Petang Cemerlang Milik Baltasar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 27 Februari 2016

Petang Cemerlang Milik Baltasar


SANGKAR itu pun siap. Baltasar menggantungkannya pada perabung atap sebelah bawah, sebagaimana biasa, dan ketika ia selesai makan siang, berita telah tersiar mengatakan Baltasar telah menyiapkan sebuah sangkar burung yang termolek di dunia. Itulah sebabnya orang-orang datang berkerumun di depan untuk melihat benda itu. Baltasar menurunkannya dan menutup pintu. 

“Bercukurlah,” kata Ursula, istri-nya. “Kau seperti biarawan Kapusin saja.”

“Tak baik bercukur setelah makan,” tangkis Baltasar. 

Sudah dua minggu janggut dan kumisnya tumbuh, pendek, keras, berkilau seperti bulu-bulu tengkuk keledai atau air muka anak lelaki yang ketakutan. Namun itu sebenarnya suatu gambaran yang keliru. Bulan Februari ini ia sudah berusia tiga puluh, sudah empat tahun hidup bersama Ursula tanpa nikah dan tanpa anak. Hidup sudah memberikan padanya banyak alasan untuk waspada tapi tidak untuk ditakuti. Ia bahkan tak tahu bahwa orang banyak mengatakan sangkar yang baru saja disiapkannya itu yang termolek di dunia. Sejak kanak-kanak ia berpendapat membuat sangkar burung merupakan keterampilan yang paling sulit, melebihi pekerjaan lain. 

“Istirahatlah kau,” kata Ursula. “Dengan kumis dan janggut seperti itu mana pantas kau dilihat orang.”

Beberapa kali Baltasar terpaksa keluar dari tempat tidur gantungnya untuk memperlihatkan sangkar itu kepada para tetangga. Ursula kurang memperhatikan hasil karya suami-nya sampai saat itu. Dia risau memikirkan Baltasar yang melalaikan usaha pertukangan kayunya yang terbengkalai karena ia menumpukkan perhatian pada pembuatan sangkar burung. Selama dua minggu ia kurang tidur, terus membalik-balikkan badan dan meracau tak tentu arah, tak perduli pada janggut dan kumis. Tapi kerisauan Ursula terhapus dengan rampungnya sangkar itu. Ketika Baltasar terbangun dari tidur-ayamnya, Ursula telah menyeterika celana dan kemejanya, meletakkannya pada kursi di samping tempat tidur gantung, dan meletakkan sangkar burung di atas meja makan. Diperhatikannya sangkar itu sambil membisu. 

“Berapa kau minta harganya?” tanya Ursula tiba-tiba. 

“Aku tak tahu,” jawab Baltasar. “Akan kuminta tiga puluh peso agar ditawar orang dua puluh.”
“Minta lima puluh,” kata Ursula. “Dua minggu lamanya kau kurang tidur. Lagi pula ini ukuran besar. Kukira sangkar terbesar yang pernah kusaksikan selama hidupku.”

Baltasar mulai bercukur.

“Kau kira mereka mau membayar lima puluh peso?”

“Harga segitu tak ada artinya bagi senor Chepe Montiel. Sangkar ini memang segitu harganya,” jawab Ursula. “Kau boleh minta enam puluh.”

Rumah itu dinaungi bayang-bayang redup. Minggu pertama bulan April dan udara tak berkurang panasnya ditingkah bunyi riang-riang. Selesai berpakaian Baltasar membuka pintu yang menghala ke halaman untuk memasukkan udara segar ke dalam rumah, lalu sekelompok anak-anak menderu masuk ke kamar makan. 

Kabar sudah tersebar. Dokter Octavio Giraldo, pak tua yang merasa hidupnya bahagia, tapi letih dengan profesinya sebagai tabib, sedang memikirkan sangkar karya Baltasar ketika menyantap makan siang bersama istrinya yang cacat. Di luar teras, tempat meja diletakkan pada hari-hari panas, terletak banyak pot bunga dan dua buah sangkar berisi burung kenari. Istrinya menyenangi burung-burung, sangat menyayanginya, dan karena itulah sangat benci pada kucing yang bisa saja memangsa kesayangannya.

Sambil memikirkan istrinya, dokter Giraldo mengunjungi seorang pasien sore itu, dan pulangnya ia singgah ke rumah Baltasar untuk menyaksikan sangkar burung yang jadi berita itu.

Banyak sekali orang di kamar makan rumah itu. Sangkar tersebut sedang dipamerkan di atas meja: kubah besarnya terbuat dari kawat, bagian dalamnya tiga tingkat dengan gang dan kamar khusus untuk makan, tidur dan terbang; mirip pabrik es raksasa dalam ukuran kecil. Dokter itu memperhatikan sangkar itu dengan seksama, tanpa menyentuhnya, sambil berpikir bahwa ternyata sangkar itu lebih baik dari reputasi kedokterannya yang ia dapatkan selama ini, dan jauh lebih bagus dari segala yang diimpikannya demi sang istri. 

“Ini merupakan imajinasi yang melambung tinggi sekali,” katanya. Dilihatnya Baltasar di antara kerumunan orang dan sambil memandangnya dengan pandangan bangga, dokter tua itu menambahkan, “Sebenarnya kau bisa jadi arsitek yang luar biasa.”
Baltasar malu.

“Terima kasih,” katanya.

“Ucapanku benar,” kata dokter tua itu lagi. Badannya gemuk mulus seperti perempuan cantik muda usia, tangannya halus dan lembut. Suaranya seperti seorang rohaniwan yang sedang mengucapkan doa dalam bahasa Latin.

“Tak perlu kau taruh burung di dalamnya,” kata dokter itu sambil memutar sangkar karya Baltasar di depan mata hadirin seperti petugas lelang. “Cukup menggantungnya di pohon dan sangkar ini akan bersiul sendiri.” Diletakkannya kembali sangkar itu ke atas meja, memperhatikannya sebentar, lalu berkata, “Luar biasa! Aku mau membelinya.”

“Tapi sangkar ini sudah ada yang punya, dokter,” kata Ursula.

“Yang punya anak senor Chepe Montiel,” sambung Baltasar. “Dia yang menempahnya.”

“Apa dia yang membuat rencananya?”

“Tidak,” jawab Baltasar. “Dia cuma bilang dia memerlukan sebuah sangkar burung ukuran besar, seperti inilah, untuk sepasang burung trupial.”

Sang dokter memperhatikan sangkar itu lagi.

“Tapi sangkar ini bukan untuk burung trupial, bukan?”

“Untuk burung trupial, dokter,” kata Baltasar sambil mendekati meja. Anak-anak mengerumuninya. 

“Ukurannya telah diperhitungkan dengan cermat,” katanya lagi sambil menunjuk bagian-bagian tertentu dengan jari telunjuknya. Lalu kubah sangkar itu dipetiknya dengan jari dan paduan nada merdu terdengar bergema. 

“Ini kawat paling kuat,” katanya lagi. “Setiap sambungan disolder pada sebelah dalam dan luar.”
“Sangkar ini terlalu besar untuk burung nuri,” kata seorang anak.

“Betul,” kata Baltasar.

Sang dokter menoleh.

“Baiklah,” katanya. “Tapi si penempah tidak memberikan bagan rencananya padamu. Ia tak mengarahkan kau dengan petunjuk terinci kecuali mengatakan bahwa sangkar itu untuk burung trupial, bukan?”

“Benar begitu,” jawab Baltasar.

“Jadi, tak jadi soal,” kata dokter tua itu lagi. “Sangkar lain pun yang bisa diisi dengan burung trupial akan dinilainya sama dengan sangkar ini. Tak ada bukti bahwa sangkar yang ini yang dipesannya dari kamu.”

“Tapi memang sangkar ini yang ditempahnya,” kata Baltasar agak bingung. “Karena saya memang membuat barang ini untuk dia.”

Dokter tua itu membuat gerakan tak sabar.

“Kamu dapat membuatkan yang lain untuk pak dokter, kan?” kata Ursula sambil memandang Baltasar. Lalu dia berkata kepada orang tua itu, “Bapak tak perlu cepat-cepat, kan?”

“Aku sudah menjanjikannya kepada istriku petang ini,” kata dokter Octavio Giraldo.

“Beribu maaf, dokter,” kata Baltasar. “Saya tak dapat menjual benda yang sudah menjadi milik orang lain.”

Dokter Giraldo mengangkat bahunya. Sambil mengeringkan keringat di lehernya dengan sapu tangan, direnunginya sangkar itu sambil membisu, pandangannya melekat tapi tak terpusat seperti kalau orang memandang kapal yang bergerak meninggalkan dermaga. 

“Berapa orang membayarmu untuk sangkar ini?”

Baltasar memandang tepat ke mata Ursula yang terlihat dingin.

“Enam puluh peso,” kata perempuan itu.

Dokter Giraldo terus memperhatikan sangkar itu. “Sangat manis,” desisnya. “Luar biasa.” Lalu, sambil melangkah ke pintu, ia mengipasi lehernya dengan gerak lincah, dan gambaran kejadian itu pun lenyap dari pikirannya.

“Montiel itu orang kaya,” katanya.

Sebenarnya Jose Montiel tidaklah sekaya kelihatannya, tapi ia sangat berhasil menggambarkan dirinya sebagai orang yang benar-benar kaya. Beberapa blok dari situ, dalam rumah yang penuh perabot kaku dan bau aneh, ia tak mengacuhkan kabar tentang sangkar burung yang menarik perhatian banyak orang itu. Istrinya yang terus tersiksa oleh bayangan kematian menutup semua pintu dan jendela rumah setelah waktu makan siang, dan selama dua jam berbaring sambil memperhatikan bayang-bayang, sementara suaminya tidur siang. Suara ribut mengherankan hatinya. Kemudian dia membuka pintu kamar depan dan dilihatnya serombongan orang datang. Di tengah orang-orang itu kelihatan Baltasar membawa sebuah sangkar burung, berbaju putih, bercukur rapi, dengan air muka jernih seperti yang diharuskan kepada orang-orang melarat bila memasuki rumah orang kaya.

“Bagus sekali benda yang kau bawa ini,” seru nyonya Jose Montiel dengan wajah cerah kepada Baltasar dan mengiringkannya masuk. “Belum pernah aku melihat benda sebagus ini selama hidupku,” sambung perempuan itu, tak senang melihat orang berkerumun dekat pintu. “Bawa masuk benda itu sebelum mereka mengotori kamar tamuku.”

Baltasar bukanlah orang asing di rumah Jose Montiel. Berkat keterampilannya, orang rumah itu selalu memesan perabot kayu hasil pertukangannya. Tapi ia tak pernah merasa betah di rumah orang-orang kaya. Selalu ia berpikir tetang mereka, tentang para istri yang cerewet dan buruk, tentang operasi tumor yang mengerikan, dan ia selalu merasa kasihan kepada orang-orang kaya itu. Ketika memasuki rumah mereka, ia selalu melangkah dengan menyeret kakinya.

“Pepe ada, nyonya?” tanya Baltasar.

Diletakkannya sangkar burung itu ke atas meja makan.

“Ia masih di sekolah,” jawab nyonya Jose Montiel. “Tapi sudah hampir pulang,” tambahnya. “Senor Montiel sedang mandi.”

Padahal Jose Montiel tak pernah pernah mandi. Ia cukup berjaram dengan alkohol untuk tampil ke luar dan melihat apa yang terjadi di dunia ini. Ia sangat hemat, tidur tanpa kipas listrik, konon, agar dapat mendengar bunyi-bunyi yang mencurigakan selagi tidur.

“Adelaide,” serunya. “Ada apa di situ?”

“Mari lihat benda ini. Istimewa!” sahut istrinya membalas teriakan sang suami.

Jose Montiel, tambun dan berjanggut lebat, handuk melingkar di leher, kelihatan dari jendela kamar tidur.

“Apa itu?”

“Sangkar untuk Pepe,” jawab Baltasar.

Nyonya Montiel memandang suaminya dengan bingung.

“Siapa punya?”

“Pepe!” jawab Baltasar. Ia memandang Jose Montiel. “Pepe yang memesannya.”

Tak ada yang terjadi pada waktu itu. Baltasar mendengar orang membuka pintu kamar tidur dan Jose Montiel muncul memakai baju dalam.

“Pepe!” teriaknya.

“Dia belum pulang,” bisik nyonya Montiel tanpa bergerak sedikit pun.

Pepe muncul di ambang pintu. Umurnya kira-kira dua belas tahun, alisnya melengkung, nampak tenang dan perasa seperti ibunya.

“Mari sini!” panggil Jose Montiel kepadanya. “Betul kau memesan benda ini?”

Anak itu menundukkan kepalanya. Jose Montiel memaksa si anak memandang matanya dengan kepala Pepe. 

“Jawab!”

Pepe menggigit bibirnya tanpa menjawab.

“Montiel,” bisik istrinya.

Jose Montiel melepaskan anaknya dan menoleh pada Baltasar dengan gusar.

“Aku minta maaf, Baltasar,” katanya. “Sebaiknya kau bicara dulu padaku sebelum menyetujui pesanan anak itu.” Wajahnya kembali tenang. Diangkatnya sangkar itu tanpa memandangnya dan mengulurkannya pada Baltasar.

“Bawalah benda ini. Coba jual pada orang lain,” katanya. “Jangan bertengkar dengan aku,” sambungnya sambil menepuk pundak Baltasar. “Dokter melarang aku marah.”

Pepe masih tak bergerak, tak berkedip. Baltasar memandangnya dengan bimbang sambil memegang sangkarnya. Tiba-tiba anak itu mengeluarkan suara kerongkongan, seperti anjing menggeram, lalu meraung dan berguling di lantai.

Jose Montiel memandang anaknya, tercegat tak bergerak, sementara nyonya Montiel berusaha menenangkan Pepe. “Jangan perdulikan dia,” seru Jose Montiel. “Biarkan dia pecahkan kepalanya di lantai, nanti kita taburkan garam dan peraskan air limau di lukanya itu.” Anak itu menjerit ketika ibunya mencekal pinggangnya untuk dibawa berdiri.

“Biarkan dia!” kata Jose Montiel tegas. 

Baltasar memandang Pepe seperti memandang hewan piaraan yang kena sawan. Jam menunjukkan hampir pukul empat. Pada waktu begitu, di rumahnya, tentulah Ursula sedang menyanyikan sebuah lagu lama sambil mengiris bawang.

“Pepe,” seru Baltasar. 

Didekatinya anak itu, tersenyum, dan mengulurkan sangkar itu padanya. Si anak melompat bangun, memeluk sangkar yang hampir sama besar dengan badannya, memandang Baltasar lewat celah-celah kawat, bingung hendak bilang apa. Air matanya segera kering. 

“Baltasar,” kata Jose Montiel dengan lembut. “Kan sudah aku katakan bawa benda itu pulang.”
“Kembalikan,” kata nyonya Montiel kepada anaknya.

“Biarlah,” kata Baltasar pula. “Saya membuat sangkar itu untuknya.”

Jose Montiel mengejar Baltasar sampai ke kamar depan.

“Jangan bodoh, Baltasar,” katanya sambil menghalangi langkah Baltasar. “Bawa pulang karyamu. Jangan tolol, aku takkan membayar satu sen pun.”

“Biarlah,” kata Baltasar. “Saya berikan dengan ikhlas sebagai hadiah untuk Pepe. Saya tak mengharapkan upah apa-apa.”

Ketika ia melangkah di tengah kerumunan orang yang memenuhi pintu depan, terdengar teriakan tuan rumah.

“Goblok!” jeritnya. “Bawa keranjang burukmu itu dari sini. Dari mana datangnya keberanianmu mengatur rumahku. Anak sundal!”

Di arena pertaruhan Baltasar disambut seperti bintang film. Sampai saat itu ia berpikir bahwa ia telah membuat sangkar burung yang belum pernah dibuat orang sebelumnya, dan telah menghadiahkannya pada anak lelaki Jose Montiel, tak perlu disesali dan semua tak penting lagi. Bahwa itu penting bagi orang banyak membuat hatinya gembira sekali.

“Kau dapat lima puluh peso untuk sangkar itu?”

“Enam puluh.”

“Satu kosong untukmu,” kata seseorang. “Kau ini satu-satunya orang yang berhasil membuat Senor Jose Montiel mengeluarkan uang dari dompetnya. Kita harus merayakannya.”

Bir dibawa untuk Baltasar. Dan ia menyambut baik penghormatan itu. Itulah pertama kali ia keluar rumah untuk minum. Ketika senja tiba, ia sudah benar-benar mabuk, mengoceh tentang rencana besar untuk membuat seribu buah sangkar burung, enam puluh peso satu, kemudian membuat lagi satu juta sangkar sehingga dapat menghasilkan enam juta peso. “Kita harus membuat banyak dan menjualnya kepada orang-orang kaya sebelum mereka mati,” kata Baltasar yang merasa buta karena mabuk. “Mereka itu orang-orang sakit yang sekarat, sudah terkunci mati sampai-sampai marah pun mereka tak bisa.” Jukebox dimainkan selama dua jam terus-menerus. Orang-orang minum demi keselamatan Baltasar, nasib baik, laba, dan mengharapkan kematian orang-orang kaya. Ketika waktu makan tiba, Baltasar ditinggalkan sendirian.

Ursula menantinya sampai jam delapan dengan sepinggan daging goreng ditaburi irisan bawang. Seseorang memberi tahu Baltasar di arena pertaruhan, seperti kerasukan, membelikan bir untuk semua orang. Tapi perempuan itu tak percaya. Bukankah Baltasar tak pernah mabuk? Ketika ia naik ke tempat tidur, hampir tengah malam, Baltasar sedang berada di sebuah ruangan benderang tempat meja-meja teratur rapi, setiap meja dengan empat kursi. Dansa riang terus berlangsung, siul dan suit bersahut-sahutan. Muka Baltasar merah berminyak, dan karena sudah tak berdaya mengayun dansa selangkah pun ia pikir lebih baik tidur dengan dua perempuan sekaligus. Ia telah menghabiskan uang terlalu banyak sehingga terpaksa menggadaikan arlojinya dengan janji akan ditebus besok. Tak lama sesudah itu, dengan wajah tersungkur di jalan, baru disadarinya bahwa ia tak bersepatu, namun ia tak mau melepaskan mimpi terindah dalam seluruh hidupnya itu. Beberapa perempuan yang berpapasan dengannya ketika mereka hendak melaksanakan misa pagi pada pukul lima subuh, tak berani melihat Baltasar. Seperti orang mati. 


Gabriel Garcia Marques. Lahir 1928 di Arataca, Colombia. Ia anak seorang operator telegraf. Belajar hukum di Universitas Nasional Colombia di Bogota, tapi tak selesai. Ia bekerja sebagai wartawan dan press agency di Amerika Latin, Eropa, dan New York. Bersama pengarang Mexico pernah membuat skenario film. Namun, ia lebih dikenal sebagai pengarang. Karya-karyanya antara lain El Coronel No Tiene quien le Escriba (1961; Tak seorang pun menulis kepada Pak Kolonel), Los Funerales de la Mama Grande (1962): Pemakaman Bunda Agung), Cien Affos de Soledad (1965; Seratus Tahun Kesepian), dan El General en su Labirinto (1989; Sang Jenderal dalam Labirinnya). Pada 1982, Marques meraih Hadiah Nobel. Petang Cemerlang Milik Baltasar, dalam terjemahan Inggris, berjudul Balthazar’s Marvelous Afternoon. Sumbernya dari buku No One Write to the Colonel and Other Stories, HarperColophon Books, London, 1968, halaman 106-114. (Matra, Juli 1990)



***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Literasi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gabriel Garcia Marques yang dialihbahasakan oleh Hasan Junus
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Juli tahun 1990


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi