Dalam Kamar Akiko ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Minggu, 06 Maret 2016

Dalam Kamar Akiko


HARI ITU SAYA MENGELUARKAN PAKAIAN SERAGAM perguruan tinggi saya yang berdebu dari lemari pakaian dan memakainya untuk pertama kalinya dalam tahun itu. Saya tidak lagi berstatus mahasiswa. Saya menghidupi diri saya dengan profesi sebagai seorang wartawan sebuah majalah skandal. Ketika saya masih berstatus sebagai pekerja sambilan di sana, editornya meminta saya untuk mengambil keputusan apakah saya menginginkan pekerjaan yang tetap atau tidak. Tanpa ragu-ragu saya putuskan untuk berhenti sekolah. Meskipun demikian saya tidak mengundurkan diri secara resmi, jadi saya kira nama saya masih terdaftar di sekolah saya.

Tapi saya merasa canggung memakai seragam lama itu. Dengan jelas dapat saya lihat di cermin bahwa seragam itu tidak lagi pas dengan tubuh saya. Sekarang setelah saya terjun ke masyarakat untuk bekerja, setelah saya menjadi dewasa penuh, saya tampak membengkak dalam pakaian itu. Saya meluruskan punggung saya, meluruskan garis mulut saya, dan mencoba kelihatan selugu pakaian seragam sekolah saya itu. Kemudian saya tinggalkan rumah penginapan itu. 

Saya mendapatkan tugas untuk mewawancarai isteri seorang menteri kabinet yang diberitakan terlibat dalam skandal korupsi. Saya harus mewawancarai isterinya, dan bukan suaminya, karena ia lebih bersemangat, seorang wanita yang berkemauan keras yang telah membangkitkan gosip di seputar dirinya sendiri. Kebenciannya terhadap para wartawan telah dikenal luas, dan saya memiliki semua alasan untuk tidak melewati ambang pintu rumahnya. Saya harus menciptakan suatu muslihat. Dengan mengumpulkan setiap keping informasi yang dapat saya peroleh, saya telah membentuk suatu potret imajiner tentang dirinya. Saya memutuskan untuk mengenakan pakaian seragam sekolah saya, karena seragam sekolah itu berasal dari akademi bergengsi. Juga, saya selalu mengingat bahwa ia adalah seorang penggemar ilmu firasat.

Sibuk dengan berbagai urusan, hari telah memasuki malam ketika saya berdiri di depan pintu besar rumah menteri yang tertutup rapat itu. Bertemu dengan orang-orang asing selalu terasa menyiksa bagi saya. Dengan mengeraskan tekad, saya tekan bel pintu rumah itu. Bunyi bel yang sayup-sayup bergema dalam rumah besar itu. 

Seorang pelayan wanita muncul. Saya menyerahkan kartu nama saya padanya dan meminta bertemu dengan nyonya rumah. Ia mundur, dan isteri menteri itu datang menuju pintu sambil memegang kartu nama saya dengan ujung jarinya. 

“Dapatkah saya berbicara dengan Anda untuk beberapa saat?” kataku dengan cara seorang mahasiswa yang paling baik. Nyonya menteri itu memandangi saya dari ujung rambut sampai ujung kaki, meneliti lambang pada lencana kerah dan kancing-kancing jaketku, dan kemudian mengizinkan saya mengikutinya menuju ruang tamu.

“Benarkah Anda seorang siswa di sekolah ilmu firasat di Tokyo School, Nyonya?” tanyaku, langsung memasuki topik kegemarannya. Selama perang, saya sendiri telah mempelajari metode ilmu firasat itu. Pada masa itu saya telah melatih diri untuk tidak mempercayai apa pun yang dikatakan orang, melainkan berkonsentrasi pada ekspresi mereka pada saat mereka berbicara. Mungkin saya mencoba menunjukkan pada mereka bahwa saya tidak mempercayai kata-kata.

Pertanyaan saya menjalankan muslihatnya. Secara berangsur-angsur berbicara tentang masalah itu dengan semangat, isteri menteri itu tampak begitu bergairah mengobrol sehingga saya tdak dapat kesempatan untuk ikut menyisipkan sepatah kata pun di sela pembicaraannya. Buih mulai berkumpul di sudut bibirnya tatkala ia mulai menceritakan sejarah ilmu firasat.

“Kemudian Abbot Takuan akan membelalakkan matanya ke arah mata orang lain.” Wanita itu diam, membelalak lurus ke arahku, saat itu ia memberi isyarat penekanan maksud perkataannya. Kemudian ia mengambil kartu saya dari meja dan dengan hati-hati memeriksanya. Kartu itu tidak menyebutkan bahwa saya adalah seorang wartawan, tetapi nama majalah itu dicetak dalam huruf-huruf kecil di sudut sebelah kiri kartu itu. Saat berikutnya, wanita itu meledak kemarahannya.

“Jadi kau seorang wartawan! Saya kira kau seorang mahasiswa, yang mempelajari ilmu firasat dengan cara itu. Untuk apa kau kemari? Saya benci wartawan! Selalu mengintai orang-orang untuk mengetahui apa yang mereka makan pada saat makan siang, dan semacamnya. Sekarang keluar. Cepat!”

Ia bangkit dan menuju ke tempatku, mengancam. Saya berdiri, menyerah pada kenyataan bahwa wawancara itu telah selesai. Ketika saya mengenakan sepatu di jalan masuk, ia terus mengikutiku.

“Keluar!”

Ketika saya membuka pintu saya mendengar bunyi ceklekan saklar. Ia telah mematikan lampu beranda.

“Begitulah caranya,” saya berkata pada diri sendiri, memaksakan diri untuk tersenyum. Saya mencoba melihatnya dari sudut pandang dirinya, tapi saya masih terhina.

Saya meneruskan perjalanan ke pusat kota dan berhenti untuk minum di dekat stasiun. 

Tidak lama kemudian saya merasa menjadi diri saya kembali. Ketika saya meninggalkan bar itu, langkah-langkahku membawaku ke arah tempat di mana jalan-jalan dijejeri oleh rumah-rumah bordil.
Saya melihat Akiko berdiri di depan rumahnya. Ia sedang menunggu salah seorang lelaki yang lewat yang akan memperhatikannya dan berhenti.

Saya berjalan langsung ke arahnya, mengatakan hello dengan menganggukkan kepala, dan mengikutinya ke dalam rumah. Ketika kami telah berhadap-hadapan di dalam kamarnya, ia menggumamkan kata-kata yang membuatku terkejut.

“Kau kelihatan seperti anjing kalah.”

“Sungguh?”

“Ya.”

“Alangkah hebat ucapanmu.”

“Kau selalu seperti itu setiap kau datang ke kamarku. Sebelum kau meninggalkan kamarku kau kelihatan lebih menyerupai manusia. Tapi kau begitu kasar padaku antara kedua waktu itu. Apakah kau hanya datang kemari jika ada masalah?”

Saya tidak menjawab. Kata-katanya membuat saya berpikir. Saya telah bermaksud untuk menghilangkan semua rasa penghinaan, bukan untuk menjadi lelaki terhina yang bergegas mencari pelipur lara di tempat itu dan terpikat oleh keinginan untuk bersenang-senang. Dan sekarang sikap itu telah musnah. Secara tiba-tiba saya dapat melihat diri saya sendiri tatkala saya menatap matanya. Dengan sedikit menunduk saya menyelinap menuju ke arahnya ketika ia berdiri di depan rumahnya. Saya datang ke kamarnya seperti anjing yang habis dipukuli, dan kemudian menjadi ganas dan melahap tubuhnya.

Saya tidak bermaksud untuk menggunakan paksaan yang kasar terhadap Akiko. Namun saya tidak dapat menolak pemikiran bahwa dirinya benar. Barangkali saya telah datang kepadanya untuk meyakinkan diri bahwa saya masih hidup. Atau barangkali saya datang untuk melepaskan kemarahan saya yang terpendam terhadapnya.

Hari itu saya dengan lembut berbaring mendekap Akiko. Apa yang perlu ditakutkan dari dua binatang terluka yang berdekapan untuk menghangatkan tubuhnya, saling menjilat luka masing-masing? Saya tidak mengucapkan apa-apa, tetapi terus mengadakan percakapan panjang nan ruwet dengan tubuhnya. Dan tubuhnya menyampaikan semua jenis arti yang telah hilang dariku ketika saya hanya memaksakan diri saya semata padanya. 

Dari hari itu dan seterusnya saya merasakan kesunyian yang sering muncul kapan saja saya jauh darinya. Rasanya seperti tak mungkin hidup tanpa dirinya di sisiku. Setiap bagian tubuhnya memiliki ekspresi yang menggugah diri saya. Saya dapat melihat dengan mata hati saya lembah yang melengkung berliku-liku di dadanya, cekungan yang dangkal pada tulang selangkangannya ketika ia memalingkan lehernya. Kemudian saya akan bangkit dan berjalan menuju jalan-jalan yang dijejeri rumah bordil itu.

Segera setelah saya menginjakkan kaki di daerah itu, saya merasakan perasaan kekeluargaan dengan semua wanita yang berdiri di pintu masuk rumah-rumah yang dicat berkilat-kilat tanpa selera itu. Saya merasa betah di rumah mereka. Tidak ada perasaan sembunyi-sembunyi atau perasaan bersalah padaku tatkala saya berjalan menuju kamar Akiko. Dan wanita-wanita itu baik padaku tatkala saya berjalan menuju kamar Akiko. Jelas terlihat bahwa mereka senang mengetahui bahwa saya memiliki langganan yang tetap. 

Kadang-kadang satu dari mereka berteriak: “Bagaimana kalau mencoba saya, sebagai selingan?”

Ketika saya berjalan menyusuri jalan-jalan ini, suara-suara campur aduk mengikuti langkahku. Suatu saat saya mendengar seorang wanita mengatakan: “Berkelilinglah di sekeliling blok ini dan kemudian kembalilah kemari, mau, kan?” Saya tersenyum masam, mengingat sesuatu yang telah terjadi di awal sore itu. Saya telah melaksanakan tugas untuk menemui seorang tokoh tertentu. Ketika pelayan wanitanya muncul ia berdiri di pintu seakan menghalangi jalanku.

“Tuan rumah sedang istirahat,” katanya memberi tahu. “Berjalanlah mengitari blok dan kemudian kemari lagi.”

Suatu pengalaman seperti itu akan terlupakan pada saat saya tiba di tempat pelacuran itu. Saya akan menuju kamar Akiko, tidak seperti anjing kalah, tapi sebagai seorang. Saya telah menemukan suatu tempat perlindungan dan saya ingin menikmatinya. Dalam kamar Akiko saya dapat mengembalikan keseimbangan emosi. Tapi hal itu tidak berlangsung lama.

Akiko sendirilah yang telah merusak keseimbanganku.

Suatu hari ketika saya tiba di tempatnya, ia menoleh padaku dengan senyuman yang tak jelas dan mengatakan: “Maafkan saya—saya tidak mengira bahwa kau akan datang.”

Saya telah bersamanya sehari sebelumnya.

“Apakah semua waktumu terpakai?”

“Bukan itu maksudku.”

Saya tidak dapat membayangkan apa yang sedang mengganggunya. Ketika saya tanyai, ia hanya tersenyum dengan senyuman yang sulit dimengerti itu. Tetapi ketika saya menyentuhnya, saya menyadari bahwa fisiknya lelah sekali. Tubuhnya membisu. Biasanya matanya berkabut kenikmatan, tapi kini kedua bola mata tak bernyawa.

“Seandainya saya telah mengetahui kau akan datang, saya tidak akan membiarkan diri saya begitu letih.”

Saya mengerti.

“Apakah Kuroda datang kemari?” 

Ia telah menceritakan padaku bahwa seorang pria setengah baya bernama Kuroda telah menjadi pelanggan terbaiknya. Akiko ragu-ragu. “Bukan dia, orang baru, seorang lelaki yang belum pernah kulihat sebelumnya.”

“Seorang baru?”

Bagaimanapun juga hal itu membuatku marah. Saya pikir saya telah melindungi diri sendiri dengan mengunjungi seorang wanita yang dapat dibeli dengan uang, wanita yang saya sadari akan saya bagi dengan banyak lelaki lainnya. Saya telah mengenal perihnya mencintai wanita dan belum siap untuk sakit yang kedua kalinya. Dengan tololnya saya berpikir bahwa dalam kamar Akiko saya aman.

Kemarahan saya timbul karena cemburu.

Ketika masih berstatus mahasiswa saya pernah mampir ke rumahnya suatu sore, saya melihat sepasang sepatu kulit berwarna cokelat terletak di jalan masuk. Jelaslah sudah bahwa pemilik sepatu itu telah datang mendahului saya. Sepatu itu telah disepakkan dengan begitu saja; tergeletak di sana di lantai beton, kedua ujungnya menghadap ke arah ruangan dalam, tampak sangat santai. Saya belum pernah melihat pacar gadis itu, tapi secara naluriah saya tahu bahwa kaki-kakinya telah memakai sepatu-sepatu cokelat itu sampai beberapa saat berselang. Caranya melepaskan sepatu memperlihatkan bahwa ia telah sangat akrab dengan keluarga gadis itu. Saya merasakan kecemburuan yang begitu getir pada sepatu-sepatu cokelat itu.

Tapi karena Akiko adalah seorang pelacur, kecemburuan yang berbeda telah melanda diriku.

Sambil mengguncangkan bahunya yang lemas saya mulai menanyainya.

“Pria macam apa? Pria tinggi besar? Seorang pelaut? Seorang yang bertubuh seperti pegulat?”

“Hanya pria biasa.”

“Apakah kau bosan melakukannya bersamaku?”

Akiko hanya tersenyum.

Saya meninggalkan kamar Akiko. Seperti biasanya, jalan-jalan sempit daerah hitam itu penuh sesak. Saya berdiri di sebuah dan membiarkan pandanganku mengembara mengamati pemandangan itu.

Semua tubuh yang bergerak sepanjang jalan itu adalah lelaki. Tubuh-tubuh yang menunggu di bingkai pintu masuk gelap dan terbuka itu adalah wanita. Hal itu cukup biasa di sini di daerah bordil ini, tapi saya menemukan kenyataan bahwa pemikiran ini, anehnya, amat menekan perasaan saya. Jika seorang pria memilih untuk berhenti di depan salah satu wanita yang sedang menunggu itu, wanita itu akan mengajaknya ke suatu kamar rahasia. Kemudian tubuh perempuan itu akan ditindih oleh tubuh si pria, si wanita akan senang hati merentangkan kedua pahanya. 

Di dunia luar segala macam formalitas yang rumit harus dijalani sebelum kedua tubuh yang pertama kali bertemu itu sampai pada keadaan seperti ini. Kerumitan itu telah menjadi topik banyak cerita; kecemburuan saya di masa lalu muncul dari kejadian kecil semacam itu. Tapi sekarang ketika saya berdiri di sudut jalan menatap pemandangan di depanku, saya mulai merasakan kecemburuan baru menggerogotiku. Saya dikuasai oleh khayalan bahwa orang asing yang telah melemaskan Akiko menekan semakin dalam dan dalam ke dalam dirinya. Ceruk dagingnya yang paling dalam telah diserang. Saya mengenal tubuh saya sendiri, dan saya kira saya mengenal tubuh Akiko hampir sama baiknya. Namun, mungkin suatu bagian kecil tubuhnya masih kukenal, suatu bagian kecil gelap yang saya bayangkan mulai mengembang. Saya merasakan kecemburuan yang hebat terhadap bagian yang gelap dan basah itu.

Setelah itu, di kamar Akiko, saya merasa sadar telah menggunakan paksaan yang kasar terhadap Akiko. Kamar Akiko tidak lagi menjadi tempat perlindungan. Kadang-kadang ketika saya melihat ia berbaring di sana kelelahan, saya akan membungkuk untuk mencium bagian tubuhnya yang gelap dan beraroma wangi itu, seakan ingin meyakinkan bahwa sayalah orangnya, bukan lelaki lain yang telah meletihkannya. 

Saya masih terus mengunjungi daerah pelacuran itu dengan lagak penuh keyakinan diri seperti sebelumnya. Dan para pelacur itu tetap ramah kepadaku.

MUSIM PANAS BERLALU, DAN MUSIM rontok mendekati akhir. Malam pertama Tori-non-ichi Fair saya berada di kamar Akiko. Tiba-tiba Akiko berkata kepadaku: “Saya kira saya mungkin akan berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Bisnis ini.”

“Tapi apa yang akan kau lakukan?”

“Bekerja di kantor. Tuan Kuroda mengatakan bahwa ia dapat mengaturnya.”

“Maksudmu kau akan menjadi gundik Kuroda?”

“Saya kira kau dapat menyebutnya begitu. Ia menginginkan saya keluar dari sini.”
Saya mengubah arah pertanyaan.

“Apakah Kuroda yang meletihkanmu?”

“Tuan Kuroda adalah tuan yang baik dan pemurah. Ia penuh pertimbangan. Ia selalu mencoba membantuku.”

Akiko telah menyelesaikan pendidikannya dari sekolah menengah kota besar di Kansai. Ia dapat mengetik dalam bahasa Inggris dan memiliki tulisan tangan yang indah. Tapi saya meragukan bahwa ia betah dengan pekerjaan yang rutin, meskipun saya sendiri tidak yakin mengapa saya memiliki keraguan yang begitu besar. Kemudian Akiko berkata: “Datanglah ke Tori-no-ichi Fair bersamaku. Saya ingin membeli penggaruk keberuntungan.”

“Tapi itu menggaruk bisnis lebih banyak tahun depan, lho. Bukankah cukup mengherankan membeli penggaruk keberuntungan sementara berencana untuk meninggalkan bisnis ini?”

“Yah, kita tidak pernah tahu. Kata orang kita harus memiliki yang lebih besar setiap tahunnya.”

Saya dapat melihat dengan mata hatiku sebuah penggaruk dari bambu berukuran penuh yang dihiasi oleh gantungan jimat keberuntungan: sebuah peti harta karun, topeng yang berlukisan seorang wanita gemuk yang riang, dan semacamnya. Dan saya menggerenyit memikirkan saat saya berdesak-desakan bersama Akiko menembus kerumunan orang sambil membawa penggaruk yang besar yang dibeli Akiko tahun lalu? Ia pasti masih memilikinya di suatu tempat. Saya memandang sekilas ke sekitar ruangannya.

“Di mana penggaruk tahun lalu?”

“Di sana.”

Ia menunjuk ke batang kayu melintang di bingkai pintu belakang saya. Sebuah penggaruk kecil tak berhiasan yang ukurannya tidak lebih dari telapan tanganku terjepit di pegangan pintu.

“Betul-betul cebol. Sudah berapa lama kau berada di tempat ini?”

“Tiga tahun. Tahun lalu untuk pertama kalinya saya membeli penggaruk.”

Akiko dan saya meninggalkan rumah itu. Di pinggiran daerah hitam itu seorang buaya darat yang memakai sandal berdiri sambil mengobrol dengan seorang wanita yang bajunya tampak melekat erat pada lekuk liku tubuhnya. Segala sesuatu mengenai dirinya—daging bahunya yang telanjang, bahkan lingkaran pergelangan kakinya di atas sepatu hitam bertumit tinggi—mempertegas fungsi seksuilnya. Barangkali kenyataan bahwa ia berada di sini akan memungkinkannya untuk terus menerus memancarkan sensualitas muda dan segar yang ada pada dirinya tanpa batas. 

Saya memandang sekilas pada Akiko. Di sampingku. Satu tahun sudah berlalu sejak saya bertemu dengannya. Bagiku, ia cantik. Saya kira ia tak mengalami kemerosotan dalam satu tahun terakhir ini. Namun, saya tahu bahwa tidak pada tempatnya untuk mengadakan penghakiman yang adil tentang perubahan apa pun yang terjadi pada diri Akiko. Sekali lagi saya memandang padanya, pada raut mukanya. Kulitnya tampak rawan terhadap kotoran yang mengendap di balik kulit itu. Jantungnya tampaknya juga rawan terhadap kotoran daerah hitam itu mungkin telah ada lapisan kotoran mengendap di balik kulit itu. Jantungnya tampaknya juga rawan. Saya ingat sentuhan kelambanan di dalam dadanya.

Pemandangan hiruk pikuk pekan raya telah terbentang di hadapan kami. Saya berhenti sejenak dan berkata: “Sebaiknya kau tidak usah membeli penggaruk tahun ini. Kau harus menghadapi Kuroda dengan sungguh-sungguh.”

“Saya sungguh-sungguh menanggapinya,” jawabnya, berpaling menungguku. “Tapi saya tidak dapat menahan perasaan gelisah.”

AKIKO MENGHILANG DARI DAERAH hitam itu.

Ia mengirimkan nomor telepon kantornya padaku, namun bagaimana juga saya tidak bermaksud meneleponnya. Pikiran saya terganggu membayangkannya mengurus urusan kantor di mana setiap gerakan harus ditunjukan penyelesaian pekerjaan. Cara Akiko cukup wajar, kecuali jika ia di ranjang; memandangnya, Anda akan berpikir bahwa ia hanya seorang gadis biasa. Di sebuah kantor, isyarat yang paling halus pun darinya akan menimbulkan reaksi yang aneh. Jika saya meneleponnya di sana, dan ia menjawab, bukankah orang-orang di sekitarnya akan mulai berbisik bersama-sama dan saling memandang? Hal itu akan menyakitkan kami berdua.

Saya telah menelepon Akiko, tetapi terus mengunjungi daerah hitam yang telah ditinggalkannya. Satu per satu saya kunjungi kamar-kamar wanita-wanita yang saya kenal melalui pandangan saya. Saya tidak pernah mengunjungi kamar yang sama lebih dari satu kali. Namun, semua wanita itu baik padaku. Pada saat itu saya hampir-hampir tidak mengerti mengapa begitu.

Kadang-kadang saya mendapatkan pengalaman yang menganggu ketika melihat salah seorang pelacur ini di luar daerah hitam ini. Saya ingat seorang wanita dengan kecantikan yang menyolok yang biasa berdiri dengan penuh keyakinan diri di jalan yang dihiasi lampu neon merah dan biru, dadanya dibusungkan, tatkala ia memandang para lelaki yang lewat dengan cibiran. Suatu hari di musim panas saya melihatnya ketika saya berjalan di jalan yang menurun menuju stasiun kereta api. Trotoar memantulkan sinar matahari pertengahan musim panas, dan debu berkilauan di udara. Dengan membungkuk dan berjalan dengan susah payah tanpa gairah ia jalani jalan mendaki itu, ia memiliki seorang bayi yang terambin di punggungnya dengan pengikat yang tak begitu kokoh, yang terdiri dari kain kasa warna hitam yang terselempang silang di luar gaunnya yang bergaya Barat. Ketika kami lewat di dekatnya saya melihat butir-butir keringat bertaburan di keningnya, dan saya kira saya mendengarnya terengah-engah. Wanita itu memandang ke arahku. Matanya berwarna keruh kekuningan, dengan lingkaran-lingkaran hitam di sekitarnya, yang membuatnya kelihatan tua. Untuk sesaat mata tanpa cahaya itu beradu pandang dengan mataku, tapi tidak ada tanda bahwa ia mengenali saya.

Suatu hari Akiko meneleponku di kantor dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu denganku di tengah hari pada hari Minggu. Mendengar suaranya untuk pertama kali selama setengah tahun, saya mendapatkan pertanda bahwa kariernya sebagai pekerja kantor, mulai melarikan diri dari ruangan yang meletihkan itu.

Namun, saya kira ia ingin menemuiku bukan hanya karena ingin meminta nasihatku mengenai berhenti bekerja.

Kami bertemu hari Minggu dan makan siang bersama di sebuah restoran kecil di pusat kota. Setelah itu saya mengusulkan agar acara diteruskan di hotel. Akiko ragu-ragu, dan kemudian mengangguk.

“Bagaimana kabarnya Kuroda?” tanyaku ketika kami berjalan berdampingan.

“Saya belum pernah tidak setia padanya sebelumnya,” bisiknya, agak sedikit mendekat kepadaku. 

“Belum pernah sejak saya meninggalkan daerah hitam itu.”

Ia tampak menyesali perbuatan kami. Tapi begitu kami tiba di kamar hotel, saya hampir-hampir tidak dapat menahan kegarangan tubuhnya.

Pada pertengahan sore itu hotel hampir kosong. Hanya ada suara pelayan wanita memukul-mukul dengan alat pembersih debu di koridor di luar kamar hotel kami, dan suara keriat-keriut ranjang kami yang terbuat dari kayu dan amat bersahaja. Bahkan ketika saya telah berbaring tenang, ranjang itu masih keriat-keriut.

Akhirnya Akiko terbaring letih di sampingku. Ia tampak malu ketika ia mendapatkan saya sedang memandang padanya.

“Kau akan terus bekerja di kantor?” saya bertanya padanya untuk pertama kalinya. Akiko tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Hal itu meyakinkan saya bahwa ia akan segera kembali ke daerahnya yang lama, ke daerah hitam yang masih kukunjungi.

Sekitar setengah bulan kemudian saya menemukan Akiko berdiri di pintu salah satu rumah bordil, yang lain dari sebelumnya. Seperti yang sering saya lakukan, saya mengangguk dan mengikutinya ke dalam rumah.

“Kapan kau kembali?” tanyaku, setelah kami berada di dalam kamar.

“Kemarin.” Akiko memelukku dan tersenyum. “Jika saja saya telah bertemu kau kemarin.” Ia terbata-bata, mencari ungkapan yang benar. “Saya telah menelanmu hidup-hidup.” Jadi hari ini rasa laparnya tidaklah begitu hebat, dan kemarin ada seorang laki-laki yang dimakannya hidup-hidup. Mungkin lelaki itu hanya seorang baru yang kebetulan lewat. Tapi kini, membayangkan dengan seorang lelaki tanpa nama itu pun tidak lagi mendatangkan rasa cemburu padaku.

Saya memandang mata Akiko. Sejurus kemudian tampak bagiku bahwa kami berdua—Akiko, seorang wanita yang dibentuk oleh kehidupan tempat ini, wanita yang tertarik kembali setelah melarikan diri, dan diri saya sendiri seorang lelaki yang tak dapat menghentikan kunjungannya ke tempat ini bahkan setelah wanita ini pergi—saling bertukar pandangan yang menyiratkan perasaan senasib.

SELAMA TAHUN BERIKUTNYA SAYA menjelajahi tempat hitam itu seperti seorang pencari kenikmatan yang tak terkendali. Saya dapat memejamkan mata dan membayangkan mata dan membayangkan peta rinci dari daerah hitam itu. Tidak ada yang luput, tidak satu gang sempit pun atau kotak sampah sepanjang itu luput dari peta bayanganku. Saya berumur dua puluh lima tahun dan menikmati hidup sebagai manusia liar tak berkekang moral. Saya bahkan merasakan nafsu yang amat besar. Jadi ada kepahitan di sana tetapi ada pula kesegaran.

Kadang-kadang saya kembali ke kamar Akiko. Tubuhnya sudah terlalu kukenal untuk dapat memberikan suatu rangsangan baru; dan karena alasan itulah, bahkan ketika saya mabuk sehingga menjadi impoten dengan wanita-wanita lain, di dalam kamar Akiko saya menemukan kejantanan kembali. Sekali lagi kamarnya menjadi tempat perlindunganku. Akiko selalu manis dan sabar terhadapku. Bila uangku habis saya bermalam di tempatnya, meninggalkan jas hujan atau jam tangan sebagai jaminan. Ada masa-masa di mana semua benda kecil milikku pribadi tergadai di sana. Dan pagi berikutnya ia meletakkan uang sarapan di tanganku.

Akiko terus memanjakanku. Tapi suatu hari saya mengetahui bahwa minatnya padaku telah mendingin. Ia mengatakan padaku bahwa ia telah jatuh cinta.

“Oh?”

“Ia masih muda. Lebih muda dari kau.”

“Bagaimana dengan Kuroda?”

“Tuan Kuroda orang baik dan simpatik, ia selalu mencoba membantu. Ia ingin mengeluarkan saya dari tempat ini lagi. Saya gagal sebagai gadis kantor, sehingga kali ini ia telah menemukan tempat untukku di sebuah bar. Ia telah menyewa apartemen sebuah apartemen untuk saya.”

“Kalau begitu kau tinggal angkat kaki.”

“Betul. Datanglah temui saya di bar, mau kan? Saya menelepon kau dari sana.”

Sudah satu tahun penuh sejak Akiko kembali lagi ke tempat ini, dan sekarang ia akan berangkat lagi.
Akiko menelepon untuk memberitahukan alamat bar padaku. Betapa terkejutnya saya, letak bar itu tersembunyi dekat jalan tempat pusat perbelanjaan mewah di pusat kota.

Saya pergi mengunjungi bar itu, dan mendapatkan Akiko duduk di pojok, merasa jemu. Segera setelah ia melihatku ia bergegas ke arahku dengan perasaan lega yang terhambat di mukanya.

Saya duduk di bar itu dan mulai minum dengan terus-menerus. Akiko duduk di sampingku. Kami tidak bicara apa-apa, meskipun pengunjung lain dan hostes-hostes mereka bergurau dan bercumbu dengan cara yang bersemangat tapi tertib seperti biasa. Terpikir olehku bahwa pembicaraan Akiko dengan para pelanggannya di tempat lama yang agak berbeda. Tak diragukan sejak ia datang ke bar ini ia hanya duduk di samping para pelanggan menyunggingkan senyum semunya.

Akhirnya saya bertanya bagaimana keadaannya. 

“Tidak begitu mudah di tempat ini.”

Saya berdiam diri.

“Tuan Kuroda marah dan mengatakan saya terlalu banyak mengeluh. Ia mengenal sebuah sekolah bagi para calon peragawati—ia terus mengatakan bahwa saya harus mencobanya.”

Saat mendengar itu saya merasa dilanda kedinginan di sekujur tubuhku, dan melihat Akiko persis seperti diriku dulu. Jika saja Kuroda telah menganjurkan beberapa tahun yang lalu, sebelum ia datang ke daerah hitam itu, keadaannya tidak akan begitu janggal. Tapi sekarang hal itu betul-betul kejam. Dapatkah Akiko menyadari hal itu? Barangkali tidak. Pikiran itu mendatangkan perasaan yang pahit dan gelap pada diriku, suatu perasaan kecewa yang getir. Saya mempunyai kesan bahwa kotoran tempat hitam itu telah mulai tampak pada kulit Akiko. Dia sendiri di bar tampak bayangan yang aneh.
Tapi apakah Kuroda sendiri menyadari kekejaman dari apa yang telah diucapkannya? Setelah satu kali mencoba menyelamatkannya dan gagal, dan sekarang di ambang kegagalan lagi, bagaimana perasaannya terhadap Akiko? Dapatkah ia begitu membabi buta mencintainya?

Ketika saya mengunjungi bar itu untuk kedua kalinya, Akiko telah hengkang dari bar itu. Saya belum meminta alamat apartemennya, dan ia tidak meneleponku. Ia telah menghilang tanpa jejak.

SEPERTI BIASA SAYA MENERUSKAN kebiasaan menjelajahi daerah bordil yang telah ditinggalkan Akiko untuk kedua kalinya itu.

Tiga tahun berlalu sejak saya pertama kali mengunjungi kamar Akiko. Selalu ada muka-muka baru di antara para wanita di depan rumah-rumah bordil itu, dan semakin sedikit saja wanita yang telah kukenal sejak lama. Dan pada diriku pun terjadi perubahan.

Di masa lalu saya biasanya menyelinap masuk seperti anjing yang habis dipukuli, mendekap pelacur sedih bersimpati agar kami dapat menjilat luka kami. Saya tidak dapat merasakan adanya perbedaan antara diri saya dan daerah pelacuran itu. Kemudian saya berjalan mengitari daerah hitam itu dengan sikap yang tak berkekang moral. Dengan menegarkan semangat untuk mempertahankan sikap itu, saya amati wanita-wanita itu dengan teliti dan dengan sebesar-besarnya napsu kukerahkan.

Dan sekarang sikapku telah berubah. Kepahitan dan kekecewaan pada Akiko di bar telah menghitamkan pandanganku pada daerah pelacuran itu. Kepahitan ini berbeda dari yang sebelumnya akrab denganku. Saya berdiri pada tempat yang agak lebih tinggi dan aman serta memandang rendah kepadanya. Saya tidak merasa betah lagi di tempat pelacuran itu. Jalan-jalan berhias lampu neon telah mulai redup di mataku.

Perubahan perasaan terhadap Akiko telah menjadi perubahan sikap pada tempat itu. Saya tidak pernah yakin bahwa perasaanku terhadap seorang wanita mana saja akan terus sama, dengan intensitas sama. Jadi, mungkin berlalunya sang waktu seperti biasa telah membawa perubahan itu. Namun, ia mungkin juga merupakan suatu refleksi perubahan dalam hidupku. Perusahaan tempat saya bekerja berkembang pesat. Sebagai salah seorang stafnya, saya diperlakukan lebih hormat oleh orang-orang yang berurusan dengan saya, sehingga penghinaan jauh berkurang. Saya tidak menganggapnya sebagai peruntungan saya pribadi. Mungkin hal ini juga ada hubungannya dengan sikap saya yang berubah terhadap tempat pelacuran itu.

Karena kebiasaan, saya terus mengunjungi daerah pelacuran yang telah memudar di mataku. Saya memiliki harapan iseng bahwa, di antara para wanita yang sedang menunggu di sana, saya mungkin menemukan seorang yang tubuhnya akan membawa kenikmatan yang tak disangka-sangka. 

Tetapi para wanita itu mulai bersikap dingin terhadapku. Bukan karena menyadari bahwa saya telah berubah. Bahkan seorang wanita yang belum pernah kutemui sebelumnya memperlakukan saya dengan sikap benci yang dingin khas seorang perempuan sundal. Saya sering mengalami kepahitan tempat pelacuran itu.

Saya kira jika saya lebih bergairah dalam pencarian saya akan satu tubuh yang dapat memberiku kenikmatan, saya mungkin dapat menghindari pertemuan-pertemuan yang tak menyenangkan seperti itu. Tapi harapan itu sama saja sulitnya untuk dicapai. 

Saya biasanya mengikuti seorang wanita ke dalam kamarnya. Nafsu saya mulai mendingin. Saya biasanya terus berpikir tentang Akiko, dan ingat bahwa ketika ia di sini saya dapat memelihara birahi saya agar tetap berkobar. Kemudian kekuatanku sirna sama sekali.

SUATU MALAM, DALAM KEADAAN sedikit mabuk, saya berjalan melalui daerah hitam itu. Saya mendekati seorang wanita dan mengikutinya ke dalam. Ketika saya telah mengunjunginya sebelumnya, saya menjadi impoten waktu itu. Dengan ragu-ragu, saya mengucapkan: “Malam ini mungkin akan tidak baik juga.”

Wanita itu mendengar ucapanku, dan menatapku tajam. Ia ingat kejadian sebelumnya. Tiba-tiba ia menghentikan caranya yang lemah lembut dan melengking: “Mengapa kau datang ke sini? Pulang, sana!”

Ia mendorong saya keluar sepanjang gang menuju puncak tangga, dan kemudian ia dorong lagi dengan sekuat tenaganya. Dengan setengah sempoyongan saya menuruni tangga itu. Segenggam garam menghujani tubuhku ketika saya bergegas mengenakan sepatu untuk melarikan diri. Kristal putih menghujani sekujur kepala dan bahuku.

Ketika saya melewati rumah yang pernah ditinggal Akiko, satu-satunya wanita yang pernah kukenal di sana berteriak memanggilku.

“Akiko telah kembali!”

“Di mana?”

Ia menyebutkan sebuah rumah yang pemiliknya sama dengan yang ia huni. “Akiko telah jadi Madam (Germo).” Jadi, Akiko telah menjadi manajer rumah bordil itu.

Saya berjalan menuju rumah itu, mengulangi perkataan “Akiko telah menjadi Madam.” Berbelok memasuki jalan kecil itu saya berjalan menuju pintu belakang. Melalui sebuah kisi-kisi jendela saya dapat melihat Akiko di dalam membungkuk menghadapi sebuah sipoa. Ia mengenakan kacamata berbingkai merah.

Ketika saya mengetuk kaca jendela, Akiko menoleh dan melihatku. Ia tersenyum, melepaskan kacamatanya, dan mengizinkan saya masuk lewat pintu belakang.

“Saya datang ke sini lagi,” katanya, masih tersenyum.

“Apa yang terjadi dengan kekasihmu?” tanyaku, seraya membayangkan pria muda kekasihnya.

“Semuanya telah berlalu. Ia memberiku banyak kesulitan. Saya sendiri tidak begitu muda lagi, saya tidak bisa berdiri di jalanan itu untuk selamanya.” Akiko memandang sekilas ke ruangan di sekitarnya yang tampaknya merupakan kantornya. Saya tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

Akiko memecah kesunyian itu. “Sekarang dia mengatakan padaku bahwa saya harus membuka sebuah toko tembakau.”

“Siapa yang menyuruhmu begitu?”

“Tuan Kuroda.”

“Oh apakah Tuan Kuroda tahu tentang pria mudamu?
“Bagaimanapun, akhirnya ketahuan juga.”

“Kau harus memintanya mendirikan toko untukmu.”

“Saya kira kau benar. Begitu saya keluar dari sini, saya harus berbenah diri. Ada yang tak beres dari rahimku.”

“Kau harus menjaga diri sendiri dengan baik.”

Saya meninggalkan Akiko dan berjalan melewati tempat pelacuran itu menuju jalan-jalan di luar daerah itu. Saya berpikir tentang Kuroda. Ia tidak pernah berubah. Dan saya? Daerah hitam itu tidak membutuhkan saya, dan saya tidak membutuhkan daerah hitam itu. Dengan penuh kebencian terhadap diri sendiri, saya bergegas pergi. 

Dari : “In Akiko’s Room”
Alih Bahasa : Howard Hibbert
Sumber : Contemporery Japanese Literature

Yoshiyuki Junnosuke dilahirkan di propinsi Okayama pada 1924, dan dibesarkan di sebuah rumah tangga yang amat modern. Ibunya terkenal sebagai ahli kecantikan gaya Barat pertama di Jepang; ayahnya, Eisuke, mempunyai karier pendek sebagai penulis pelopor, kemudian menjadi seorang pialang saham dan menyingkirkan semua perpustakaannya kecuali tiga buah buku yang telah ditulisnya sendiri. Dibebaskan dari dinas militer karena penyakit asma, Junnosuke mempelajari sastra Inggris di Universitas Tokyo. Ia menggabungkan diri dalam berbagai perhimpunan sastra. Ia meninggalkan sekolahnya pada 1947 untuk bekerja sebagai anggota staf penuh dari sebuah majalah skandal Modern Japan (Modan Nihon). Pada tahun 1954, sewaktu dirawat di rumah sakit karena penyakit t.b.c, ia dianugrahi Hadiah Akutagawa untuk karyanya yang berjudul “Sudden Shower” (Shuu, diterjemahkan 1972), suatu cerita sensitif tentang suka duka seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang pelacur dan merasa jengkel pada kecemburuannya terhadap wanita itu.

Novel pertama Yoshiyuki, Street of Primary Colors (Genshoku no machi, 1956) juga tentang para pelacur dan langganannya, dan bersetting dunia malam yang bermandikan cahaya neon di Tokyo setelah perang. “Dalam Kamar Akiko” (Shofu no heya: secara harafiah, “Kamar Seorang Pelacur”) adalah versi yang lebih terfokus dari kisah Yoshiwara yang digemari sepanjang zaman.


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yoshiyuki Junnosuke yang dialihbahasakan oleh Howard Hibbert
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" Januari 1991 
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi