TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Friday, 18 March 2016

Erosi

1

SETELAH SEPULUH TAHUN DI JAKARTA, BUDI berhasil memiliki telepon di rumahnya. Perjuangan yang cukup pendek, mengingat banyak orang seumur hidupnya di ibukota, jangankan punya telepon, makan saja berantakan. 

Memiliki telepon berarti memiliki sebuah rumah terlebih dulu. Tapi sebuah rumah tak terlalu menuntut sebuah telepon seandainya tak ada kepentingan terlalu mendesak yang tak mungkin terselesaikan dengan kecepatan mobil. Dari sudut itu, orang boleh bilang Budi sudah berhasil. Jadi sudah sepantasnya, seluruh keluarganya di seberang bangga pada lelaki yang gigih dan teliti ini. 

Walhasil baru setelah memiliki rumah, mobil dan urusan yang mendesak-desak, Budi memutuskan dan berjuang untuk memiliki telepon. Tapi untuk itu, sebagaimana juga selalu dilakukannya kalau membeli barang-barang baru, ia harus membuat pledoi yang panjang. Semacam upacara pembersihan. Untuk menenangkan perasaannya sendiri dan perasaan orang tua serta sebagian besar keluarganya yang masih menderita di seberang. 

“Telepon buat saya bukan barang mewah, tetapi alat untuk bekerja, seperti sepeda atau pacul. Jadi masalah efektivitas dan efisiensi. Sebagaimana juga mobil dan rumah, atau kulkas, mesin cuci dan sebagainya, termasuk sound system, video, televisi maupun radio. Dulu itu merupakan kebutuhan sekunder, tapi sekarang dalam konteksnya dengan profesi saya, itu jadi primair. Kenapa? Dengan memiliki rumah, ketenangan terjamin dan biaya jatuhnya lebih irit, meskipun memang waktu membeli beratnya bukan main mengingat harga rumah di Jakarta seperti setan,” kata Budi kepada lima orang keluarganya yang kebetulan datang ke Jakarta. 

Keluarga Budi yang baru pertama kali ke Jakarta untuk mengantarkan anaknya mencari sekolah itu, manggut-manggut tulus. Mereka berusaha untuk membenarkan apa saja yang dikatakan oleh tuan rumah, karena mereka merasa menumpang hidup beberapa hari. Tapi Budi tak suka melihat basa-basi itu. Ia terus mencoba memberikan penerangan. Ia ingin mereka benar-benar mengerti posisi dan sikap hidupnya, sehingga nanti dapat bercerita akurat kalau pulang. 

Seperti kata istri Budi, “Supaya keluarga di rumah jangan mengharapkan yang tidak-tidak, agar mereka tahu, hidup kami di Jakarta masih terus terancam sehingga membutuhkan perjuangan, jadi kalau kami kurang ada waktu memperhatikan keluarga di daerah, jangan menyangka kami sudah lupa kepada mereka, karena kami sendiri sedang sibuk menolong diri kami untuk tetap hidup.”

“Telepon, sebagaimana juga mobil,” kata Budi melanjutkan, “adalah perangkat hidup di kota. Dengan telepon kita mengunjungi orang lain, membuat perundingan, atau saling sapa-menyapa. Karena kalau datang langsung mungkin kita tak punya waktu atau mereka yang tak punya waktu dengan kita. Lagi pula dengan telepon, karena kita tidak melihat muka masing-masing, kita bisa lebih bebas bicara. Kadang-kadang banyak urusan sulit bisa diselesaikan lewat telepon, karena kata orang lewat pesawat telepon biasanya pikiran bisa lebih cepat disampaikan, karena suaranya langsung dekat dengan otak. Lho, ini tidak main-main, banyak buktinya, kok.”

Semua tertawa. Budi menoleh istrinya, tapi wanita itu membuang muka.

“Maaf saya melucu sedikit,” sambung Budi cekatan, “supaya jangan terlalu tegang, silahkan makan kuenya. Ada yang mau nambah kopi? Atau mau coba minum bir? Ambil saja di kulkas, tak usah sungkan-sungkan, anggap saja di rumah sendiri. Di situ juga ada rambutan atau apa begitu, ambil saja. Tapi kembali pada soal telepon, ini sama sekali bukan barang mewah, seperti kalau kita punya pesawat telepon di pedalaman sana. Di kota seperti Jakarta ini telepon penting sekali. Penting saya katakan, karena bukan saja dengan satu atau dua juta rupiah yang kita keluarkan untuk mendapatkan nomor telepon, kita dapat melancarkan urusan-urusan lain kemudian hari yang mungkin nilainya jauh lebih mahal. Tapi juga dengan mengetahui rumah kita berisi telepon orang mau tak mau sedikit memperhitungkan diri kita. Semacam gertak begitu. Ha-ha-ha.”

Semua ikut tertawa. Kecuali nyonya rumah. Ia pura-pura tak mendengar. 

“Saya tidak melucu. Di masyarakat seperti Jakarta ini, gertak-gertak begitu semacam perangkat hidup yang mutlak. Kekayaan menjadi kebutuhan hidup bukannya kemewahan. Itulah yang menjadikan kegunaan barang-barang berbeda. Telepon misalnya harus selalu menunjukkan kegunaannya, karena kalau tidak, ia akan menggerogoti. Karena itu pesawat tidak kami bebas pakaikan pada anak-anak kami seperti orang-orang lain. Karena telepon bukan untuk main ngobrol-ngobrol kosong tapi untuk senjata hidup. Karena kami bukan orang kaya. Segala sesuatu harus dilihat dengan teliti berguna atau tidak. Banyak barang-barang berguna yang kemudian justru menjadi barang kemewahan yang memboroskan uang, karena kita tidak tahu mempergunakannya. Misalnya kamera. Banyak orang membeli kamera mahal, tetapi tidak dipergunakan, hanya untuk menghiasi rumah. Itu namanya mencari status sosial. Tapi coba lihat, fotographer tetangga kita itu misalnya, namanya Ali, meskipun rumahnya sederhana, tetapi dia memiliki beberapa kamera lengkap dengan segala macam ukuran lensa, bahkan dia punya alat untuk developing, yang harganya total puluhan juta. Tapi semua dia pergunakan untuk mencari nafkah, jadi bukan barang mewah. Ya seperti telepon saya ini sedikit banyak. Harganya dan kegunaannya membuat dia jadi barang murah. Itu yang biasanya tak diketahui oleh orang lain, sehingga begitu mendengar kami pasang telepon, semua kasak-kusuk mengatakan kami kaya. Ck-ck-ck!”

“Benar,” sambut istri Budi, “seperti waktu kami beli mobil dulu, semua menyangka kami ini kaya. Padahal mobil itu dibeli untuk kepentingan kerja. Masak kemudian ada yang mau pinjam untuk piknik. Ada juga yang mau pinjam untuk menjenguk keluarganya di bilangan Kebayoran. Lho mbok ya naik taksi atau naik bus. Ini mobil dibeli kan bukan untuk senang-senang tapi untuk kerja. Coba pikir, tetangga itu selalu begitu. Hanya melihat kulit saja. Dibaikin ngelunjak, dijauhin kita dianggap kita tak mau bermasyarakat. Bukannya tak mau, tapi bagaimana kalau hanya akan membuat salah paham. Wong kita juga masih susah mengurus anak mau sekolah, biaya ini, biaya itu, mereka malah melihat kita seperti bank. Susah deh hidup di sini. Ya kan pah?” Budi nyengir.

“Ini juga seperti waktu kami beli kulkas kami yang kedua, dulu. Ya kulkas itu kami beli karena kami tidak ingin setiap hari ke pasar, jadi menghemat tenaga begitu. Lho kok ada tetangga yang datang minta dibuatkan es mambo di sini. Itu lho, sirup warna-warni yang ditaruh di dalam plastik kecil-kecil, tahu, kan? Ya itu. Ya mula-mula kami terima. Tapi kemudian kok setiap hari minta dibikinin es mambo. Saya jadi curiga. Setelah dicek, lho es mambonya dijual. Curang nggak. Lucunya anak saya malah ada yang beli es mambo di ujung jalan itu, padahal esnya dari sini, curang kan?!”

Para tetangga menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

“Betul lho. Saya jadi marah. Tapi ya bagaimana? Mau menolak susah, dikira tidak mau bermasyarakat. Akhirnya kami bilang saja kulkas rusak. Tapi dasar nekat, orangnya tak percaya, mereka datang pura-pura mengantar kue kemari. Ya terpaksa kulkas kami matikan satu minggu. Baru sesudah mereka lihat kami beli es batu tiap hari, mereka kapok. Belakang kami lihat suaminya pulang membawa kulkas. Rupanya dia keki, mau menunjukkan gigi. Boleh saja. Itu malah baik. Kami yang ikut senang. Dia lalu meneruskan jual es mambo dengan kulkasnya sendiri. Malah di pintu rumahnya dipasang mereka es mambo berdikari, begitu. Ya kami tak keberatan, asal dia pakai kulkasnya sendiri. Tapi satu bulan kemudan dia mulai mengeluh, karena tagihan listriknya melonjak. Belum lagi tetangganya sendiri kemudian datang minta dibikinin es mambo. Persis seperti ketika mereka dulu minta dibikinin es di sini. Ha-ha-ha. Nah baru dia pusing tujuh keliling. Tak lama kemudian kulkasnya dijual lagi kepada tetangga yang lebih mampu. Nggak tahu apa pemilik baru itu kemudian juga mengkaryakan kulkas itu dengan es mambo. Ha-ha-ha. Ya kami tak ada waktu mengikuti semuanya. Lain dengan kalau kita di pedalaman, apa-apa kita kuntit terus, karena tak ada kesibukan lain. Di sini segalanya secukupnya saja diperhatikan. Jadi itu lho, jangan dikira barang-barang ini kemewahan, tidak, ini kan kebutuhan hidup. Just a tool, kata orang.”

“Kembali pada telepon,” potong Budi mengembalikan pokok pembicaraan, “waktu mereka tahu di sini ada telepon wah lucu-lucu kejadiannya. Kita sering terpaksa bangun pagi-pagi buta atau tengah malam, karena ada yang mau nelpon atau dapat telepon. Tanpa permisi-permisi lagi banyak tetangga yang memasang nomor telepon kami sebagai tempat kalau ada yang mau kirim pesan. Kalau ada yang sakit atau ada yang meninggal, tiba-tiba telepon mereka semua jatuh kemari. Waduh kami jadi amburadul. Jadi kami lebih banyak mengurusi keperluan orang daripada mengurusi keperluan sendiri. Kalau anak-anak sendiri yang mau pakai telepon sembarangan, kami bisa larang, tapi kalau tetangga ya kami sungkan. Habis ngakunya penting, padahal cuma mau gombal-gombalan janjian nonton bioskop. Kacau deh! Apalagi kalau giliran. Akhirnya kami beli boks koin, jadi setiap ada yang mau pakai telepon kami, harus bayar. Tapi … hal itu justru akan bikin kami tambah pusing. Bagaimana tidak. Langsung besoknya rumah ini seperti kantor telepon umum. Nggak pernah sepi. Kalau masih satu dua yang kita kenal sih nggak apa. Eh, lebih banyak datang para pembantu yang mau nelpun pembantu lain lalu ngobrol sampai satu dua jam. Kita bukan saja terganggu tapi juga sebel. Lihat aksinya waktu nelpun melebihi nyonya-nyonya gedean. Di tangannya pasti sudah ada segenggam coin. Kami tersiksa betul mendengar obrolannya yang murahan.”

“Masak banyak yang gombal-gombalan dengan tuan rumah. Makanya langsung saja kami bilang rusak!” sambung istri Budi ketus, “di depan dipasang telepon yang rusak, jadi tak ada lagi yang bisa pakai. Telepon yang bener kami umpetin di dalam kamar. Tapi ini rahasia, jangan bilang-bilang sama mereka, nanti kita dilemparin batu. Habis bagaimana lagi. Setelah dibilang rusak-rusak begitu, baru mereka sadar. Habis telepon umum kan ada di ujung jalan situ, ya jalan sedikit ke situ, masak telepon pribadi yang dirusuhi. Itulah mental bangsa kita. Selalu merasa hidup orang lain lebih enak, lalu maunya ngerecoki. Ini kan telepon untuk bisnis. Nah kalau sudah dikerasin sedikit seperti itu, baru diam, tak berani lagi pinjam-pinjam sembarangan. Memang hidup di Jakarta ini harus berani tegas-tegasan, kalau tidak wah, susah. Beda dengan di daerah. Beda sekali. Silahkan. Silahkan makan kuenya lagi!”

Semuanya menggeleng-geleng sambil mengucapkan terima kasih dan menunjuk perutnya tanda kenyang. Setelah mendengar berondongan moral hidup ibukota, orang-orang dari daerah itu merasa seperti tak punya selera. Mereka jadi kikuk dan segan, kalau-kalau menyalahi aturan. 

Budi mencoba memecahkan suasana tegang itu. Dengan demonstratip ia meraih kue-kue dan melahapnya dengan buas, seakan-akan ingin mendorong keberanian orang-orang itu untuk mengganyang suguhan. Istrinya melengos lagi karena biasanya suaminya itu sama sekali tak suka kue. 

“Ayo ganyang lagi,” kata Budi dengan mulut penuh kue. “Jadi semuanya barang-barang yang ada di sini boleh dikatakan terpaksa harus dibeli karena diperlukan. Televisi dan video misalnya sebagai contoh. Dengan menyewa sebuah film video seribu rupiah, seluruh keluarga sudah bisa nonton. Sedang kalau nonton bioskop seribu satu ribu buat satu orang, karcis saja belum cukup. Belum pengangkutan dan beli minum. Jadi dengan perhitungan semacam itu, segalanya lalu kami coba adakan di sini karena kami sadar betul bahwa kami ini miskin.”

“Betul,” potong istri Budi, “kalau kata orang kami ini kaya, kami tidak perlu beli rumah. Tinggal saja di hotel, atau di apartemen mewah yang sekarang banyak dibangun, seperti di hotel Hilton di Senayan atau di Ratu Plaza itu. Mewah dan tak usah repot membersihkan. Tak usah punya mobil. Naik taksi saja ke mana-mana. Nyuci, masak juga tak usah, bawa saja ke penatu dan beli makanan di restoran. Sekarang ini kalau ada uang apa saja gampang. Tapi karena kita tidak punya uang, terpaksa kita harus membeli semuanya untuk kebutuhan kita, supaya lebih murah, ya kan begitu? Kalau tidak pintar-pintar begitu nggak bisa, wah susah hidup di Jakarta ini.”

Kembali semuanya nyengir. Budi cekakakan sendiri, mencoba terus mengencerkan suasana, tapi tak berhasil. 

“Jadi karena sadar akan kemiskinan kami, terpaksa kami beli semuanya ini,” ulang istri Budi kembali dengan suara jelas seakan-akan ia ingin agar setiap yang hadir mematri itu di kepalanya, “segalanya ini adalah perangkat hidup. Mahal sekali, kami sampai jatuh bangun untuk membelinya. Karena itulah sampai sekarang kami masih tetap hidup prihatin. Ya secukupnya, seadanya saja. Seperti inilah. Orang sudah punya rumah di Pondok Indah, di Simprug, di Bumi Serpong, kami masih saja di sini karena segalanya serba susah. Ingin sebetulnya membeli apa-apa di kampung atau membelikan ibu dan bapak apa-apa, sebagai balas jasa mereka membesarkan kami dulu. Tapi begitulah, kami masih sedang berjuang supaya bisa tegak. Mudah-mudahan nanti kami bisa berbuat sesuatu. Sekarang kami benar-benar sedang prihatin ini. Betul nggak Pak?”

Semuanya mengangguk. Ketika salah seorang menguap, yang lain ikut menguap. Lalu mereka minta diri untuk tidur. Budi dan istrinya menawarkan agar mereka ikut nonton film video silat yang baru saja dipinjam. Tapi semuanya memilih mundur ke dalam kamar, supaya beristirahat. 

“Tapi video ini sengaja dipinjam untuk dilihat sama-sama, kalau cuma dilihat beberapa orang kan rugi kita. Listriknya itu lho, ayo nonton dulu!”

Mereka bisik-bisik. Akhirnya semua setuju untuk nonton dulu sebelum tidur. Mereka tak tega menerima desakan tuan rumah. 

Ketika semua mulai merubung pesawat televisi, sementara tuan rumah menyiapkan kaset video, Susy anak Budi yang paling tua mendekati pesawat telepon, Budi langsung melirik. 

“Mau nelpon siapa Susy?”

Susy yang sudah mengangkat gagang telepon menjawab acuh tak acuh. Suaranya tak jelas. 

“Susy! Kalau mau nelpon kawan-kawan kamu urusan nonton pakai telepon umum saja di sana!”

Sekarang Susy tercengang. Ia menatap bapaknya seperti tak percaya. 

“Apa Pah?”

“Urusan hura-hura pakai telepon umum! Ini pesawat untuk kerja!”

Susy tercengang, langsung membanting telepon itu. 

“Ada apa sih di rumah ini sekarang? Kampungan!”

“Susy!”

Tapi Susy sudah kabur sambil menggerutu.

2

SELURUH RUMAH SUDAH TIDUR, kecuali Budi. Ia duduk di ruang tengah menunggu Susy kembali. Anak itu sangat berbeda dengan anak gadis yang dibawa keluarganya untuk mencari sekolahan di Jakarta. Susy anak ibukota. Produk baru. Tingkah laku Susy juga amat berbeda dengan tingkah laku anak-anak di masa Budi remaja di kampung.

Susy memberontak terhadap apa saja. Ia benci kepada seluruh dunia. Dia merasa berhak berbuat segalanya. Kadangkala Budi sendiri takjub menghadapi perkembangan Susy. Kendati mengaku sanggup tatanan nilai hidup modern—sebagaimana yang telah diceramahkannya tadi—menghadapi manusia produk modern seperti Susy, ia kewalahan.

“Kamu sih yang selalu bikin gara-gara!” damprat istrinya di kamar tadi, setelah selesai nonton televisi. “Masak anak pegang telepon saja tidak boleh. Barangkali urusan penting. Ngabur deh sekarang. Ntar kalau tidak pulang, jangan dibiar, harus cari sampai ketemu. Sekarang banyak kasus anak hilang, nanti seperti Christine. Jangan seenak perut kamu Pah!”

Budi meraih majalah dari bawah meja. Ketika ia hampir tenggelam dalam kisah nyata tentang seorang ibu yang melahirkan anak dari benih lelakinya sendiri, salah seorang saudaranya dari kampung keluar mencari kamar kecil. Budi cepat melempar majalah itu, lalu meraih tas kantornya dan mengeluarkan map-map. Ia pura-pura asyik bekerja. Pura-pura tak mendengar saudaranya itu menyapa, mengucapkan selamat tidur. Sampai kemudian pundaknya dicolek.

“Sudah malam, kenapa tidak tidur. Jangan terlalu keras bekerja, nanti sakit.” 

Budi pura-pura terkejut. 

“Oh tak apa. Ini sudah biasa. Tidur sajalah, saya mau menyelesaikan ini dulu. Silahkan tidur saja.”
Saudaranya itu menggeleng-gelengkan kepala sambil melirik ke map-map bertumpuk di depan Budi dengan rasa kagum.

“Begitu rupanya tiap malam, makanya tak sempat pulang.”

Budi tersenyum, pura-pura tak terdengar, lalu meneruskan bekerja. Mukanya kelihatan berseri-seri dan dadanya berdebar karena senang. Ia juga masih mendengar bagaimana saudaranya itu bisik-bisik dalam kamar. Bahkan sempat diliriknya pintu terkuak sedikit dan saudaranya yang lain mengintip keluar. Budi makin tekun mencoret-coret.

Kemudian telepon berbunyi. Budi melonjak, langsung mengangkatnya sebelum sempat berbunyi untuk kedua kalinya. 

“Susy?!”

Terdengar suara tertawa di sana.

“Siapa ini? Mamang ya!”

Budi menggerutu. Dengan segan ia meladeni kawan lamanya itu ngobrol. Kemudian ia menguap dan mengaku lelah. Tapi kawannya itu masih tak mau melepaskannya. Setengah jam kemudian baru dibiarkannya Budi meletakkan gagang telepon. Budi menghempaskan punggungnya kembali ke kursi. Ia menyesal mengapa tak mengikuti anjuran Amak. Sekarang ia banyak menerima telepon dari kawan-kawannya yang hanya ingin ngobrol.

“Punya telepon berarti memasuki hidup baru, ada suka dukanya,” kata Amak menasehatinya ketika ia belum memiliki telepon. “Sukanya tak usah diceritakan, alami saja nanti sedikit demi sedikit. Tapi dukanya, harus diketahui supaya tidak usah mengalami. Telepon itu ular di dalam rumah yang membelit kita dengan macam-macam kesulitan. Karena itu: jangan memberikan nomor telepon kepada semua orang. Jangan mencantumkan nama di buku telepon. Ini untuk ketenangan kamu sendiri. Itu syarat utama. Selanjutnya kalau terima telepon tanya dulu siapa yang bicara. Kalau orang itu ganti bertanya, jangan mengatakan siapa kamu. Ini untuk menjaga supaya tak usah bicara dengan orang yang tak kamu sukai. Paling tidak kalau ada yang mencari kamu, lebih baik kalau umumnya bilang tak ada, kecuali kalau kemudian ternyata orang itu berguna untuk kamu. Sementara itu kalau menghubungi orang ingat, orang ingin menghubungi itu pasti ada meskipun orang yang menerima telepon mengatakan ia tidak ada di tempat. Kalau memberikan pesan, berikanlah pesan sebagaimana kamu bicara kalau dia itu ada di sekitarmu. Mungkin dia ikut mendengarkan suaramu dengan pesawat lain. Jadi ….”

Telepon berdering lagi. Budi membiarkannya sampai berdering tiga kali, baru mengangkatnya. 

“Hallo!”

“Hallo, ini Papa ya?!”

Sebelum Budi sempat menjawab, Susy langsung menyerang. 

“Papah, Susy nggak ngerti mengapa Papa tidak boleh pakai telepon. Gara-gara saudara-saudara dari kampung itu, semuanya jadi brengsek. Suruh mereka pulang cepat. Susy tidak mau pulang sebelum mereka pergi!”

Ceklek.

Budi langsung menelepon sebuah nomor. Ia tahu Susy pasti ada di rumah pacarnya. Tepat.

“Susy, Papa ini sedang pusing memikirkan pekerjaan. Kalau orang pusing, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, seperti Papa Mary juga kan. Tapi Papa kan tidak sampai main pukul seperti Papanya Mary itu, kan?! Papa hanya minta jangan memakai telepon di depan tamu. Ini maksud Papa supaya tamu-tamu kita mengerti bahwa telepon itu adalah alat untuk bekerja. Ngerti nggak maksudnya. Kalau tidak bagaimana kalau mereka nanti pakai telepon kita seharian. Namanya orang dari daerah, belum biasa lihat telepon. Kalau ada telepon pasti akan mereka pakai terus. Ngerti nggak?”

Susy membantah. Percakapan jadi seru. Setengah jam lamanya Budi berdebat dan membujuk. Setelah satu jam baru Susy dapat ditaklukkan. Ia tidak jadi minggat. Ia akan pulang pakai taksi, dengan syarat ia boleh memakai telepon kapan saja dan nelpon ke mana saja, dalam waktu yang tak terbatas. 

Budi menarik nafas dalam-dalam. Dadanya plong ketika meletakkan gagang telepon. Ia tak perlu mondar-mandir ke seluruh kota, menelpon sederetan nama mencari Susy, sebagaimana biasanya. Ia merasa hidupnya sudah seperti pelawak.

Sebuah suara berat terlempar dari samping.

“Ck-ck-ck, jangan terlalu berat bekerja. Ini sudah malam.”

Budi terkejut, lalu menoleh. Di sana tamunya yang tadi ke kamar kecil. Ia tersenyum menggeleng-geleng kagum.

“Jadi Jakarta begitu ya? Sampai malam masih terus urusan bisnis. Kasihan. Pantas saja punya telepon. Tapi jangan sampai terlalu capai. Tidurlah sedikit, sudah malam. Besok lanjutkan lagi usahanya.”

Budi tersenyum langsung memutar lagi nomor. Bicara keras-keras, padahal tidak ada lawan bicaranya.

“Alung ya? Bagaimana surat-suratnya sudah beres? Permintaannya harus banyak menunjukkan referensi yang masuk akal. Sebab di dalam lokakarya nanti ada ….”

Saudara Budi yang dari kampung itu menggeleng-gelengkan. Ia melangkah ke kamar sambil berbisik, “Kasihan.”

3

LEBIH CEPAT DARI YANG DIRENCANAKAN, tiba-tiba tamu keluarga Budi minta diri. Budi dan istrinya terkejut, karena tujuan mereka, mencarikan anak gadisnya sekolah, belum tercapai.

Khawatir kalau-kalau mereka tersinggung Budi mencoba menjajaki. Ia menahan.

“Tidak, cukup sudah, kami pulang saja,” kata orang tua gadis itu.

“Tapi kenapa? Kan belum dapat sekolah?”

“Tidak jadi sekolah, kami mau pulang saja.”

“Kenapa?”

Tak ada penjelasan. Semuanya hanya tersenyum-senyum saja, tapi keputusannya tak bisa diganggu gugat lagi. Budi mencoba menanyakan apa mereka mempunyai kesulitan. Mereka hanya menggeleng-gelengkan, bahkan menetapkan bahwa mereka akan pulang hari itu juga. 

Budi jadi kelabakan. Ia menerangkan dengan bernafsu bahwa untuk berangkat pulang tak bisa begitu saja, harus pesan karcis terlebih dahulu dan sebagainya. Tapi rombongan itu sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Mereka mau pulang dan harus hari itu juga. Alasannya tak ada. Mereka hanya mau pulang. Titik.

“Tapi ini Jakarta, semuanya harus direncanakan, dipesan, tidak bisa tubruk begitu saja, lain dengan di daerah. Kalau besok masih kita coba, tapi kalau tidak juga ada tempat, kita harus pesan dulu. Coba biar saya tanya dulu, jangan memutuskan dulu,” kata Budi sambil bergegas hendak mengangkat telepon.

Tapi orang-orang itu tetap tak mau ditawar, mereka sudah keluar dari kamar dengan kopor-kopornya.
“Tak usah menelpon lagi. Kami berangkat ke stasiun saja sekarang. Di Surabaya nanti kami cari kapal. Sudah kami tanyakan dulu waktu sampai di sana dulu.”

Budi meletakkan gagang telepon kembali dengan kesal. “Ya sudah kami tanya dulu semuanya, waktu sampai dulu, tidak usah ditanyakan lagi. Nanti pukul lima ada kereta. Besok pagi begitu sampai di Surabaya langsung ke pelabuhan. Ada kapal besok. Sudah kami tanyakan dulu. Jangan khawatir, kami akan sampai dengan selamat, semuanya sudah ditanyakan dulu.”

Budi mengangguk-angguk.

“Tapi coba tanyakan lagi,” katanya kemudian sambil meraih telepon lagi.

“Tak usah, sudah kami tanyakan. Nanti ada kereta jam sepuluh dari Gambir. Kalau tak bisa naik bus malam jam dua. Sudah kami tanyakan dulu semua waktu kami datang.”

Budi tercengang lalu meletakkan lagi gagang telepon. Keluarga yang hendak pulang itu satu per satu menyalami Budi. 

“Kami pulang mendadak, terus terang sebenarnya karena takut. Di sini semuanya ternyata lain. Kami belum siap, anak kami tidak akan sanggup tinggal di sini. Dia masih belum bisa meninggalkan alam desa. Biar dia sekolah di rumah saja seadanya. Biaya hidup di sini juga terlalu mahal. Jangankan beli telepon, untuk makan saja mungkin hasil panen kami tidak cukup. Jadi biar kami pulang saja, pokoknya sudah melihat Jakarta, sudah untung.”

Semuanya mengucapkan terima kasih banyak atas penerimaan Budi sekeluarga serta minta maaf karena mereka berbuat kesalahan selama menumpang. Sambil secara basa-basi menganjurkan supaya Budi sekeluarga sekali-sekali pulang kalau ada waktu terluang. Lalu mereka angkat kopor-kopor keluar rumah.

Budi dan istrinya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan tegang mereka mengantarkan tamunya ke depan rumah untuk menghadang taksi, karena mereka juga menolak diantar.

“Ini hari kerja, kasihan Budi nanti capai, biar jangan menganggu, kami bisa kok naik taksi sendiri. Nanti kalau sesat paling banter ditangkap polisi, he-he-he,” kata mereka sambil tersenyum lebar untuk menenangkan tuan rumah.

Pundak Budi ditepuk-tepuk supaya tenang.

“Teruskan berjuang, dik Budi,” kata yang paling tua mewakili yang lain-lain. “Memang perlu sekali kita mulai berjuang dari sekarang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Orang belum terlambat. Kita bisa mengejar sekarang. Ya setidak-tidaknya kalau dik Budi berhasil, kami ikut bangga!” Budi tersenyum pahit.

“Ya harus begitu. Kita memang sudah terlambat. Orang-orang lain sudah dari dulu masuk Jakarta. Mereka sekarang sudah punya mobil, telepon, video, punya semuanya. Gampang saja mereka menarik sanak keluarganya untuk sekolah di sini. Kalau sudah ada satu memang di Budi ini berhasil terus. Berjuang terus Dik, kami semua kasihan memang, tapi kalau mau merintis memang harus berani jatuh bangun. Ini semua sudah bagus. Teruskan saja. Terima kasih Dik Murni. Permisi.”

Tangan Budi dan istrinya dijabat lagi dan digenggam kuat-kuat. 

“Jangan mundur Dik Bud, ini semua juga nanti akan dinikmati oleh keluarga akhirnya. Sekarang memang masih sulit, tapi teruskan saja, justru karena sulit harus diteruskan. Sulit karena memang ini penting, kalau tidak penting tidak akan sulit. Sekarang tinggal dik Budi dan dik Murni saja, harus tabah. Ya kami hanya bisa mendoakan dari kampung. Kasihan juga, kalau melihat caranya begini berjuang, tapi namanya perjuangan ya harus dilanjutkan. Tapi kami yakin kok, pasti akan berhasil. Kita harus membuktikan bahwa keluarga kita juga mampu. Kita juga bangga kalau ada di antara kita yang bisa berhasil, bukan hanya mereka. Kita tidak boleh kalah, kita harus ikut memiliki ibukota ini, paling tidak satu rumahlah, begitu. Ya kan?”

Budi dipeluk dan ditepuk-tepuk. Budi bertambah heran. Ketika taksi muncul, saudaranya itu berbisik di telinga Budi, “Kami ikut terharu atas perjuanganmu merintis jalan di Jakarta. Kasihan sampai tak ada waktu tidur. Tapi kami tak bisa membantu apa-apa, kami doakan saja dari jauh. Kami nitip surat di atas meja makan!”

Budi dan istri melambai-lambai.

Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah dengan penuh tanda tanya. Di atas meja makan di dalam rumah, tergeletak sebuah amplop. Dengan tergesa-gesa karena ingin tahu, istri Budi membukanya. 

Ternyata isinya selembar lima ribu rupiah. Keduanya terkesima.

4

BUDI DAN ISTRINYA BERTENGKAR, tak sepaham menanggapi lembaran lima ribu itu. Sementara Budi terharu dan merasa bersalah, istrinya justru tersinggung keras. 

“Kurang ajar betul! Sudah diladeni baik-baik. Diterima, disambut lebih dari tamu agung, kok malahan menyindir. Ini penghinaan. Apa mereka pikir kita semua melakukan ini karena butuh duit?!” teriak wanita itu kalap. “Butuh sih butuh, tapi yang benar dong, masak kita disangka mau minta duit. Lima ribu lagi. Bisa beli apaan dengan ini di sini. Memangnya kampung ini? Gila juga. Kalau memang mau duit dari dulu juga sudah kita bilang. Ditolong malah menghina. Dasar kampungan!”

Budi berusaha memberikan penjelasan.

“Sebetulnya ini bukan menghina, justru mereka ingin ikut meringankan penderitaan kita, habis kita mungkin agak terlalu juga menjelaskan kepada mereka hidup di sini susah. Mereka percaya dan ini akibatnya. Justru mengharukan sekali bagaimana mereka dengan tulus ikhlas memberikan lima ribu, padahal mungkin uang ini amat mereka perlukan. Jangan-jangan nanti di jalan mereka kekurangan uang. Ini tulus ikhlas kan?”

“Ikhlas apaan! Kalau dasar kampungan begini. Keluargaku jelek-jelek kagak ada yang kasar begini. Sekalian hutang budi ya sudah diam saja terima, kan keluarga harus tolong-menolong. Ini kok ngasih tip, memangnya pelayan restoran apa kita? Sialan bilangin keluarga kamu itu, tidak usah bawa adat-adat kampung kemari!”

“Kamu salah paham!”

“Aku punya harga diri, mentang-mentang keluarga kamu dibela terus ya! Biar keluarga siapa kalau salah ya salah, jangan dihalus-haluskan. Gila juga. Inilah hasilnya kalau terlalu baik sama keluarga, di situ malah ngelonjak terus terang saja sama semua orang!”

Budi tersinggung. Ia langsung membantah, tetapi istrinya makin senewen karena dibantah. Perang tidak bisa dicegah lagi.

Mereka main hantam-hantaman mulut, sambil membeberkan kejelekan keluarga masing-masing. Istri Budi melemparkan lembaran lima ribu itu dengan sengit ke bawah meja. “Lima ribu, gila! Dikiranya bisa beli apa lima ribu di Jakarta!”

Tak cukup melempar, ia juga menginjaknya. Hati Budi hancur.

“Ya Tuhan,” jerit Budi di dalam hati. “Ini bukan istriku lagi. Ini bukan seorang wanita, tetapi ini mesin yang sedang rusak onderdilnya. Apakah Jakarta sudah membuat orang tidak manusiawi lagi?”

Sebagaimana biasa kemudian, perang itu diakhiri dengan bantingan pintu keras. Istri Budi masuk ke dalam kamar dan menangis. Sedangkan Budi menghunus rokok dan menggebul-gebulkannya seperti kepalanya yang terbakar.

“Pertengkaran adalah bagian dari perangkat hidup kota, selain rumah, mobil, rapat-rapat, gosip, telepon dan sebagainya,” bujuk Budi pada dirinya, “Di desa orang memang jarang bertengkar, karena tak berani mengucapkan perasaannya. Karena itu banyak keluarga yang kelihatannya utuh tetapi sebenarnya remuk di dalam. Sedangkan di kota, setiap perselisihan selalu diucapkannya terus terang, kelihatannya memang perang, tetapi sesudah itu tak ada lagi apa-apa lagi. Pertengkaran justru menjadi penyelamat rumah tangga dan kebosanan. Aku harus mengerti perbedaan-peredaan nilai ini.”

Sambil menyambung rokoknya, Budi mengunyah kata-kata itu, untuk menenangkan perasaannya. Tetapi kekuatannya tidak sedahsyat dulu lagi, ketika pertama kali ia rumuskan. Sekarang ia hampir tak percaya lagi kata-kata itu mampu membuat ia dan istrinya tetap sabar. Ia mencari kata-kata baru. Tapi sulit sekali.

Dadanya mendebur-debur memandang lembaran lima ribu itu terletak di bawah meja. Uang itu seperti tersenyum kepadanya lalu bicara. “Tenang dik Budi. Tetaplah jadi pahlawan di dalam keluarga kamu. Perang ini terlalu kecil buat mendapat uang lima ribuan itu.” Ia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh keluarganya. Itu ungkapan solidaritas pedesaan yang ditemukan lagi di kota. Di kampung ungkapan rasa itu menjadi bahasa pergaulan. Bahkan semacam ritus. Di Jakarta sebaliknya, bukan saja aneh, ganjil tetapi justru berubah jadi sumber malapetaka.

Ia tak bisa terima hal-hal polos seperti itu dianggap penghinaan. Itu kasar sekali. Tetapi ia juga tak mungkin memaksa istrinya untuk bereaksi sama seperti dia. Pertama karena wanita dan lelaki ternyata tak hanya berbeda phisik, tetapi berbeda secara emosional. Belum lagi perbedaan latar belakang. Dan ia sejak semula sudah mencoba menghadapi perbedaan itu dengan adil. Siapa tahu, istrinya benar. Dalam hal ini wanita itu justru rasional dan ia sendiri yang emosional.

Tapi makin lama dipikirnya, makin marah ia pada sikap istrinya. Tangannya terkepal dan gemetar. Perlahan-lahan ia bangkit dan lalu menunduk untuk menjemput uang lima ribuan itu dengan rasa hormat.

Ditaruhnya uang itu di atas meja. Dikaguminya perasaan-perasaan yang mengulurkan uang itu. Ia dapat merasakan nilai-nilai yang mendorongnya. Begitu polos, tetapi justru begitu melukai orang yang tak mengertinya. Ia mecoba merumuskan kejadian itu.

“Bila lima ribu di matamu sudah mulai berbeda dengan lima ribu di mata istrimu. Berarti ada virus dalam rumah tangga. Aku melihat uang kecil ini dengan rasa hormat, tetapi dia menerimanya dengan rasa hina. Kenapa? Karena aku melihatnya sebagai kepala rumah-tanga, aku tak boleh hanya memikirkan perasaan-perasaanku. Sebagai godfather aku harus berjiwa besar. Tetapi aku juga tidak boleh membiarkan kebesaran jiwa itu membuatku terjepit. Itu baru namanya lihai. Kebesaran jiwa saja tak cukup, seorang kepala harus lebih lihai. Ya Tuhan, inilah yang menyebabkan para kepala perlahan-lahan jadi penipu.” Budi mengapung.

“Aku harus bertindak. Harus tegas. Nilai apa yang berlaku di rumah ini. Penilaian terhadap lima ribu ini harus sama, baik aku, istriku dan anak-anakku. Kalau tidak rumah ini akan runtuh!”

Tiba-tiba telepon berdering. Sampai empat kali baru diambilnya dengan kasar.

“Hallo!”

“Hallo, ini pak Budi? Bisa bicara dengan ibu?”

Budi kontan mengerti suaranya. Lembut, ramah dan baik. Rasa kecut di mukanya kontan hilang. Ia jadi jinak dan ramah-tamah lagi.

“Oh Bu Slamet. Apa kabar Bu. Baik-baik, ada-ada Bu, sebentar saya panggil. Kapan datang dari Paris Bu?”

Budi menutup telepon itu dengan tangannya. Mukanya kembali mengkerut, lalu berteriak memanggil istrinya keras.

“Telepon dari Bu Slamet! Mau diterima nggak!”

Belum selesai teriakan itu, pintu kamar itu terbuka, istrinya bergegas keluar. Ia menggosok mukanya, lalu merebut telepon. Mukanya berseri-seri. Ia tersenyum simpul ketika bicara.

“Hallo, Bu Slamet! Ha-ha-ha, aduuuuuuh apa kabar, apa oleh-olehnya Bu? Sudah kangen ini, ha-ha-ha!”—sambil menghindari pandangan mata Budi yang melotot—“Waduh Bu, kita kehilangan ini. Kalau tidak ada ibu jadi rusak semuanya. Arisan belum ditarik, habis menunggu ibu. Jadi kapan ini. Minggu ini saja bagaimana, di rumah ibu sambil mendengar ceritanya Paris. Sempat lihat itu tidak? Bawa kan? Ha-ha-ha!”

Budi mengambil tas untuk berangkat.

“Sebentar Bu,” istri Budi menutup telepon dengan tangannya, lalu melabrak Budi.

“Pokoknya mulai sekarang kita harus tegas kepada siapa saja tidak pandang bulu. Tidak aku tidak mau dihina orang di rumahku sendiri!”

Budi kontan mau menjawab, tetapi sebelum mulutnya terbuka, istrinya mengangkat telepon lagi langsung berdialog.

“Maaf Bu, biasa, suami kalau mau berangkat mesti rewel. Mau dibawain tas, mau disun pipinya ha-ha-ha seperti masih muda saja. Ha-ha-ha. (Menoleh suaminya) Sudah-sudah berangkat sekarang! (kembali ke telepon) Ha-ha-ha, jadi bagaimana Paris. Sempat naik ke Eifell nggak, wah mode-modenya hebat-hebat mestinya kan, ha-ha-ha!”

Budi menutup mulutnya yang mudah menganga, lalu diam-diam pergi. Istrinya terus mengobrol di telepon dengan gembira, “Ya, hallo, apa. Sebentar Bu, sebentar ini ada tetangga mengetuk pintu.”

Wanita itu menutup moncong telepon, lalu mendorong kursi dan melihat ke bawah meja. Ia menggapai-gapai. Tapi tak menemukan apa-apa. Mukanya langsung berubah cemberut.

“Rokiiiii!”

Roki pembantunya keluar dari dapur.

“Yaaa?”

Wanita itu melotot.

“Kamu tadi sudah nyapu?”

“Belum!”

“Kemarin ada duit di sini, siapa yang ngambil?”

“Di mana?”

“Di bawah meja!”

Roki bingung.

“Jangan bengong, ayo cari!”

“Berapa Nya?”

“Lima ribuan! Itu belanja satu hari! Ayo cari jangan sampai hilang! Memangnya gampang cari duit!”
Roki langsung berlutut dan mencari di bawah meja. 

“Hallo, hallo, maaf ini Bu. Si Roki ngaco lagi ini. Masak duit diberantakin. Kayak orang bisa bikin duit saja, padahal suami kita yang sampai bungkuk-bungkuk mencarinya. Ha-ha-ha. Sama ya! Betul, betul! Pembantu memang tambah kurang ajar sekarang.”

Tiba-tiba ia melihat lima ribuan menggeletak di atas meja. Cepat-cepat diambilnya lalu dimasukan ke balik kutang. 

“Hallo, apa? Ya betul, harus begitu Bu. Ha-ha-ha. Kan suami kita sendiri, siapa lagi kalau bukan kita. Bener. Kalau dibiar nanti tuman. Sebagai partnernya, kita harus selalu memberikan pengarahan. Lelaki memang terlalu lemah, mereka sering emosional dan tidak praktis. Apalagi terhadap keluarganya. Masak dikasih uang lima ribu sama keluarganya, padahal itu hanya basa-basi, sopan santun orang daerah e-e-e …. Dia malah tersinggung. Dia bilang keluarganya kurang ajar! Susah memang! Kita harus mengarahkannya. Mereka kan baby kita. Ya kan! Ha-ha-ha!”

Roki terus menyusuri lantai mencari lima ribuan itu.

Wesleyan, 21 Desember 1986


Putu Wijaya, Lahir di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Sarjana hukum lulusan Universitas Gadjah Mada 1969 ini lebih dikenal sebagai orang penulis dan orang teater, ketimbang sebagai wartawan. Kelompok teaternya, Teater Mandiri, aktif berpentas di TIM, Jakarta. Pernah tinggal 6 bulan di Jepang, bergabung dengan para petani dan menjadi petani. Dua tahun bermukim di Amerika Serikat dan sempat memanggungkan lakon karyanya di La Mama, Off-Off Broadway, New York. Pementasan terakhirnya, 1989, di Gedung Kesenian Jakarta, berjudul Wah. Ia bekerja di Majalah TEMPO dan rajin menulis kritik teater dan film. (Matra, Juni 1991)

***

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Wijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Juni 1991


 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home