Kita Seakan Lelah - Barangkali Sudah Saatnya - Angin yang Mengelabui Luka - Catatan - Kami Tak Bisa Apa-apa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 07 Maret 2016

Kita Seakan Lelah - Barangkali Sudah Saatnya - Angin yang Mengelabui Luka - Catatan - Kami Tak Bisa Apa-apa


Kita Seakan Lelah

—- Yudhi Ms

selalu saja aku tergoda
mengemasi mimpi remajaku
yang sering jadi perbincangan

tetapi seperti ada tangan-tangan mengurungkan
supaya tak larut sia-sia
napas kita sudah sering terengah
barangkali kalah
ataukah pasrah

tetapi selalu saja kau katakan
pelupuk mata kita selalu berkedip
lalu apa yang bisa kita kabarkan selalu
langit mendung melulu

                         ***

Barangkali Sudah Saatnya

Hadi Priyanto

barangkali sudah saatnya kau bangun tugu
tadi aku tersasar menuju rumahmu
dan aku memang sering samar melacak

selagi sempat dan belum terlambat
waktu tersumbat

tiba-tiba aku didera ragu
sedemikian pentingkah tugu
sebab sering kumaknai anak-anak
yang sudah lepas dari rumah
biar ditimang waktu
atau dihempaskan debu

tetapi jejak-jejakmu di pantai
mudah lenyap oleh ombak

Angin yang Mengelabui Luka

sebagaimana ulat aku pun menggerayap
kulepaskan mimpi jadi kupu
karena tangkai tempat bergantung dipermainkan angin

aku pernah di suatu pohon yang disuburkan hujan
tetapi angin menghembus-hembus
racun dan polusi peradaban
aku pernah diteror ngangkrang
karena pecah rumah diketepel batu-batu
aku pernah mengembara merayapi kota
di tengah alun-alun dikerubuti semut
yang keras dipanggang cuaca

aku telah begitu banyak menggerayapi duri
tubuh luka hati nganga
dibiasakan angin tak terasa

Catatan

berulang kusimak catatan hari ini
airmata tergulir
matahari cemuru pada bulan
menyelami lautan

kemerdekaan milik ikan-ikan
berenangan mengitari karang
terhuyung-huyung oleh ombak

laut jauh dari pandangan
cakrawala hilang ditelan gelombang
bagai pasir di pantai
ombak tetap mencerminkan gejolak laut
angin yang kusut

catatan-catatan hari ini
kehabisan hujan
angin enggan menyuburkan

Kami Tak Bisa Apa-apa

banjir lumpur selalu mengingatkan
kejadian asal
sebermula tanah
sesekali hanya bisa marah
pasrah dan kalah

gas yang menyembur-nyembur
hawa panas yang selalu dari api
mengingatkan adam dan hawa terpedaya
kami tak bisa apa-apa
karena api menjelma apa saja


Sunardi KS lahir di Jepara 1955. Menulis sajak, esai, cerpen. dimuat diberbagai media cetak. Antologi puisi bersama kawan-kawan Kicau Kepodang 5, Konosi, Blue, Jentera Terkasa dll. Antologi puisi berbahasa Jawa tunggalnya berjudul Wegah Dadi Semar 2012.(92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 6 Maret 2016


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi