Sang Pahlawan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Jumat, 26 Februari 2016

Sang Pahlawan


TATKALA TV SONY 16 inci hitam-putih tersebut tiba, Cornelio de Dios sedang berada di kamarnya di lantai atas bersusah payah membaca sebuah majalah tua yang dibawa pulang Linda, satu-satunya anaknya—sebuah sajian pariwisata Jepang yang berkilat-kilat. Lebih awal tadi, sudah ia perbaiki sebuah cassette recorder rusak yang dimintabetulkan anaknya—satu lagi dari Sony-sony itu—tetapi ia tidak akrab dengan jalinan listriknya; ia tidak terlalu mengikuti kegemaran elektroniknya, tetapi apa yang bisa dilakukan seorang bekas guru sejarah yang lumpuh ketika ia tidak lagi berada di puncak usianya?

Adalah Koko buyung rumah sebelah yang muncul; lagi-lagi pintu depan tidak dikunci. Toh, selalu ada para tetangga di pintu keluar dan selain itu, apa yang bisa dicuri orang dari jalan Waga, no. 36-b itu? Anda intiplah ruang keluarga yang sumpek itu, tidak ada apa-apa di sana selain satu set sala rotan buruk, meja makan yang sudah miring, dan selain meja makan itu, sebuah kulkas yang berkerenyit, kompor minyak karatan dan beberapa panci dan wajan. Ada pula sebuah jam dinding tua yang tidak jalan lagi.

“Engkau tidak perlu turun, Lolo,” buyung itu berkata penuh hasrat. “Mereka bisa membawanya ke atas.” Cornelio de Dios baru akan menegakkan tubuh untuk mengambil kruknya saat mereka masuk—dua lelaki dengan Villa Marketing menghias kaus oblong biru mereka.

“Ingin ditaruh di mana, Tuan?” salah seorang bertanya seraya memandangi ruang yang renta itu, pada meja kerja yang kusut oleh tumpukan tabung-tabung radio, kawat-kawat dan radio Zenith tua, pada rak berisi buku-buku di sisi yang lain.

“Anda barangkali sudah melakukan kekeliruan,” ujar Cornelio de Dios, menggelengkan kepala. Mereka menurunkan kardus itu di lantai dan mulai membukanya. Benda itu berkilat-kilat dan baru. Orang itu bertanya, “Nama Tuan Cornelio de Dios?”

Ia mengangguk. “Tetapi saya tidak memesan TV apa pun. Saya tidak punya uang ….”

Orang itu tersenyum. Yang lain mencari sambungan listrik di dinding dan menancapkan kabelnya di sana. Ia memutar-mutar kenop-kenopnya dan muncullah gambar hitam dan terang—Presiden membicarakan kesucian hak-hak asasi manusia.

Ia disodori isian yang harus ia tandatangani dan mereka meninggalkan selembar salinannya. Hanya Linda yang tentu sudah membeli TV itu; ia selalu prihatin pada kesendiriannya, terduduk di depan meja, menggerumiti radio-radio rongsok.

Itu kehidupan yang sulit, apalagi sesudah ia pensiun dan memperoleh begitu sedikit sebagai hasil tiga puluh tahun mengajar sejarah pada anak-anak muda yang tidak sungguh-sungguh tertarik. Tetapi kehidupan masih memberi sedikit ganjaran; hidup begini lama, ia sudah melihat suatu liputan sejarah yang luas tergelar di hadapannya—ia sudah menyaksikan kesementaraan jabatan tinggi, juru tulis yang dilontarkan ke ceruk paling tinggi diturunkan pada keadaan yang memalukan karena ketidakbecusan dan keangkuhan mereka sendiri; ia diyakinkan bahwa untuk kondisi kemanusiaannya yang sama sekali celaka itu, masih terdapat sesuatu padanya—sang malaikat yang baik, bukan yang menuntut balas—yang bertahan agar ia akan lebih dekat dengan tuhannya dan meraih suatu jejak keabadian. Kendati kenyataan kelabu dan teladan yang jelas bagi keningratan adalah jauh dari sana dan sama sekali jarang ada, ia terus bertahan sebab jika ada sesuatu, itulah sejarah yang ia yakini dan itulah yang sudah ia ajarkan. Barangkali ada usaha-usaha untuk menuliskannya kembali, sebagaimana semua diktator sudah berusaha menuliskan kembali sejarah mereka, namun akan selalu terdapat bintik-bintik kebenaran tersembunyi di suatu tempat, menunggu ditemukan orang, dan mencarinya, bagaimana pun juga, adalah tugas sejarawan.

Pikiran-pikiran yang mulia, juga bebal sekali—Cornelio de Dios mengingatkan dirinya. Akan segera tengah hari, dan ini waktunya bergulat menuruni tangga ke dapur untuk menyiapkan makan siangnya, barangkali tidak lebih dari tomat iris dan ikan garing masak minyak jagung. 

Merupakan hal yang paling bagus bahwa Linda makan di luar—terkadang sekadar dua potong pan de sal dengan seiris daging atau keju di tengahnya. Tentu saja itu sudah lebih baik daripada yang dimakan oleh murid-murid sekolah menengah di Sampaloc sana—“roti tangkup” bahkan tanpa mentega. Anaknya kebanyakan makan di luar sekarang dan itu pun baik adanya. Sudah waktunya perempuan itu kawin tetapi ada suatu kebandelan padanya; ia bergabung dengan demonstrasi mahasiswa pada 1970, ini bukan dari ibunya—yang selalu patuh, selalu mengamini tingkah ulahnya. Meski pun ada, namun sedikit saja yang dari ibunya. 

Ia jatuh tertidur di kursi goyang namun diketahuinya Linda sudah tiba tatkala ia mendengar putaran kunci kamarnya; perempuan itu menyalakan lampu yang menimpa halaman depan sempit itu. 

“Mengapa engkau selalu duduk gelap-gelapan, Papa?” tanyanya. Ia lantas melihat benda itu di atas meja. “Jadi, sudah datang. Mereka bilang mau mengantarkannya besok.”

Ia menciumnya, lantas menuju ke TV. “Sekarang engkau punya sesuatu untuk ditonton sebagai ganti hanya duduk-duduk di sini dan memikirkan semua pikiran kelam itu.” Ada irama dalam suaranya. 

Presiden muncul pada siaran langsung di kaca, berjabatan dengan beberapa petinggi asing. Cornelio de Dios membungkuk dan mematikannya. 

“Kadang saya suka seperti ini,” ujarnya. “Sunyi dan gelap. Dari sini saya bisa, melihat serba sedikit kota, kau tahu. Lampu-lampu, suara lalu lintas.” Kemudian tanpa peringatan apa-apa, “Dari mana engkau dapatkan uangnya? Orang itu bilang harganya seribu delapan ratus peso. Kontan.”

Anaknya tersenyum. “Ayah, aku punya pekerjaan bagus sekarang—engkau tahu itu. Seribu delapan ratus peso sebulan tambah tips! Oh, orang-orang Jepang gila itu—kadang-kadang mereka begitu saja melempar uang pada suvenir-suvenir yang paling dungu. Ada pengaturan ini di bank ini. Mereka membayarnya kontan, dan saya bayar mereka, dengan bunga tentu saja—seratus peso sebulan ….”

Dia menerima keterangan anaknya dengan diam. “Aku hanya ingin meyakinkan diri,” katanya. “Itu uang banyak—dan ada benda-benda lebih baik yang bisa engkau pakai ….”

“Itu buatmu, Papa,” ujar perempuan itu, membungkuk di atasnya. “Saya faham apa yang ada di pikiranmu—bahwa ada orang yang piara saya. Baiklah, biar kukatakan—jika saya punya seorang, saya tidak akan puas dengan TV hitam putih. Itu akan jadi 21 inci super color!”

Ia tertawa jengah dan berbalik ke layar kaca. Presiden tak ada lagi di sana; sejenis pelawatk mengenakan dandanan pangeran antah berantah—sebuah dari program-program Filipina yang diriset dengan buruk, dan itu membuatnya muak.

Ia sudah enam puluh tahun lebih dan kebiasaan lama tak mati-mati—keengganannya menerima kepalsuan dan ejekan atas kebenaran. Sebagai seorang guru, ia terlalu amat berhati-hati pada pengajarannya, menekankan tabiat fakta-fakta, yang berkenaan dengan kelemahan-kelemahan manusia. Sekarang semuanya tampak begitu jauh, dipadatkan dan disarikan di ruang ini, pada peta tua kecokelatan di dinding yang memperlihatkan Teluk Manila, Luzon Tengah, dan tentu, semenanjung Bataan. Di sini pula, buku-bukunya, kebanyakan dikumpulkan dari toko-toko loakan di Avenida dan Azcarraga, bahan-bahan latar belakang yang ia gunakan selama tiga puluh tahun. Tetapi jika sejarah adalah kebenaran, ke mana sejarah itu sudah menggiring ia? Bagi rekan-rekannya dahulu seperti Andres Bravo, Bataan adalah landasan peluncur yang menerbangkannya ke Forbes Park, bagi Cornelio de Dios, ke jalan Waga.

Di masa yang tak begitu jauh ke belakang, jalan ini dipagari dengan pohon akasia yang rindang dan lebih ke atas jalan sana, ke arah permukaan tanah terdapat lahan penuh rerumputan dan rumah-rumah batu tua sejak di sinilah satu bagian tempat kaum elite Manila pindah ketika Ermita sudah sumpek. Tetapi tempat apartemen tersebut, jalannya buntu; ia melereng turun ke saluran pembuangan, terus menerus berbau dan payau. Di musim kering, baunya yang busuk sering naik melanggar apa saja. Apartemen itu terletak di tengah bangunan berpintu tujuh yang dibangun sebelum perang. Ubin-ubinnya sudah lama retak-retak, dan dinding batakonya sudah diganti dengan bata berongga. Pemilik absentee mengirimkan pengumpul uang sewa pada Senin pertama setiap bulan, seorang lelaki kecil bersuara nyaring yang gembar-gembor setiap kali ia berkeliling. Hanya kepada Cornelio de Dios saja ia berbicara dengan rasa hormat. Ia penyewa terlama, ia sudah melihat pada tetangga berdatangan, berkemas dan pergi. Beberapa ke rumah-rumah baru, atau ke Amerika Serikat. Sewanya sudah naik dari lima puluh peso pada 1949 menjadi dua ratus—dan membeku di sana, berkat Dekrit Presiden yang melarang kenaikan tarif. Soalnya biarpun kumuh, apartemen tersebut bisa dengan mudah meminta tiga kali tarif tersebut.

Di pagi hari saat sakitnya tak terlalu dahsyat, Cornelio de Dios terpincang-pincang ke depan dan duduk di birai yang tak ada tanamannya di dekat pintu. Selama enam bulan terkahir sejak Linda mendapat pekerjaan baru di kantor perjalanan-wisata ia tak mampu lagi pergi ke luar—rasa sakit yang kerap datang kalau tubuhnya bergerak bisa begitu kuatnya sampai meluluhkan punggung hingga ke kakinya dengan semburan-semburan hebat merasuki tulang belulangnya, ia kadang-kadang mengira akan sekarat dan mati.

Sebelum ia pensiun setahun sebelumnya, dokter Departemen Kesehatan sudah menceritakan padanya bahwa urat syarafnya kena. Dokter di Rumah Sakit Veteran menggaungkan diagnosa yang sama tetapi ia tahu penyakitnya lebih dari itu. Bagus hal itu terjadi sekarang; ia merenung, apa yang akan terjadi seandainya ia tidak mampu memberi Linda pendidikan, bagaimana anak itu akan hidup di sebuah kota yang sudah berubah begitu banyak sehingga ia hampir-hampir tidak bisa mengenalinya lagi.

Pagi ini terutama sekali, ia sekali lagi merasa was-was ketika ia mendengar anak itu membuang waktu dengan hal-hal yang sepele di dapur sempit di lantai bawah, menyiapkan sarapannya sebelum ia mau bergegas ke Santol dan mencegat jeepney ke Santa Mesa dan kemudian ke Makati. Anak itu sudah mengambil Sarjana Pendidikan dan kursus singkat bahasa Jepang. Namun akan paling baik baginya kalau ia mempelajari pengetahuan perawatan, ia bisa pergi ke AS dan menjadi kaya, paling sedikit, seperti yang ia katakan, mampu merawatnya dengan lebih baik.

Sebelum ia pergi, ia muncul dengan koran Express. Ia mengenakan baju cetak hijau baru dengan tas baru sebagai padanannya; ia kelihatan mirip sekali ibunya ketika perempuan yang sabar dan menyayang itu masih belasan tahun di dusun Bataan sana. 

“Hari besarmu besok, Papa,” ujarnya, menunjuk sebuah pokok di halaman depan mengenai amanat Presiden pada sebuah program memperingati jatuhnya Bataan. “Sekarang, engkau bisa melihatnya di TV.”

Ia membungkukkan tubuh dan mencium keningnya dan sesaat ia sudah lenyap. Ia menggigit potongan pan de sal lembek yang dibawakan perempuan itu. Kopinya masih hangat. Pada pagi bulan April yang panas dan lembab ini, kendati kenangan sudah memudarkan banyak hal, Bataan segar lagi di benaknya—dan letnan Andres Bravo, penerima Medali Keberanian. 

ITU SUDAH LAMA berlalu dan ia punya seluruh waktu guna memeriksa kembali kenang-kenangannya yang sudah ia timbun, bercermin dari sana. Itu sudah tertanam bertahun-tahun—penemuannya bahwa di bawah siksaan berat, semua ungkapan bernada tinggi itu, hal-hal yang membesarkan hati yang ia baca tatkala ia duduk di perguruan tinggi, sesungguhnya tidak berarti apa-apa—bahwa dalam pergulatan demi tetap hidup, tidak ada disiplin, tidak ada hormat, dan tentu saja, tidak ada cinta negeri. 

Sebelum mereka mencapai kedudukan penyergapan mereka, rangsum sudah tinggal separo. Disentri sudah meminta korbannya, dan peleton itu tinggal separuh kekuatannya. Ia menyembunyikan dua batang cokelat dalam rangselnya; dalam kaus kakinya yang bersih, dan ketika ia bangun, kertas timah tersebut berada di dadanya. Seseorang sudah mencurinya semalam dan meletakkan bungkusnya di sana melecehkan dia. 

Mereka bergerak dari Pampanga, letih dan kotor, dan sesudah meneliti ketinggian tanah, letnan Andres Bravo memerintahkan mereka menggali, merentangkan kabel sambungan telepon dari satu sisi perbukitan yang rendah ke kedudukan peleton pertama jauh ke jalan. Ia sangat letih—pelarian dari pantai Lingayen dan Dataran tengah sudah mendera mereka semua dan senapan otomatik Browning dan bandolier-nya memberat, sangat berat. Hal-hal inilah yang ia ingat, beratnya, kebasnya bahunya. Juga, bau gumalan kulit kayu pohon ipil ….

Itu tidak begitu menyerupai lubang perlindungan, sekadar beberapa batu besar, tanah galian, dan dahan ipil tebal yag mudah diledakkan granat. Namun terhadap tembakan senapan, ia kebal. Musuh datang larut sore, patroli sepeda mereka di depan truk-truk yang mendengus mendaki jalanan; lantas ia mendengar skuadron di jalan bawah menembak, teriakan-teriakan garau orang Jepang. Mereka berhasil menyapu bersih jalanan. Letnan Bravo berteriak di telepon, meminta bala bantuan, tetapi tidak bisa mendapat jawaban. Sekarang mortir-mortir mulai, dan kepingannya meledak di sebelah kanan mereka, menghamburkan daun-daun dan tanah. Ia melihat mereka dari balik dedaunan, lari dan meniarap, bayonet mereka terpasang dan itulah saat ia mulai menembak.

Senapan Browningnya menanggapi dengan tidak sabaran. Ia bisa merasakan mereka merapat, tetapi ia menghantamkan magazin demi magazin ke ruang peluru dan menyapu jalan ke depan, bentangan ladang tebu, pinggiran selokan tempat mereka membenamkan diri. Selanjutnya tak ada lagi tembakan, hanya Browningnya—bising dan bandel. Bumi di sekitarnya dikotori selongsong-selongsong peluru ia sudah menghabiskan satu, dua tas dan ketika ia membalikkan badan pada sang letnan untuk meminta amunisi lagi, ia melihatnya, matanya berkaca-kaca, memandang kosong ke kosmos. Ia mengira orang itu tertembak dan mati tetapi tidak, Andres Bravo mengenggam Garand seorang kamerad yang terjatuh di sampingnya. Ia komat-kamit dan mulutnya berbusa. Tidak ada waktu berpikir—mereka merangsek ke lubang perlindungan itu sekarang, memekik-mekik, dan merebut Garand dari sang letnan, ia memasang bayonetnya dan mengincar ….

“PASTIKAH ANDA TIDAK ada pecahan meriam yang tertinggal?” dokter menanyainya di Rumah Sakit Veteran lama sesudahnya pada 1958 ketika ia mulai mengeluhkan rasa sakit di punggung dan lengannya. Ia tidak tahu, tentu saja, sebab tatkala ia sadar kembali, suara peperangan sudah surut—senjata-senjata besar meletup bagai geluduk di kejauhan. Pengetahuan pertamanya atas dunia adalah mengenai atap daun nipa di atasnya, sebuah lampu minyak berjuntai dari sana. Hari sudah larut sore, ia berada dalam kamar kecil sebuah rumah pertanian dan setangkai anggrek kupu-kupu tergantung di luar jendela.

Ia mengangkat tangannya—pada pucat. Pangkal jenggotnya sudah ada di dagunya, tumbuh semingguan, ia menduga cepat. Ia mencoba bangun dan saat itulah rasa sakit yang mengerikan ini mencambuk punggungnya dan ia berteriak, mengundang masuk gadis ini, barangkali usia empat belas tahunan, berkulit cokelat sebagaimana kebanyakan gadis desa, sebuah pandangan hangat dan khawatir nampak di wajahnya. Dua orang yang lebih tua—orang tuanya—mendekat, menceritakan padanya dengan bahasa Tagalog yang terang bahwa para serdadu telah meninggalkan dia, bahwa orang Jepang sudah lewat sekitar seminggu yang lampau, dan bahwa ia selamat dan aman. Ia mencoba menyusun kembali apa yang sudah terjadi sejelas mungkin, mengisi celah-celah cerita mereka, tetapi agaknya terdapat sebuah sela yang tak bisa diisinya. Mereka memberinya makan bunga-bunga catuday, ikan garing, dan nasi. Musim hujan tiba dan gadis tersebut tinggal bersamanya sementara orang tuanya pergi bekerja di sawah. Ia menceritakan padanya cerita-cerita, macam apa di luar sana di kota yang sepuluh kilometer jauhnya, sekarang penuh dengan serdadu Jepang. Kepalanya luka dan ia hampir tidak bisa menggerakkan kakinya; mereka menolongnya berdiri dan hanya kelak, sesudah sekitar sebulan, ia peroleh kembali kemampuan kakinya. Saat itu musim tanam menjelang mereka dan tatkala ia keluar untuk pertama kalinya, jiwanya terangkat dan suatu kebahagiaan yang tak terlukiskan memenuhinya—hamparan hijau tanaman yang tak ada batasnya menyilaukannya, karena terakhir kali ia melihat tanah itu, itu kersang dan cokelat.

Cornelio de Dios kembali ke Pangasingan dan pada 1945, tatkala orang Amerika mendarat di sana, ia mencari unit lamanya, tetapi karena cacat, ia tidak diperbolehkan mendaftar ulang. Mereka memberinya, bagaimanapun, tanda jasa dan tunjangan veteran. Ia memerlukan setahun lagi belajar di perguruan tinggi, ia menyelesaikan BA-nya pada 1947 dan lulus ujian pemerintah pada tahun yang sama. Pada 1948, penunjukkannya sebagai guru disahkan. 

Ia memelihara kenangan manis desa Bataan itu dan selalu ingin mengunjungi keluarga yang telah menyelamatkan hidupnya. Ia membeli barang-barang kelontong seharga dua puluh peso di dekat stasiun pada suatu pagi yang gasik. Berjalan dari jalan provinsi cukup jauh dan ia duduk di keteduhan sebatang pohon tamarind di halaman sebab tak ada orang di rumah. Sejenak kemudian dari seberang persawahan yang kecokelatan, seorang perempuan menghampiri.

Cornelo de Dios terperanjat dengan riangnya—si kerempeng empat belas tahun sudah menjadi seorang perempuan yang manis. Belakangan di malam itu, sesudah mereka makan malam ikan-lumpur dan bunga-bunga catuday, ia meminta orang tua perempuan itu mengizinkannya membawa anaknya pergi bersamanya ke Manila. Perempuan itu tidak selesai sekolah menengah lagi pula, pertama-tama, ia mengira ia akan menjadi pelayan rumahnya maka ia bertanya agak kemalu-maluan berapa ia akan membayarnya sebulannya. Cornelio de Dios mengatakan dalam sikap tenang seorang guru sekolah, ia sudah seorang guru, bahwa ia ingin perempuan itu hidup bersamanya, bukan sebagai pelayan melainkan sebagai isterinya. 

Perempuan itu menumbuhkan kebiasaan akan sikap rajin dan perhatian yang menyenangkan di apartemen di jalan Waga itu. Ia memasak dan mencuci buatnya dan, seperti suaminya ia berharap agar anak pertama mereka lelaki. Bayi itu datang agak terlambat—lima tahun sesudah mereka menikah—dan ia seorang gadis. Ia teringat pada lagu-lagu yang didendangkan pada 1941, di Camp O’Donell tempat ia dilatih, terutama lagu Adios Marquita Linda. Baik juga bahwa tak satu pun yang lahir setelah Linda, sebab akan sulit memberi pendidikan yang baik bagi seorang anak lain. Dan itulah yang diperoleh Linda—ia masuk Universitas Negeri, dan pada dua tahun terakhirnya di perguruan tinggi, ia memperlihatkan bukan cuma kecerdasan ala kadarnya, melainkan yang lebih penting, sejenis keberanian yang membuat Cornelio de Dios amat bangga; anak perempuannya menjadi seorang aktivis. Ia bergabung dalam demonstrasi menentang oligarki, Malacanang, orang Amerika. Ia pun mencoba dengan cara yang tidak terlalu halus untuk membuat lingkungan tetangganya berpolitik.

Istrinya hidup cukup lamanya guna melihatnya lulus dari perguruan tinggi. Suatu pagi di Januari yang dingin ia lupa memakai sweater dan kena pneumonia—yang bisa disembuhkan andaikata saja Cornelio de Dios menyadari gawatnya penyakitnya dan segera membawanya ke rumah sakit. 

GELAP TELAH DATANG tetapi ia tidak memperhatikannya. Rasa sakit menghebat lagi dan pil-pil dari Rumah Sakit Veteran tidak menolong. Ia menyadarkan diri ke kursi goyangnya, tidak mampu berteriak kendati ia ingin begitu. Keringat dingin membuatnya basah kuyup dan ketika rasa sakit itu mereda, ia merasa kecapaian sehingga hampir-hampir ia tidak bisa bergerak. Nyamuk-nyamuk berdengung di telinganya. Ia bahkan tidak menyadari kalau Linda sudah tiba, berada di belakangnya, mencium keningnya, aroma parfumnya mengelilingi lelaki itu.

“Aku tidak mampu turun, kekasihku, buat memasak makanan,” katanya, bangkit dan mencari kruknya di bawah meja, tempat ia mengira telah menyorongkannya. Lantas ia ingat kalau tak ada apa-apa yang bisa dimasak, kulkas yang berkerenyit itu tak berisi apa-apa selain botol-botol air, sedikit kalamansi dan beberapa tomat.

“Tak apa, Papa,” Linda berkata, menyalakan lampu. Ia bisa melihat kalau lelaki itu mengalami serangan lagi, alisnya yang lembab, pandangannya yang sangat menderita, tangannya yang gemetaran. “Kubawa pulang beberapa makanan sisa dari merienda yang saya datangi ….”

Ia dua puluh lima namun ia tampak tidak lebih tua dari dua puluh. Pasti karena kangkong dan dili itu, kembali, ia dipenuhi rasa haru atas anak itu dan ia menyesal tidak mampu memberinya lebih banyak. Namun adalah cukup sulit mengajar, menyiapkan pelajaran-pelajaran bagi orang-orang muda yang tidak punya uang buat buku-buku dan hanya bisa mendengar dari pelajaran-pelajaran dia. Ia sangat sabar, mengulangi hal-hal yang ia bahas di masa lalu, dan dengan suara rendah membubuhinya dengan kehidupannya sendiri, dengan gagasan-gagasannya. Kerap ia ditanyai tentang Bataan, dan suaranya akan menjadi parau dan melunak, hampir-hampir seperti bisikan, dan ia akan terkenang hari semenanjung tersebut jatuh, walau tidak pernah tentang apa yang terjadi di ceruk pitbong, letusan granat-granat dan letnan Bravo yang gemetar ketakutan di belakangnya. 

Linda menaruh sebuah paket terbungkus alumunium di hadapannya dan mulai membukanya—makanan itu masih hangat. “Orang Jepang bilang kalau udang bongkok segar sangat mahal di Jepang. Mestinya, mereka tidak mempunyai ini selama perang,” katanya.

“Lebih buruk pada kita, Linda,” ujarnya. “Tetapi perang menguji kita. Beberapa lulus, kukira.”

“Dan letnan Bravo?” ia bertanya, kepahitan dan sarkasme itu muncul.

“Ia dermawanmu,” ujarnya dengan tenang.

“Ia pemimpin peletonmu dan ia mendapat medali—engkau dapat sepasang kruk,” ujar Linda padanya.

“Kami tidak bertarung sia-sia,” kata Cornelio de Dios. “Itu yang saya tahu.”

“Saya kadang bertanya-tanya, Papa,” katanya, “tetapi saya sesungguhnya tidak peduli pada perangmu ….” Kata-katanya merasuk ke hati bagai sebilah pisau. “Saya hanya ingin terus maju dan saya tidak ingin terikat, terpenjara oleh masa lalu dan sentimentalismenya ….”

“Seperti saya. Itukah yang hendak kau katakan?”

“Oh, Papa, ayolah tidak bicara tentang dirimu. Tuhan tahu engkau sudah cukup menderita bagi saya. Dan saya berterima kasih. Saya mencintaimu, Papa.”

“Terima kasih, kekasihku.”

“Tetapi saya tidak seharusnya mempelajari pendidikan, atau sejarah. Mestinya sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti kimia ….”

“Engkau cerdas,” ujarnya mencoba meringankan. “Dan apa yang kau pelajari tidak sia-sia. Kau tahu masa lampau negeri ini. Sungguh-sungguh berpikir tentang hal itu—berdemonstrasi menentang apa-apa yang engkau pikir merupakan musuh-musuhnya ….”

Perempuan itu duduk di dipan rotannya, menonton ia menghabiskan makanan itu, wajahnya merenung dan diam. Lantas, dengan suara dingin, mantap: “Saya sudah memikirkan, memang. Kita adalah bangsa para pengecut, Papa. Setiap revolusi yang kita miliki dikhianati—bahkan gerakan mahassiwa kita. Saya melihat beberapa teman saya dulu—mereka menikmati hidup sepuas-puasnya dalam pemerintahan, dalam bisnis. Dan saya bahkan tidak bisa mendapat pekerjaan sebagai seorang guru, yang untuk itu saya sudah dipersiapkan. Pemandu perjalanan, turis-turis Jepang jelek dan apak itu!”

“Tetapi kau dibayar bagus, Linda,” ia mengingatkan. “Kau mestinya senang Andres Bravo memberimu peluang ini. Berapa banyak lulusan perguruan tinggi tak punya pekerjaan? Namun saya masih gembira lantaran engkau punya perasaan seperti itu pada orang Jepang. Mereka datang berbondong-bondong memperkosa negeri ini ….”

“Ini 1978, Papa,” ia memotong lelaki itu. “Musuhnya bukan mereka. Orang-orang Jepang itu ada di sini karena kita menginginkan mereka, karena mereka membawa uang, karena mereka memenuhi hotel-hotel baru yang dibangun Andres Bravo itu ….”

CORNELIO DE DIOS tidak bisa membiarkan dirinya berbicara jelek mengenai Andres Bravo, pahlawan perang, dahulu senator dan sekarang enterpreneur dan kontraktor. Bravo bukan sekadar pemimpin peletonnya, ia pun dermawannya. Ia pikir ia tidak akan pernah melihat si Letnan kembali, bahwa ia sudah tewas di lubang itu. Selama perang tersebut ia sering merenung tentang apa yang sudah terjadi sebab ia tidak menemukan jejak apa pun dari rekan-rekan peletonnya dahulu. Seperti yang diceritakan oleh keluarga petani tersebut padanya, ia ditinggalkan dalam pengunduran diri itu. Tatkala ia kembali ke perguruan tinggi pada 1946, ia dengar kalau letnan Bravo sudah menerima tanda jasa atas keberaniannya, sebab ia menghambat lajunya musuh; lebih dari ini, sekarang ia anggota Kongres, pembela hak-hak para veteran, sekutu Amerika, sudah menjadi kebiasaan saat itu untuk memperagakan luka-luka akibat membela kemerdekaan.

Sesudah di perguruan tinggi, ia akan mengalami penderitaan rasa pening, rasa bebas di kakinya. Ia sudah pergi ke rumah sakit ortopedik dan mereka tidak menemukan sesuatu yang tidak beres pada tulang belulangnya; saat itulah ia putuskan untuk mengunjungi perwira komandannya dahulu. Cornelio de Dios berada pada puncak usia mudanya, dan ia tidak bisa terima kemalangannya memorakporandakan tahun-tahunnya. Ia juga ingin mengenal Bravo dalam sebuah penokohan lain, yang berbeda dari si lelaki dengan mata berkaca-kaca, merintih di belakangnya. 

Andres Bravo menerimanya dengan terlampau hangat, Cornelio de Dios mengenang, tetapi agaknya itu karena ia sudah menjadi seorang politisi. Ia pun enggan membicarakan tanda-tanda jasanya, bagaimana mereka selamat dari lubang perlindungan tersebut. Ia ingin menanyakan banyak hal, tetapi Andres Bravo menghalanginya, menjelaskan bahwa itu adalah masa lampau, bahwa membicarakannya membuatnya malu dan jengah. Itu cukup, mereka telah berkumpul kembali dan ia melakukan apa saja guna membantu mereka, tepat sebagaimana ia sekarang menolong Cornelio de Dios. Ya, ia akan mudah membuat semua surat pengesahan jika hal itu dibutuhkan; mengapa, ia bahkan bisa membikin beberapa saksi mata atas kejadian tersebut, memperoleh beberapa pernyataan sumpah dari para perwira, dari seorang dokter malah, tentang bagaimana luka di kepalanya terjadi dan, tentu saja, kalau pensiunnya tiba, Cornelio de Dios semestinya tidak melupakan apa yang sudah dikerjakan Andres Bravo. 

Ia meningkat dengan kecepatan yang memusingkan, ia mestinya seorang yang lebih besar dari anggota Kongres. Mau buat apa ia meminta persenan pensiunannya? Itu, seperti dikatakan sendiri oleh Andres Bravo, adalah kacangan ….

Terakhir kali ia melihat Bravo adalah pada tahun Linda menyelesaikan perguruan tinggi. Selama beberapa hari, ia mencoba menyusun cukup keberanian untuk menemuinya dan ia mundar-mandir di koridor tempat kantornya berada. Bravo adalah seorang senator saat itu dan pasti bisa ditemui sebagaimana terjadi pada semua politisi. Cornelio de Dios sudah mulai memakai kruknya dan ia membayangkan dirinya macam seorang pengemis Quaiapo yang terpincang-pincang mendatangi orang Besar dengan tangan terbuka. Tetapi selama dua jam Bravo tidak muncul di koridor. Ia memutuskan untuk memperkenalkan diri pada sekretaris hebat di ruang depan kantor Bravo yang memintanya mengisi isian pengunjung. 

Ia menyombong, tentu saja, bahwa Senator tidak lupa dan meminta dirinya segera diantar masuk. Ia sudah memperoleh pemilikan luas atas industri gula dan perbankan. Apa yang dibutuhkan si pincang ini adalah, lagi-lagi, kacangan ….

“Maafkan mengganggu, Tuan,” Cornelio de Dios kumat-kamit, berdiri di hadapan senator itu, yang gemerlap dalam jas abu-abu kapurnya, dasi bergaris, rambut licin oleh pomade, kukunya termanikur. Bravo menyembunyikan botaknya dengan menyisir rambut sampingnya ke atas kubah kepalanya.

“Apa saja buat prajuritku dahulu,” Bravo mengibaskan tangan menghalau permintaan maafnya, ia berjalan ke arah Cornelio de Dios merangkulkan satu lengannya padanya dan membawanya ke sebuah sudut agar mereka bisa bercakap-cakap dengan berbisik.

Ya, ia akan berusaha mendapatkan pekerjaan bagi anak perempuannya. Ia akan memberinya rekomendasi segera untuk Departemen Pendidikan. Dan ini terjadi, dorongan untuk mengajukan pertanyaan yang sudah selalu mengomeli ia datang lagi. Andres Bravo bersiap menyilakan ia pergi, ada tamu-tamu lain di ruang yang penuh sesak itu. “Tetapi ada sesuatu yang menganggu saya sejak Bataan, Tuan. Itu sudah terjadi begitu cepatnya—saya kehilangan kesadaran—tetapi saya ingat orang Jepang ini menyergap kita ….”

Bravo menyeringai dan mengangguk-angguk. “Ya, semua terjadi begitu cepat. Engkau luka, kau tahu. Engkau bisa kehilangan sedikit ingatan gara-gara itu. Tetapi aku ingat semuanya ….”

“Ya, Tuan.”

“Aku bertarung melawan mereka,” kata Andres Bravo dengan parau, tetapi tidak ada daya, tidak ada keyakinan dalam suaranya. “Aku menahan mereka, sendirian dengan Browning itu. Aku tidak dapat membawamu, aku sendirian dan perintah mundur tiba ….”

DI TAHUN SEBELUM ia pensiun, Cornelio de Dios tak mampu lagi berjalan tanpa kruk. Rumah sakit Veteran tak bisa berbuat banyak; potret sinar-X memperlihatkan tak ada kerusakan tulang, tak ada artritis pula, tetapi ada sesuatu yang sangat tidak beres pada dirinya. Ia sudah berpikir, kesukaannya akan hobinya, memperbaiki peralatan elektronik sederhana, akan memberinya pemasukan kecil dan juga sesuatu yang bisa ia kerjakan, tetapi itu bukan terapi. 

Adalah pada pagi yang awal dan berhujan pada minggu ia menerima uang pensiunnya, ia pergi ke Rumah Sakit sebagaimana telah direncanakan oleh Linda. Tidak sering ada taksi masuk ke jalan buntu itu, maka semua tetangga ke luar. Ia mengalami kesulitan menaikinya dengan tongkatnya dan Linda tidak cukup kuat mendukungnya. Saat ia sudah di dalam taksi, ia terengah-engah dan agaknya rasa sakit akan meluluhlantakkan tulang belulangnya kembali. Jalan itu berjejakkan lubang-lubang besar yang tidak bisa dihindari taksi tersebut, dan seraya mereka meluncur maju, rasa sakit menyerangnya dalam kejapan-kejapan bergelombang dan ia mengira akan mati sebelum mencapai rumah sakit. 

Mereka mengudak-udak dia, memberinya makan cairan putih yang tak enak, lantas menyinar-X dia lagi. Ia bahkan bisa melihat perutnya mengerut dan mengocok. Akhirnya, ahli bedah syaraf berkata dengan lemah lembut dan profesional, bahwa akan diperlukan penyidikan yang lebih intensif dan mahal—barangkali tomografi aksial dengan komputer, angiografi otak, dan kajian atas aliran darah otaknya. Semua ini dijelaskan dengan telaten dan bersamaan dengan itu, sebuah kesimpulan bahwa tak banyak yang bisa dilakukan, tidak dalam usianya yang tua itu, dan tanpa dana mencukupi ….

Namun Linda tidak gentar, “Jangan khawatir, Papa,” ia berkata seraya mereka berjalan ke luar kantor dokter yang berkarpet itu, “Akan ada jalan. Akan ada jalan ….”

PADA SORE HARI, sesudah ia tertidur di kursi goyangnya, Cornelio de Dios terhuyung-huyung menuju jendela. Di seberang atap-atap yang kotor dan karatan, garis langit kota terserak, bangunan-bangunan baru bertumbuhan. Ia bisa menandai hotel-hotel baru yang ditunjuk Linda, ya—akan merupakan kesenangan baginya jika saja ia tidak tahu bagaimana hotel itu dibangun dan siapa pemiliknya. Itulah ungkapan kejengkelannya—kecurigaannya, spekulasinya yang tidak kunjung berhenti ditambah dengan desas-desus. Begitu pun, ia tahu bahwa itu bukan sekadar desas-desus kosong, bahwa milyaran peso sudah didapat orang-orang seperti Andres Bravo dari hotel-hotel ini. TV itu tidak lebih lama dari sehari, namun ia sudah membukakan panorama baru atas kota itu, menegaskan apa yang sudah terlekat di benaknya. Melihat berarti mempercayai, tetapi TV bisa dipercayai hanya jika orang melihat di luar gambar; sekarang, koran-koran tampak penuh dengan peristiwa-peristiwa besar dan bagus dan tak sepatah pun tentang kebandelan, keadaan-keadaan buruk di luar kata-kata dan gambar-gambar. Lantas apa yang bisa dipercayai orang?

Kemunafikan dan permalingan adalah gaya dunia. Sudah begitu sejak awal masa. Selalu, orang menyatakan motif-motifnya yang paling megah seperti Bravo menghias kepahlawanan Bataannya; selalu orang berbicara dengan kata-kata manis yang menyenangkan benak, dalam ungkapan madu dan banyak yang mendengar percaya, sebab siapa tak akan percaya pada mereka yang memiliki kekuasaan jabatan tinggi.

Namun pada akhirnya, pikir Cornelio de Dios, mereka harus ditanyai atas ukuran apa patriotisme mereka ini harus ditaksir. Di seluruh dunia, para patriot sudah menyerahkan bukan saja harta milik mereka, waktu mereka, dan sesuatu yang paling berharga di antara semua komoditi, hidup mereka. Patriot itu sepi ing pamrih, jadi bagaimana bisa mereka yang memperkaya diri, mereka yang bergelimang kesenangan, yang hidupnya dipelihara dengan kebutuhan-kebutuan yang mencolok dan tak kenyang-kenyangnya, bagaimana bisa mereka jadi patriot?

Ia menghidupkan TV dan gambar-gambar meloncat—sebuah film Tagalog tua, serdadu-serdadu Jepang menyerang kedudukan yang dipertahankan Fernando Poe Jr., serdadu-serdadu Jepang itu berjatuhan seperti ternak. Perang tidak semudah itu, tidak juga orang Jepang segoblok itu. Ia berpindah ke programa lain—sebuah film gangster, sama kerasnya. Tidak ada pelarian, dunia sudah menjadi serba salah, dan ia bertanya-tanya bagaimana ia bisa melindungi Linda dari kemiringan itu. Ia bukan seorang pemberi nafkah yang baik namun ia merasa sudah memberinya pendidikan yang baik dan nilai-nilai tertentu yang penting, sebab tanpa itu, ia akan terumbang-ambing. Ia sudah tumbuh lebih mandiri sekarang dan akhirnya, perempuan itu akan bebas dari dia. Sudah pula, ia peroleh uang yang cukup untuk hidup mandiri, dan adalah paling baik jika ia memakai ruang lain itu sendirian agar ia memiliki privacy dan lebih-lebih, kesunyian.

Sekilas, ia membayang-bayangkan benda-benda barunya. Ia sudah mengatakan padanya agar menjaga kamarnya selalu terkunci sebab ia bisa tertidur atau tak bisa bergerak, lantas, seseorang mencuri-curi ke atas mengambil seluruh harta bendanya. Kamarnya terbuka ke arah jalan dan lebih temaram daripada punyanya. Sekarang, pada petang yang larut itu, kamar tersebut akan lebih temaram. Ia bangkit meraba-raba mencari kruknya, lantas pergi ke kamar anak itu, dan seperti sering terjadi, ia lupa mengunci lagi. Tetapi almari yang pernah dipakai istrinya—narra tua dengan cermin cacat dimakan usia—terkunci.

Ia mengambil bundelan kunci-kunci miliknya dan mencoba beberapa sampai almari itu terbuka. Sepatu-sepatu anak itu, tiga pasang di antaranya, terletak di rak dasar. Ia punya kira-kira enam baju baru dan empat pasang jeans baru meski sulit baginya membedakan satu sama lain. Cara berdandan gadis-gadis sekarang—tak serupa zaman dia. Ia punya tiga tas tangan, salah satunya, ia takjub, dari kulit, sebab ia paham kalau tas kulit sudah menjadi sangat mahal. Ia teringat bagaimana di perguruan tinggi ia sudah mencoba, untuk lelucon, membuka tas tangan kawan kelasnya dan si gadis memerah mukanya dan bergelut dengannya guna mencegah ia membukanya. “Engkau memeriksa sesuatu yang intim dan terlarang,” ujar gadis itu padanya.

Ia bertanya-tanya apa yang akan dibawa Linda dalam tas tangannya pula, maka dibukanya pertama yang dari plastik. Isinya sebatang gincu, dompet receh yang sarat dengan uang kembalian, dan sapu tangan. Buku tabungannya di sana pula, dan ia membuka halaman terakhirnya, membayangkan berapa banyak yang sudah ditabungnya. Ia tak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Linda memilki simpanan sepuluh ribu delapan ratus lima puluh peso! Lantas ia melihat kertas timah itu; pertama ia tidak yakin, berpikir barangkali itu salah satu dari kopi model baru atau teh itu, maka dibukanya sebuah. Tidak, ia tidak keliru. Gemetar sekarang, kaku oleh kejutan dan kengerian, ia buka tas-tasnya yang lain. Itu terdapat di sana, juga—lebih dari selusin, beberapa bikinan Jepang, orang mengiklankannya terang-terangan fakta bahwa inilah yang paling tipis, kondom berminyak itu dia. 

Gelap datang dengan cepat, namun gelap tidak bisa menyembunyikan ia. Ia duduk dalam kegelapan di sekitarnya, suara bisu kota mengepungnya, lapar tak lagi mengerutkan perutnya, haus tak mengeringkan kerongkongannya, hanya kesedihan yang dalam dan liar, melumpuhkan dia, menyakitinya jauh lebih dalam dari rusaknya syarafnya pernah bisa menyakiti dia. 

Kemudian suara diputarnya lubang kunci di lantai bawah, cahaya kuning pada ruang keluarga yang sumpek itu menerangi bangsal, pintu kamar, dan dalam sekejap, anaknya terpampang di sana.
“Mengapa engkau duduk gelap-gelap, Papa?” Ia bertanya dengan irama yang biasanya dalam suaranya seraya menyalakan lampu. Dalam cahaya yang menyilaukan itu Cornelio de Dios melindungi matanya. Anaknya mendekatinya dan mencium keningnya dengan patuh. Sementara perempuan itu mundur, ia berkata lunak. “Linda, aku telah membuka aparador-mu sore ini ….”

“Ya, Papa.”

“Aku membuka tas-tasmu, juga. Aku melihat buku bankmu. Dan benda-benda itu …. Linda, beginikah engkau mendapat uang? Caramu membeli TV itu?” 

Perempuan itu berbalik menjauh dan ia bisa merasakan betapa cepat ia menegang. Ketika menghadap ia lagi, parasnya pilu dan sedih. “Tidak seorang pun tahu, Papa. Hanya engkau dan saya. Saya selalu merahasiakannya ….”

“Tidak lagi, Linda,” ujarnya lebih dalam kepiluan daripada rasa marah. “Dan pula, bukan itu soalnya. Engkau tahu—itu lebih penting. Sebagaimana saya tahu …” dan ia menambahkan dalam napasnya, “Sebagaimana Andres Bravo tahu ….”

“Apa urusan dia dengan hal ini? Ia tak tahu apa-apa ….”

Cornelio de Dios ingin menceritakan padanya namun melintasi rentangan masa bertahun-tahun, apa manfaatnya nanti? Andres Bravo, industrialis, pemimpin nasional, penerima Medali Keberanian, pembela Bataan dan Corregidor, sekarang—rekan dagang Jepang, Presiden Asosiasi Jepang-Filipina Tayo-tayo, pemilik hotel ….

“Linda,” ia berkata dengan parau, dengan lembut. “Bravo bukan pahlawan. Akulah, akulah yang menghentikan orang-orang Jepang itu dengan Garand. Ia letnan, dan aku hanya kopral. Ia sadar, dan aku menjadi tidak sadar. Aku ingin ia menegaskan hal ini, aku ingin bilang padanya aku tahu, ia membeku di sana ketika saatnya tiba …. Ia tahu … aku tahu, dan inilah semua yang penting, meski sisa dunia yang lain dipilih untuk mempercayai yang sebaliknya ….”

Perempuan itu mendengarkan, wajahnya berubah suram, dan ketika ia selesai bicara, ia mendekatinya dan dengan suara tanpa belas kasihan, ia bercerita: “Papa, Andres Bravo bukan hanya pengecut. Ia memperkosa saya. Ia memulai saya melakukan ini ….” Ia melanjutkan dengan mantap, “Jadi ia tidak baik. Tetapi engkau, Papa, ganjaran apa yang engkau terima? Ini!” Ia menyepak kruk lelaki itu menabrak dinding. Ia pandangi kamar yang suram dan tidak bagus itu, bagai menyalakan permukaannya yang pengap dengan kemarahannya. “Ini!”

“Ya, Linda,” katanya cepat-cepat.

“Dan engkau bangga, Papa? Kau sakit tetapi seluruh dunia lebih sakit dari engkau. Dan kita tidak bisa menyembunyikannya lagi. Penyakit itu kelihatan oleh siapa pun. Itu bukan kekurangan gizi, meski itu nyata. Sesungguhnya adalah pada wajah-wajah gembil mereka yang kaya dan sangat berkuasa. Kebusukan ini, penyakit ini, pageblug ini adalah rakyat, yang kita lihat di koran-koran setiap hari. Merekalah musuhmu, Papa, bukan aku!”

“Orang Jepang, kami bertarung melawan mereka ….”

“Tetapi musuh-musuh ini tidak bisa engkau perangi, sebab mereka bagian dari dirimu. Dan kau pikir engkau seharusnya berterima kasih pada mereka ….”

“Aku sadar betapa waktu sudah berubah,” Cornelio de Dios berkata lemah.

“Tetapi musuh itu tidak berubah, Papa. Selalu sama. Dulu, dan sekarang ….”

“Engkau memintaku untuk melupakan perang kalau begitu.”

“Tidak, Papa. Jangan lupakan. Sungguh kenanglah bahwa engkau bertarung, bahwa ketika engkau jatuh, bukan orang Jepang yang sebenarnya menjatuhkanmu. Itu adalah orang Filipina yang membantu mereka sebagaimana mereka telah membantu orang Spanyol dan Amerika. Sekarang mereka membantu mereka sendiri!”

Bagaimana ia bisa mendebat gadis ini, anak perempuan yang ia kasihi dan sekarang akan ia benci? Ia melengkungkan tubuh, berpegang pada lengan kursi goyang mencari dukungan, tetapi semua kekuatannya sudah asat. Tak ada kata muncul dari bibirnya yang gemetaran seperti ingin berkata itu, lantas ia mulai ngeri dengan duka yang tak terucapkan, dan air mata membakar matanya, mencuci, membasahi wajahnya. 

Ia mendekat dan memeluknya. “Papa, Papa,” ia mengerang, melimpahi wajah tua yang memudar itu dengan ciuman-ciuman. “Oh, Papa, saya tidak bermaksud menyakitimu. Saya sekadar mengatakan apa yang harus dikatakan, bagi kita semua. Saya mengasihimu, Papa. Saya ingin engkau hidup. Uang di buku bankku, … itu untukmu, agar engkau berjalan lagi, dan melihat dunia di luar sana ….”

Kata-kata itu datang perlahan-lahan, dengan lemah: “Aku lebih suka tidak menghadapi dunia, Linda ….”

“Tetapi kehidupan berlangsung terus,” ujarnya, sekarang air mata mengalir di wajahnya. “Engkau harus menerimanya. Tidak ada jalan lain. Apa yang bisa dibeli dengan uang pensiunmu? Bahkan tidak cukup buat menyewa kamar yang pantas sekarang. Dan tahukah engkau berapa harga daging babi sekilo? Atau seikat kacang panjang? Engkau melakukan semuanya keliru, Papa. Lihat Andres Bravo—pada kekuasaannya, pada jutaannya, pada orang-orang yang gemetar ketakutan di hadapannya. Apa kebajikannya? Ia kaya dan engkau miskin.”

Lantas perempuan itu meninggalkannya dan ia bisa mendengar pintu anak itu ditutup pelan. Tidak bisakah ia melihat dengan cara yang digambarkan perempuan itu padanya, dengan hidup, dengan tajam, sebagaimana selalu seharusnya sebuah kebenaran?

Ia mencondongkan tubuhnya menghidupkan TV dan gambar itu menajam. Presiden berbicara pada program Hari Bataan—gesturnya yang terkenal, jeda-jedanya yang nyaring dan merdu, tangan terangkat memberi tekanan, dan berbicara dengan jelas, bergaung, dengan indah:

“… akhir daya tahan melawan musuh tidak mematahkan semangat keprajuritan. Lebih dari itu, harapan-harapan diperbarui agar kita bisa melanjutkan perjuangan. Semangat dan keberanian yang membuat Bataan bertahan begitu lama, melampaui ambang ketangguhan manusia, tidak mati menyerah melainkan dilanjutkan ….”

Cornelio de Dios bisa merasakan kerongkongannya mengeras, dadanya terjepit. Ia mendengarkan, “… lebih dahsyat dari apa pun. Dalam daya tahan itu, suatu penolakan yang keras kepala untuk mengaku takluk, kita dilahirkan kembali, sebagaimana orang-orang merdeka dibangkitkan, bangun dari kekalahan untuk berjuang kembali, dan akhirnya meraih kemenangan ….”

Ia seharusnya mendengarkan, ia seharusnya melihat, tetapi pada saat itu Cornelio de Dios tak bisa, sebab ia meluncur kembali ke susur perbukitan di Bataan sana; ia bisa mencium kembali bau khas gumalan kulit kayu ipil, ia bisa merasakan kegelapan datang melandanya dan sekarang, di kamar yang jorok ini, ia berharap sepenuh hatinya jika waktu dapat dialami lagi, ia tak pernah mau bangun dari kegelapan penuh kasih yang sudah pernah memanggil dia itu.

Judul asli, “Hero”, dari Waywaya, and other Short Stories of the Philipines 

F. Sionil Jose, lahir pada 1942, di kota kecil Pulau Luzon. Lewat gurunya, Soledad Oriel, ia mengenal karya-karya sastra, antara lain karya Jose Rizal yang kemudian sangat mempengaruhinya. Sesudah Perang Dunia II, ketika ia masih sebagai mahasiswa Universitas Santo Thomas, gurunya yang lain—Paz Latorena—menganjurkan Jose untuk menulis.
Karya-karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk ke dalam bahasa daerahnya, Ilokano. Pada 1958, ia mendirikan Philippine Center of International PEN, perkumpulan para penyair, penulis drama, esais dan novelis. Pada Agustus 1980, Sionil Jose meraih Ramon Magsaysay Award, untuk kategori Journalism, Literature and Creative Communication Art’s. Waywaya, salah satu cerpen andalannya dalam kumpulan ini—sebagaimana sebagian besar cerpen-cerpennya—adalah sebuah alegori. Cerpen karyanya yang lain, Arbol de Fuego, juga meraih hadiah Annual Palanca Memorial Award. (Matra, Agustus 1990)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Literasi.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya F Sionil Jose yang dialihbahasakan oleh Ari Widjaja
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Agustus 1990.


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi