"Di Tanjung, Dekat Lapang, Ostrali" | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 22 Maret 2016

"Di Tanjung, Dekat Lapang, Ostrali"


WANITA itu seperti orang linglung. Matanya tak pernah diam, berloncatan dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti menunggu atau mencari sesuatu. Tak ada yang mencolok darinya. Tubuh kurusnya terbungkus baju terusan berwarna biru dengan kerudung berwarna senada. Wanita itu berdandan ala kadarnya.
Tak ada gincu -yang membuat bibirnya merah- ataupun maskara dan perona pipi. Siapa pun akan mengiranya badut jika berdandan seperti itu pada usianya saat ini. Usianya tak jauh berbeda dengan nenekku, paling hanya lebih muda dua atau tiga tahun. Sebenarnya wajar jika ia mengoleskan sedikit bedak atau gincu agar wajahnya tetap terlihat segar. Akan tetapi, tanpa itu semua, wanita itu masih tetap terlihat segar.

WANITA itu berdiri di sebuah persimpangan, tempat beberapa angkot sering berhenti untuk mengisi muatan. Terhitung lima angkot dengan trayek berbeda melewati persimpangan itu. Diam-diam, Acep memperhatikan wanita itu, tak jauh dari tempat wanita itu berdiri. Acep mengira, wanita itu tengah menunggu angkot atau mungkin anak cucunya yang akan menjemput, tetapi telat, sehingga ia kebingungan. Calon penumpang berulangkali menawarinya, tetapi wanita itu selalu menolak.

Selain Acep, hanya para sopir angkot dan calon penumpang yang hirau dna mau menghampiri wanita tua itu. Orang-orang yang berseliweran di persimpangan itu terlalu sibuk untuk sekadar memperhatikan, apalagi menghampiri, wanita yang tampak bingung. Acep hanya ingin menolongnya.

"Maaf, Ibu tersesat?" Acep bertanya tanpa ragu dan sangat sopan.

"Mmm." Wanita itu sangat rikuh. Matanya berloncatan dari satu tempat ke tempat lainnya.

"Ibu mau ke mana?"

"Pulang." Wnaita itu menjawab sekenanya, seolah-olah tak peduli dengan apa yang ia katakan.

"Oh. Di mana rumah Ibu?"

"Mmm, dekat dari sini."

"Oh ya? DI mana, Bu?"

"Itu... di Tanjung."

"Tanjung? Ibu mau pakai angkot atau nunggu yang mau jemput?"

"Mmm... tidak, dekat kok. Itu di sana." Wanita itu menunjuk pada arah tak jelas. Ia hanya mengacungkan telunjuk tangan kanannya dan mengibaskannya dengan cepat dan tangannya mendarat lagi di lipatan bajunya.

Di kota itu, terlalu banyak daerah bernama "Tanjung". Sekurang-kurangnya, terdapat tiga kecamatan yang memiliki desa atau daerah bernama tanjung. Acep merasa ada yang janggal dengan sikap wanita tua di hadapannya. Tak ada pikiran buruk. Namun, kini, rasa belas kasih mulai muncul dalam dirinya.

"Tanjung mana, Bu?" Acep sedikit penasaran, ingin mendapat kejelasan.

"Itu, dekat lapang." Wanita itu kembali mengibaskan tangan tak jelas arahnya. Dia tampak cemas, bahkan ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Acep. Matanya masih tak bisa diam, seolah-olah mencari sesuatu yang akan datang dari sudut jalan mana pun.

"Di situ, di Tanjung, dekat lapang, Ostrali."

**
ACEP sangat heran mendegar penjelasan wanita tua itu. Ia pun berpikir, ada yang slaah dengan wanita tua itu. Acep tak begitu heran dengan daerah bernama "Tanjung" ataupun dengan penjelasan "dekat lapang." Hal itu masih mudah dimengerti dan mungkin masih bisa ditemukan. Tapi, keterangan paling akhir yang membuat Acep sangat berpikir keras. "Ostrali", mungkin yang dimaksud adalah Australia, negara yang terkenal dengan Kanguru dan suku Aborigin. Sementara mereka berada di sebuah kota kecil, bukan salah satu kota di Australia.

"Ibu dari mana?" tanya Acep, mencoba lebih dalam mengetahui latar belakang wanita tua itu.

"Dari bank."

"Dari bank? Ibu masuk ke bank?"

"Enggak, cuma sampai di depannya saja."

Dalam kepala. Acep bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi pada wanita tua di hadapannya? Acep berpikir, wanita itu adalah korban kejahatan hipnotis. Modus perampokan dengan hipnotis saat ini sudah tidak terlalu terangkat oleh media, tapi masih banyak korban kejahatan itu. Ibu-ibu serupa wanita tua itulah yang sering menjadi sasaran bagi perampok semacam itu. Mereka memanfaatkan kebaikan dan kepolosan para janda pegawai negeri yang rata-rata dari daerah dan telah cukup tua. Acep sangat penasaran dan iba dengan apa yang terjadi dengan wanita tua di hadapannya.

"Ibu bawa dompet? Boleh saya lihat dompet ibu?"

Wanita tua itu menyodorkan dompetnya dan Acep meminta izin untuk membukanya. Acep menemukan sebuah amplop. Setelah meminta izin, Acep pun membuka amplop itu. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar uang mainan. Acep semakin yakin, wanita di hadpaannya adalah korban perampokan bermodus hipnotis.

Acep membayangkan bagaimana wanita tua itu keluar dari bank lalu dihadang oleh sekelompok orang yang mengelabuinya untuk mengambil sejumlah uang yang baru saja ia bawa dari bank. Pikiran Acep dikacaukan oleh bayangan eprampokan yang senyap dan diplomatis itu. Perasaan iba Acep semakin besar. Semakin besar pula ia ingin menolong wanita itu.

"Bagaimana kalau Saya antarkan saja Ibu pulang sampai ke rumah daripada Ibu sendirian di sini?"

"Mmm... tidak usah, dekat kok, di Tanjung, dekat lapang pokoknya, Ostrali."

Acep yang telah menaruh empati besar pada wanita tua linglung di hadapannya bersikeras untuk membawanya pulang. Wanita itu terus menolak setiap bantuan yang Acep tawarkan. Makan, minuman --yang semula Acep pikir akan mengembalikan ingatan wanita itu-- ditolak dengan halus dan tetap linglung.

Acep berpikir untuk membawanya ke kantor polisi. Mungkin polisi dapat membantu mengembalikan wanita tua itu kepada keluarganya. Ia yakin, wanita tua itu memiliki rumah dan keluarga yang menunggunya.

**
"SELAMAT siang, Pak. Sekarang saya bersama seorang wanita tua, tampaknya korban hipnotis, Pak, dan hilang kesadarannya. Apa yang harus saya lakukan, apa langsung saja saya bawa ke kantor?" Acep menelefon kantor polisi dengan telefon genggamnya.

"Kalau begitu, lebih baik Bapak menghubungi saja pos terdekat agar nanti bisa ditindak dulu di sana."

"Hmmm, baiklah kalau begitu. Terima kasih. Selamat siang."

Acep membawa wanita itu ke pos polisi terdekat. Ia bersusah payah untuk meyakinkan wannita tua itu agar mau ikut dengannya. Selama perjalanan, sesekali, wanita itu menegaskan lagi bahwa ia akan pulang ke Tanjung, Ostrali.

Sekitar 200 meter selepas tikungan dari tempta mereka berdisi tadi, ternyata ada sebuah pos polisi. Acep pun menghampiri petugas yang ada di sana lalu memaparkan maksud, alasan-alasan, dan segala kecemasannya terhadap wanita itu.

"Baiklah kalau begitu, Anda bawa saja wanita ini langsung ke kantor. Hal seperti ini bukan bagian kami. Kami ini bertugas mengatur lalu lintas."

Sontak acep menjadi lemas mendengar penyataan polisi itu. Acep sangat kecewa, tetapi tidka bisa berbuat apa-apa. Matahari semakin terik dan jalan masih sama seperti sesaat sebelum mereka bergerak menuju pos polisi itu. Kekecewaannya ia biarkan terpanggang oleh matahari yang begitu terik, siang itu. Acep berpikir keras bagaimana ia harus menolong wanita itu.

Sesekali, wanita itu menjelaskan lagi ke mana ia akan pulang, "Tanjung, dekat dengan lapang, Ostrali."

Kantor kecamatan akan mereka lewati sebelum kembali ke persimpangan tadi. Kantor itulah yang selanjutnya akan Acep tuju. Di sana, ia berharap akan menemukan identitas wanita tua itu. Apalagi, tentunya, kantornya itu menyimpan basis data kependudukan.

"Saya bertemu dengan wanita ini di persimpangan depan dan ia tampak kebingungan. Siapa tahu Bapak biasa menolong?"

"Oh iya, tadi saya lihat juga orang ini di depan kantor. Sempat saya tanya, tapi saya tidak mengerti apa yang dia katakan. Sepertinya ibu ini linglung. Saya usir saja daripada mengganggu aktivitas kantor ini."

Acep tercengang mendengar penjelasan pegawai kecamatan. Kekecewaannya berkali-kali lipat daripada apa yang ia dapat dari polisi sebelumnya. Dalam kepalanya, ia masih yakin bahwa wanita yang ditolongnya merupakan korban aksi kejahata, bukan orang gila.

Bolak-balik Acep berpikir, apa mungkin di kota itu sudah tidak ada rasa kemanusiaan yang tersimpan dalam setiap diri penghuninya. Begitu sulit untuk dapat berbuat baik pada seorang sedang mendapat musibah. Acep pun membawa wanita itu keluar dari kantor kecamatan. Tak ada sikap yang berubah dari wanita itu. Matanya masih sama, langkahnya seperti tak punya tujuan. Udara panas membawa mereka ke tempat semula, di mana pad amulanya semua terasa biasa saja.

"Benar Ibu tak mau saya antarkan ke rumah Ibu sekalian?"

"Iya, dekat kok, di situ, di Tanjung, dekat lapang pokoknya, Ostrali!" Acep menghela napas setiap kali mendengar penjelasan yang sama dan tetap tak ia mengerti.

"Ya sudah kalau begitu. Ini... di makan rotinya, siapa tahu Ibu lapar di perjalanan."

Acep menyodorkan sebungkus roti yang sempat ia beli dalam perjalanan kembali. Wanita itu mencubit sedikit roti tersebut --setelah melakukan beberapa penolakan-- lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Nah, ini uang beberapa rupiah buat Ibu. Siapa tahu Ibu butuh untuk ongkos. Tidak banyak, tapi cukup untuk ongkos angkot."

"Wah, ini mah uang luar negeri. Uang Brasil. Apa laku di sini?***

Fuad Jauharudin, lahir di Garut, 15 Januari 1993. Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terlibat dalam beberapa komunitas teater, baik di dalam maupun di luar kampus, di antaranya Postheatron Garut, Sangsetia, Celah-celah Langit BDG, Teater Istiqomah BDG, dan Cd Teater Jurdik Satrosia UPI. Sesekali menulis puisi-cerpen, bahan skripsi.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fuad Jauharudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 20 Maret 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi