Kasihanilah Mereka, Maryam! ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 23 Februari 2016

Kasihanilah Mereka, Maryam!


KATA-KATA ibu kami benar belaka, di sini kami lebih baik. Bisa terbang seperti kupu-kupu yang tak menginginkan apa-apa lagi, termasuk ayam goreng. Kupu-kupu yang tak memerlukan bantal dan selimut untuk tidur. Untuk apa kami berebut ayam goreng jika rasa lapar dan ingin itu sudah tak ada. Kenapa pula harus berdesak-desakan di tempat tidur bila ruang tidak lagi berdaya mengurung kami. Kami mengepak-ngepakkan sayap, meluncur ke sana kemari. Kami memang harus menahan sakit luar biasa sebelum sampai ke tempat ini. Tapi, rasa sakit itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa detik setelah ibu membenamkan kepala kami satu persatu ke dalam bak mandi.

"MARI, Nak," kata ibu sambil membopong lalu memasukkan kami ke dalam bak mandi yang airnya jadi meluber oleh tubuh kami. "Tahan sebentar" kata ibu, lirih dan terdengar samar di telinga kami. Air matanya berlinang. Sejenak, kami melewati ruangan yang sangat gelap setelah ledakan rasa sakit di dada kami lewat. Perlahan-lahan, kami mendapati tubuh kami mengambang di ruangan sejuk dan lapang. Tangan kami saling bergandengan.

Air mata kami baru mengering hari itu ketika ibu memanggil kami. Ia menatap kami penuh kasih. "Ayam gorengnya sudah habis?" ibu bertanya lirih. Kami mengangguk. Mata kami melirik serpihan tulang ayam goreng berserak di lantai semen kusam.

Ibu hanya membeli sepoting paha ayam goreng dari gerobak yang mangkal di muka gang rumah setelah kami merengek berjam-jam. Begitu ayam goreng yang diidam-idamkan datang, kami langsung bersorak gembira kemudian berebut. "Tidak usah berebut," pinta ibu kami. Tapi, kami --yang sudah begitu lama menginginkan ayam goreng-- tak mengindahkan seruan itu. Kami bosan, saban hari, lauk makan hanya ampas tahu dan sayur kangkung.

Kami kerap menelan ludah setiap kali melihat teman-teman menggigit ayam goreng yang terlihat nikmat dan renyah diolesi saus merah menyala. "Nah, makanlah. Sudah ibu bagi rata," kata ibu. Tapi, bagaimana kami merasa puas kalau ayam goreng itu hanya sepotong untuk tiga orang? Jadilah kami menangis lantaran satu sama lain merasa mendapat bagian lebih kecil. Tangis kami berhenti setelah merasa capek sendiri.

Ibu membimbing kami ke kamar mandi. Kami pikir, ibu hendak memandikan kami. Tapi, ia menyuruh kami tidak perlu melepas baju. Sebelum membopong kami masuk ke bak mandi satu persatu, ia memeluk dan menciumi kami --sekarang kami tahu kenapa ia melakukan hal itu. Kini, kami mengapung di ketinggian. Di bawah sana, kami melihat rumah kami --yang lebih mirip kandnag babi-- ramai oleh orang-orang yang terus berdatangan. Meski jarak yang jauh, kami bisa melihat dengan jelas ibu kami yang terisak tanpa suara. Ia duduk di samping bak mandi, memeluki tubuh kami yang membiru.

Tak lama kemudian, orang-orang berseragam cokelat membawa ibu kami. Ia berjalan loyo dibimbing orang-orang berseragam itu. Ibu kami hanya menggeleng dan memejamkan mata menjawab pertanyaan orang-orang berseragam itu sambil dikerumuni orang-orang yang makin membludak masuk ke dalam rumah kami. Rumah yang berdinding tripleks itu seperti mau roboh. Para tetangga segera mengangkat tubuh kami dari bak mandi dan membaringkan di tengah ruangan. Ayah kami --yang segera dijemput pulang dari tempat kerjanya di pabrik tahu oleh para tetangga-- langsung pingsan begitu melihat tubuh kami berjejer membeku di atas tikar plastik bergambar Upin Ipin. Ayah --yang sering marah-marah dan memukuli kami-- berkali-kali meraung. Ibu kami langsung berlari menubruk ayah dan menumpahkan tangisnya di sana.

**
SETIAP hari, begitu bangun tidur, kami memang selalu dihadang pertanyaan, bagaimanakah kami membeli beras yang harganya terus membumbung? Akan tetapi, haruskah Maryam membebaskan anak-anak kami dari derita kelaparan dengan cara begitu mengenaskan?

Maryam duduk di sudut ruangan. Mendekap lutut. Ia tidak menghiraukan kehadiranku yang berdiri di balik terali. Dia baru mengangkat wajah dan menoleh ke arahku setelah kupanggil namanya beberapa kali. Matanya kosong, menatapku. Kupanggil lagi namanya. Kini dia bangun dari duduknya, menghampiriku.

"Maryam, ini aku." Aku menjulurkan tangan. Matanya tetap kosong dan letih sekali. Ia masih mengenakan daster itu, yang warnanya telah pudar. Perlahan, ia kemudian menyambut tanganku. Tangan kami saling memeluk, dipisahkan oleh terali. Kudengar ia menangis, lirih. Suara tangis yang asing, tetapi tetap mengiris perasaanku.

"Mereka sudah ke surga," ujar Maryam setelah tangisnya reda. "Mereka sekarang bahagia." Bibirnya yang sepucat wajahnya terlihat bergetar.

"Boleh aku menciummu?"

Aku mengangguk. Selebihnya, aku tak kuasa menahan air mata yang ambrol hingga tubuhku sedikit terguncang. Belum pernah aku merasa sepilu itu. Aku tak sanggup untuk bertanya, kenapa ia bisa melakukan perbuatan itu? Perbuatan yang tak pernah kupikirkan dapat dilakukan oleh orang selembut dia; menyebabkan dia dikurung di terali besi ini dan hidup kami lebih dari sekadar berantakan. Aku bahkan tak mampu berkata apa pun lagi. Lidahku kelu, pikiranku buntu bagaimana mencerna semua peristiwa ini, sampai petugas menghampiriku, berdehem untuk memberi tanda bahwa waktu besuk sudah selesai.

Aku melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Perutku keroncongan. Tapi, tak ada gairah sama sekali untuk makan sejak empat hari lalu, kecuali menggigit beberapa potong biskuit eceran dari warung kecil kami. Peristiwa itu nyaris memorak-porandakan kewarasanku. Aku meraba saku bajuku. Ada beberapa lembar sepuluh ribuan di sana, sisa uang belasungkawa pemberian para tetangga. Masih perlukah aku pulang? Pertanyaan itu menyesaki benak. Pasti mereka, para wartawan itu, sudah menungguku. Mungkin mereka kini sedang berkeliaran di sekitar rumahku, memotret sana sini, menanyai para tetangga.

Mimpi buruk itu terjadi empat hari lalu, tapi tak habis-habis mereka berdatangan ke rumahku, berbasa-basi menyatakan belasungkawa sebelum tak puas-puas bertanya tentang kehidupan kami. Itulah tujuan utama mereka sebenarnya. Mengulik keseharian kami yang buat kami sebenarnya biasa-biasa saja seandainya tidak terjadi peristiwa tewasnya anak-anak kami.

Tak perlu lagi kuceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi. Kalian pasti sudah mengetahuinya melalui berita di televisi dan koran. Meski tidak tepat benar karena, rupanya, para wartawan itu gemar menjadikan peristiwa sedih sebagai drama menarik, tapi begitulah kurang lebih yang terjadi. Istriku adalah perempuan salih yang tak pernah membantah perintah suami. Memang begitu seharusnya, bukan? Seperti dikatakan para pemuka adat dan agama yang gemar mengutip ayat-ayat kitab suci untuk keperluan mereka sendiri.

Dia membantu menambah penghasilan keluarga dengan membuka warung kecil yang menjual jajanan anak-anak. Ada ciki-cikian, kerupuk, goreng-gorengan, dan sejenisnya. Hasilnya tentu saja sangat kecil. Aku tahu, kita punya pemahaman yang tidak sama dengan kata 'sangat kecil' itu. Yang ingin kukatakan adalah setidaknya sedikit mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan jajan anak-anak kami. Aku bekerja di pabrik tahu. Pekerjaanku mengantar tahu kepada pelanggan di pasar dan warung-warung. 

Begitu saja. Tak ada yang menarik dalam kehidupan serupa itu, kecuali tentang kerepotan kami membeli beras dan menyediakan biaya sekolah anak-anak. Selain itu, tentu tentang keinginan-keinginan yang harus kami pendam dalam-dalam saban melihat para tetangga yang membeli ini itu yang tampaknya membuat kita merasa gembira.

Beberapa hari sebelum peristiwa itu, semua baik-baik saja. Kami menjalani kegiatan seperti biasa. Aku bangun sebelum Subuh untuk berangkat ke pabrik tahu. Demikian pula istriku, ia pergi ke pasar untuk berbelanja. Ia akan sampai kembali ke rumah sebelum anak-anak kami terjaga. Ia akan memasak nasi untuk anak-anak lantas menyiapkan dagangan, mengadon bahan goreng-gorengan.

Kalaupun ada yang ta biasa, menjelang tidur, isitriku bilang bahwa tadi siang anak-anak menangis. Ini pun sebenarnya biasa saja. Apa anehnya dengan anak-anak yang menangis? Walaupun suara tangisan mereka sering membuatku tambah marah dan memukuli mereka. "Mereka berebut ayam goreng," kata istriku dengan nada, yang belakangan kusadari, putus asa.

**
BUKAN ayam goreng yang menjadi musabab aku melakukan perbuatan itu. Tapi, mimpi-mimpi itu. Mimpi yang berulang kali menyambangi tidurku. Mimpi yang begitu nyata. Bahkan, suara lelaki itu terus mendengung di kuping sesudah aku terjaga. Lelaki cahaya dengan rambut hitam panjang dan berkilau itu muncul di sana, di dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Dia menjajari langkahku ketika aku bergegas ke pasar. Dia muncul di sela-sela los pasar. Wajahnya begitu tampan, seperti tak tersentuh debu. Suaranya alangkah merdu. Ia berkata, sudah tak ada waktu lagi menahan-nahan untuk membawa anak-anak kami pergi bersamanya.

"Maryam, kami lebih bisa menjaga mereka," suara itu. Aku tak mengenal laki-laki ini. Aku tak pernah mengenal laki-laki, keculai suamiku. Tapi, setiap kali aku mau bertanya, siapa dirinya, lidahku selalu kaku oleh segala pesonanya yang memancar dan membuatku tertunduk.

"Kasihanilah mereka, Maryam," lelaki itu terus berkata. "Kembalikan mereka kepadaku. Tatap wajah mereka. Ini bukan tempat yang bersahabat untuk anak-anak itu." Lalu, dia menuturkan bagaimana caranya mengembalikan anak-anak kami yang lucu dan tak berdosa itu kepadanya.

"Lakukanlah. Kalau kamu benar-benar menyayangi mereka." Lelaki itulah yang menuntunku melakukan penyelamatan itu. Kini mereka telah bebas.***

Gondangdia, Maret 2015

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon, 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, dan esai untuk sejumlah penerbitan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aris Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 21 Februari 2016

Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi