TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Friday, 11 March 2016

Balairung

PAK DALANG DITAHAN. YA, BEGITULAH. KI AGENG TJIPTOWIRO, DALANG sohor dari desa Tanjung Duren itu ditahan atas perintah Pak Bupati. Dengan kalem Pak Dalang tiduran di kamar tahanannya, suatu kompleks asrama CPM, sambil klepas-klepus mengisap pipa sampai harum bau tembakaunya memenuhi semua ruangan dan lorong-lorongnya. Para polisi militer yang mondar-mandir di sekitarnya hafal betul bau harum tembakau itu. “Pak Dalang,” celetuk salah satu prajurit tetap itu sambil tersenyum kepada temannya dalam langkah jalan yang bergegas sambil membaui asap tembakaunya. Ketika prajurit-prajurit yang senantiasa bertopi baja berinisial PM itu tahu bahwa Pak Dalang ditahan, mereka terperangah lalu bertanya-tanya ke sana kemari. Pak Dalang memang sudah biasa mampir dan ngobrol di kantor CPM. Ia punya keponakan yang sigap sebagai polisi militer. Anak-anak keponakannya itu biasa ia ajak bermain ke kolam renang atau ke tempat-tempat piknik lainnya. Akhirnya seluruh penghuni asrama itu mengenal baik Pak Dalang, bahkan menjadi fansnya. Ke mana pun ia mendalang, beramai-ramai para PM itu menontonnya.

Keponakan Pak Dalang menjemput Pak Dalang dari rumah ke tempat tahanan di asrama CPM itu, atas perintah Pak Bupati. Ini menunjukan betapa besar marah Pak Bupati, begitu anggapan orang. Sebagai dalang yang mumpuni, ia tak bertanya ini-itu sebab apa dirinya ditahan. Seperti cara jalannya yang lenggang-kangkung, Pak Dalang kalem saja ketika menapaki lorong asrama CPM itu sambil menjawab sapaan para PM dan melempar senyum, menjabat tangan, batuk-batuk sedikit, kemudian masuk dan rebahan di kamar tahanan dengan enaknya. Keponakannya yang mengawalnya kelihatan serba salah sejak dari rumah. Keponakan yang tegap itu sangat kikuk, merasa malu, rikuh, dan sedih, hingga sulit ngomong.

“Hambah lebih baik dikirim ke medan perang daripada harus mengemban tugas ini, Pak De,” tutur keponakannya kepadanya, ketika prajurit muda itu sudah dipersilakan duduk.

“Ananda sudah sering nonton saya mendalang, tentu dapat sedikit-sedikit mengambil suri teladan dari para kesatria,” kata Pak Dalang.

“Betul, Pak De.”

“Nah. Nak Mas tentu tidak ragu dalam melaksanakan tugas yang dibebankan ke pundak Nak Mas.”

“Betul, Pak De.”

“Nah. Apalagi yang Nak Mas tunggu?”

“Hambah,” kata keponakannya terbata. “Sungguh berat untuk mengatakannya, apalagi melaksanakan tugas ini.”

“Apakah tugasmu seberat Arjuna di medan Bharatayudha?”

“Tentu tidak, Pak De. Sangat ringan namun sangat berat.”

“O, begitu. Baiklah. Katakan saja kalau sangat ringan, lalu limpahkan ke pundak saya jika sangat berat.”

“Baik, Pak De. Hamba mohon beribu-ribu maaf sebelumnya. Hamba ditugaskan menjemput dan mengantarkan Pak De ke asrama CPM.”

“Cuma itu?”

“Hanya itu, Pak De.”

“Oke, Nak Mas, kita berangkat.”

“Lho, Pak De kok tidak bertanya kenapa?”

“Memangnya kenapa?”

“Kenapa Pak De tidak bertanya?”

“Kenapa Nak Mas bertanya seperti itu?”

Keponakannya bengong. Pak Dalang menyat dari kursi lalu melangkah ke pintu ketika keponakannya berkata:

“Mohon maaf, Pak De membawa pakaian dan perlengkapan mandi.”

“Baiklah.”

“Lho, Pak De kok tidak bertanya kenapa?”

“Memangnya kenapa?”

Keponakannya bengong. Pak Dalang masuk kamar.

Siang hari yang panas, Pak Dalang dibangunkan untuk makan siang. Tidak seperti tahanan pada umumnya, Pak Dalang mendapat jatah makan berlimpahan sumbangan para istri PM yang disuruh oleh para suaminya untuk memperhatikan beliau setiap harinya. Keponakannya dan dua PM menemaninya makan, kemudian datang menyusul istri Pak Dalang yang basah matanya, ditemani anak sulung dan menantu serta seorang cucunya. Dengan sesenggukan Bu Dalang memberi komentar betapa Pak Bupati mau ngenyek, mengejek, suaminya dengan cara memerintahkan keponakannya untuk menjemput suaminya. Ini pisau bermata dua, kata Bu Dalang selanjutnya, dan sama tajamnya. Satu menikam Pak Dalang dan yang satunya menikam keponakannya. Sinting. Itu ucapan Bu Dalang beruntun, yang tak peduli banyak PM sedang merubung Pak Dalang untuk mendengarkan lelucon-lelucon yang biasa Pak Dalang lontarkan ketika mampir di asrama PM yang terkenal itu. Tentu saja suasana jadi berubah sama sekali. Para PM itu satu-persatu menghindar dengan tersenyum atau bersungut. Pak Dalang mencoba menurunkan suara Bu Dalang, tapi tak berhasil. Malahan Bu Dalang tambah berkobar-kobar dengan menuduh Pak Bupati sewenang-wenang. Mengapa tidak diadakan penyelidikan dulu apa kesalahan suaminya. Jika sudah ketahuan Pak Dalang bersalah, baru dikenakan tahanan. Itu pun belum tentu harus ditahan di CP. Boro-boro ditanyai, eee, ini langsung comot saja, seperti menyiduk garong. Ke mana itu sopan-santun. Lagian dari mana datangnya hujan, tahu-tahu Pak Bupati bisa begitu main perintah kepada siapa saja. Lama juga Bu Dalang berpidato, kali ini suaminya sungguh-sungguh hanya sebagai penonton.

“Baiklah, Bu,” kata Pak Dalang. “Lain kali kamu yang mendalang.”

Malam harinya Pak Bupati datang ke kamar tahanan Ki Ageng, lagi-lagi minta diantar keponakan Pak Dalang. Suasana gaduh terdengar dari luar. Maklum, ini asrama. Jadi ada saja anak yang masih bermain-main, atau menangis, atau ibu-ibu yang berteriak-teriak memanggil anak-anaknya. Pak Bupati tak berkenan atas semuanya itu. Maka beliau ingin berdua saja dengan Pak Dalang. Ketika Ki Ageng mau menyalakan pipanya, Pak Bupati melarang.

“Pak Dalang tahu, kenapa berada di sini?” kata Pak Bupati.

Yang ditanya diam saja. Bahkan Ki Ageng melihat ke langit-langit kamarnya yang cat-catnya mengelupas dan sebuah sarang terpancang kencang dengan seekor labah-labahnya yang berayun-ayun menunggu mangsa.

“Ki Ageng tahu, kenapa berada di sini?” tanya Pak Bupati lagi.

Pak Dalang masih diam saja. Beliau memainkan pipanya dengan jari-jari tangan kirinya. Wajah Pak Bupati jadi merah. Boleh jadi menahan marah. Pak Dalang tak peduli. Beliau menatap pipanya dengan mesra. Lalu beliau menyalakannya dan menyedotnya dalam-dalam. Pak Bupati membiarkannya. 

“Kalau saya tahu kenapa saya berada di sini, tentu saya menjawabnya,” kata Pak Dalang sambil mengembuskan asap tembakaunya yang seketika membuat ruangan jadi harum.

“Pak Dalang telah berbuat berlebihan dalam mendalang malam Minggu kemarin,” kata Pak Bupati dengan tegas. 

“Berbuat berlebihan?” sahut Ki Ageng.

“Pak Dalang telah mencemooh Prabu Sri Batara Kresna.”

“Saya mencemooh Kresna?”

“Mencemooh raja di Balairung adalah perbuatan yang tak bisa diampuni.”

“Saya sudah lupa adegan di balairung itu.”

“Kita dengarkan kaset rekaman pertunjukan Pak Dalang ini.”

Lalu Pak Bupati mengeluarkan dari dalam tasnya dan menyetel pita kaset rekaman pada adegan yang dimaksud di tape recorder yang kelihatannya sudah dipersiapkan sebaik-baiknya dari rumah.
Adegan pertunjukan wayang kulit Ki Ageng Tjiptowiro yang tak berkenan di hati Pak Bupati itu adalah suatu adegan di balairung kerajaan besar Amarta ketika Raja Puntadewa menerima kedatangan Prabu Sri Batara Kresna dari kerajaan Dwarawati. Hadir di balairung itu segenap kerabat Pendawa—Nakula, Sadewa, Arjuna, Bima—dan sejumlah senapati. Sedang Sri Kresna diiringkan Setyaki dan Udawa. Juga Punakawan yang masyhur—Semar, Gareng, Petruk, Bagong—hadir dan duduk dengan khidmat. Rupanya dialog-dialog yang berlangsung di balairung itu sangat menyinggung perasaan Pak Bupati.

Pembicaraan para petinggi kerajaan pada waktu itu berkisar tentang korupsi. Prabu Puntadewa mengatakan bahwa ternyata di kerajaan Amarta terjadi juga korupsi, padahal tingkat keadilan, kemakmuran, kebenaran, sudah tertinggi di samping kerajaan Dwarawati. Tingkat gaji seluruh warga sudah mencapai taraf yang melebihi dari kebutuhan optimal tiap keluarga maupun orang per orang. Hingga setiap warga tidak mungkin tidak pasti akan mengatakan bahwa dirinya berbahagia. Para penganggur mendapat santunan, bayi yang masih dalam kandungan mulai berumur satu minggu sudah mendapat gaji. Orang-orang tua yang sudah tidak dapat bekerja, ditempatkan di villa-villa dengan perawatan yang memuaskan. Semua kebutuhan hidup dari semua tingkatan kebutuhan, dapat dibeli dengan harga yang semurah-murahnya. Apa sebab pelayanan yang begitu sempurna itu masih juga mendatangkan korupsi?

Dialog-dialog berlangsung hangat di balairung itu, yang bila diterjemahkan bahasa Indonesia kira-kira sebagai berikut:

“Korupsi adalah minuman yang bikin ketagihan,” ujar Prabu Kresna sambil menyunggingkan senyumnya yang khas. “Tidaklah penting kaya atau miskin, punya tahta atau rakyat jelata, seseorang akan melakukannya hanya karena ia ketagihan. Sudah nyandu.”

“Jika demikian halnya, kita yang hadir di sini juga bisa melakukannya,” kata Prabu Puntadewa.

“Mengapa tidak, Yayi Prabu,” sahut Kresna.

“Saya belum pernah melakukannya. Dan tak akan pernah melakukannya,” ujar Bima dengan suaranya yang besar dan mantap.

“Barangkali saya sering melakukannya,” kata Arjuna.

“Seingat saya, sedikit-sedikit saya pernah melakukannya,” kata Nakula dan Sadewa bersamaan.

“Saya tidak tahu, apakah saya pernah beberapa kali atau berkali-kali mengerjakan korupsi,” kata Udawa.

“Wah, banyak dan panjang sekali korupsi Patih Udawa,” tukas Petruk. “Bersungai-sungai korupsinya, waduh-waduh, jangan-jangan sepanjang sungai yang terpanjang di jagat ini.” Semua yang hadir tertawa mendengar komentar Petruk. Hanya Setyaki lalu menjewer kuping Petruk. Yang dijewer menjerit sesaat lalu tertawa. Setyaki adalah seorang kesatria yang dianggap berkemampuan Bima namun berbadan kecil, hingga disebut Bima kunting. Kresna yang masih tertawa-tawa bertanya kepada Petruk.

“Bagaimana dengan Petruk sendiri? Pernah kamu korupsi, Truk?”

“Sungguh mati baru kali ini hamba mendengar perkatan korupsi, Yang Mulia. Andai hamba dulu-dulu sudah kenal perkataan itu, hiii, amit-amit jabang bayi, hamba tentu sering jatuh pingsan karena ketakutan.” Kembali Kresna tertawa sambil berkata,

“Yang paling menarik dari Petruk selalu saja kesombongannya.”

“Cuma sayang kantongnya kosong,” sela Bima.

“Mbok diisi,” tukas Petruk cepat. “Tahu kantung kosong kok dibiarkan. Cepat diisi, dong, daripada uang Yang Mulia mubasir.” Tapi Bima mengacungkan tinjunya yang membuat Petruk tertawa sambil berkomentar, 

“Kalau cuma itu, saya juga punya dan jauh lebih keras.”

“Mau dicoba?” sahut Bima sambil mengepalkan tangannya.

“Terima kasih, saya masih sibuk, lain kali sajalah,” sambung Petruk, yang membuat Prabu Kresna tertawa.

“Tapi ngomong-ngomong perkara korupsi,” kata Petruk. “Yang paling banyak korupsinya pasti Yang Mulia Prabu Kresna.” Mendengar omongan Petruk ini semua yang hadir tertawa, kecuali Semar. Ayah Petruk ini kelihatan bersungut-sungut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama ini Semar memang sudah tobat melihat kelakuan anak keduanya ini.

“Lho, kok kamu tahu?” kata Prabu Kresna sambil masih terbahak.

“Jelas, dong. Petruk kan serba tahu,” kata Petruk.

“Buktikan,” kata Kresna sambil menahan geli.

“Pertama: korupsinya seorang raja. Kedua: korupsinya seorang batara,” kata Petruk. “Salahnya sendiri, punya titel kok dua.” Sri Prabu Batara Kresna tambah terbahak-bahak mendengar ocehan Petruk ini dan Prabu Puntadewa yang biasanya cuma tersenyum, kali ini ikut tertawa seru.

“Jelas,” sambung Petruk. Korupsinya Yang Mulia Prabu Batara Kresna tidak lagi tingkat kakap. Tetapi sudah tingkat dewa-dewa.” Seketika meledak kembali ketawa Kresna yang disusul ketawa para kerabat Pandawa. Balairung itu jadi penuh canda.

Pak Dalang ikut tertawa mendengar lelucon yang dilontarkannya sendiri dan Pak Bupati mematikan tape recorder itu dengan wajah yang tak berubah.

“Pergelaran yang menarik,” kata Pak Dalang sambil menyedot pipa.

“Dialog-dialog yang tidak pantas,” tukas Pak Bupati.

“Dialog-dialog yang cemerlang,” timpa Pak Dalang.

“Bagaimana bisa Pak Dalang menyebut dialog-dialog itu hebat dengan penuh ketidaksopanan seperti itu. Apalagi diucapkan di balairung yang dihadiri tokoh-tokoh penting.”

“Tetapi Prabu Batara Kresna sendiri tidak marah disindir Petruk. Beliau bahkan tertawa terbahak-bahak.”

“Prabu Batara Kresna memang doyan tertawa. Tapi bukan kok lantas kita bisa mempermain-mainkannya? Saya rasa salah Prabu Kresna sendiri, kenapa beliau kok mau menanggapi sindiran-sindiran Petruk itu. Punakawan ini kan memang edan.”

“Bukannya Prabu Kresna menanggapi Petruk, tetapi Petruklah yang ikut nimbrung pembicaraan orang-orang besar itu.”

“Salah siapa kalau Petruk diizinkan hadir di balairung itu?”

“Petruk saya rasa tidak diizinkan hadir di balairung itu. Hanya karena ia bersama Semar, ia dengan begitu saja dibolehkan hadir di balairung?”

“Semar bukannya orang yang rewel. Jika ia tak dibolehkan hadir di balairung, ia akan menurut. Apa pernah kita lihat Semar marah-marah karena perkara-perkara kecil semacam itu?” kata Pak Dalang.

“Apa pernah kita lihat keluarga Pandawa melarang Semar hadir di acara-acara semacam itu?” kata Pak Bupati.

“Apa pernah Petruk tidak slebor semacam itu? Kerabat Pendawa sebenarnya bisa dengan gampang minta Petruk untuk tidak hadir di acara penting semacam di balairung itu. Tak seorang pun rikuh terhadap Petruk. Bahkan Bima atau Setyaki atau Baladewa biasa mengacungkan bogem mentahnya kepada Petruk di tengah-tengah acara yang penting.”

“Nah, kelihatan sekali Pak Dalang membela Petruk.”

“Saya tidak membela Petruk atau membela Kresna atau membela keluarga Pandawa, atau sebaliknya. Saya hanya ingin mencari tenang. Sekarang izinkan saya bertanya kepada Bupati. Jika pembantu Pak Bupati celometan di tengah acara penting yang dihadiri pada tokoh, siapa yang disalahkan?”

“Mempersamakan Petruk dengan pembantu adalah sama sekali tidak relevan.”

“Nah, sekarang ketahuan, Pak Bupati membela Petruk.”

“Saya sungguh mati tidak membela Petruk. Bahkan saya sangat anti ocehan-ocehannya di balairung. Pak Dalang mau mengintimidasi saya, ya. Memutarbalikkan persoalan seenaknya, itukah kelakukan para dalang?”

“Pak Bupati tidak perlu rikuh kepada saya. Jika Pak Bupati ingin menyanjung Petruk, saya persilahkan. Saya akan diam seribu bahasa. Tak akan saya omong-omongkan.”

“Apa urusan Pak Dalang, saya mau membela atau membenci.”

“Apa urusan Pak Bupati, saya mau membela atau membenci.”

Suasana sesaat kosong. Seekor tikus wirok yang berlepotan comberan melintas kamar tahanan itu. Bupati itu menyat dari kursinya lalu duduk kembali. Pak Dalang masih mengepulkan asap pipanya, duduk bersila di atas dipannya yang beralas tikar. Suara-suara gaduh dari anak-anak asrama lama-lama hilang karena panggilan kasur dan bantal, diganti angin malam yang sejuk yang nyelonong dari ventilasi di atas dipan. Suara sepatu berat yang diajak berjalan satu dua hentakan di lantai larut di kejauhan. Lorong itu menggemakan semua suara dari kelembutan kekeluargaan suatu asrama yang beranak pinak dengan kekerasan disiplin dari satuan yang istimewa. Tapi Pak Dalang telah melihat suatu yang memprihatinkan.

Keponakan Pak Dalang masuk, setelah membungkuk memberi hormat dengan takzim, suatu cara menghormat yang unik, gabungan dari kehalusan timur dan kedisiplinan militer. Ia minta izin untuk menghidangkan sekadar makanan. Pak dalang mengucapkan terima kasih. Tapi ucapan terima kasih Pak Dalang secepatnya dikoreksi oleh Pak Bupati dengan mengatakan:

“Apa yang dihidangkan tidak ada hubungannya dengan Pak Dalang.” Mendengarkan ini, Pak Dalang jadi nelangsa. Ia tambah yakin bahwa yang dihadapi bukanlah orang sembarang, artinya ia harus punya perbekalan khusus untuk dapat bertemu dan mengerti jalan pikirannya. Keponakannya itu masuk kembali menyuguhkan dua gelas kopi, kue-kue, dan dua porsi mie rebus. Dari mana uang untuk membeli ini semua, mengingat tak ada anggaran untuk menyuguh tamu dan tahanan? Begitu pikir Pak Dalang. Apakah mereka patungan? Ini tidak mungkin, mengingat gaji mereka kecil, atau sangat kecil. Lihatlah rumah-rumah mereka, yang lebih mirip bedeng-bedeng. Pikiran-pikiran tentang keadaan asrama itu lintas-melintas di benak pak dalang dengan cepat meningkahi seruputan kopi, mie rebus, dan nyamutan-nyamutan kue yang lebih dari sekadarnya. 

“Saya ingin tahu kenapa Petruk mengucapkan tuduhan seperti itu kepada Prabu Batara Kresna?” tanya Pak Bupati.

“Siapa yang tahu?” kata Pak Dalang sambil mengembuskan asap pipanya. “Tapi kita bisa bertanya kepada Petruk kenapa mulutnya selancang itu.”

“Pak Dalang tidak perlu berpura-pura. Pak Dalang bisa menjawabnya dengan mudah.” 

“Seandainya saya tahu jalan pikiran Petruk.”

“Pak Dalang mengucapkan tuduhan-tuduhan itu.”

“Ini kekacauan pikiran. Siapa yang mengucapkan, siapa yang dituduh.”

“Jalan pikiran siapa yang kacau?”

“Jalan pikiran siapa yang dituduh?”

“Saya tahu maksud-maksud baik, dan saya tahu, maksud-maksud jahat.”

“Sejauh apa pikiran-pikiran Petruk jahat?”

“Sejauh pikiran itu telah menggelisahkan masyarakat.”

“Nah. Apakah pikiran, atau maksud, atau kritik Petruk telah menggelisahkan masyarakat?”

“Tentu saja. Itulah sebabnya Ki Ageng berada di sini.”

“Baru tahu saya sekarang,” kata Pak Dalang sambil meletakkan pipanya. “Tapi apa hubungan saya dengan Petruk?”

“Saya tidak tahu apa hubungan Pak Dalang dengan Petruk. Tapi Pak Dalang lah yang bertanggung jawab, karena telah mendorong Petruk berbicara tidak pada tempatnya.”

“Wah, ini lucu.”

“Bagaimana bisa demikian, Pak Dalang?”

“Jika yang bersalah Petruk, tentulah Petruk yang ditahan.”

“Jika seandainya Petruk bisa ditanyai.”

“Tentu saja. Saya telah bertemu Petruk, lalu membawanya kemari.”

“Aneh sekali.”

“Tentu saja aneh sekali. Saya tidak tahu apa komentar Petruk jika mendengar keterangan Pak Bupati begini.”

“Maksud Pak Dalang?”

“Sebaiknya Pak Bupati meminta pertanggungjawaban Petruk.”

“Saya tidak mengerti maksud Pak Dalang.”

“Jika suatu kesenian sudah melibatkan seluruh kehidupan sosial dan keyakinan warganya, kita dapat mencari ujung makna dari kesenian tersebut.”

“Saya makin tidak mengerti maksud Pak Dalang.”

“Kehidupan sosial kita juga melibatkan binatang, tumbuhan, dan benda-benda di sekitar kita. Mari kita mendengar komentar Petruk, supaya segalanya menjadi jelas.” Pak Dalang lalu memanggil keponakannya. Ia minta diambilkan wayang Petruk di rumah. Begitu datang, wayang kulit itu ditancapkannya di antara papan dipan di tempat tidurnya.

“Petruk,” kata Pak Dalang kepada wayang kulit Petruk itu. “Mungkin kamu belum tahu bahwa saya ditahan gara-gara kamu berceloteh tidak pada tempatnya di depan para bangsawan agung di balairung pada malam minggu yang lalu.”

“Siapa bilang saya berceloteh tidak pada tempatnya?” tanya Petruk sambil memutar-mutarkan kedua tangannya. Melihat adegan ini seketika Pak Bupati terloncat dari kursinya. Ia marah membara sambil mencabut wayang kulit Petruk itu dari dipan, membantingnya ke lantai dan menginjak-injaknya.

“Pak Bupati tentu lebih tahu daripada saya,” sambung Petruk.

“Tahu tentang apa?” jawab Pak Bupati sambil membuang wayang Petruk itu keluar dan menatapnya dengan berkacak pinggang. Pak dalang tetap duduk tenang sambil memasukkan tembakau baru ke pipanya, menyalakannya dan mengisapnya. Seketika bau harum memenuhi ruang dan lorong-lorong tahanan itu. “Prabu Kresna sendiri tertawa-tawa mendengar ocehan saya,” kata Petruk yang tergolek di lantai, di antara puntung rokok maupun bungkus plastik.

“Tentu saja,” kata Pak Bupati, “itu hanya untuk menyenang-nyenangkan kamu saja.”

“Pak Bupati,” tukas Petruk, “saya penghibur yang tidak butuh dihibur.”

“Begitu, ya? Apakah kamu tidak senang kalau semua orang tertawa mendengar lelucon-leluconmu?”

“Saya tidak perlu.”

“Bohong! Kamu sangat peduli.”

Petruk merasa terhina dan ia berang: “Bagi saya tidaklah penting, orang mau tertawa atau mau marah. Pokoknya saya berkoar!”


“OOO, jadi kamu bisa juga marah, ya.” 

Petruk makin berang: “Sedikit pun saya tidak peduli, apakah ia raja atau ia gembel.”

“Aneh sekali. Petruk ternyata suka marah-marah.” Lalu Pak Bupati menginjak-injak lagi wayang Petruk itu hingga jadi kotor. Pak Dalang menyat dari dipan, memungut wayang Petruk itu dan membersihkannya. Disandarkannya wayang itu di dinding.

“Biarlah Petruk bersandar di sini, Pak Bupati,” kata Pak Dalang. “Jika masih ingin ngobrol, silahkan. Tapi Petruk harap dilihat saja. Dipegang jangan. Saya kawatir Pak Bupati akan menyobek-nyobeknya. Wayang Petruk ini sudah tak ternilai harganya.”

“Berapa harganya?” kata Pak Bupati panas.

“Harga sudah tak mampu mengejarnya,” jawab Ki Ageng. 

“Katakan berapa.”

“Seharga nyawa,” tukas Petruk. Pak Bupati berang. Ia berdiri mau meraih wayang itu tapi Petruk sudah keburu meloncat dan menancap di langit-langit kamar itu. Dengan kepalanya di bawah, Petruk mencengkeram plafon itu di atas gapitnya—terbuat dari tanduk kerbau untuk membuat tegak wayang—sambil ngomel:

“Di mana pun tak ada orang ngobrol sambil menginjak-injak teman ngobrolnya.” Pak Bupati tambah berkobar-kobar marahnya.

Udara pagi yang masih bau embun menyelinap masuk ke kamar tahanan, ketika Pak dalang masih berzikir di sajadahnya yang sudah bulukan. Ia sebenarnya sering mendapat oleh-oleh sajadah dari tanah suci dari para fans-nya, namun ia merasa lebih sreg menggunakan sajadah lamanya. Hingga sajadah-sajadah suvenir itu—yang katanya sudah dibasuh air zamzam di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi—ditumpuknya sebagai koleksi. Kegemaran baru yang lahir karena kebetulan ini, mendorongnya untuk mencari kegemaran mengoleksi benda-benda lain. Pipa, misalnya.

Pak Dalang tidak mengeluh sedikit pun meski tak tahu kapan penahanan atas dirinya ini akan berakhir. Hanya saja ia semakin rikuh kepada para warga PM yang telah melayaninya dengan penuh penghormatan. Dari makanan yang cukup enak sampai pakaian dan keperluan lain yang sebenarnya cukup mahal, seperti tembakau, pipa, dipenuhi oleh warga asrama dengan tulus. Dari mana semua uang untuk membeli keperluan itu. Pak Dalang tahu, berapa besar gaji seorang PM, lebih-lebih keponakannya yang baru masuk.

“Nak Mas,” kata Pak Dalang kepada keponakannya itu. “Tak mungkin pembelanjaan yang mahal ini dilanjutkan. Biarkanlah saya makan seadanya saja, seperti para tahanan lainnya.”

“Wah, tentang ini hamba tidak tahu, Pak De,” sahut keponakannya.

“Sudahlah, Nak Mas. Mulai sekarang jangan menyebut diri-sendiri dengan perkataan hamba. Bilang saja ….”

“Tapi hamba dibesarkan oleh Pak De.”

“Itu bukan alasan.”

“Baiklah, Pak De, saya bersedia.”

“Alhamdulillah.”

Malam harinya Pak Dalang minta diantar keponakannya berkeliling kompleks, satu per satu rumah diamatinya baik-baik, rumah-rumah petak itu sebenarnya tak lebih dari bedeng-bedeng samrawut. Di antaranya ada yang berdinding seng bekas drum yang hitam berlepotan tir, atau karton yang sudah meranggas. Pak Dalang mengeluh. Ia lalu meneliti rumah keponakannya, yang membuatnya tambah sedih. Rumah itu terletak di pojok di dekat buangan sampah, dengan dinding bambu yang sudah bolong-bolong yang ditambal kertas. Pak Dalang mendesah panjang.

“Nak Mas,” kata Pak Dalang, “sudah waktunya para PM ini punya rumah yang pantas.” Ponakannya tak menyahut. Keduanya merasakan malam yang dingin itu yang hanya diterangi oleh lampu 5 wat di sana sini. Suatu malam yang hanya membuat kompleks itu semakin larut dalam ketidakpastian. Senyap, seperti tak meninggalkan bekas dari kegaduhan siangnya. Dari deretan kamar-kamar tahanan itu juga tak kedengaran apa-apa, kecuali dengkur, atau sesekali bunyi ketepak tangan menyabet nyamuk. Pak Dalang duduk di dipannya dengan merana, jauh mengatasi kesedihan yang pernah dialaminya. Keponakannya hanya bisa memandangnya penuh tanda tanya.

Sejak pagi hari kompleks CPM itu tampak sibuk. Para tahanan bekerja membersihkan halaman yang cukup luas itu. Menyapu, mengangkat sampah, memotong bambu dan menyerutnya, meratakan tanah, memancangkan tiang-tiang bambu, memasang atap rumbia, memasang dinding bambu, memasang kabel, memasang pengeras suara. Setelah bekerja selama lima hari, berdirilah sebuah bangunan bambu yang cukup besar di tengah halaman itu. Pengeras suara pun dicoba.

Kegiatan itu adalah pelaksanaan ide Pak Dalang yang disambut baik oleh pimpinan kompleks. Dua minggu sudah Pak Dalang ditahan tanpa ada kejelasan persoalan. Ia melihat keadaan kompleks yang mengenaskan dan ini tak boleh dibiarkan. Maka ide pun nongol: Kompleks harus mampu menghimpun dana secara mandiri dengan mengandalkan kemampuan Pak Dalang yang kebetulan tinggal di dalamnya. Kompleks akan mengadakan pergelaran wayang kulit semalam suntuk tiap malam minggu selama Pak Dalang masih tinggal di situ. Uang yang didapat dari karcis yang dijual untuk pembangunan kompleks dan kesejahteraan penghuninya. Nampaknya ini adalah sebuah ide yang cukup logis untuk dilaksanakan.

Tak dinyana, pergelaran wayang kulit itu dibanjiri oleh pengunjung yang berlimpah. Semula agak pesimistis, mengingat keadaan tempat yang tidak menguntungkan. Ternyata justru tempat yang seadanya itu—mengingatkan pertunjukan di desa-desa—mampu menyedot penonton yang bahkan luber di jalan-jalan. Mereka berbaur di dalam warung-warung kaget, yang membuat semarak suasana. Minggu pertama itu Ki Ageng menggelar lakon “Ontorejo Kawin”, sebuah cerita yang boleh dikata tak pernah disentuh oleh para dalang. Padahal lakon ini sangat memikat karena melibatkan banyak tokoh di samping ada tokoh yang perlu mengubah bentuk segala. “Rame dan banyak leluconnya,” begitu pameo yang kental benar untuk mengomentari kesuksesan sebuah pergelaran wayang kulit. Dan pertunjukan wayang kulit Ki Ageng juga mendapat komentar yang singkat tapi tepat itu.

Untuk minggu-minggu selanjutnya, Ki Ageng hanya akan menjamah lakon-lakon yang tak dikenal untuk menjerat calon penonton yang ingin tahu. Pak Dalang juga akan menggelarkan lakon-lakon carangan yang sungguh akan memikat. Ketika pertunjukan minggu keempat usai—yang juga dibanjiri pengunjung seperti minggu-minggu sebelumnya—Pak Bupati datang tergopoh-gopoh menemui Pak Dalang.

“Ini apa-apaan, Pak Dalang!” teriak Pak Bupati.

“Apa maksud Pak Bupati?” sahut Ki Ageng sambil bangun dari tiduran di kamar tahanannya, sedang mulutnya mencengkeram pipanya.

“Orang tahanan tidak diperkenankan mendalang,” kata Pak Bupati.

“Kenapa Pak Bupati baru memberi tahu sekarang setelah saya empat kali mendalang.”

“Kolonenl seharusnya memberi tahu Pak Dalang.”

“Jangan-jangan kolonel juga tidak tahu.”

“Mustahil.”

“Lagian, ide menyelenggarakan pergelaran ini datang dari saya.”

“Lalu untuk apa uang pemasukannya?”

“Untuk membangun kompleks.”

“Seenaknya saja.”

Lalu Pak Bupati menemui kolonel, pimpinan kompleks.

“Kolonel,” kata Pak Bupati. “Anda tahu bahwa orang tahanan tak boleh mendalang.”

“Saya baru tahu sekarang,” kata kolonel. “Saya pikir orang tahanan boleh berbuat apa saja, asal berguna bagi sesama. Di sini ada yang melukis, bercocok tanam, mengajar pencak.”

“Tetapi mendalang terlarang.”

“Apa sebabnya, Pak Bupati?”

“Kolonel kok lupa, sih, bahwa dalang bisa menyebarkan ajaran yang melawan pemerintah. Itulah sebabnya Ki Ageng saya tahan.”

“Tetapi selama mendalang empat kali berturut-turut, tidak ada ajaran yang melawan itu yang ia sebarkan kepada penonton.”

“Belum tentu. Saya akan meneliti rekamannya.”

Pak Dalang lalu meminta empat rekaman kaset pergelaran itu yang tidak kurang dari lima puluh kaset. Selama menyensor kaset-kaset itu Pak Bupati lupa memberi tahu kolonel bahwa pergelaran harus dihentikan. Karena Pak Bupati orang sibuk maka penyensoran itu membutuhkan waktu berminggu-minggu, dan berminggu-minggu pula Pak Dalang masih menggelar lakon-lakonnya dengan penuh semangat. Jutaan rupiah hasil pertunjukan itu bisa dihimpun dan pembangunan perumahan bagi para PM itu berlangsung tanpa kehabisan dana, sampai pada suatu hari selamatan berlangsung meriah untuk menyambut rumah-rumah mereka yang baru, yang pantas untuk tempat tinggal.

Belum juga kaset terdahulu disensor habis, sudah menyusul kaset-kaset baru yang dibawa sendiri oleh kolonel. Sebagai aparat keamanan yang berdedikasi tinggi, Pak Bupati menerima kaset-kaset itu sebagai tugas yang mulia. Begitu seterusnya, hingga Pak Bupati tenggelam dalam lautan kaset di kamarnya.

Kyoto, 12 Januari 1991

Danarto. Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Hingga kini ia baru punya 3 buku kumpulan cerpen: Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), dan Berhala (1987). Kini ia sedang mengumpulkan cerpen-cerpennya yang baru sambil mencari penerbit. Danarto adalah orang yang mudah bahagia. Di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, misalnya, ia bisa nongkrong di warteg sambil menikmati nasi putih, ikan pedas dan sayur daun singkong. Lalu ia berkata, “Seandainya surga seperti ini, cukuplah.” Ia pernah mendapat hadiah sastra Buku Utama untuk Adam Ma’rifat. Dua tahun lalu ia juga mendapat hadiah sastra S. E. A. Write dari pemerintah Thailand. Danarto mendapat Professional Fellowship dari Japan Foundation selama 1 tahun. Saat ini ia tinggal di Kyoto, Jepang. (Matra, Mei 1991) 


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" Mei 1991
 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home