Dia yang Tinggal di Tubuhku ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 07 Maret 2016

Dia yang Tinggal di Tubuhku


DI depan meja pengadilan ini aku sedang merenungi segala yang telah terjadi . Semua perbuatanku berseliweran di depan mata. Penyesalan meruah dalam dada. Ke manakah dia yang selama ini mengajakku melakukan semua kenekatan itu? Kenapa sekarang sepi? Bukankah dia yang seharusnya mengajukan semua alibi di depan semua tuduhan ini?

***
HAL itu mulai kusadari ketika umurku beranjak 15 tahun. Mula-mula kuanggap sebagai investasi dari pemikiran yang tersumbat di dalam, keinginan-keinginan terpendam, atau kadang efek halusinasi. Tapi lama-kelamaan aku merasa ini semakin menguat. Sampai aku pernah mendatangi seorang psikolog dan meminta beberapa saran agar bisa hidup tenang dan terutama tidur nyenyak.

Bukan lantaran kesepian, bantahku kepada psikolog tua itu. Sebab aku juga senang kumpul dengan teman-teman. Hanya saja di sekolah, kadang aku merasa menjadi seorang Sam yang lain. Sam yang lebih dari semua teman. Sam yang kelak di suatu hari akan menjadi seorang yang luar biasa, dan karena itu ia harus bertindak begini dan begitu. Yang menjadi sasaran empuk biasanya adalah mereka yang berkumpul dan riuh membicarakan ini itu. Entah mengapa aku merasa tertantang dan merasa bisa mengalahkan semua omongan mereka.

Hal itu terjadi berkali-kali, hingga kadang aku merasa itu bukan perbuatan diriku sendiri.

"Cobalah untuk menerima itu agar kau terbiasa dan tak merasa aneh lagi," ujar psikolog tersebut, seraya menyodorkan sebutir apel, demi mencairkan suasana.

"Terbiasa menerima keanehan?"

"Jika kau menganggapnya aneh, maka tentu saja ia menjadi aneh."

"Jadi semuanya hanya soal anggapan?"

"Anggap saja ia teman imajiner," sahut lelaki gaek itu.

"Tapi kadang ia memberikan saran yang negatif."

"Jadikan ia teman diskusi."

"Saat aku sedang kalut, ia bahkan sering menguasaiku."

"Jadi kau harus mengenali tabiatnya."

"Jadi ini bukan keanehan?" tanyaku sekali lagi.

"Hanya jika kau menganggapnya aneh."

"Baiklah."

***
PAGI itu aku kembali merasa asing dengan diriku sendiri. Ketika beberapa anak buahku datang menjemput, dan kemudian berpamitan dengan istri. Kedua kakiku terasa berat melangkah. Ada rasa enggan yang membebani.

"Kita akan sedikit telat, Pak," ujar salah seorang anak buahku. "Acara sudah dibuka sejak jam delapan. Sementara lama perjalanan kurang lebih satu jam. Semoga saja ini tidak mengurangi kepercayaan mereka terhadap bapak." Dia memberikan penjelasan. Menyodorkan peta suasana yang akan kuhadapi. Serta mengulurkan garis besar permasalahan yang akan bahan pidato nanti.

Saat dalam perjalanan, kepalaku perlahan terisi tambahan-tambahan materi yang aku perlukan untuk meyakinkan massa yang hadir. Seperti bank data yang dalam hitungan menit langsung menyajikan informasi-informasi tambahan. Dalam hati aku memuji kejeliannya mengamati segala informasi yang disajikan televisi dan koran-koran setiap hari. Tak hanya informasi seputar segala hal yang bisa digembungkan dengan janji-janji mencerahkan di masa depan, tapi juga informasi seputar apa saja yang sudah dilakukan oleh para pesaingku; apa saja kekurangannya, untuk kemudian aku koyak-koyak di atas podium.

Aku mulai merasa telah menguasai massa yang akan kami kunjungi. Mendapatkan tepuk tangan meriah, dan tertama simpati. Sungguh amat mendebarkan dan terasa menyenangkan. Tak peduli entah bagaimana nanti jalan untuk mewujudkan janji-janji itu. Tentu saja, yang penting adalah omongan dahulu.

Tapi, tak pernah ada yang tahu, bahwa ketika namaku diteriak-teriakkan secara heroik, "Hidup, Pak Abdul!" 'Pak Abdul pemimpin masa depan kita!' kadang aku tersingkir dalam keterasingan, sedikit kebingungan, dan bahkan ketakutan. Aku tahu bahwa apa-apa yang terucap kala itu adalah omong kosong belaka. Hanya untuk mengail simpati. Sementara besok-besok hampir lupa lantaran kondisi yang sudah berbeda.

Aku pernah mericuhi kecerobohan itu. Melarang diri sendiri untuk berkata bohong, sebab aku tahu kebohongan akan selalu berakhir buruk. Tapi kemudian ada yang terbelah di dalam sini. Kami bertengkar. Ia menudingku penakut yang tak bertanggung jawab  demi menyejahterakan keluarga. Sementara yang satunya terus saja ribut memperingatkan bahwa polahkuitu bisa saja menjerumuskan keluarga. Pertengkaran itu tak pernah menemukan titik temu, sehingga kadang amat mengacaukan si Abdullah ini. Efeknya adalah kelakuan yang tidak-tidak. Saat orang-orang melihatku di diskotek, tempat karaoke, tempat biliar, atau bengong di sebuah kafe, itu pertanda aku sedang kalut dan dikuasai oleh sesuatu yang tak aku mengerti.

***
ADA saat-saatnya juga perasaan tenang mengendapi dadaku. Misalnya saja ketika partai kami sedang mengadakan kegiatan sosial seperti menolong korban bencana alam, menyantuni perkampungan miskin, dan lain sebagainya.

Tapi, itulah masa-masanya ketika dia akan kembali.

"Kau harus memikirkan keluargamu," ujarnya

"Tapi itu uang siapa?"

"Kesempatan ini ada lantaran kau memang layak mendapatkan kesempatan itu. Jangan disiakan!"

Dia akan terus mendesak hingga aku  terdesak pada sebuah keputusan. Ketika kepala sedang kacau, kadang aku memilih sebuah keputusan yang membuatku merasa asing dengan diri sendiri. Aku kerap merasa tubuhku telah direbut oleh orang lain. Betapa anehnya! Lantaran kenyataannya memang tak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada aku dengan segala carut-marut pikiran yang menghantam-hantam.

"Malulah dengan dirimu sendiri."

"Kenapa aku mesti malu?"

"Apa kau lupa dengan sumpahmu waktu itu? Bahwa kau berjanji akan menjaga amanat itu sebaik mungkin, bahwa kau akan memperjuangkan dan mendahulukan kepentingan para pendukungmu."

"Aah, itu kan urusan waktu itu."

Kadang aku kehilangan diriku sendiri, lantaran ia begitu lihai melilit dan berkelindan di dalam sini. Dia mengetahui detail diriku, tahu apa-apa yang aku butuhkan dan inginkan. Begitu. Selalu.

***
KINI, di depan meja pengadilan aku terpaku. Hasil keputusan sidang yang telah dibacakan membuatku sempoyongan. Aku bisa melihat istriku yang berkali mengusapkan sapu tangan ke wajah. Anak perempuanku terlihat ikut menangis. Dan ketika tubuhku yang digelandang paksa melewati mereka.

"Apa yang sebenarnya Mas lakukan waktu itu?" tanyanya, setengah teriak. Tak lagi mempertimbangkan rasa malu.

Aku tertunduk saja. Suaraku seperti telah hilang sejak hakim membacakan bukti-bukti kesalahan yang tak bisa kutolak. Kepalaku kosong melompong, hingga aku merasa seperti orang linglung. Yang paling kuingat, saat itu sering terjadi pertengkaran di dalam sini, di dalam dadaku yang sekarang terasa sempit ini. Aku merasa ada orang lain yang tinggal di sana, dan selalu berusaha mencampuri segala urusanku. Aku merasa, dialah yang seharusnya patut disalahkan, dialah yang patut tanggung jawab.

Tapi, entah mengapa sekarang dia menghilang. Entah di mana dia sembunyi.❑ - k

Kalinyamatan Jepara, 2015


Adi Zam-zam (Nur Hadi): tinggal di Desa Banyuputih RT/RW 11/03 No 79 gang Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara 59468.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zam-zam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 6 Maret 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi