Mencari Bapak ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 29 Maret 2016

Mencari Bapak


"ANTARKAN aku ke lampu merah!" katanya sambil tetap memandang hujan.

Aku dan bunda berpandangan. Setelah berhari-hari membisu, hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Rain.

"Lampu merah?" bisik bunda.

Aku mengedikkan bahu. Aku betul-betul tak tahu alasan Rain meminta diantar ke sana. Sejak kedatangan kami empat hari lalu, aku kehilangan rain yang selama ini kukenal.

Raina jaid sahabat terbaikku sejak kepindahanku saat kenaikan kelas lalu. Aku biasa memanggilnya Rain, karena dia suka hujan.

***
AWALNYA aku merokok secara sembunyi-sembunyi . Tak menunggu lama, aku terang-terangan aku merokok di depan ayah bunda. Mereka etrkejut dan memintaku berhenti menghisap nikotin. Permintaan itu tak kupedulikan. Malah kadang aku menenggak minuman beralkohol di depan mereka. Lalu menjalar ke narkoba. Pertama kali menggunakna putaw, aku menyuntikkannya di depan ayah. Sebagai ganjaran ayah menamparku keras. Menghukum dan menghajarku habis-habisan.

Aku tak peduli. Aku bukan tak tahu semua bahayanya. Tapi, aku mau ayah bunda tak hanya menghukumku seperti pencuri yang tengah tertangkap. Aku merindukan lembutnya kasih sayang mereka. Ayah bunda selama ini tak lebih hanya sebuah panggilan. Tapi peran dan hadir mereka tak kurasakan. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bertemu dengan rekan kerja atau rekan bisnis. Aku nomor dua.

Inilah protesku. Dan ayah menjawabnya dengan tamparan. Tiap usai dihajar ayah, bunda selalu mendekapku sambil menjelaskan jika semua kesibukan mereka semata untukku.

Selama ini aku sellau sendiri. Rumah hanya berupa bangunan tanpa nyawa. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, tak juga kulihat wajah ayah bunda di dalamnya. Aku butuh teman bicara. Aku butuh kehadiran mereka. Dengan berulah, kuharap mereka memerhatikanku lagi. Tapi protesku tak berarti. Aku diasingkan. Dibuang. Mereka mengirimku ke rumah eyang. Daerah yang sunyi, dan jarang penghuni dengan semua keterbatasan adalah neraka kedua setelah tak kurasakan kasih sayang ayah bunda.

"Eyang juga sendiri di rumah," kata eyang saat kukeluhkan keadaanku." Jangan biarkan kesendirian menyiksamu. Seharusnya, dengan kesendirian, kamu bisa bergerak lebih jauh untuk melihat sekitarmu. Untuk menyadari betapa beruntungnya kita yang harus bersusah payah mendapatkan semua."

Aku dan eyang beda generasi. Petuah-petuah itu seperti dongeng pengantar tidur. Aku tak butuh perhatian ayah bunda. Tak hanya uang, uang, dan uang. Bahagia tak selalu diukur dengan uang. 

Hari pertama masuk sekolah baru, aku sudah mendapat teguran dari guru BP karena merokok di kelas. Terlebih aku seorang siswi. Tabu. Dan aku dikucilkan. Hanya satu orang yang mau bersamaku. Raina.

"Setiap orang selalu punya dua sisi. Baik dan buruk. Termasuk aku. Dan aku tak berhak mengatakan bahwa kamu lebih buruk dariku. Aku percaya jika selalu ada alasan di balik sebuah tindakan. Apapun itu," jawabnya saat kutanya alasannya mau menerimaku.

Aku mengangguk. Dan segera kuceritakan apa yang selama ini kualami dan kurasa. Dia menyimak tanpa menyela. Dia satu-satunya orang yang mau mendengarkanku. Bersamanya membuatku punya teman bicara.

"Meski aku nggak pernah setuju dengan merokok. Tapi aku nggak bisa melarangmu menghisapnya. Itu hak kamu. Kamu tahu baik buruknya, kan? Kalau kamu memang sulit berhenti, aku cuma minta kamu tidak merokok sembarangan. Maksudku, tolong jangan merokok saat di sampingku. AKu bukannya menolak atau malu. Hanya saja, aku tak bisa menghirup asap rokok," katanya satu waktu.

Penerimaan dan permintaannya kupenuhi setelah berkali-kali mendapati wajahnyamemucat dan terbatuk setiap aku merokok di sampingnya. Setiap akan merokok, aku harus menjauh darinya. Aku tak mungkin melihatnya sellau tersiksa. Perlahan, jumlah batang yang kuhisap makin berkurang.

Kami makin dekat. Aku kadang menginap di rumahnya untuk menyelesaikan tugas sekolah. Keluarganya menerimaku seperti keluarga sendiri. Kurasakan kehangatan dan keutuhan di dalamnya, yang selama ini kurindu. Hanya saja aku tak pernah bertemu ayahnya.

"Bapak bekerja di kota tempatmu berasal. Bapak tak punya kemampuan lebih. Pendidikannya dulu tak tamat SMP. Di desa ini, penghasilan sebagai buruh tani sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolahku juga keempat adik-adik," jelasnya.

Tenggorokanku tercekat mendengar penjelasannya. Tak kusangka, aku dan Rain memiliki kemiripan nasib. Sama-sama harus terpisah dari ayah. Bedanya, Ayah Rain tak punya pilihan lain untuk menghidupi keluarganya. Sedang aku diasingkan oleh ayah yang tak bisa menolerir protesku.

"Mereka hanya berusaha membuat kita tidak kesulitan di depannya nanti. Bersyukurlah kamu tidka sesulit keluargaku. Kita tak bisa menuntut orang lain untuk sempurna, meskipun itu orangtua kita. Tapi kita bisa melakukan kompromi."

Aku tetap tak bisa memaafkan ayah.

Aku sudah jarang merokok. Alkohol dan obat-obatan terlarang tak pernah lagi kusentuh. Nilai-nilai pelajaranku makin bagus. Tak ada lagi laporan kenakalan dari pihak sekolah. Dan semua dilaporkan eyang pada ayah bunda. Mereka merespons baik laporan itu. Seminggu sekali ayah bunda menjengukku di rumah eyang meluaapkan kegembiraan dan kasih sayang yang selama ini kurindukan.

"Aku jarang merokok gara-gara sahabatku nggak bisa menghirup asap rokok. Yang lainnya cuma efek karena ada yang mau mendengarkan dan memahamiku," jelasku pada ayah.

Ayah tersenyum dan mengacak rambutku. Sebagai hadiah, ayah akan mengabulkan apapun yang kuminta saat liburan nanti.

"Aku ingin pulang. Dan aku mau Rain juga diajak. Dia pernah bilang jika ingin mencari Bapaknya yang bekerja di kota tempat kita tinggal. Boleh?"

Ayah mengiyakan.

Rain terkejut saat kusampaikan keinginanku. "Tapi aku tak tahu Bapak tinggal di mana dan pekerjaannya apa. Selama ini Bapak tak pernah cerita," keluhnya.

"Kita cari bersama-sama," aku meyakinkan.

Ibu Raina mengizinkan pencarian itu.

Saat berangkat, semua kegembiraan terlukis di wajah Rain. Bibirnya tak henti mengulum senyum, hingga mobil kami terhenti karena lampu merah, dekat gang masuk ke rumah. Lalu Rain tak berkata sepatah pun.

Kemudian.

"Tak perlu memakai mobil. cukup berjalan kaki," katanya.

Aku dan Bunda mengekor di belakang. Di dekat lampu merah Rain berhenti. Kuteliti wajahnya yang menunduk. Hujan masih menyisakan gerimis. Tapi aku tahu jika bukan gerimis yang membasahi wajahnya. Rain menangis.

"Ada apa Rain?"

Dia tak menjawab. Menggeleng sekilas, lalu menunduk. Dia butuh waktu beberapa saat untuk bicara.

"Kamu lihat banci yang mengetuk kaca mobil itu?" tanyanya menggigit bibir.

Aku mengangguk setelah memerhatikan waria tua yang riasannya luntur terkena hujan, bibirnya terlihat membiru menahan gigil. Saat kami datang, kaca mobil ayahpun diketuknya setelah menyelesaiakn lagu yang diiringi kecrekan di tangan.

"Dia bapakku!" bisiknya sambil menunduk. 

Suratmi, Gedangan 2 Gedangrejo Karangmojo Gunungkidul Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suratmi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 27 Maret 2016




Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi