Kamera ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 21 Maret 2016

Kamera


Kamera

Mari, inilah saatnya
menjadi kamera.
Melihat, melihat, melihat,
tanpa memberi makna.
Menatap, menatap, menatap
tanpa kata-kata.
Semuanya
semua mungkin tersorot lensa:
Seekor semut ke luar dari busut,
dipatuk ayam.
Kucing hitam menggeliat di sudut pagar,
mengawasi jalanan.
Bebatuan bergeming,
diinjak kucing.
Rerumput kering,
dicakar ayam.
Hari ini Minggu pagi,
tak perlu mencemaskan matari.
Hari masih bayi,
tak perlu bergegas,
berlari.
Kini, fokus pada jalanan:
Tiga pemudi berjalan beriringan bergandengan,
melepas tertawa, berbagi bisikan.
Dua anak kecil menangis di atas sepeda,
menatap mereka.
Tukang ojek paruh baya telentang di sebuah dipan,
menatap awang-awang.
Seorang ibu berteriak ke arah angkasa biru,
"Jamu, jamu!"
Kakek berambut abu mendorong gerobak sampah,
terseok bisu.
Mobil abu-abu membelah,
menghambur debu.
Alihkan lensa, jauh
ke cakrawala:
Langit abu-abu, awan-awan biru, pepucuk pepohonan
ungu.
Beburung aneka rupa, melesat-lesat, saling-silang,
mengukur bumantara.
Sungai, atap-atap rumah, petak-petak sawah menghampar,
mewarnai akanan.
Belokkan lensa,
ke teras luas, sebuah rumah tua
di balik pagar terbuka:
seorang ibu mengandung
berjemur murung.
Dara ranum meloncat,
menangkap capung.

Kini, katupkan lensa,
matikan kamera.
Semua-- mungkin semuanya--telah tersorot lensa
dan akan segera bertumpuk
di palung-palung lupa.



Zaim Rofiqi, telah menerbitkan, antara lain, Matinya Seorang Atheis (kumpulan cerita pendek, 2011) dan Seperti Mencintaimu (kumpulan puisi, 2014).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zaim Rofiqi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" akhir pekan 19-20 Maret 2016
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi