Kunang-kunang untuk Anak ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 14 Maret 2016

Kunang-kunang untuk Anak


SUNARYO melihat seluruh sudut rumah. Kejadian itu terulang lagi. Dengan bergegas, ia melongok ke luar rumah. Dari teras rumahnya hanya terdengar suara jengkerik dan gemerisik daun tertiup angin dini hari. Tentunya seluruh tetangga sedang terlelap tidur, kecuali Partiyem istrinya. Sejak anaknya mati terseret arus sungai setahun lalu, Partiyem menjadi orang bingung. Ia seringkali ditemukan sedang melamun di pinggir sungai selama berjam-jam.

Sikap Partiyem semakin meresahkan warga. Ada yang menasihati Sunaryo agar istrinya dibawa ke rumah sakit jiwa. Ada juga yang menyuruh Sunaryo membawa istrinya ke dukun. Tapi Sunaryo tak pernah melakukan apa yang diusulkan para tetangganya itu. Saat ditanya, ia hanya mengatakan tak punya biaya untuk membawa istrinya berobat atau periksa. Lebih dari itu, sebenarnya ia sangat takut kalau memang benar Partiyem terkena gangguan jiwa. Ia takut menghadapi kenyataan bahwa istrinya benar-benar gila.

"Mau sampai kapan kamu memiliki istri gila?" tanya para tetangga yang sudah mulai nyerah menasihati Sunaryo.

"Sebaiknya kamu kembalikan saja Partiyem kepada orangtuanya."

Sunaryo terhenyak. Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju sungai, tempat biasa Partiyem menghabiskan waktu.

Seingat Sunaryo, pada awalnya Partiyem sering bercerita pada anaknya tentang segerombol kunang-kunang yang hidup di sungai. Karena itu, anaknya yang masih kecil itu sangat antusias ingin melihat kunang-kunang, bahkan menangkapnya kalau bisa. Tapi kunang-kunang memang tak pernah terlihat di sungai itu. Entah kenapa tak ada seekor pun yang terbang atau hinggap di rerumputan pinggir sungai itu.

Ketika hujan lebat, rupanya anaknya masih berada di sungai. Entah untuk apa. Para tetangga yang sempat melihat anaknya sebelum hujan lebat mengatakan bahwa anaknya memang sedang bermain di dekat sungai sendirian. Saat mengetahui anaknya telah mati, Partiyem tak bisa berhenti berkata sambil meraung-raung bahwa anaknya pasti sedang mencari kunang-kunang.

"Ayo pulang," suara SUnaryo lirih.

"Nanti," jawab Partiyem.

"Kapan?"

"Jangan pedulikan aku."

"Jadi?" Sunaryo tak bisa menyembunyikan raut kecemasan pada wajahnya.

Satu jam terlewat tanpa ada suara. Meski mengantuk Sunaryo tetap menunggu Partiyem bangkit dari amunannya.

"Sebentar lagi Subuh, apa yang kamu cari di tempat ini?"

"Kunang-kunang untuk anakku."

Sunaryo mencoba menarik lengan istrinya. Membuat istrinya jatuh terjengkang. Sunaryo tak mau para tetangga memergoki dia dan istrinya masih berada di sungai ketika azan Subuh berkumandang.

Tak lama kemudian, Partiyem berjalan meninggalkan sungai.

***
MALAM itu, sudah hampir setengah jam Sunaryo termenung di tengah keramaian.

"Kamu ke sini hanya untuk melamun?" tanya seorang tetangga yang berada di dekatnya.

"Orang-orang sudah sangat lama menunggu-nunggu adanya tontonan di desa kita. Semua orang ingin bergembira dan kamu hanya melamun?" tanyanya lagi.

"Tidak mau mendekat ke panggung hiburan itu?" tanya orang itu sekali lagi. Tidak ada sahutan. Akhirnya orang itu memilih pergi meninggalkan Sunaryo seorang diri.

Malam beranjak larut, anak-anak mulai dibimbing orangtuanya untuk pulang ke rumah. Gemerlap cahaya kembang api menghiasi langit malam itu. Nampak butiran-butiran cahaya memencar di langit malam seperti kunang-kunang yang terbang lalu menghilang. Sekejap hati Sunaryo yang gelap menjadi terang.

"Kunang-kunang!" teriaknya tanpa sadar. Dan ia bergegas pulang ke rumah.

Di dalam kamar, terlihat Partiyem sedang tidur meringkuk.

"Ayo bangun, Bu, ada kunang-kunang."

"Apa?" tanya Partiyem lirih.

"Kunang--kunang!"

"Kunang-kunang?"

"Ya, kunang-kunang!"

"Di mana?"

Dan Partiyem berlari mengikuti derap langkah Sunaryo menuju pusat keramaian. Saat itu Sunaryo menunjuk-nunjuk ke arah langit.

"Mana?" tanya Partiyem.

Sunaryo melemparkan pandangan ke langit yang lengang, tanpa gemerlap kembang api. Dua sosok suami istri itu tertegun begitu lama hingga seorang tetangga menyadari kehadiran mereka.

"Sunaryo?"

Pelan-pelan Sunaryo menoleh ke arah sumber suara.

"Apa kunang-kunangnya sudah tidak ada?" kata Sunaryo lirih.

"Kunang-kunang?"

"Maksudku, kembang api."

"Sudah selesai pertunjukan kembang apinya.

Langkah kaki Sunaryo gontai meninggalkan pusat keramaian. Tangannya menggamit lengan Partiyem yang sedari tadi masih menanyakan kunang-kunang.

***
TAK ia sangka rupanya ditikungan pinggir jalan besar ada warung penjual kembang api dan petasan. Sunaryo tak mempedulikan apa pun. Kakinya bergegas melangkah ke arah penjual kembang api itu. Dia membeli dua kembang api yang berbentuk selongsong. Yang ada di benaknya hanyalah kebahagiaan dan senyum Partiyem yang mengembang melihat kembang api seperti kunang-kunang yang beterbangan.

Malam itu, Sunaryo mengajak Partiyem ke lapangan yang berada tak jauh dari rumahnya. Wajahnya sumringah dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar.

Di langit, gemerlap butiran cahaya memancar seperti kunang-kunang beterbangan.

"Benarkah itu kunang-kunang?" tanya Partiyem lirih.

"Bayangkan ada anak kita di sini, tentu ia senang sekali," kata Sunaryo sambil tangannya memegang selongsong kembang api yang dari ujungnya melesat butiran-butiran cahaya di langit setelah menimbulkan suara ledakan.

Tiba-tiba Partiyem tertawa dan ia hendak meraih selongsong kembang api yang dipegang Sunaryo. Tangan kiri Sunaryo menghempaskan tangan Partiyem.

"Meski kunang-kunang, tapi kunang-kunang itu akan segera terbang dan hilang. Tanpa menyalakannya dengan korek api, kunang-kunang itu tak akan keluar dari persembunyiannya, yaitu selongsongan ini. Hanya dengan menyalakannya dengan korek api maka kunang-kunang itu akan segera melesat ke langit dan beterbangan lalu hilang," kata Sunaryo panjang lebar.

"Aku ingin menerbangkan kunang-kunang itu," kata Partiyem.

"Masih ada selongsong lagi kunang-kunang. Aku menyimpannya di bawah tempat tidur," kata Sunaryo sambil tersenyum. Kemudian mereka  melangkah pulang.

***
SUNARYO terbangun drai tidurnya. Ia tidak menemukan Partiyem di tempat tidur. Kejadian itu terulang lagi. Dini hari ini terasa sangat sunyi. Pikiran Sunaryo terucik pada sungai, tempat Partiyem biasa menghabiskan waktu, terlebih ketika pada dini hari tak ditemukan di tempat tidurnya.

Ketika sampai di pinggir sungai, Sunaryo tak menemukan Partiyem. Wajahnya pucat dan cemas. Kemudian, ia bergegas pulang ke rumah. Ia ingat pada selongsong kembang api yang masih tersisa yang disimpannya di bawah tempat tidur.

Tidak ada. Kembang api itu sudah tak berada di bawah tempat tidur. Tanpa berpikir panjang, Sunaryo bergegas menuju lapangan dekat rumahnya.

Dini hari itu, bahkan suara jengkerik pun tak terdengar olehnya. Telinganyahanya dipenuhi suara dengus napas dan detak jantungnya yang tak beraturan. Sunaryo mencari Partiyem ke seluruh penjuru lapangan. Seluruh semak-semak pun telah disisir, tetap tidak ada.

Ia tertegun. Pikirannya dipenuhi oleh istrinya, kembang api, kunang-kunang, dan anaknya. Lantas ia berlari secepat mungkin menuju jasad anaknya terbujur, tak ada tempat lain. kecuali kuburan di sudut desa.

Sunaryo terdiam. Ia terpaku melihat Partiyem berada di tengah kuburan. Partiyem terlihat tersenyum dari kejauhan. Tangannya terlihat menyalakan selongsong kembang api dengan sebuah korek api.

Tapi tak satu pun kembang api melesat ke langit. Partiyem terlihat mendekatkan ujung selongsong kembang api itu ke wajahnya. Matanya sibuk mengamati kembang api yang tak juga melesat ke luar.

Tiba-tiba sebuah ledakan membuat Sunaryo tersentak. Kembang api itu, kunang-kunang itu meledak tepat di wajah Partiyem.

Sunaryo berdiri mematung, sementara tubuh Partiyem roboh menimpa nisan anaknya.  -k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kristin Fourina
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 13 Maret 2016


Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi