Pengamen Bersyair Aneh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pengamen Bersyair Aneh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:16 Rating: 4,5

Pengamen Bersyair Aneh

TERMINAL antarkota. Matahari tepat di atas kepala. Teriakan kernet dan calon, saling bersahutan menarik penumpang. Menggerus suasana panas, semakin membias fatamorgana di atas aspal. Bus masuk, meninggalkan terminal. Sama-sama mencari keberuntungan dalam mengais nasib yang harus dikejar setiap waktu.

"Kenapa turun, Jok?"

"Sudah ada yang ngamen, Bos!"

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Laki-laki setengah baya. Pemain baru!"

"Ini wilayah kita. Naik darimana?"

"Tidak tahu, Bos! Sedari tai aku tidak melihat orang itu."

"Usir. Kalau ngeyel, gebuki saja!"

"Siap, Bos!"

Jok dan bos, serta beberapa pengamen sudah bersiap-siap menunggu laki-laki pengamen yang masih berada di atas bus itu turun. Bus berjalan, meninggalkan terminal. Laki-laki yang ditunggu tak tampak di sekitar terminal. Mereka saling berpandangan. Suara azan Zuhur terdengar dari Masjid Al Hidayah, di lingkungan terminal itu.

Jok dan bos, serta pengamen yang berada di terminal itu penasaran. Merasa wilayahnya dimasuki orang tak dikenal. Dan orang itu pemain baru. Jika pemain lama, pasti sudah tahu aturan yang disepakati selama ini. Tidak boleh memasuki wilayah lain. 

"Kenapa turun lagi, Jok?"

"Laki-laki itu lagi, Bos!"

"Kita seret saja apa, Bos?" usul pengamen lain.

"Tunggu saja! Jangan sampai penumpang terusik ketenangannya. Biarlah dipuaskan dulu," ucap bos, berpura-pura bersabar. 

Bus berjalan meninggalkan terminal. Sekali lagi bis, Jok serta beberapa pengamen yang sengaja menunggu laki-laki itu turun dari bus, tetap tidak menemukan siapa-siapa. Kecuali penumpang yang baru saja turun. Atau penumpang yang baru saja turun. Atau penumpang yang akan naik bus berikutnya, menuju kota tujuan. Rasa jengkel, penasaran berkecamuk di dada para pengamen itu. Jok juga tidak melihat selintas pun wajah laki-laki di atas bus yang berjalan tadi. Suara azan Asar terdengar dari masjid. Terminal itu tetap ramai. Suara hiruk-pikuk penumpang, menghiasi sore yang sebentar lagi ditutup tergelincirnya matahari.

Bos, Jok serta pengamen terminal dibuat bertanya-tanya. Ingin tahu siapa sebenarnya laki-laki yang telah berani menginjak wilayah kekuasannya.

Hari kedua, ketiga, kehadiran laki-laki di atas bus terminal telah mengusik ketenangan dan ketentraman para pengamen. Ingin rasanya mereka memberikan pelajaran. Tetapi setiap bus berangkat, dan kemudian azan Zuhur terdengar, tetap tidak menemukan sosoknya. Begitu juga ketika menjelang sore hari, muncul lagi di atas bus, kemudian azan Asar berkumandang, laki-laki itu tetap tidak ditemukan di sekitar terminal. Rasa penasaran. Jengkel, bercampur menjadi kemarahan.

Hari keempat bos sebagai pengamen yang dituakan di terminal, turun tangan. Ingin tahu darimana datangnya laki-laki itu naik. Dengan membawa gambaran Jok, tentang tamu misterius di wilayahnya, naik bus yang akan masu terminal dengan jam yang telah diamati selama tiga hari. Tidak membawa peralatan mengamen. Ketika matahari menjelang di atas kepala. 

Lampu merah menyala di perempatan menuju terminal, kurang lebih tuju kilometer dari terminal. Mata bos terpana dengan naiknya laki-laki setengah baya. Rambutnya sudah memutih, ditutup peci lusuh, kaos putih bersih, celana hitam congklang. Matanya tajam. Senyumnya memikat. Membawa seruling bambu kecil.

Lampu menyala hijau. Bus berjalan. Laki-laki itu terus melangkah di sela-sela kursi. Tepat di tengah badan bus. Tanpa basa-basi, lalu meniup seruling begitu indah. Merdu suara yang keluar. Bos terpukau suara seruling itu. Hatinya yang semula memendam kemarahan, kemudian diaduk-aduk suara merdu. Tahu betul, lagu yang didendangkan itu Ilir-ilir. Perlahan, suara hati yang menyimpan rasa jengkel dan marah pudar, setiap menaap mata laki-laki setengah baya itu. Tatapan yang begitu tajam, dan begitu teduh.

Laki-laki setengah baya itu mengakhiri alunan serulingnya.

"Salat boleh di langgar. Salat tidak boleh pakai sarung!" Hanya dua baris syair yang keluar dari suara laki-laki setengah baya. Mengalun merdu menggetarkan hati, mantap, dengan tatapan tajam, meneduhkan dan senyum yang menghanyutkan, ketika bus telah masuk terminal.

Mata bos kembali terpana, ketika bus berhenti dan ngetem, laki-laki itu berjalan ke pintu belakang, melewati, lalu turun dan berjalan keluar terminal. Tanpa menengadahkan tangan, meminta recehan pada para penumpang.

"Bagaimana, Bos? Ketemu?" sambut Jok tak sabar, ketika bos turun bus.

"Aneh!" Hanya itu yang keluar dari mulut bos.

Teman-teman pengamen di terminal heran melihat wajah bos tidak biasa. Yang mereka kenal, bos kejam, tanpa kenal ampun, sudah tiga kali masuk sel, tidak pernah mempunyai rasa takut pada siapa pun. Tetapi siang itu, tepat matahari di atas kepala, saat suara azan Zuhur terdengar, tampak begitu gelisah.

"Kita lapor keamanan!" perintah bos.

Para pengamen bingung. Tetapi tidak ada yang berani bertanya. Ada yang sedang dipikirkan ketuanya. Bos dan teman-temannya kemudian lapor keamanan. Bos menerangkan yang dilihat dan didengar. Salah satu petugas keamanan yang ada di pos terminal manggut-manggut.

"Ini sudah sesat dan SARA!" katanya.

Tepat yang direncanakan. Laki-laki itu digelandang dari atas bus. Dibawa ke pos keamanan. Laki-laki itu diinterogasi petugas.


"Ali Al Wustho, namaku, dari Desa Jati. Apa salah? Salat kan boleh di langgar. Salat tidak boleh pakai sarung, kalau salat pakai sarung, berarti salatnya batal, hehe..." jawabnya. 

"Ali Al Wustho? Kiai Pondok Pesantren Sejatining Urip? Kenapa Pak Kiai sampai ceramah dengan dua baris syair di atas bus?" tanya salah satu petugas keamanan yang sejak laki-laki itu digelandang ke pos memperhatikan saksama. "Sekarang banyak tontonan menjadi tuntunan. Sedang tuntuna menjadi tontonan. Orang sudah enggan berkumpul mendengarkan kebenaran. Kebaikan itu banyak, tetapi yang mengerjakan sedikit. Sedangkan kata-kata yang diplesetkan agama lebih mengendap di hati. Ketimbang menelaah secara nalar. Sehingga perlu aku mendatangi orang dalam perjalanan menyampaikan suara kebaikan!" ucapnya. 

Bos semakin bingung. Tidak pernah merasakan hatinya segundah sore itu. Suara azan Asar terdengar. Laki-laki itu bangkit dari kursinya. Petugas keamanan tidak mencegah. Melangkah keluar dari pos keamanan. Bos dan teman-temannya mengikuti. Laki-laki itu menuju masjid, tempat wudu. Bos tampak ragu. Teman-temannya juga ragu. Bos kemudian melangkah, mendekat laki-laki setengah baya yang tengah mengambil air wudu. [] -k

Padhepokan Djagatdjawa Magelang, 2016


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 21 Februari 2016

0 Response to "Pengamen Bersyair Aneh"