Perempuan Limited Edition (10) ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 28 Maret 2016

Perempuan Limited Edition (10)


"AKU sendiri nggak minta begini dan aku sudah berusaha menghindar, tapi ternyata aku nggak bisa. Maafkan aku, Os." Itu yang keluar dari mulut Nadia.

"Aku tak pernah melihatmu kebingungan begini Dhea, berarti benar kamu mencintai adikku? Kamu tidak pernah seperti ini saat bersamaku dulu," kata Oscar, sedikit terdengar ada nada cemburu di dalamnya.

Nadia sperti duduk di kursi terdakwa mendengar penuturan Oscar. Dan sangat tidak nyaman perasaan hatinya. meskipun Oscar hanya mantan pacarnya yang sudah sekian tahun, perasaan cemburu tetap ada, mengetahui orang yang pernah dicintai ternyata lebih mencintai adiknya. Di satu sisi ia menyayangi adiknya, di sisi lain ia merasa menjadi pecundang.

"Rivan beruntung bisa mendapatkan hatimu Dhea," kata Oscar lagi, lirih.

Nadia mendongakkan kepalanya mendengar itu yang keluar dari mulut Oscar. Karena sejak tadi Nadia hanya menunduk seperti terdakwa. Sama sekali di luar dugaannyakalau Oscar bisa bicara seperti itu. Bayangannya, Oscar akan mengatakan kata-kata pedas yang mungkin akan tidak layak didengar. Tapi ternyata..?

"Maafkan aku Os," kata Nadia sambil berani memandang Oscar.

"Nggak perlu minta maaf Dhea, kamu nggak salah. Perasaan itu datang tanpa kamu minta kan? Dan Rivan sudah menceritakan bagaimana kamu sudah berusaha untuk menghindar walaupun akhirnya kamu sendiri tidak bis amengatasi desakan dari hatimu. Hanya saja yang jadi permasalahannya dengan Papa," jelas Oscar.

"Tapi Os...." Bleum sempat Nadia merampungkan kata-katanay, Nadia dikejutkan orang yang mengetuk pintu.

"Permisi...." Suara dari pintu dan Nadia segera menemui.

"Mbak.... Mbak mau minta tolong," kata orang itu tergopoh-gopoh, yang ternyata tetangga.

"Ada apa Mbak? Tenang dulu."

"Tolong Mbak anterin ke rumah sakit. Suami saya jatuh saat membetulkan genteng!" katanya dengan napas naik turun.

"Iya ya Mbak sebentar," jawab nadia langsung masuk, menukar pakaian.

"Os tolong ikut aku!" kata Nadia saat melewati ruang keluarga dan  masuk kamar.

Tidak sampai lima menit Nadia sudah keluar lagi.

"Ayo cepat Os... ini kuncinya," kata Nadia sambil menyerahkan kunci mobil.

"Ke mana?" Oscar tak mengerti. Karena dirasa Nadia seperti orang panik. 

"Ke rumah sakit ayo...."

Oscar mengekor. Nadia seolah lupa yang barusna dibahasnya. Pikirannya kepada suami perempuan tadi.

Setelah ikut membantu mengangkat ke dalam mobil, karena ternyata kaki kirinya patah, Nadia segera menginstruksikan Oscar menuju rumah sakit Condongcatur. Rasa khawator Nadia terlihat jelas di wajahnya. Apalagi sang istri tak henti-hentinya menangis.

"Sabar Mbak, tenang dulu," kata Nadia sambil menengok ke belakang. Dilihatnya perempuan itu sedang membelai-belai rambut suaminya yang menahan rasa sakit.

Oscar melirik Nadia. Begitu perhatiannya Nadia pada orang lain yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Ia ingat waktu masih berpacaran dengan Nadia ada seorang tukang bakso yang mengeluh perlu modal untuk memerbaiki gerobaknya, karena sudah tidka layak pakai. Nadia dengan ringan mengeluarkan isi dompetnya.

Memang Nadia cukup berlebih saat kuliah dulu. Dan itupun tak menjadikan ia merasa sombong. Namun kelebihannya itu dipakai untuk membantu orang lain. Bukan untuk foya-foya tidka jelas, apalagi untuk hal-hal yang tida penting yang merugikan dirinya. Nadia menghindari jauh-jauh hal-hal seperti itu.

Selain cantik dan berkecukpan, NAdia punya otak yang bisa diandalkan untuk memilah mana yang harus dan tidka dilakukan. Mana yang menguntungkan mana yang merugikan. Itulah sebabnya saat kuliah dulu Nadia tak eprnah sepi dari penggemar yang apel setiap malam minggunya. Dna beruntung Nadia menjatuhkan pilihan terhadapnya dulu, walaupun tidak bisa dipertahankan  hingga ke jenjang perkawinan. Akhirnya ia memilih Austin yang telah memberikan buah hati bernama Adrian. Dan entah ada masalah apa lagi sehingga Nadia mengambil keputusan bercerai.

Yang pasti bukan karena adanya pihak ketiga, itu yang dipastikan Oscar. Karena tidak mungkin orang mampu mengkhianati nadia dan sebaliknya. Dan Nadia memang orang yang susah ditebak apa yang bersarang di hatinya. Bahkan stean pun susah memrediksi. Itu yang pernah didengar dari rekannya.

Sekarang jika Nadia bersama adiknya, ia tak mampu berbuat apa-apa. Oscar tak pernah melihat Nadia memerlakukan dirinya seperti yang diperlakukan terhadapa diknya. Oscar banyak tahu dari cerita teman Rivan. Ada perasaan cemburu dalam hatinya, namun dibesarkannya hatinya karena toh sekarang ia telah memiliki Reny.

Yang tak pernah dimengerti kenapa Nadia justru jatuh cinta pada adiknya? Kelebihan apa yang dimiliki adiknya sehingga bisa membuat Nadia begitu menurut? Perbedaan usia Nadia lumayan jauh dengan Rivan. Dan mengapa Rivan bisa jatuh cinta dengan Nadia yang seharusnya menjadi kakak iparnya? Memang Rivan sangat mengagumi nadia saat melihat foto-foto Nadia sejak ia kecil. Tapi kenapa bisa seperti ini?

Oscar tak dapat menemukna jawaban tepat. Apa reaksi papanya jika tahu Nadia sekarang justru bersama Rivan setelah batal menjadikannya menantu? Tetap menerima sebagai menantu dengan anaknya yang lain? Iscar tidak tahu jawabannya jika itu terjadi. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 27 Maret 2016


Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi