TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 7 March 2016

Kepada Ibu - Rindu Dendam - Keberangkatan - Isyarat - Hujan Dini Hari - Bintang Jatuh - Sajadah - Titik

Kepada Ibu

di batu nisan namamu mengabur 
berlumut nyaris tidak terbaca 
di hatiku namamu tak pernah pudar 
kusebut selalu dalam zikir semesta 

di batu nisan ada beberapa baris puisi 
entah kukutip dari karya pujangga siapa 
di hatiku menggema ayat-ayat ilahi 
untukmu aku terjaga dalam doa 

di pusaramu aku tertunduk sendu 
dalam hening senja di pekuburan 
di kalbuku mengalir deras air mataku 
aku ingin menggapaimu, ibu, aku ingin... 

2015 

Rindu Dendam

ada beberapa patah kata 
terucap antara kita 
selebihnya hanya diam 
menyimpan rindu dendam 

memang ada jarak 
terbentang antara kita 
kangen hanya bikin nelangsa 
masa silam pun mengerak 

ada beberapa kenangan 
terukir antara kita 
selebihnya hanya sepi 
ah, menahan perih hati 

2015 

Keberangkatan

jenazah pun diberangkatkan siang itu 
bersama doa-doa menggores cuaca 
ada yang hilang dalam diri kita 
ada gerimis tipis tertabur sendu l

angit pun muram dan matahari menepi 
siapakah itu yang menangis tertahan? 
betapa fana dunia, begitu singkat kehidupan 
betapa mendadak maut, Tuhanku, begitu cepat 
ia pergi 

2014 

Isyarat

selembar surat tak terbaca 
sebait puisi tak selesai jua 
ilham tak menjelma kata-kata 
isyarat dan tanda tak teraba 

2015 

Hujan Dini Hari

hujan pun mulai luruh 
ketika menjelang subuh 
jam weker pun bergetar 
ada kabut mengendap di luar 

angin mendinginkan tubuh 
sepi merapat ke jendela 
cemas pun mengeras tiba-tiba 
engkaukah menembang megatruh? 

kota pun basah dini hari 
sesekali ada kendaraan melintas 
bayanganmukah bergegas 
menyeberangi jalan sunyi? 

2014 

Bintang Jatuh

lewat tengah malam 
kulihat bintang jatuh 
lenyap entah ke mana 

apakah ini satu pertanda? 
pada gelap dan kelam 
misteri tak teraba sampai jauh 

lewat tengah malam 
kulihat langit jernih 
dan sepotong bulan sabit 

sebening parasmu bersih 
sebening katamu kalam 
wahai, sebening kasihmu terbit 

2014 

Sajadah

di sajadah sujudku lama 
di sajadah sujudku samudera 
di sajadah sujudku air mata 
di sajadah sujudku cinta di sajadah sujudku kata 
di sajadah sujudku cahaya 
di sajadah sujudku mutiara 
di sajadah sujudku permata 
di sajadah sujudku doa 
Allah, Allah, AllahÖ 

2015 

Titik

titik tanda kita berhenti 
namun tidak pernah bisa 
kita justru suka pada koma 
sabda penyair tak kunjung usai 

2014 

Gunoto Saparie, lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, kritik sastra, termasuk artikel tentang ekonomi, politik, dan keagamaan. Bersama keluarga tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang 50181

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gunoto Saparie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 6 Maret 2016
 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home