TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 28 March 2016

Odi Ergo Sum - Kisah Azzali - Kalijodo

Odi Ergo Sum 

Sebuah benteng yang kokoh ditegakan 
memagari rumah milik seorang pengecut 
di pusat kota. sebuah menara pengawas yang tinggi 
dan seorang pemanah selalu berjaga di sana 
dengan kamera pengawas yang menyala 
24 jam sambil merawat kebencian.

Si pengecut itu berwajah bersih dan menawan 
lebih mirip seorang wali atau padri 
tapi orang-orang menyebutnya pangeran 
yang bertahta di dunia gelap birokrasi 
dengan mahkota yang dirancang dari kesalahan 
hitung-hitungan anggaran.

“Dilarang masuk!“ kalimat itu ditempel 
dekat gerbang yang dijaga puluhan keledai sinting 
bersuara buruk. ada juga seseorang 
yang gemar merawat kulit tebal di wajanya 
sambil menjulur-julurkan lidahnya 
yang bercabang.

Tapi si pengecut itu jarang terlihat, sibuk 
membaui aroma rasa takut dan kebencian 
yang menguap dari siapa saja. ia sering 
tergesa-gesa membuat keputusan 
dengan suaran berletusan seperti cambuk 
dilecutkan. membuat keledai-keledai sinting 
meringkik dan mulai menggigit apa saja.
desis ular menjadi satu-satunya suara 
yang terdengar di seluruh sudut kota.

Bandar Lampung, iii-2016 

Kisah Azzali 

Hari itu dia tegaskan sikapnya 
dan dia memilih tak ikut menunduk 
seperti kaumnya.

“Bagaimana mungkin cahaya yang cerlang 
tunduk takzim pada tanah yang keruh, 
tanah yang bau,“ katanya.

Kaumnya tak percaya atas pemberontak itu 
tapi dia lebih tak percaya lagi 
melihat sayap-sayapnya hilang kepakan 
dengan bulu-bulu berlepasan.

Sejak itu lepas juga semua ikatan 
dengan kaumnya 

Lalu sesuatu menyala di tubuhnya 
dengan nyala itu dia ingin membakarmu 
selalu ingin terbakar bersamamu.

Bandar Lampung, iii-2016 


Kalijodo 

: krishna murti 

Tak seorang pun mau ke sini 
selain mereka yang jadi bagian dari kematian.
maut yang membangun kerajaan kegelapan 
pada gelas-gelas minuman, mesin judi, 
hentakan house musik, dan tarian-tarian liar 
perempuan. maut yang bertahta 
di dalam pikiranmu dengan pengawal 
yang mampu mencium rasa ketakutan 
di darahmu.

Sekali kau menemuinya, sambutannya 
begitu ramah dan melenakan. seperti kawan lama 
setiap saat diajaknya kau tertawa, bergembira, 
hingga kau lupa pada banyak kisah 
yang mesti kau selesaikan membacanya 

Jangan sekali-sekali menjadikannya 
saudara, teman, kekasih, apalagi musuh.
kau tak mungkin mendatanginya 
dan mengajak berduel. maut itu 
tak akan bisa ditaklukkan meski kau punya 
jurus pamungkas: pukulan angin berpusing 
dan menusuk tajam, yang pernah menalukkan 
penghuni lembah kegelapan.

Maut ini punya ilmu kanuragan tanpa tanding.
berulang-ulang ditebas mata pedang keadilan 
tapi tubuhnya kembali utuh dan kembali 
menebarkan kematian di sekujur tubuhmu, 
di urat nasib orang-orang. kerajaannya 
semakin gelap dengan tahta yang lebih kokoh 
dan pengikut yang lebih sinting.

Jakarta, ii-2016


Budi Hatees, lahir di Sipirok, 3 Juni 1972. Menulis sajak, Serba Sedikit sejak tahun 1980-an. Kitab sajaknya diterbitkan pada 1996, Narasi Sunyi, dan muncul di sejumlah antologi puisi bersama para penyair lain.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Hatees
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 27 Maret 2016

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home