TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 7 March 2016

Kerikil-kerikil Gudik - Dendang Negeri

Kerikil-kerikil Gudik 

Berhektare tanah tak bertuan
Dipijak, termaki geram para priyayi
Takhta-takhta kardus runtuh ditindih berton-ton besi
Kerikil-kerikil gudik pembangkang tersisih
Ditendang, terjengkang lunglai menepi
Jerit menggema di tengah riak sengketa
Menghiba setetes aspirasi terkuak dalam kering telaga
Asa pupus dibekam palang-palang tertancap
Tertoreh aksara-aksara bisu nyata tersemat

"Milik Negara!"

Kerikil-kerikil gudik terayun ke sana ke mari
Tertikam sengketa, terenggut nurani
Bernaung sangat terik, terbalut rinai gemericik
Tersulut api pengobar hasrat berdemonstrasi
Menghimpun basis-basis barisan terzalimi
Menggertak priyayi culas dalang akuisisi!

Tekad kerikil-kerikil gudik
Melangkah getir memandang dinding-dinding tirani
Bermodal toa, menjunjung spanduk-spanduk orasi
Lambung perih melilit tak tersuap nasi
raga tengik tak tersiram aliran bening
Hening tersekap tak menyisa rintih
Bak terajam amarah buncah mendelik
Menyorot benteng-benteng angkuh berjejer rapi
Bersenandung tembang janji para priyayi
Sepetak lahan pengganti akuisisi
Hilang ditelan bumi!

Cileunyi, 25 Februari 2015

Dendang Negeri

Dendang priyayi pengais tahta menggenangi parit-parit
Menyudut pengerat-pengerat tuk mati terhimpit beton-beton tinggi berjeruji
Bertopang kokoh tameng-tameng bergerigi
Asasi dijerat, dimaki, dititah menggali kubur sendiri
Terpaku dalam palang-palang aturan tak berprasasti

Dendang pemuji doa-doa terpasung mati
Beriak terserap koklea, menggenangi ruang otak kiri
Doktrin kokoh terhalang nafsu pemikat batin sang priyayi
Terhujat angkuh strata penyelimut atma hakiki
Laku statis, tak hendak rubah raut sang pertiwi

Dendang proletar kala bah menjamah menimbun sudut-sudut kota
Menghias mendung di atas muka seniman-seniman alam
Priyayi bersorak mengagungkan masa panen bakti, berhasrat terpuji
Bak panggung terhampar, menari-nari layaknya badut borjuis
Bersolek diri, menjaja manish lathi
Berkoar sudi menyerap mendung hingga menepi
Tak malu menjalang diri meski tersingkap tutur khas pembual sejati

Dendang pelaku negeri tak henti-henti
Berisik senandungnya menapak tebing-tebing demokrasi
Menghentak, terbentur dalam puncak titik kulminasi
Sekejap terhanyut dendang anak negeri
Dendang penjunjung harkat martabat diri
Dendang hasrat meruntut keagungan priyayi
Kudeta demi satu harga mati
Indonesia bebas korupsi, kolusi, nepotisme!

Cileunyi, 21 Februari 2015



Fernanda Rochman Ardhana, lahir di Jember, Jawa Timur, pada 27 Februari 1991. Kini berdomisili di Cileunyi, Jawa Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fernanda Rochman Ardhana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 6 Maret 2016


 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home