Suatu Malam, Aku Jatuh Cinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Jumat, 01 Januari 2016

Suatu Malam, Aku Jatuh Cinta


1. SENJA & SAJAK CINTA


SENJA ADALAH SEMACAM perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias di antara keunguan mega-mega. Maka, langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiram segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan. 

Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain di atas kampung-kampung. Di atas genting-genting. Di atas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.

Ada sisa layang-layang di langit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang menghentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh di luar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari-hari berlalu. 

Lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip di langit yang bersih. Seorang wanita, entah di mana, menyapukan lipstik ke bibirnya. 

Malam telah turun di Jakarta. Di meja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta. 

          langit muram, kau pun tahu
          angin menyapu musim, gerimis melintas
          pada senja selintas, aku tak tahu
          masihkah kutemu malamku 
          kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
          dalam jejak senyap semalam
          menatap hujan, 
          tiada bertanya sedu atau sedan

2. LIPSTIK

SUATU MALAM AKU jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu, mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain.

Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalam hidupku. 

Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu di antara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, mengapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di ibukota. Apakah di kota lain, atau di kotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan di ibukota pun, aku melihat banyak orang, menganggur.

Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemerlapnya ibukota. Sebetulnya aku bisa mengurus toko kecil milik ayahku, atau membuka rumah makan seperti saudara-saudaraku. Tapi, pada suatu senja, aku pergi meninggalkan kotaku. Aku tak bisa membayangkan tubuhku tak kunjung pergi dari sana, sejak lahir sampai mati. Seorang lelaki suatu saat harus pergi dari rumahnya mengembara. 

Maka aku pun mencari makan seadanya. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah famili-famili yang ada di ibukota. Sekedar supaya bisa makan. Aku sering merasa, mereka tahu aku datang hanya untuk mendapatkan makan pada hari itu. Sebetulnya aku malu, tapi apa boleh buat. Untunglah tak terlalu lama aku menganggur. Aku sempat menjadi sopir mikrolet. Pernah menjadi tukang sobek karcis bioskop. Bahkan menjadi penjaga keamanan sebuah gedung. 

Semua pekerjaan itu kusukai karena berlangsung malam hari. Aku selalu merasa tersiksa kalau harus bangun pagi. Itulah sebabnya aku memilih pekerjaan malam hari. Kupikir diriku cukup beruntung karena masih bisa memilih. Aku tidak terpaksa menjadi polisi lalulintas misalnya, yang sibuk meniup peluit di bawah terik matahari. Apalagi, akhirnya aku mendapat pekerjaan yang paling cocok dengan bakatku. Aku kini menjadi bartender, tukang campur minuman keras di bar. 

Begitulah riwayat hidupku secara singkat. Sampai suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Sebetulnya aku sudah beberapa kali jatuh cinta sebelum ini. Memang, aku tak tahu persis, apa bedanya jatuh cinta dengan perasaan ingin menggumuli seorang wanita karena kesepian. Tapi, baiklah, untuk sementara disebut saja begitu. Ketika masih menjadi sopir mikrolet, aku merasa jatuh cinta pada seorang janda pemilik warung. Tapi aku tak pernah berterus terang. Aku tahu, hampir semua sopir mikrolet yang biasa makan di warung itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan wanita itu selalu menjawab, ia menyukai lelaki itu juga. Ini kudengar dari setiap sopir yang bercerita padaku. Cintaku tak luntur karena itu. Malah aku makin mengaguminya. Betapa seorang wanita menjual cinta untuk hidupnya. Alangkah besarnya hidup. 

Ketika bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop, aku berpacaran dengan seorang rekan. Tugasnya mengantar penonton ke bangku-bangku, sesuai dengan nomer yang tertera pada karcis mereka. Ia selalu membawa senter ke mana-mana. Kalau film sudah main, dan ada penonton terlambat, sorot lampu senternya berkelebatan dalam gelap, menuntun penonton yang tertatih-tatih dan meraba-raba dalam gelap. Kami sering berpeluk-pelukan dalam gelap di antara bangku-bangku yang kosong. Tapi rasanya aku tidak serius dengan dia. Aku memacari dia hanya untuk memuaskan kebutuhan tubuhku saja. Kupikir, ia pun bersiap seperti itu. Antara kami telah terjadi barter yang adil. Tak ada cinta. Toh aku masih selalu terkenang kehangatannya. Bagaimana roknya bisa tersibak-sibak menggairahkan ketika film sedang seru-serunya dan tak seorang penonton pun memperhatikan bangku-bangku yang kosong di mana mereka saling berpeluk dan meraba dalam kegelapan. 

Begitulah. Suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Kejadiannya begitu singkat. Pintu terbuka. Ia muncul. Aku melihatnya. Dan langsung jatuh cinta. 

Ia penyanyi baru di bar Apocalypse ini. Ia datang dari Monte Carlo, bar sebelah. Pada malam itu ia harus membawakan sebuah lagu, khusus didengarkan Boss untuk menentukan ia bisa diterima atau tidak. Waktu memegang mikrofon, aku sudah yakin akan diterima. Ia sangat mengesankan. Bukan hanya suaranya bagus. Atau cara membawakan lagu yang menarik. Aku merasa ada semacam pesona padanya yang membuat orang mudah jatuh cinta. Dan aku pun segera tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya malam itu. Aku masih ingat kalimat pertama nyanyiannya, sampai bertahun-tahun kemudian. 

          The falling leaves ….

Aku tergetar dan terpesona. Sampai berminggu-minggu kemudian aku mencoba mengusir perasaan itu. Tapi aku cepat menyerah. Aku tak bisa berhenti mengaguminya, meski pun aku tak pernah berbicara padanya. Maklumlah, aku hanya seorang bartender, tukang campur minuman. Penyanyi bar kadang-kadang kelewat angkuh dan tinggi hati, meski pun kami semua sama-sama kecoak. Penyanyi bar biasa merasa lebih tinggi derajatnya dari waitress, yang mondar-mandir membawakan minuman. Juga merasa lebih tinggi dari bar-girl, yang kerjanya menemani tamu-tamu minum. Tentu ia akan merasa jauh lebih tinggi pula dari massage-girl, para pemijat yang menjual pula tubuhnya di lantai atas. 

Aku mencintainya dengan diam-diam, meski pun penyanyi itu hanya menegurku jika minta minuman. Kadang-kadang bahkan ia tidak menegur. Hanya menyebut nama minuman. Dan aku harus merasa tahu diri untuk tidak tersinggung. Apalagi aku sangat mengaguminya. 

Aku sering memperhatikannya diam-diam, bila ia duduk di kursi bar yang tinggi itu, dan mendekatkan gelas ke mulutnya yang indah. Bibirnya yang disaput lipstik merah menyala berpadu dengan kecemerlangan gelas yang berkilat karena gebyar cahaya dari panggung. Aku selalu melihat adegan itu seperti menyaksikan pemandangan yang indah. Penyanyi itu akan minum perlahan-lahan, seolah jauh dari kebisingan band yang menghentak ruangan. Ia senang memperhatikan embun pada dinding gelas. Nampaknya ia menemukan keindahan pada bintik-bintik embun di gelas yang mengandung cahaya itu. Seperti aku menemukan keindahan setiap kali menatapnya. Namun puncak keindahan itu ketika ia meletakkan gelas, menatapnya, dan tersenyum melihat lipstik pada bibir gelas. 

3. BIBIR

IA MEMAKI-MAKI. Aku telah memberikan minuman yang salah. Kalau bukan dia yang memaki-maki sekasar itu, aku tak akan terlalu kaget. Bar tempatku bekerja itu adalah bar murahan. Di sini tidak ada sopan santun bergaya anggun. Para pedagang yang jenuh bermanis-manis dan bersopan santun sepanjang hari, memuas-muaskan keliarannya. Mereka minum banyak-banyak. Mereka bicara banyak-banyak. Dan mereka tertawa banyak-banyak. 

Mereka bisa memaki-maki dengan bebas dan bisa dimaki-maki dengan bebas. Dan bar ini sebetulnya tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah panti pijat di lantai atas. Para pemijat yang tidak selalu cantik, dan tidak selalu bisa memijat, menunggu pedagang-pedagang itu untuk adegan yangt tidak terlalu mesra. Pedagang-pedagang datang dan tanpa basa-basi langsung menerkam pemijat-pemijat. 

Setelah selesai mereka akan turun dan minum-minum sampai mabuk. Sambil mabuk mereka akan bercakap-cakap dengan suara keras dan tertawa-tawa dengan suara yang juga keras. Mendekati tengah malam mereka sudah mabuk berat dan bisa memaki-maki tanpa rasa risih. Wanita-wanita yang menemani tamu duduk dan bercakap-cakap juga ikut tertawa keras dan memaki-maki keras. Mereka sering tertawa keras-keras karena gurauan mesum yang diucapkan keras-keras. Maka, semua orang bicara mesum dengan keras-keras. 

Malam berikutnya penyanyi itu lebih ramah. 

“Minta Singapore Sling, jangan salah lagi ya?”

Aku tersenyum. Kubuat campuran yang istimewa. Dan penyanyi itu tersenyum.

“Anda cantik sekali kalau memegang gelas. Lebih cantik lagi kalau menyeruputnya. Dan alangkah cantiknya kalau memandangi cap bibir pada gelas.”

Mata penyanyi itu nampak cerah. Aku ingin sekali membuatnya tetap duduk. Namun MC memanggilnya ke panggung. Ia meletakkan gelas. Ia beranjak. Dan ia segera ditelan tugasnya sehari-hari. Di antara asap dan riuh obrolan, aku mendengar ia bernyanyi..

          do you know where are you going to
          do you like the things that life is showing you
          where are you going to, do you know?

Aku menunggu kalau-kalau ia akan balik lagi dan duduk sambil bercakap-cakap di hadapanku. Tapi ia tak pernah kembali meskipun minumannya belum habis. Selesai menyanyi ada tamu mengundangnya duduk. Setelah bar tutup selewat tengah malam, ia pulang bersama tamu itu. 

Sampai di tempat indekosan, aku tak bisa tidur. Bibirnya terbayang-bayang selalu. Bibir yang bergerak-gerak ketika bercakap. Bibir yang bergerak-gerak di muka mikrofon ketika menyanyi. Bibir yang merah dan berkilat-kilat. Bibir yang melengkung indah dan sangat jelas gurat-guratnya. Bibir yang mendekati bibir gelas. Bibir yang basah dan makin basah oleh minuman. 

Ketika tertidur aku bermimpi tentang bibir itu. 

4. SUARA-SUARA

AKU BANGUN TERLALU pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Di bawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan. 

Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun aku tak terlalu tolol untuk terus-menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibu kota bukan untuk menjadi bartender, tukang campur minuman. Sebetulnya aku pernah punya keinginan jadi wartawan, tapi sayangnya aku tidak bisa menulis. Sekarang aku tidak tahu persis ingin jadi apa. 

Kepalaku agak pusing. Mataku terasa pedas. Aku menelusuri huruf-huruf surat kabar yang meriwayatkan macam-macam kejadian, tapi aku tak membacanya. Aku mencari lowongan pekerjaan. 

Lowongan-lowongan itu tertulis dalam bahasa Inggris. Aku mengejanya dengan terbata-bata. Meskipun aku sarjana, bahasa Inggrisku pas-pasan saja. Kalimat terhormat untuk kenyataan yang sama: tidak becus. Aku tahu, aku tak akan pernah menulis surat lamaran dengan bahasa Inggris. Tapi aku tahu juga apa yang kucari. 

Mereka mencari manajer pemasaran. Mereka mencari insinyur pertambangan. Mereka mencari nakhoda kapal tanker. Mereka mencari akuntan. Mereka mencari sekretaris berkepribadian menarik. Tak ada satu pun dari lowongan-lowongan itu membuat aku tertarik. Tapi aku sendiri tak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya merasa harus mencari sesuatu. Meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu ketika nasib membaik. 

Kuletakkan koran tanpa membaca berita-beritanya. Kubuka jendela, tapi segera kututup lagi. Aku tak tahan cahaya matahari yang menerobos secepat kilat. Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ke tempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di luar terdengar suara-suara pagi. Suara-suara yang jarang kudengar. 

Aku mendengar suara tukang daging. Aku mendengar suara tukang sayur. Aku mendengar suara anak-anak sekolah. Aku mendengar suara bel becak. Aku mendengar suara bajaj. Aku mendengar siaran berita. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil. Lantas kadang-kadang mendadak sepi. Kadang-kadang suara-suara itu campur aduk jadi satu. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi. 

Sayup-sayup suara air dari kran terdengar mengucur. Lantas terdengar desis kompor gas. Suara-suara itu menembus mimpiku. 

KETIKA BANGUN LAGI, hari sudah siang. Dari cahaya yang menembus kolong pintu, kuperkirakan sudah lewat tengah hari. Udara dalam kamar terasa panas. Segera kubuka jendela dan kubuka pintu. Dengan kuyu aku melangkah ke kamar mandi. Langsung berendam. 

Sambil berendam aku melanjutkan tidurku. Dari balik dinding terdengar musik yang lembut. Aku memejamkan mata dan mencoba melupakan segala peristiwa. 

Tubuhku terasa ringan. Air yang hangat memijat-mijat persendian. Dari balik dinding masih terdengar orang bercakap-cakap. 

“Rasanya sedih sekali.”

“Kenapa?”

“Tidak tahu, tapi rasanya sedih.”

“Mesti ada sebabnya dong.”

“Aku sudah bilang, aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedih sekali. Coba pegang dadaku ini. Ngilu.”

“Kamu kenapa sih, bilang dong, cerita ….”

Aku menyanyi-nyanyi agar orang-orang itu menjauh. Apakah mereka mendengar suaraku? Tapi aku terus saja menyanyi-nyanyi. Menyanyikan lagu yang sering terdengar di Apocalypse. 

          … look at me, I’m as helpless as a kitten up a tree ….

5. PEMBUNUHAN

TELAH TERJADI PEMBUNUHAN di Apocalypse. Seorang gadis pemijat ditemukan tanpa nyawa di biliknya. Kepalanya terkulai ke bawah, menggantung di sisi pembaringan. Pakaiannya masih utuh. Perhiasannya masih lengkap. Sepasang kakinya yang bagus masih memakai stocking. Tapi sepatu tingginya yang merah terserak di bawah. Celana dalam merah jambunya tergantung di pergelangan kaki kiri. 

Inilah pembunuhan keempat belas yang terjadi di MB, semenjak aku bekerja di Apocalypse. Sebulan sebelumnya, kepala sindikat tukang parkir dibunuh di depan anak dan istrinya. Perkaranya, berebut wilayah kekuasaan. Dua hari sebelum tukang parkir itu terbunuh, seorang pemilik toko dibacok keponakannya sendiri. Gara-garanya, keponakan itu pinjam uang, tapi tidak diberi. Keponakan itu, entah kenapa, naik pitam. Paman yang pernah menyekolahkannya itu ditusuk dengan pisau dapur. 

Pada suatu malam, aku pernah melihat seorang lelaki dihajar tiga orang sampai mati. Ketika itu semua bar sepanjang MB sudah tutup. Aku baru pulang dinihari, karena harus membersihkan bekas muntahan dan kaca-kaca pecahan gelas. Ada tamu mabuk dan mengamuk malam itu. 

Aku berjalan sendiri di sepotong jalan yang sepi. Tiba-tiba di ujung jalan itu aku melihat seseorang dihajar. Ia ditendang dan dipukuli dengan pentungan. Ia jatuh di tanah, masih diinjak-injak pula. Aku tak berani terus. Malah berbalik mengambil jalan lain. Aku tak pernah menceritakan kejadian itu pada siapa pun. Sampai mayat orang itu ditemukan, dan dimuat koran-koran kuning, aku tetap bungkam. Aku tak mau berurusan dengan polisi. Padahal, kadang-kadang aku melihat pembunuhnya minum di Apocalypse. 

Mula-mula aku selalu gemetar setiap kali melihat orang itu datang. Mula-mula kupikir ia tahu aku telah melihatnya membunuh seseorang. Mungkin ia bermaksud menghilangkan jejak. Membunuh saksi. Aku pernah hampir saja lari ketika ia mendekati bar, tapi ternyata ia ke toilet. Bahkan ia pernah langsung duduk di bar. Ia minum dan nongkrong lama di sana sambil termenung-menung. Apakah ia teringat korban yang dibunuhnya?

Ternyata, itu bukan satu-satunya pembunuhan yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Beberapa minggu setelah kejadian itu, seorang wanita menembakkan pistol ke kepala seorang hostes. Kejadiannya di bar sebelah, Monte Carlo. Aku sedang di sana karena mencuri waktu, ingin menonton tari telanjang. Penarinya dari Filipina. Aku sampai mencuri waktu kerja, karena belum pernah melihat wanita Filipina. Di Apocalypse sebetulnya juga sering diadakan pertunjukan tari telanjang, tapi dari Korea. Aku datang ke Monte Carlo karena ingin melihat wanita Filipina. Aku belum pernah melihat wanita Filipina telanjang. Foto-foto mereka yang terpajang di etalase tidak telanjang. 

Ketika aku masuk, wanita itu sedang mengeluarkan pistol dari tasnya. Ia membuang tas itu dan menudingkan pistol dengan kedua tangan, sambil berteriak sengit. 

“Rasakanlah ini, perusak rumah tangga orang!”

Lantas pistol itu menyalak. Orang-orang menjerit. Musik berhenti. Aku yang baru saja masuk terdorong kembali ke luar, dan tak bisa masuk kembali. Tempat itu segera penuh dengan petugas. 

Aku ingat, meskipun pertunjukan tak jadi main, dan aku tidak jadi melihat wanita Filipina telanjang, namun aku puas. Aku puas karena melihat sebuah peristiwa yang sensasional. Sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas, bagaimana peristiwa itu terjadi. Wanita itu mengeluarkan pistol dari tasnya. Ia membuang tas itu dan mengacungkan pistol dengan kedua tangannya. Dan ia berteriak, “Rasakanlah ini, perusak rumah tangga orang!” Aku bahkan masih ingat asap yang berkepul, lebih putih karena kilatan cahaya lampu. Sekejap. Namun aku telah merekamnya. 

Kali ini aku tidak gemetar. Apakah karena aku melihat pembunuhan itu bersama banyak saksi-saksi lain? Aku tidak tahu. 

Kematian gadis itu membuatku sedih. Aku teringat wajahnya yang remaja. Ia masih kecil. Ia masih terlalu muda untuk mencari uang. Apalagi di tempat seperti ini. Mestinya ia masih sekolah. Mestinya ia bisa pacaran kian kemari. Ia bisa pergi ke disko. Ia bisa beli es krim. Ia tak perlu ada di sini. 

Aku teringat rambutnya yang tergerai panjang. Ia sering memakai rok mini. Ia mempunyai kaki yang indah dan wajah kekanak-kanakkan. Mengapa ia harus ada di sini lantas dicekik orang dan mati? Aku sering berpapasan dengannya di toilet, karena di sini toilet wanita dan pria jadi satu. Ia selalu tersenyum ramah. Aku masih terkenang-kenang bau parfumnya. Merangsang sekali. 

Malam itu Apocalypse terpaksa tutup. Aku mencopot dasi kupu-kupu yang menjerat leher, dan berjalan sepanjang trotoir MB yang hiruk-pikuk. Lampu neon dari nama-nama bar berkedip memikat siapa saja yang lewat. Deru mesin pachinko berdentang di sela klakson dan deru kendaraan. Aku berbelok ke Whiz. Aku mau main bilyar. 

6. PELACUR

HARI-HARI BERJALAN seperti omong kosong. Aku merasa hidupku penuh dengan kesia-siaan. Aku masih mimpi untuk suatu kali menjadi kekasih wanita itu. Setiap kali pulang hatiku terasa pedih. Apa jadinya nanti kalau nasibku begini-begini saja? Memang kadang-kadang aku merasa beruntung masih bisa mendapatkan pekerjaan. Apalagi pekerjaanku sekarang membuat aku tidak usah bangun pagi. 

Aku benci bangun pagi. Bukan pagi itu yang kubenci. Aku benci melihat orang-orang yang bangun pada pagi hari. Aku benci melihat kesibukan mereka. Aku benci melihat orang tergesa-gesa sarapan. Tergesa-gesa mandi. Tergesa-gesa menuju ke tempat kerja karena takut terlambat. Orang-orang yang merelakan diri jadi budak. Aku benci orang-orang bermental budak. Mereka itulah orang-orang konyol. 

Apa jadinya kalau hari-hari berjalan seperti omong kosong? Aku tidak tahu. Mungkin hari-hari memang harus berjalan seperti omong kosong. Seperti kata-kata yang berhamburan di bar. Tanpa arti. Tanpa makna. Berlalu seperti angin lewat. Seperti sungai mengalir. Seperti detik-detik yang tak pernah selesai. Kadang-kadang aku bertanya kenapa aku harus pernah hidup. Seandainya aku tak pernah lahir di dunia celaka ini, aku tak akan punya perasaan-perasaan yang mengganggu. Aku tak akan merangkak-rangkak mempertahankan hidup. Aku tak akan pernah merasakan hidup ini sia-sia. Aku tak akan sibuk. Aku akan menjadi bagian dari keabadian. 

Kalau bar telah menjadi terlalu gaduh, aku biasa naik ke atas. Melewati bilik-bilik pijat di lantai dua. Terus ke atas, ke atap. Dari sana aku suka bersender ke pagar, membiarkan diriku dibungkus angin. Menatap keriuhan cahaya dan suara di jalanan. Berdiri lama-lama di sana memberi perasaan berjarak dari hidup. Berdiri di sana membuatku bisa memandang nasib dengan lebih arif. Tapi persoalan hidup tak akan pernah selesai dengan berdiri lama-lama di sana. 

Kalau aku merasa sudah terlalu lama berdiri di sana, aku turun kembali. Sampai di lantai dua, aku menyusuri gang di antara bilik-bilik tempat para pemijat berkencan. Suatu kali aku melihat salah satu pintu terbuka. Ketika kulongok, aku melihat seorang wanita yang menangis. Tangisnya sama sekali tidak keras, bahkan sama sekali tidak kedengaran. 

Aku tidak menegurnya sama sekali. Hanya mengingat-ingatnya sampai sekarang. Betapa suramnya kamar itu. Betapa pengap, meskipun berpendingin udara. Betapa kelam. Betapa kumuh. Ia menangis tanpa senggukan. Air matanya mengalir di pipi. Kedua kakinya menjepit bantal. Sementara terdengar musik yang lembut. Aku tidak bertanya apa-apa padanya. Kupikir, aku bisa membuat banyak cerita dari pemandangan itu. 

Mungkin ia datang dari desa. Suaminya sudah meninggal karena sakit. Anaknya empat orang. Boleh jadi ia dijanjikan untuk bekerja dengan gaji besar. Mungkin ia dijanjikan bekerja di Arab Saudi. Mungkin pula hanya pembantu rumah tangga. Mungkin wajahnya yang cantik mendatangkan petaka. Ia diperkosa calo yang membawanya dari kampung. Lantas tenggelam di tempat pelacuran. 

Cerita semacam itu sudah umum. Tapi mungkin ia mengalami kejadian yang agak lain. Mungkin ia wanita yang baik-baik, dan inilah pengalamannya yang pertama. Suaminya setiap hari mabuk dan anaknya sakit keras. Ah, ini pun sudah klise. Lebih menarik lagi kalau ia tidak menangis, tapi menjalani nasibnya dengan gembira. Kupikir pasti banyak wanita semacam ini, meskipun kalau ditanya tidak akan menjawab terus terang. Betul-betul pelacur. 

Sebetulnya aku ingin sekali menegurnya dan bertanya kenapa. Tapi aku bosan mendengar cerita-cerita pelacuran yang selalu sama. Selalu mirip. Melacur karena terpaksa. Untuk menolong orangtua dan adik-adik di kampung. Mempertahankan hidup daripada mengemis. Membosankan. 

Aku ingin sekali mendengar jawaban yang berani dari wanita-wanita itu. 

“Aku melacur karena pekerjaan ini gampang sekali!”

“Aku melacur karena malas cari kerja lain.”

“Sebetulnya aku bisa saja mencari pekerjaan lain, tapi menjual diri lebih menguntungkan!”

“Menjual tubuh adalah pekerjaan menyenangkan!”

“Jadi pelacur itu enak dan asyik!”

“Aku senang kerja begini karena hobby!”

“Untuk apa susah-susah? Mending jadi lonte!”

Memang. Susah menemukan orang jujur. Setiap orang mencari pembenaran hidupnya sendiri-sendiri. Bayangan wanita yang menangis sendirian di kamar itu masih mencekamku. Aku menuruni tangga dengan perasaan terharu biru. Suara orang-orang yang tertawa seperti mengejek hidup. Ruangan yang gaduh bagiku terasa sunyi. Pijaran warna berkilat-kilat. Beberapa kursi ternyata masih kosong. 

“He, ke mana saja kamu? Ayo kerja! Cuma kamu yang enak bikin Irish Whisky.”

7. SURAT

KULIHAT SURAT DISELIPKAN di bawah pintu. Tanpa memungutnya aku sudah tahu, surat itu dari siapa. Kubiarkan saja di sana, karena aku sudah merasa tahu isinya. Sebetulnya aku ingin lepas dari masa laluku. Gentayangan. Bebas. Aku ingin hilang dan tak dikenal orang. Aku ingin memutuskan segala ikatan. Lenyap. Hilang. Muksa. Aku ingin menjadi orang tanpa alamat. Tanpa masa depan. Tanpa masa lalu. Tanpa sejarah. Aku ingin menghindar dari segala macam kewajiban dan upacara-upacara kehidupan. 

Mengapa seseorang harus menjadi seseorang yang berarti? Mengapa ia harus jadi semacam pahlawan, paling tidak untuk dirinya sendiri? Mengapa ia harus memburu mangsa di balik cakrawala? Aku capek jadi pemburu. Aku ingin menolak semua cara hidup yang telah ditentukan. Apakah peradaban? Aku tak tahu, mengapa hidup ini kadang-kadang begitu menyiksa.

Kubuka jendela dan aku mencoba membuang persoalan yang tak pernah bisa kuatasi. Pada akhirnya aku hanya tetap hidup. Aku hanya bisa tetap hidup dan jalan terus. Karena, bagaimana caranya mundur? Aku hanya bisa mundur dalam khayalan. Kembali mundur ke kedalaman abad. Menjelma ke dalam ketiadaan. Menjadi titik tanpa titik. 

Kurebahkan diriku ke tempat tidur. Bunyinya kereat-kereot. Tempat tidur murahan ini hampir jebol. Kubuka sepatu. Kubuka kaos kaki. Kulemparkan benda-benda ini ke sudut kamar. Kulemparkan dasi kupu-kupu ke cermin. Jatuh di antara kaset-kaset lagu. Aku ingin cepat-cepat tidur. Aku ingin melupakan segala persoalan. Aku ingin tidur yang nyenyak dan panjang. Aku merasa lelah. 

Tapi aku tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit dengan mata terbelalak. Kulihat cecak berkejaran. Kulihat bayang-bayang kap lampu pada tembok. Aku teringat cerita anglingdarma. Dan ingat baris sebuah sajak Goenawan Mohamad. 

          cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita

SELEBIHNYA AKU TIDAK ingat lagi. Lantas, aku membayangkan isi surat yang ada di lantai itu.

“Sayangku,” begitulah surat itu biasanya dimulai, “inilah suratku yang ke-93 untukmu. Artinya, untuk ke-93 kalinya aku membuktikan kerinduanku. Aku selalu merindukanmu. Menunggumu. Setia padamu. Apakah kamu pun begitu? Kirimlah surat sekali-sekali. Kamu belum pernah sekali pun membalas suratku. Aku tahu kamu sibuk. Orang-orang yang datang dari ibukota selalu mengatakan dirinya sibuk. Tentu kamu juga sibuk. Aku percaya kamu bekerja dengan giat, demi masa depan kita, demi cita-cita kita, demi cinta kita. Tapi, kirimlah surat sekali-sekali. Aku rindu sekali padamu. Kangen.”

“Namun aku tak akan terlalu terkejut, kalau kamu, untuk ke-93 kalinya, tidak juga membalas suratku. Aku sudah tahu kebiasaanmu. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu isi perutmu. Kamu akan tetap mengenangku. Kamu akan selalu membayang-bayangkan aku. Bukankah aku kekasihmu? Bukankah aku mimpi-mimpimu? Aku akan terus menulis surat padamu meskipun tahu kamu tak akan pernah membalas. Aku akan terus menulis surat karena tahu kamu akan terus-menerus membayangkan aku. Aku akan terus mengirim surat karena kamu terus mengharapkan surat-surat meskipun tak membalas dan tidak membukanya sama sekali. Aku akan terus menulis surat padamu. Bukankah aku mimpi-mimpimu? Aku akan melayani mimpi-mimpimu. Aku akan melayani semua khayalanmu.”

“Kekasihku, aku selalu rindu padamu. Kangen. Kapan kamu pulang? Semua kawan-kawan kita telah pergi dari kota ini, mereka semua pergi ke Jakarta. Apakah kamu sekali-sekali pernah berjumpa mereka? Aku kesepian di sini. Aku selalu sendiri. Kirimlah surat sekali-sekali. Sepi sekali di sini. Aku rindu sekali padamu. Kangen. Kapan kita menikah ….”

Tiba-tiba aku merasa malu membayangkan semua kalimat ini. Aku meloncat dari tempat tidur. Kusambar surat itu. Langsung kurobek tanpa membukanya. Remah-remah kertas di asbak itu kubakar. Aku ingin sekali membakar masa laluku. Lenyap, menjadi abu. 

MALAM ITU AKU tertidur. Aku merasa jendela masih terbuka. Pintu pun tidak dikunci. Angin membawa mimpi masuk ubun-ubunku. Aku melayang-layang di ruang yang kosong. Tapi suara-suara masih masuk ke telingaku. Antara tidur dan jaga aku mendengar suara-suara. Bercampur dengan suara-suara dari mimpiku. Aku tidur dengan perasaan gelisah dan kacau. 

8. MEREKA DATANG DAN PERGI


PENYANYI-PENYANYI DATANG dan pergi di Apocalypse. Boss selalu mengganti penyanyi setiap tiga bulan. Tapi tak jarang ada yang bertahan sampai enam bulan atau setahun. Boss selalu mempertimbangkan apa yang dikehendaki tamu. Kadang-kadang di antara penyanyi-penyanyi itu ada yang menjadi begitu terkenal. Namun lebih banyak yang terus lenyap entah ke mana. Aku kadang-kadang ingin tahu apa yang mereka pikirkan.

Kadang-kadang aku melihat tampang-tampang mereka di koran. Para wartawan mewawancarainya dan bertanya macam-macam. Namun jawaban mereka selalu begitu-begitu saja. Aku curiga, jangan-jangan itu kalimat si wartawan sendiri. Aku muak membaca artikel tentang penyanyi-penyanyi. Isinya cuma omong-kosong. Sama kosongnya dengan lagu-lagu yang sering terdengar di Apocalypse. Lagu-lagu dengan syair yang cengeng dan meratap-ratap. Tapi kadang-kadang aku menyukainya. 

Penyanyi itu tak datang malam ini. Aku kangen sekali padanya. Mataku pedas. Mungkin karena kurang tidur. Asap rokok merajalela. Dengung AC di dekat bar membuatku kehilangan rasa waktu. Rasanya waktu tak pernah bergerak di ruangan ini. Pagi, siang, sore, begini saja suasananya. Sebuah kotak kegembiraan. Aku melirik wajahku sendiri di cermin. Di antara botol-botol Remy Martin dan Golden Blue, kulihat wajahku yang lelah dan kuyu. Urat sarafku tak bisa ditipu. Aku berpikir untuk minta cuti pada Boss. Aku ingin ganti suasana. 

“Mau minum apa?”

Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang. Apa boleh buat. 

Kudengar Boss akan memperpanjang kontrak penyanyi itu. 

9. IA MENANGIS

DUDUK SENDIRI DI balik meja bar. Memandang kursi-kursi kosong dan meja-meja dengan gelas-gelas yang separuh kosong. Mendengar kesunyian dalam asap yang mengambang di ruangan kosong. Ketika fajar menyingsing, ke manakah orang-orang pergi? Kulihat etalase beroda yang sudah mati lampunya, tempatnya display acara-acara hiburan. Terpojok di pintu yang kini terkunci. Aku tahu, foto penyanyi itu ada di situ. 

Aku mendekat, dan mengamati foto itu dengan bantuan sisa cahaya remang. Ia tidak tersenyum. Biasanya senyum penyanyi-penyanyi bar, dalam foto pajangan begitu, disetel habis-habisan. Tapi ia tidak tersenyum. Sombong sekali ia. Mungkin ia begitu yakin akan tetap paling menarik tanpa senyum. Di samping fotonya memang ada foto-foto lain. Di paket dengan berbagai perlengkapan studio foto. Wajah mereka bercahaya, kulit mereka halus, pakaian mereka mewah. Foto kelompok penari ular terpampang besar. Namun aku hanya memperhatikan foto dia. Aku merasa ia paling hebat di antara yang lain.

Lantas aku ke luar. Penjaga malam, pada pagi buta itu buru-buru mengunci pintu lantas tertidur kembali. Langit masih gelap, tapi becak-becak mulai jalan mengangkuti sayuran ke pasar. Semua tempat hiburan di MB telah mematikan lampu-lampunya yang genit. Aku melangkah sepanjang trotoir dengan perasaan kosong. Tidak ada pikiran apa-apa dalam kepalaku. Kosong. Aku akan berjalan pulang, lantas tidur. Itu saja. Tak ada rencana-rencana. Tak ada mimpi-mimpi. Tak ada khayalan. Kosong saja. Embun mengendap ke ubun-ubun. Dingin di luar memang lain dengan dingin di Apocalypse yang penuh nikotin. 

Tiba-tiba saja aku melihat dia. Aku tak tahu ia datang dari mana. Mungkin dari salah satu pintu bar. Mungkin dari mobil yang telah melesat pergi. Mungkin sudah lama ia berdiri di sana. Hatiku mendadak berdebar-debar. Wanita itu mengusap matanya dengan sapu tangan. Aku mendengar ia menangis. 

“Shanti.” Aku memanggilnya. Ia menoleh, matanya basah. 

“Ada apa?” tanyaku. Tapi tangisnya belum berhenti. Sesenggukan sambil sekali-sekali menyedot ingus. Aku memegang kedua lengannya, mengajaknya pergi dari tempat itu. Ia menempiskan tanganku dengan keras. 

“Aku tidak apa-apa! Jangan ganggu aku!”

“Ayolah kita ke tempat yang tenang, jangan di jalan seperti ini.”

“Aku mau pulang! Ini bukan urusanmu!”

Aku masih saja terus membujuknya. Ia tetap saja menangis. Astaga, musibah macam apa yang membuat wanita cantik ini menangis? Aku tak punya kemampuan sama sekali untuk menghentikan tangisnya itu. Akhirnya aku hanya diam saja. Berdiri di sampingnya seperti patung. Mendengarkan tangisnya yang mulai mereda. Air mata itu membuat wajahnya berubah. Lain sekali dengan wajah dalam foto di etalase. 

Beberapa dugaan muncul dalam kepalaku, namun aku menghentikan kemauan menebak-nebak. Lagi pula langit yang mulai terang membuatku gelisah. Orang-orang malam, selalu gelisah menghadapi pagi. Aku merasa tubuhku lesu dan loyo. Rasanya capek sekali. Sebetulnya aku ingin sekali mendengarkan ia bercerita banyak-banyak tentang peristiwa yang dialaminya. Lantas aku juga ingin mendengar riwayat hidupnya. Bagaimana ia bisa sampai di sini? Mengapa semuanya bisa terjadi? Apa yang dilakukannya selama ini?

Tapi aku hanya berdiri saja seperti seorang pelayan yang setia. Aku memang mengharap penyanyi itu mengucapkan sesuatu yang ada hubungannya denganku. Namun itu tidak terjadi. Setelah tangisnya berhenti ia hanya berdiri saja menatap ke kejauhan. 

Lantas, tiba-tiba sebuah taksi mendecit keras di muka kami. Ia telah melambainya. Dengan cepat ia hilang dari pandangan. Secepat itu pula aku tinggal sendiri lagi. Ia telah pergi. Langit jadi terang. Aku semakin merasa risih menjadi bagian tubuhku sendiri. Rasanya ingin sekali cepat-cepat meleset pergi. Jauh. Tapi aku cuma bisa melangkah cepat-cepat, rasanya tak kunjung sampai. 

10. HIDUP TERASA PANJANG

HIDUP AKHIRNYA MEMANG jalan terus. Namun mimpi juga jalan terus. Ketika menatap jalanan, aku berpikir tentang soal-soal lain. Aku sering bermimpi tentang hidup. Aku hidup dengan mimpi-mimpi. Apakah hidup apakah mimpi. Apakah tidur apakah mati. Kalau aku tidur tanpa mimpi, maka aku istirahat dari hidup dan mimpi. Kalau aku mati, aku juga istirahat dari hidup dan mimpi. Tidur seperti mati. Aku selalu ingin tidur seperti orang mati karena aku capek hidup dan capek mimpi. Hidup ini seperti perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tapi aku belum mau mati. 

Aku menyetel kaset. Kubuka pintu. Kubuka jendela. Kulihat beberapa kamar masih tertutup. Ada beberapa hostes menyewa kamar di sini. Beberapa di antaranya baru pulang setelah terang tanah. Ada juga pemain band. Kamar-kamar itu sempit meski tak terlalu buruk. Kawan-kawan lelaki mereka kadang-kadang tidur di situ. Dan kawan-kawan wanita para pemain band juga kadang-kadang tidur di situ. Kadang-kadang ada hostes dan pemain band tidur bersama-sama. Kadang-kadang tidurnya di kamar hostes, kadang-kadang tidurnya di kamar pemain band. Kadang-kadang ada juga hostes tidur di kamarku. Dan kadang-kadang aku tidur di kamar hostes. 

Kulihat rantangan langgananku sudah bertengger di meja. Pasti ibu kos itu diam-diam masih ke kamarku. Biasanya rantang berisi makan siang itu terletak pada meja di muka jendela. Tapi pintu kamarku memang tidak kukunci kali ini. Mungkin pintu itu terbuka karena angin. Pokoknya tidak ada barang yang hilang. Aku pun tidak punya apa-apa. Aku tak tahu, kalau aku punya apa-apa, untuk apa. Punya apa-apa dan tidak punya apa-apa bagiku sama saja. Aku hanya perlu bangun, makan, mandi, dan berjalan ke Apocalypse. Setelah itu aku pulang dan tidur. Aku ingin hidup seperti robot. Tanpa perasaan. 

KORAN HARI INI penuh dengan mayat bergelimpangan. Berita utamanya pembantaian sejumlah sandera. Berita-berita kecilnya hampir semua pembunuhan. Sepasang kakek-nenek dibunuh cucunya sendiri. Istri digolok suami. Bekas pacar dibacok sampai mati. Mayat wanita ditemukan dalam got. Bayi menangis dalam tong sampah. Lelaki terjun dari puncak gedung. Pelajar mengeroyok sopir sampai tewas. Seorang wanita diperkosa kernet bis. 

Rasanya mau muntah. 

Sebuah pintu terbuka. Nampak seorang wanita dengan mata kuyu. Ia masih mengenakan baju tidur yang kusut. Kancingnya terbuka di sana-sini. Pakaian dalamnya terlihat sebagian. Dari kamarku terlihat ia merebahkan dirinya kembali dalam posisi yang seronok. Katanya, ia sudah dua tahun kos di sini. Ia punya dua anak di tempat asalnya. Pernah jadi piaraan orang kaya. Kini tercampak dan makin tua. 

Aku teringat janda warung ketika aku masih jadi sopir. 

“Mereka semua mengatakan cinta padaku, tapi tak ada satu pun yang mau mengawiniku. Mereka mau menggumuliku malam-malam ketika hujan deras menggigilkan. Mereka menciumi bibirku dengan bernafsu dan mereka meremas-remas buah dadaku dengan kasar, mendesakku pada tembok dan nafasnya mendengus-dengus. Mereka semua mau begitu, tapi mereka lari ketika berbicara tentang pernikahan. Suamiku dulu tak pernah begitu. Suamiku dulu langsung melamarku sebelum memegang apa pun dari tubuhku. Namun semuanya sudah berlalu. Aku hanya janda warung yang kesepian. Pemburu cinta dan angan-angan tak tertahankan. Para sopir kekasihku. Orang-orang yang hanya mampir. Aku mencintai mereka semua. Pada semua orang kukatakan aku cinta padanya. Asal ia bisa melipur laraku. Asal ia mengobati kesepianku ….”

Dan angin siang pun menderu dan memanggil-manggil bagaikan dari suatu masa yang lain dan cucian yang tergantung di kawat melambai dan burung dara beterbangan dari atap dan meninggalkan aku sendiri yang mendadak tersentak-sentak diseru waktu. Angin menerpa dan berlalu seperti sahabat yang sekedar lewat memberi salam dan bersama waktu pergi menjelajah ruang dan masa-masa pun berkelebat. Ah! Betapa jauh aku dari rumah!

Langit hanyalah warna biru yang rata. Aku melepaskan diri dari riuh dan gaduh jalanan di muka rumah. Melayang. Pergi. Kosong. Sepi. Aku bergerak mundur ke tahun-tahun yang silam, menembus waktu, menuju masa laluku. Aku segera menemukan diriku tertidur di padang rumput, menggigit-gigit batang alang-alang dan menatap elang yang meluncur tanpa mengepakkan sayap. Langit sore yang memudar masih menyisakan cahaya bagi lautan bunga alang-alang. Putih. Alangkah putih. Lautan memutih. Masa kanak-kanak ….

          this is the end, beautiful friend ….

Helikopter itu lewat lagi dan lewat lagi. Langit semburat jingga dan aku menyelam dalam kedalaman ke kedalaman. Tenggelam. Jauh. Dingin. Kelam. Aku menyelam ke kedalaman lautan yang gelap. Biru. Ungu. Aku melihat gelembung udara meruap dari mulut dan hidungku. Putih dalam cahaya matahari. Berkilatan. Perak. Tapi aku makin tenggelam. Dan langit di luar sana masih merah. Gelap.

Dan aku melihat lelaki itu di sana. Berbaju hitam. Kepalanya gundul. Ia duduk dalam kegelapan. Mulutnya mendesahkan sajak perlahan-lahan. Dingin. Gelap. Berat. Serak. 

          life is very long*)

11. PERTEMUAN YANG BATAL

RUANGAN BERGETAR KARENA bunyi tambur. Seorang penari ular meliuk setengah telanjang. Matanya sayu seperti mata ular. Aku sedang menyodorkan Bacardi Cocktail ketika secarik kertas diselipkan ke kantongku. 

“Apa ini?” teriakku pada bar-girl itu. 

Ia cuma mengedipkan mata. 

Surat itu kubuka. Isinya pendek saja. 

Selesai kerja, kutunggu di Black Star.

Tentu saja aku lantas kehilangan ketenangan. Tamu minta Cognac regular, kuberi Cognac V. S. O. P. Yang lain lagi minta Smirnoff Vodka, malah kubuatkan Courvoisier Napoleon. 

“Kamu kenapa sih? Sakit?”

“Nggak.”

“Jangan ngelamun dong! Kita bisa kehilangan tamu!”

“Ya, ya, ya.”

Boss marah-marah. Penyanyi itu memang sudah tiga hari absen. Bayarannya pasti akan dipotong. Masalahnya, banyak tamu datang hanya ingin mengobrol dengan dia, dan kalau bisa mengajaknya tidur. Aku membaca kertas itu seperti kurang percaya. Memang dia. Ada namanya. 

Aku menunggu saat Apocalypse tutup dengan tidak sabar. Padahal biasanya aku menyesal bar ini tutup terlalu cepat. Kalau hari biasa, jam duabelas malam sudah harus tutup. Biasanya mulur sampai jam satu. Kalau malam Minggu, baru tutup jam dua, dengan penguluran sampai jam tiga, atau setengah empat. Ini hari Rabu, makanya ada show. Tiap Rabu dan Sabtu ada pertunjukan tari telanjang, sulap atau akrobat, dan biasanya memang lebih penuh dari biasa. 

“Tolong dong, Jack Danniel dua,” ujar waitress.

Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku melejit menuju Black Star sebelum bar tutup. Aku melihat peluang untuk menancapnya. Peluang untuk menempelnya. Para penyanyi sepanjang MB biasa punya pacar di samping punya suami. Aku mau jadi pacarnya. Di Apocalypse, hampir semua penyanyi merupakan istri kedua atau ketiga. Riwayat mereka rata-rata mirip. Pernah kawin. Punya teman kencan. Biasanya tamu langganan yang kaya. Tamu itu akan membiayai kehidupan si penyanyi, dan datang kapan saja ia menghendaki. 

Dulu ada penyanyi namanya Cynthia. Kulitnya putih. Bibirnya mungil. Tubuhnya bagus. Wanita itu pacaran dengan Boss. Anaknya sekarang sudah tiga. Mereka tak juga menikah. Dan nampaknya tak akan. Cynthia sudah diberi rumah dan mobil. Di rumah itu sembilan saudara dan seorang ibu mesti ditanggungnya. Waktu terakhir kali aku melihat ia menyanyi di Apocalypse, wajahnya begitu murung. Apakah Boss sudah meninggalkannya?

Aku takut nasib penyanyi itu seperti Cynthia. Apalagi aku telah melihatnya menangis sesenggukan beberapa hari yang lalu. 

Black Star lebih mewah daripada Apocalypse, tapi karena itu tempatnya kurang intim. Panggungnya besar tapi jauh. Di depan panggung orang-orang berdansa. Ia nampak sendirian di sebuah meja di sisi panggung. 

Ketika melihatku, ia melirik jam tangannya, dan jadi berang. 

“Kenapa datang sekarang? Aku bilang nanti, kalau sudah selesai kerja!”

“Lho, lebih cepat lebih baik kan?”

“Sudahlah kamu kembali lagi.”

“Lho, kok?”

“Aku tidak butuh kamu sekarang. Aku butuh kamu nanti.”

“Bagaimana sih?”

“Kamu mau tidak?”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu tidak sanggup, biar aku cari orang lain.”

“Aku … ya aku sanggup. Jadi aku harus datang jam berapa?”

“Nanti, kalau semua sudah tutup.”

“Sekarang?”

“Sekarang enyahlah dari sini. Aku akan ada tamu, dan kamu tidak perlu tahu siapa dia.”

Aku mengeloyor pergi. Kepalaku penuh tanda tanya. Apa yang diinginkannya dariku? Aku bersedia melakukan apa saja untuk dia.

Kembali di Apocalypse, pertunjukan tari ular sudah selesai. Seorang penyanyi menggoyangkan tubuhnya dalam lagu disko yang panas. Boss menggerayangi seorang wanita. Dialah Elok, wanita cantik yang baru saja mempermak hidung di Singapura. Memang mancung hidungnya sekarang. Dia jadi lebih cantik. Tapi, kalau dia tua nanti, apakah hidungnya bisa ikut menjadi tua?

KETIKA AKU KEMBALI lagi ke Black Star. Orang-orang sudah pergi. Tinggal beberapa hostes menunggu mobil jemputan. Keramahan dan kemanisan mereka sudah hilang. Tinggal wajah-wajah teler bergeletakan. Mereka duduk dengan kaki dan tangan centang perenang. Lampu sudah terang karena lantai harus disapu. Botol-botol dan gelas pecah selalu ada setiap malam. Masih untung kalau tak ada sisa muntahan. Masih ada sisa bau parfum, yang mahal bercampur dengan yang murahan. Ada musik yang tipis, dari kaset. Anak-anak band sudah membenahi peralatannya. 

“Pulang! Pulang! Besok kerja lagi!” Mereka berteriak. Sepasang hostes lesbian berciuman dengan getol di pintu toilet. Aku mencari-cari penyanyi itu. Apa maunya? Bau parfum yang tajam membuatku pusing.

Seorang waiter datang mendekat. 

“Dari Apocalypse ya?” tanyanya. 

“Ya. Kenapa?”

“Ada surat.”

Aku membuka kertas memo itu. Terlihat tulisan tangan tergesa, ditulis dengan spidol hijau. 

Aku harus pergi. Sorry. Nanti kuhubungi lagi.

Dalam hati aku memaki. 

12. ORANG-ORANG YANG SAKIT KELAMIN

BERSAMA ORANG-ORANG lain yang senasib, aku terpuruk di kursi panjang itu. Ruang tunggu dokter ini bersih dan tidak berbau obat. Giliranku masih lama. Aku menatap para pasien yang wajahnya menderita dan tidak punya harapan hidup. Nampaknya mereka sakit jiwa. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah wajahku juga seperti mereka. Sebetulnya aku cuma pilek. Tapi aku merasa perlu bertemu seseorang dari dunia yang lain. Aku ingin bertemu seseorang yang bisa dianggap sehat. Di Apocalypse aku hanya melihat wajah-wajah yang suram. Mereka tertawa-tawa, tapi dengan mabuk atau setengah mabuk. Tawa di Apocalypse bukanlah cermin kegembiraan melainkan sakit hati. 

Waktu aku masuk, rasanya kaget sekali. Dokter itu ternyata juga sering ke Apocalypse. Dalam baju putih itu, ia memang nampak lain. Ada semacam wibawa yang membuat setiap orang menyerahkan nasib. Aku teringat kelakuannya di Apocalypse. Lain sekali. Ia getol mencium bibir para bar-girl. Tidak peduli di depannya ada orang atau tidak. Begitu juga di depanku. Siapa mengira kalau ia dokter. Biasanya yang datang para pedagang. Orang-orang bisnis. 

Aku tak tahu pasti, ia mengenali aku atau tidak. 

“Sakit apa?”

Kuceritakan semua masalahku. Ia mendengarkan dengan tekun. Tangannya disilangkan. Matanya menatapku dengan tajam. Sambil bercerita aku masih terus berpikir tentang dia. Untuk apa ia sering ke Apocalypse? Yang sering datang ke sana adalah orang-orang sakit. Orang-orang yang tak tahu mesti melakukan apa selain minum dan memeluki perempuan-perempuan. Orang-orang yang tidak suka membaca buku. Orang-orang berselera rendah. Dokter ini tentunya suka baca buku dan tidak rendah seleranya. Kenapa ia bisa datang begitu sering?

Ia memang punya pacar di Apocalypse. Eva namanya. Primadona paling laris yang dalam semalam bisa ditiduri enam orang. Apakah dokter ini tidak punya pilihan lain? Aneh kalau ia belum beristri. Wajahnya tampan, bersih, dan mengesankan. Mungkin ia hanya mencari kepuasan dalam diri Eva. Wanita itu di Apocalypse memang terkenal luwes. Bersedia memberi pelayanan macam apa pun. 

Aku masih terus menceritakan masalahku. 

“Penyanyi itu siapa namanya?

“Shanti.”

“Kemarin ia ke sini.”

“Sakit apa?”

“Sakit kelamin.”

Ruangan praktek itu rasanya berputar. Aku lupa bagaimana caranya ke luar ruangan. Kudengar ucapan dokter di telingaku. 

“Saudara salah alamat datang kemari. Seharusnya saudara pergi ke dokter jiwa.”

Kepalaku malah rasanya jadi pusing. Di luar aku ketemu Eva.

“Sakit apa kamu?” tanyaku dengan mata berkunang-kunang. 

“Sakit kelamin.”

Mungkin dokter itu sama juga dengan pasiennya. Sakit kelamin dan sakit jiwa. Brengsek. Sampai di luar aku baru tahu, dia memang dokter ahli penyakit kelamin. Brengsek. 

13. PROFIL PEMBUNUH

“MAS, MAS, MINTA Tia Maria ya?”

Hmm. Aku sudah di sini lagi. Polisi telah menemukan pembunuh gadis pemijat itu. Ternyata salah satu tamu. Mula-mula gadis itu melayani semua kebiasaan yang lazim. Artinya, mula-mula ia dipijat, sambil dielus-elus, dan tamu itu mengelus-elusnya pula. Lantas mereka main cinta, seperti biasa, dan gadis itu melayaninya pula. Tapi kemudian tamu itu meminta pelayanan yang tidak biasa. Tamu itu ingin main cinta dengan berbagai macam gaya. 

Sebetulnya gadis-gadis pemijat tidaklah asing dengan posisi macam apa pun. Tapi, mungkin ia sedang capek malam itu. Mungkin tamu itu yang keempat kalinya malam itu dan itu sudah cukup melelahkan. Mungkin minatnya sedang kurang, gairahnya sedang turun, dan tidak berkonsentrasi pada pekerjaan. Sehingga ia menolak. Mungkin penolakan itu kasar. 

Mungkin tamu itu sedang jenuh menghadapi hidup. Mungkin ia sedang mabuk. Tentu ia tak sadar apa yang dilakukannya pada gadis itu. Sebetulnya mereka sudah selesai. Gadis itu sudah berpakaian kembali dan begitu pula tamunya. Mereka sudah siap keluar kamar dan minum-minum di bar. Dan keinginan itu begitu mendadak datangnya. Gadis itu menolak. Entah kenapa, tamu itu naik pitam. Gadis itu dicekiknya. Sampai mati. Lantas ia pergi diam-diam. Mungkin dengan perasaan menyesal dan gelisah. Pasti ia tidak bisa tidur. 

Aku kenal tamu itu. Ia pengunjung tetap Apocalypse. Ia selalu memesan Black & White. Aku tak pernah mengira ia akan jadi pembunuh. Orangnya pendiam, halus, dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Sebetulnya ia jarang sekali naik ke atas. Ia hanya senang duduk diam-diam mendengarkan lagu. Ia selalu datang sendiri dan nampaknya tamu-tamu lain tak ada yang dikenalnya. Diam-diam aku sering memperhatikannya. 

Aku membayangkan dia sebagai perantau yang kesepian. Pagi hari ia akan bangun dengan perasaan diburu waktu. Ia akan tiba di kantornya lima menit sebelum batas waktu. Ia akan berlari-lari masuk lift. Begitu sampai di lantainya, langsung mengambil kartu absen. Ia akan mencapai mejanya. Satu di antara meja-meja yang terhampar sepanjang ruangan. Sehari penuh ia akan menghitung angka-angka. Menjumlah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Ia akan menghitung untung rugi. Ia akan memegang kalkulator. 

Tepat pukul 12.00 ia akan turun untuk makan siang. Mungkin gajinya cukup besar untuk memasuki restoran yang sejuk. Mungkin ia telah berusaha mengajak rekan wanitanya untuk makan siang bersama. Tapi mungkin pula wanita yang diajaknya menolak dengan halus. Lantas ia makan sendiri. Mungkin ia makan cepat dan tiba kembali di mejanya sebelum waktu istirahat selesai. Ia ingin cepat-cepat tenggelam dalam pekerjaannya. Melupakan segala macam perasaan yang menyiksa. Mungkin ia terlalu sering kecewa. Ia ingin tenggelam dalam pekerjaan yang banyak dan bertumpuk. Sehingga ia tak sempat mendengar suara hatinya yang pedih. 

Ketika kantor tutup ia merasa sedih. Jabatannya mungkin tak cukup tinggi untuk mendapat kerja lembur yang penting. Ia merasa sedih harus mengalami kesepian yang menyebalkan. Mungkin ia pulang dengan taksi. Mungkin pula dengan bis atau bajaj. Mungkin pula seorang kawan telah menurunkannya di jalan. Lantas ia melangkah lambat di gang menuju rumahnya. Ia hanya seorang lelaki yang sendiri dan tak punya kawan bahkan untuk sekedar ngobrol. Mungkin pula sebetulnya banyak kawan di sekitar rumahnya, tapi ia malas bergaul karena toh itu semua adalah omong-kosong. Baginya yang berarti hanyalah mimpi-mimpinya. 

“He, kok melamun terus, sini dong Guiness-nya!”

Aku tersentak dari lamunanku. Aku masih berpikir mungkin dugaanku salah. Mungkin pembunuh itu betul-betul seorang maniak seks yang sadis. Ia mungkin cuma bajingan kecil tanpa perasaan. Seorang bangsat. Seorang kecoak. Sampah. Sudah selayaknya ia dimasukkan ke penjara. Biar dia cuci muka dengan air kencing dan makan kotoran manusia di sana. Biar kepalanya benjol-benjol dihajar dari satu bajingan ke bajingan yang lain. Biar dia diperkosa di sana. 

Aku melihat ke panggung. Ada seorang penyanyi berjingkrak-jingkrak membawakan lagu yang sedang populer. Aku sudah tahu ia tak datang hari ini. 

Tamu-tamu yang berkeringat karena minuman dan asap ikut menyanyi keras mengikuti lagu itu. Gadis-gadis bar yang tak tahu cara hidup lain, ikut pula menyanyi keras. Ruangan itu gegap gempita. Begitulah setiap malam berlalu di Apocalypse. Aku sudah terbiasa. Aku senang karena dengan begitu waktu terasa singkat. Seolah-olah hidup berlalu dengan kegembiraan. Aku menuang brandy, kucampur Coca Cola, lantas menenggaknya sendiri. 

14. SENJA, PENUTUPAN

MATAKU BASAH LAGI. Aku mengusapnya dengan tangan yang tidak terlalu bersih. Rasanya pedih sekali. Mungkin aku sudah harus memakai kacamata. Sebetulnya sudah setahun ini mataku sering terasa pedih dan basah, tapi aku tak segera ke dokter mata. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa aku benar-benar harus memakai kacamata. Dan membayangkan diriku berkacamata, aku merasa tua. Aku takut menjadi tua. Atau, apakah aku sudah menjadi tua?

Aku lupa umurku. Memang ada data kelahiranku pada kartu penduduk. Tapi aku sudah lupa. Aku memang melupakannya, tak mau mengingat-ingatnya lagi. Apalah artinya nama-nama tempat dan tanggal? Itu hanya angka-angka mati. Itulah angka yang telah kutuliskan berjuta-juta kali pada berjuta-juta formulir, kartu-kartu, dan segala jenis keperluan. Tapi apalah artinya angka-angka itu? Tak ada yang benar-benar peduli kalau angka-angka itu kuganti. Namun begitulah aku telah menuliskannya berjuta-juta kali, dan kini aku melupakannya. 

Langit terasa muram dan kelabu. Angin bertiup lamban di sela-sela gedung. Orang-orang kantoran nampak bergegas pulang. Merasa merayap di trotoir, berkerumun di halte-halte bis dan menghilang di kereta api Jabotabek yang sumpek. Dari toko kaset terdengar lagu disko yang panas dari Donna Summer.

          she works hard for the money

Dan aku mengusap lagi mataku yang basah, dalam kekaburan aku menatap jam digital di lapangan parkir, tak jelas jam berapa. Dan aku menghela nafas dengan berat, mengapa kamu tak juga datang? Rasanya aku mau menunggu dia selama seribu tahun meski dia tak pernah berjanji namun agaknya waktu di dunia ini bukan untukku. Aku tahu cintaku hanya lamunan, penyanyi itu mungkin ada dan mungkin juga tidak ada dan semua itu mestinya tidak begitu penting. 

Hidup berlalu dan aku pun berlalu, kenyataan dan khayalan menyatu dalam waktu. 

M

Proyek Senen-Salemba Tengah-Palmerah Selatan, 1985-1989

*) Adegan dari film Apocalypse Now! Dengan sutradara Francis Coppola, ketika Marlon Brando sebagai Kurtz membacakan sajak TS Eliot, “The Hollow Men”.

Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, AS, 19 Juni 1958. Ia mulai menulis esei dan fiksi sejak 1975, dengan nama samaran Mira Sato. Belajar tentang film di Departemen Sinematografi Institut Kesenian Jakarta, dan sempat menjadi wartawan Merdeka serta Majalah Zaman. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Manusia Kamar (kumpulan cerpen). Bapak seorang anak ini, selain sebagai wartawan, tetap aktif menulis fiksi di pelbagai media massa. (MATRA, Januari 1990)


Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seno Gumira Adjidarma
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" Januari 1990

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi