Le Thi Loi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Jumat, 25 Maret 2016

Le Thi Loi


DIA dilahirkan di Saigon. Bapaknya punya toko berlian, dulu sebelum komunis masuk, dan karena itu makmur. Kakaknya dua. Adiknya dua. Dia satu-satunya yang perempuan. Ketika seluruh keluarganya angkat kaki ke luar negeri, dia terpaksa tertinggal di Vietnam, mendekam di sebuah ‘re-education camp’. Ini mungkin, menurut pengakuannya karena dia terlalu aktif di berbagai organisasi. Tapi ini mungkin, menurut perkiraanku, karena dia terlalu banyak tahu tentang situasi politik pada saat itu, dan lain-lain yang berhubungan dengan kebudayaan barat, dan sebagainya yang membuat penguasa baru khawatir kalau-kalau dia akan terlalu banyak omong di luar negeri. Entah bagaimana caranya, setahun kemudian dia berhasil lolos dari kamp neraka itu. Dan beberapa bulan kemudian dia sudah berada di kamp pengungsi Thailand. Dua tahun setelah itu dia dipindahkan ke Singapura. Persis tiga bulan kemudian dia dipindahkan ke kamp pengungsi ini. Dan ketemu aku. Sampai saat itu, delapan bulan sudah dia berada di kamp ini sebagai asistenku di dalam kelas, dan teman kluntrang-kluntrung di kebanyakan waktu senggangku. 

Tapi sebetulnya bukan semua itu yang ingin aku ceritakan. Di pulau kecil ini, cerita-cerita semacam itu memang sudah menjadi bahan obrolan sehari-hari. Dan karena seringnya diulang-ulang sampai-sampai seorang pengungsi pun menjadi jengkel kalau mendengar cerita serupa dari temannya sendiri. Aku juga tidak ingin bercerita panjang lebar tentang pulau terpencil ini dengan barak-baraknya yang kumuh, dengan udaranya yang bukan main panas dan berbau amis gara-gara minyak kiriman dari Kanada itu, atau tentang pengungsi Kamboja yang kayak orang Jawa dan pengungsi Vietnam yang jauh lebih agresif, ataupun tentang orang-orang bule yang suka berpakaian seenaknya dan yang kalau pergi ke mana-mana suka membawa minuman, apalagi tentang guru-guru Indonesia yang sering mengeluh kesepian, kangen rumah dan mengutuki kegiatan sehari-hari yang sangat monoton dan membosankan. 

Ini semua kulakukan hanya aku merasa ini harus kulakukan. Yang pertama, lantaran tanggung-jawabku sebagai segelintir insan yang sedikit-banyak mempunyai tanggung-jawab moral. Yang kedua, mungkin sebagai pembelaan terhadap diriku sendiri untuk sekedar mengurangi rasa bersalah yang terus menerus mengusik-usik perasaanku. O ya, jauh-jauh hari sebelum aku datang ke tempat ini aku sudah mendengar khabar, entah benar entah salah, bahwa Vietnam Rose sudah sangat mewabah di kalangan pengungsi Vietnam. Kata seorang teman yang konon sudah lama di tempat ini, bahkan kita harus mencurigai setiap perempuan Vietnam sebagai sarang penyakit kotor itu. Aku tahu ini agak berlebihan. Namun setidaknya aku telah merasa berbekal sedikit pengetahuan tentang itu untuk tidak terlalu akrab dengan mereka, apalagi sampai “berhubungan”. Jadi, sungguh sembrono kalau engkau menyimpulkan bahwa hubunganku dengan Loi ini pertama-pertama didasarkan atas keinginan untuk memenuhi kebutuhan seksual belaka. 

Pada mulanya, dia hanya mengatakan padaku (di suatu siang yang panas dan sama sekali tidak romantis) bahwa suatu saat kalau dia terpaksa pergi ke Amerika dia akan sangat kehilangan aku. Tentu saja aku sangat senang mendengarnya. Sebelumnya aku selalu merasa hubungannya denganku tak lebih dari hubungan seorang guru dengan muridnya. Aku tak pernah berprasangka terlalu jauh. 

“Aku juga sangat kehilangan kau Loi.” Aku juga mengatakan begitu, tapi tanpa tahu persis apakah omonganku itu betul-betul sesuai dengan perasaanku ataukah hanya sekedar suatu kemunafikan belaka. 

“Saya tahu guru bohong.” Dia berkata. Aku agak kaget. “Atau paling tidak kehilangan guru pasti lain dengan kehilangan saya.”

“Semua perpisahan sama saja menyedihkannya Loi.”

“Pasti tidak guru. Saya memang sangat sedih ketika seluruh keluarga saya pergi meninggalkan saya. Tapi apakah itu akan sama kalau suatu saat orang yang sangat saya cintai juga pergi meninggalkan saya?”

“Maksudmu, Than?”

Dia terdiam sesaat. Than adalah pacarnya ketika dia berada di Thailand dulu. Anak itu sekarang berada di Australia. Sudah barang tentu ini hasil keputusan pemerintah yang jelas tidak mempertimbangkan soal-soal tetek-bengek semacam cinta dan sebangsanya. Tak urung, perasaanku agak kurang enak ketika ingat si Than itu. 

“Itu hanya satu contoh guru,” katanya kemudian. “Tapi maksud saya, apakah saya harus mengalami hal yang sama lagi dalam waktu dekat ini?”

“Dalam waktu dekat ini?” Aku tersentak. “Maksudmu, kamu sekarang sedang jatuh cinta, begitu?”
Waktu aku menanyakan ini, dadaku sedikit tergetar. Seolah-olah bukan pertanyaan ini yang kuajukan, tapi: Loi, kamu cinta padaku ya? Bayangan Than mendadak hilang begitu saja dari benakku. 

Aku tak tahu apakah kamu akan menyalahkan aku kalau dari hari ke hari GR-ku ini semakin bertambah saja. Soalnya begini. Dia nampaknya makin memperhatikan diriku dari saat ke saat. Waktu belajarku—bahasa Vietnam dan Perancis—bersamanya seolah-olah dengan sengaja diulur-ulurnya. Kalau wajahku agak nampak lesu dia selalu menanyakan apakah aku sakit, dan kemudian memperlakukan diriku persis seperti orang sakit beneran. Kalau aku memandang wajahnya, dia selalu menundukkan mukanya dengan tersipu-sipu. Dan kalau aku bercerita tentang anak-istriku yang jauh di sana, matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Apalagi kalau nada ceritaku menunjukkan kerinduan yang begitu dalam.

Karena pertimbangan-pertimbangan inilah maka suatu hari (yang panas dan lagi-lagi sama sekali tidak romantis) aku menciumnya di bawah sebuah pohon beringin yang akar-akarnya menjulur ke sebuah kali kecil dan yang sebuah batangnya digantungi selembar anyaman bambu yang di atasnya penuh sesajen. Aku mendekapnya. Dan dia terisak-isak di dekapanku itu. Aku tak tahu persis dorongan apa yang membuatku agak lupa diri dan bisa-bisanya bercinta di bawah pohon besar yang mestinya bisa saja kepergok orang lain, yang kalau kebetulan lewat di jalan dekat pohon itu akan dapat langsung melihat kami. 

Jadi, sungguh aku tak tahu apakah kamu akan menyalahkan aku bila sejak itu tindakanku semakin brutal dan kurang ajar. Ah, ya, tentu saja aku masih ingat percakapanku dengan seorang temanku tentang Vietnam Rose yang sangat berbahaya itu. Tapi apakah kamu akan tetap menyalahkan aku kalau kesempatan untuk begitu terlalu terbuka, dan aku ini tak lebih dari seorang laki-laki biasa? Dan lebih-lebih lagi Le Thi Loi yang meskipun sudah lama tersia-sia di kamp pengungsi ini nyatanya masih tampak cantik dan tetap memiliki sepasang mata yang selalu berbinar-binar? Memang gila. Tapi aku semakin menikmati kegilaan itu dari hari ke hari. Astaghfirullah!

“Loi …” suatu saat aku bertanya padanya, “Kamu tahu kalau aku sudah punya anak dan istri?”

“Guru sering menceritakan mereka, kan?” Dia balik bertanya. “Apakah guru khawatir saya akan merebut guru dari tangan mereka?”

“Bukan begitu maksudku Loi. Tapi apakah engkau sadar bahwa suatu saat kita pasti berpisah ….”

“Dan guru akan melupakan saya, dan hubungan ini pun tak lebih menjadi bagian masa lalu yang tak perlu direnungi bertele-tele?”

Aku terdiam. Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa selama ini dia tidak main-main. Tapi sebenarnya untuk apa? Apakah ini suatu kesengajaan untuk merendahkan dirinya sendiri? Sekedar untuk menegaskan bahwa dia cuma pengungsi? Cuma segelintir pengungsi dari ribuan pengungsi lainnya yang bahkan menurut pengakuan mereka sendiri tak lebih dari “satu generasi terbuang yang lebih busuk dari sebatang merang yang sudah terlalu lama terkubur dalam lumpur”? Baiklah. Baiklah. Tapi kalau begitu sebenarnya aku ini apa pula? Apa bedanya dengan seorang bajingan paling tengik yang menganggap semua perempuan di atas bumi ini sebetulnya cuma pelacur yang boleh dizinai dengan semena-mena?

“Jangan berpikir sejauh itu guru.” Dia meneruskan dengan mata berkaca-kaca. “Saya tahu persis kedudukan guru. Saya tidak ingin memiliki apa-apa lagi. Apalagi yang saya harapkan?”

“Kau nampaknya putus asa Loi.”

“Bukan begitu guru. Saya hanya berusaha menyadari keadaan saya.”

“Setidaknya kau masih mempunyai orang-orang yang kau cintai di Amerika. Kau bisa belajar melupakan segalanya, dan memulai hidup baru.”

“Tidak guru. Saya tidak mempunyai siapa-siapa sekarang. Bagi mereka, saya sudah mati. Sebaiknya memang sejak dulu saya mati. Saya tidak mengerti kenapa Tuhan membiarkan saya hidup begini lama.”

“Kamu juga menyesali Tuhan?”

“Entahlah guru. Memang tidak semua hal bisa diterangkan. Seperti juga perasaan saya saat ini. Saya tahu semua ini tidak mungkin diteruskan. Tapi kenapa saya tidak mampu mengikuti akal sehat saya sendiri?”

“Tapi bagaimana seandainya aku ternyata tidak mencintaimu?” tanyaku tiba-tiba dengan suara keras. Aku terpaku sejenak. Namun segera nampak biasa kembali. Hanya matanya agak berubah sendu.

“Apakah itu penting bagi saya guru?” Dia menatap mataku lekat-lekat. “Apakah saya pernah menuntut supaya guru mencintai saya?”

Dia memang tidak pernah menanyakan soal itu. Astaga, lalu untuk apa aku mengajukan pertanyaan yang begitu tolol? Apakah aku hanya untuk menghancurkan perasaannya, dan melengkapi kekejamanku?

Dalam kata-kata, sejak saat itu, aku selalu berusaha memperbaiki diri. Tapi dalam perbuatan, aku bahkan lebih membinatang dari yang sudah-sudah. Di tempat ini, menurut peraturan, tidak seorang pun yang diijinkan memasuki barak-barak pengungsi tanpa alasan yang bisa diterima oleh petugas keamanan. Pemeriksaannya sangat ketat. Sanksinya berat. Tapi malam aku mengendap-endap memasuki barak Loi, dan baru esok paginya aku balik lagi ke kamarku sendiri. Rupa-rupanya sudah banyak yang tahu. Tapi aku hanya cengar-cengir saja kalau ada yang menyindir. Aku selalu membathin, paling-paling mereka sama saja bejatnya. Sebenarnya ini tidak mengada-ada. Aku tahu persis bahwa beberapa teman juga melakukan hal yang sama. Jadi, karena aku merasa tidak sendiri, aku lalu menganggap segalanya biasa-biasa saja. Aku pun terus bolak-balik ke kamarku. Begitulah. 

Sampai suatu saat, sebelas Mei hari Selasa jam dua siang di bawah pohon beringin yang ada sesajennya itu, Loi mengatakan padaku bahwa dia hamil. Aku agak lupa bagaimana reaksiku seketika itu. Tapi seperti laki-laki pengecut lainnya—yang tiba-tiba dihadapkan pada suatu realitas yang tidak diinginkannya—aku pun tiba-tiba seperti lupa bernafas dengan kepala bagai dibebani sebongkah batu dan mata mendelik, seolah dengan demikian akan terjadilah suatu mukjijat yang dapat melepaskanku dari tragedi ini—dengan tiba-tiba. Pikiranku mendadak cupet. Aku mendadak ingat anak istriku di rumah. Aku mendadak ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas apa. Tapi yang jelas bukan ketakutan terhadap dosa ataupun Tuhan. Aku sudah terlampau kumuh untuk memiliki ketakutan yang begitu anggun. Aku tdak mengatakan apa-apa padanya. Bak idiot, aku hanya mampu memandangi matanya yang berubah kelam. Sudah. Seingatku, cuma begitulah reaksiku. Tidak lebih. Dan seingatku, Loi pun cuma membisu menyaksikan ketololanku.

Tapi sesungguhnya kau berprasangka terlalu baik kalau kau mengira aku segera berubah kelakuanku sesudah peristiwa ini. Memang, untuk dua hari saja. Pada hari ketiga, nyatanya, terjadilah suatu peristiwa lain yang sangat melegakan perasaanku. Bukan jalan keluar. Tapi hanya satu jalan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Aku tahu ini sangat melukai perasaan Loi, dan menempatkannya pada posisi semakin sulit. Pada hari ketiga itu nama Loi tercantum di papan pengumuman yang memuat nama-nama pengungsi yang akan berangkat ke Amerika dua bulan berikutnya. Hatiku bersorak di depan pengumuman itu. Beberapa pengungsi di sebelahku malah berjingkrak-jingkrak. Ini wajar. Bagi mereka, inilah saat-saat yang paling ditunggu-tunggu. Setelah menggelandang bertahun-tahun dari kamp ke kamp dengan nasib yang tak pernah pasti. Kini pintu gerbang untuk memasuki dunia baru yang begitu banyak memberi janji-janji itu telah terwujud di depan mata mereka. Aku pun kecipratan kebahagiaan itu. 

“My Going to America next month teacher.”

“Nha ong o dau?”

“Me on California teacher.”

“Tapi kau mesti belajar banyak Nam.”

“Yes teacher. No English no job.”

“No girl.”

“Uh kamu, cewek melulu.”

“Never mind teacher. Same same.”

“Sialan.”

“I send you letter teacher.”

“Bener.”

“Yes, You good to me.”

Baru pada malam harinya Loi datang ke tempatku. Matanya sembab. Sungguh terkutuk kalau aku tidak tahu sebabnya. Toh di tengah-tengah kelegaanku, aku masih mampu merasakan kesedihannya, dengan setulus-tulusnya. Dia tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku juga diam saja. Di atas tempat tidurku kami hanya berpelukan saja. Aku belai-belai rambutnya. Dia menelusupkan kepalanya di dadaku. Edannya, dalam keadaan seperti itu pun aku masih sempat terangsang. Aku betul-betul muak terhadap diriku sendiri. Apakah nafsu telah membudakku sedemikian rupa sampai-sampai hatiku pun diubahnya jadi batu?

Lagi lagi aku tidak memberinya keputusan apa-apa. Aku hanya mengatakan sesuatu dengan makna yang sangat kabur. Selebihnya hanya berupa kata-kata yang lebih menyerupai pisau yang terus menerus menyayat lukanya daripada bujukan-bujukan yang menenteramkan perasaannya. Misalnya, aku mengatakan padanya bahwa hidup ini memang penuh cobaan, jadi kita harus selalu menempa diri untuk menghadapi cobaan-cobaan itu. Aku juga bilang padanya bahwa sesungguhnya masih banyak orang lain yang jauh lebih susah dari diri kita. Jadi buat apa mengeluh terus menerus? Bahkan dengan nada yang tak tahu malu aku mengatakan padanya bahwa semua ini telah ditakdirkan olehNya, jadi apa yang dapat kita perbuat kecuali pasrah dan tawakal kepadaNya? Di ujung kalimat-kalimat panjang-lebar itu aku lalu dengan lemah-lembut membuka kancing bajunya satu persatu. Dia diam saja. Lalu celananya. Dia juga diam saja. Maka aku pun lalu tidak mengatakan apa-apa lagi. 

Menjelang keberangkatannya. Yang begini-begini ini semakin sering kami lakukan. Aku semakin rakus. Aku ingat betul, saat itu adalah bulan puasa. Seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Kami selalu melakukan sholat tarawih bersama. Di sinilah aku melihat puncak dari segala kebejatanku sendiri. Aku memang tiap hari menghadiri sholat jamaah itu. Tapi aku sekarang tahu persis bahwa semua itu kulakukan hanya karena aku sungkan kepada teman-teman. Tuhan rasa-rasanya begitu jauh. Segala gerak dan ucapanku dalam sembahyang terasa hambar dan kosong. Ketika imam membacakan Al Fatihah, jiwaku menerawang ke barak Loi. Ketika sholat itu hampir berakhir, segala pikiranku telah terbang mengitari tubuh Loi yang seolah selalu nampak telanjang. Tidak hanya sekali dua kali, ketika kami bangkit dari sholat, celanaku basah karena gairah yang meluap-luap. Ini pun ternyata belum cukup. Begitu bubaran sholat, aku langsung kabur dari teman-teman, menaruh sajadah, dan beberapa menit kemudian aku mengendap-endap lagi ke barak Loi tentu saja. Adakalanya aku tidak menemui Loi di baraknya. Dalam keadaan seperti ini biasanya aku langsung pulang secepatnya masuk ke kamar mandi, dan kemudian menciptakan bayang-bayang Loi di sana. 

Kata teman-teman aku semakin nampak pucat. Aku sendiri sudah merasakan kelainan-kelainan itu. Tapi aku tak perduli lagi. Aku tak gelisah sedikit pun jika setiap kali habis berjongkok kepalaku pasti merasa pusing. Aku bahkan tidak menaruh curiga sedikit pun kalau-kalau Vietnam Rose jahanam itu menyerangku. Aku tetap hidup seperti biasanya. Sementara itu Loi pun semakin nampak layu dan kering. Aku yakin, keadaannya jauh lebih parah lagi. Ini jelas bukan lantaran kelelahan fisik semata. Lebih dari itu, dia nampaknya telah hancur-lebur sampai ke relung-relung hatinya yang paling dalam. Begitu parahnya, sampai-sampai segala duka-citanya itu rasa-rasanya dapat kusentuh di permukaan kulitnya manakala aku belai-belai tubuhnya. Aku bagai bercinta dengan sosok mayat. Betul-betul seonggok mayat yang tak mampu memberikan respon apa pun, apalagi bercinta. 

Hanya matanya yang tak pernah berhenti menyatakan cintanya padaku. Dan nampaknya dia memang tak ingin berhenti. Aku pun tak pernah bosan menikmatinya. Dan rasa-rasanya aku aku pun tak pernah bosan. Kadangkala aku merasa kasihan padanya. Kadangkala aku tak perduli. Tapi adakalanya aku merasa mulai jatuh cinta padanya. Lalu, di saat yang lain lagi, aku merasa begitu membencinya, dan mengharapkan agar dia segera pergi dari tempat ini. Pada saat-saat semacam ini, sering kali aku memintanya—atau barangkali lebih tepat memaksanya?—untuk bertelanjang bulat dan kemudian mencumbui dirinya sendiri di depan mataku. Aku merasa puas sekali. Apalagi kalau kemudian dia menangis di pelukanku. Aku benar-benar merasa puas sekali. Setelah minta maaf seperlunya, biasanya aku langsung pulang, dan membiarkannya mengunyah kegetiran itu sendiri. 

Ketika saat-saat keberangkatannya semakin dekat, tingkahku semakin menggila. Aku lakukan apa saja untuk memuaskan diriku sendiri. Aku tak melihat lagi bahkan matanya yang dulu yang bersinar itu kini pudar sama sekali. Aku juga tak mau tahu bahwa seluruh sosok tubuhnya yang selalu mampu membangkitkan gairah imajinasiku itu kini nampak kering tak berdarah. Tak berguna lagi bicara soal gairah yang meluap-luap. Aku telah terlampau mengenal setiap inci tubuhnya untuk mampu menggetarkan hasratku sendiri. Sekarang dia tak lebih dari segumpal lempung yang bisa kuubah menjadi apa saja, atau kubuang ke mana saja. 

Wajarlah kalau dia semakin nampak kurus walaupun kandungannya sudah berumur empat bulan. Kenyataan ini sangat melegakan hatiku. Sebab kalau perutnya itu terlalu nampak menonjol. Aku yakin pasti akan timbul masalah lain yang tidak kalah ruwetnya. Ketika keberangkatannya semakin dekat aku semakin sering membawakannya makanan-makanan bergizi. Bagiku ini sangat penting. Sebab kalau dia sampai jatuh sakit, runyamlah segalanya. Keberangkatannya pasti ditunda. Dan ini berarti malapetaka bagiku. Beberapa kali dia menyatakan keinginannya untuk tidak berangkat ke Amerika. Tentu saja ini membuatku beringas. Apa-apaan?

“Tapi kau harus berangkat Loi,” kataku keras. “Ini demi kebaikanmu sendiri. Kau tidak boleh putus asa.”

“Saya tidak putus asa guru.” Dia berkata sambil terisak. “Tapi buat apa saya berangkat ke sana?”
“Buat apa?”

“Ya guru, buat apa. Saya hanya memiliki guru di dunia ini. Apa yang akan saya dapatkan di sana kalau segalanya ada di sini?”

“Kau terlalu sentimentil Loi. Kau mesti lebih tabah lagi.”

“Tapi bagaimana dengan anak kita?” tanyanya tiba-tiba. Aku tersentak. Anak kita?

Aku tidak pernah menjawab pertanyaannya ini. Sampai detik ini pun. Aku tahu tidak pernah menjawabnya lagi. Sampai kapan pun. Dia tahu betul kepengecutanku. Dan, tapi, lalu memaafkannya, aku tak habis mengerti untuk apa dia mau melakukan semua ini. Sekedar lantaran cinta? Entahlah. Padahal dia tahu saatnya pasti tiba. Dia pun tahu dia pasti kalah. 

Sampai malam terakhir sebelum hari keberangkatannya (Loi dijadwalkan berangkat tanggal 14 Juli 1984), aku tidak pernah lagi mengungkit-ungkit soal itu. Herannya, dia juga diam seribu bahasa. Dia hanya melakukan beberapa hal yang baru saat ini aku memahami maknanya. Pada malam terakhir itu dia hanya memandangiku dengan sorot mata yang kurasakan aneh. Padaal saat itu aku bicara panjang lebar tentang tetek-bengek sehubungan dengan persiapan keberangkatannya. Dan dia pun hanya menciumku dengan kelembutan yang belum pernah kurasakan. Padahal saat itu aku mencoba mencumbuinya dengan kebuasan seekor binatang. Dia juga menggenggam erat-erat tanganku. Membelai-belai wajahku. Dia kemudian menangis dengan kebisuan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Aku sendiri cuma tertegun-tegun saja melihat kelakuannya. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa lagi sesudah itu kecuali berjanji untuk mengantarkannya ke pelabuhan esok paginya. Aku masih ingat betapa kosong perasaanku saat itu. Namun aku tak tahu persis apakah aku juga merasa sedih. Karena aku balik ke kamarku sendiri jam sebelas malam (sesudah jam ini semua pengungsi harus sudah berada di baraknya masing-masing, dan semua kegiatan harus sudah dihentikan) aku masih belum juga memahami segala tingkah lakunya yang tidak seperti biasanya itu. Aku bahkan merasa, ini hanya satu pengalaman yang lumrah dialami oleh setiap orang yang akan pergi jauh. Itu saja. 

Baru esok paginya segalanya menjadi jelas. Baru esok paginya aku mengerti. Dan tentu saja sudah sangat terlambat. Ternyata Loi bunuh diri pada malam itu juga. Mungkin hanya beberapa saat sesudah aku sampai di kamarku sendiri. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku juga tak tahu lagi harus ngomong apa. Tapi kenapa dia melakukannya juga? Kenapa segalanya harus berakhir setragis itu? Ternyata dugaanku salah sama sekali. Ternyata dia lebih hancur dari yang pernah kupikirkan. 
Tapi, apakah aku yang salah? Apakah aku yang membunuhnya? Apakah aku?

Sebuah Kamp Pengungsi, Juli 1984


Prasetya Irawan. Lahir di Lawang, 6 Maret 1959. Sarjana Sastra Inggris di IKIP Malang (1984). Master jurusan teknologi Pendidikan di Universitas Syracuse, USA (1987). Doktor jurusan Teknologi Pendidikan di Universitas Syracuse, USA (1990). Pernah mengambil program diploma jurusan Sastra dan Teater Jepang di Universitas Sophia, Jepang (1983). Sebagai penulis, tidak begitu produktif dan hanya menghasilkan beberapa cerpen, beberapa puluh puisi, beberapa belas artikel, satu dua naskah buku serta 1000 cita-cita yang belum sempat terwujudkan. Kini ia pegawai negeri, dan menjabat asisten direktur bidang Akademik di sebuah proyek Bank Dunia. Le Thi Loi, adalah pemenang ke-4 Sayembara Penulisan Cerpen Zaman III, 1985. Kemenangan itu diputuskan oleh juri-juri antara lain HB Jassin, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya dan Danarto. MATRA memuat cerpen yang belum pernah dipublikasikan di media lain ini, untuk pertama kalinya. (Matra, Oktober 1991)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Prasetya Irawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Oktober 1991


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi