatup
adalah situ yang bisa jebol sewaktu-waktu

#6
atau mesti kubuka tubuhku agar terbaca
seluruh rajah yang pernah kautuliskan
kau yang berguru pada sepi masuklah
biarkan malam bungkam selama-lamanya

#7
jadi beginilah sebatang kayu
menyusur sebatang sungai
mungkin ada di kelokan mengintai
mungkin ada di batu menunggu

#8
segelas kopi telah pergi
ketika akhirnya aku menemukan
aku yang hampir mati menunggu
di sebuah meja tanpa lampu

#9
apakah aku mencintaimu
– malam kemerahan
dan wangi musim hujan
apakah aku mesti mencintaimu

adaninggar 2

minggu berhenti
dan aku jatuh cinta lagi, adaninggar
pada tali kentular yang berpusar
menjelang kematianmu

setelah kematianmu
adalah sisa gerak yang tak hendak pergi
panggung yang tak sepenuhnya kosong
dan wajahmu yang mulai mengganggu

2015

Gunawan Maryanto aktif di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku puisinya antara lain The Queen of Pantura (2013).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gunawan Maryanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 10 Januari 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi