Sekuntum Cinta - Rindu - Igau - Hujan Turun Tengah Malam - Ketika Kau Tertidur - Mimpi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 Februari 2016

Sekuntum Cinta - Rindu - Igau - Hujan Turun Tengah Malam - Ketika Kau Tertidur - Mimpi


Sekuntum Cinta

lalu kusematkan sekuntum cinta
di sela bibirmu yang diam
matamu terpejam
tetapi dadamu gemetaran
berkuntum-kuntum bunga
bermekaran

lalu kusematkan sekuntum cinta
yang akan tetap mewangi
berpuluh tahun kemudian
wangi yang akan menuntunku pulang
betapa pun jauh
betapa pun lama
-aku bepergian

betapa kelak kita bahagia
memandang buah ranum berjatuhan
serambi rumah bambu, 2015


Rindu

rinduku padamu menjelma segumpal awan
memancarkan kilat dan petir berhamburan
memenuhi langit

sungai kering dan tanah retak
: menunggu hujan
adakalanya rindu menjelma anjing
pada musim kesembilan
galak menggairahkan

biar kujaga sepanjang detak
rinduku padamu sungai kering
dan tanah retak
: menunggu hujan
pinggir kali, Agustus 2015

Igau

kepada: Aling

ketika kau menutup pintu
dan meredupkan lampu
ingin aku menjauh
sebab tak ingin lagi mendengar
kau berteriak tentang cinta
cinta yang kejam
cinta yang buta
cintayang terluka
cinta yang membunuh
ingin aku menjauh
sebelum mendengar namaku kausebut
di antara teriakanmu
yang menggedor jendela
dedaun dan pintu
Kamar Depan - 17, 2015


Hujan Turun Tengah Malam

pesan singkat dikirim dingin
diiring tetabuhan genting
dan air yang menetes-netes dari rembes
di atap nyaris persis dia tas kepalaku

: hujan turun tengah malam

apakah yang dilarang basah
dan yang harus disiram?

mimpi belum usai
dengkur masih nyaring
malam habis sudah

hujan turun tengah malam
mengubah jalan cerita
mimpi pun berlompatan

dari satu tempat ke tempat lain
dari satu soal ke soal lain

lalu semuanya bersicepat
bagai embun di pagi cerah
2015


Ketika Kau Tertidur

ketika kau tertidur
petir menyambah
pohon tumbang
di hujan menderas
: sebuah ciuman mendarat di sebelah barat

ketika kau tertidur
burung pun lelap
malam sunyi
sebelum pecah
berkeping
kelak kau pun terbangun
dan mendapati jejak ciuman yang berat

ketika kau tertidur
nyamuk mengendap-endap
ia berusaha dan sungguh
tidak berniat jahat
dan kau akan terbangun nanti
dengan serapah dua puluh empat karat

ketika kau tertidur
cinta yang berpuluh tahun tumbuh
mendadak sekarat
2015


MIMPI

kau datang padaku pagi hari
ketika otakku digelitik aroma kopi
kuangsurkan cangkir
sambil kupersilakan kau
tenggelamkan diri

dari dalam cangkir itu
kau akan dengarkan ceramahku
tentang mimpi
Kursi Satu, 2015



Bonari Nabonenar, lahir di Trenggalek (1964), menulis bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa untuk remaja "Bro" dan majalah komunitas untuk pekerja migran asal Indonesia di Hongkong "Peduli" (berbahasa Indonesia). Alumnus SPG Sore Trenggalek ini dapat dihubungi melalui: nabonenar@gmail.com.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bonari Nabonenar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 28 Februari 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi