Perempuan Limited Edition (8) ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 14 Maret 2016

Perempuan Limited Edition (8)


"NAH Oom Ipan juga nggak mau dimarahi gurunya. Jadi Adrian mesti ngerti ya," bujuk Nadia, dan Adrian mengangguk.

"Dah sekarang Adrian belajar sama Mama aja ya."

"Mau bobok aja Ma," jawab Adrian. Begitu selalu jika keinginannya tak terpenuhi.

"Iya deh...yuk," kata Nadya sambil mengajaknya ke kamar.

Sambil menidurkan Adrian, Nadia tak berhenti berpikir tentang Rivan. Mengapa rasa kehilangan itu tidak hanya dirasakan Adrian? Nadia merasa ada sesuatu yang dirasakan hatinya. Namun segera ditepisnya karena tidak mungkin itu terjadi. Rivan adalah adik mantan pacarnya.

"Kebiasaan pergi bersama saja yang membuat aku merasa ada yang kurang jika Rivan tidak ke rumah." Nadia berusaha menenangkan hatinya. Dia tidak ingin ada sesuatu dengan Rivan kecuali mengangapnya sebagai adik. Itu tekadnya!

Belum selesai Nadia menimbang-nimbang hatinya, terdengar suara mobil di halaman rumah. Nadia segera bangkit dari tempat tidurnya karena pembantu sedang mencuci pakaian di belakang. Nadia segera membukakan pintu saat dilihatnya yang datang adalah Rivan. Ia segera melupakan yang barusan dipikirkan.

"Adrian mana Ma?" tanya Rivan pada Nadia yang sudah terbiasa memanggilnya mama.

"Baru aja tidur, tadi merengek minta ke rumahmu."

"Ini aku bawain kentang gorengpesanan dia kemarin," ujar Rivan sambil menyerahkan kentang goreng kesukaan Adrian.

"Nggak usah terlalu dituruti anak itu, ntar malah minta macam-mavam ke kamu."

"Nggak papa selama aku bisa," jawab Rivan, kemudian duduk di ruang keluarga seperti biasanya, diikuti Nadia.

Hari ini dirasakan ada sesuatu yang lain dari Rivan menurut Nadia. Rivan berusaha sebiasa mungkin, namun Nadia menangkap ada yang lain.

"Ada apa denganmu Van?" tanya Nadia.

"Nggak ada apa-apa. Mama udah makan?" jawab Rivan sambil mengalihkan pembicaraan.

"Udah."

Rivan menarik nafas panjang.

"Ada amsalah kamu?" tanya Nadia lagi.

Rivan tak menjawab hanya menelan ludah.

"Ada apa sih kok seperti orang bingung gitu kamu?" Nadia penasaran.

Rivan tak menjawab namun matanya menatap tajam Nadia.

"Van, ada apa?" Nadia menjadi risih ditatap sedemikian rupa.

"Aku mau ngomong sama Mama."

"Ya ngomong aja, emang kenapa kok tumben pakai izin segala."

Nadia semakin bingung karena biasanya Rivan kalau mau bicara, langsung bicara. Tidak seperti saat ini. Rivan menelan ludah lalu bicara.

"Akhir-akhir ini aku sering mimpi Mama.|

Dug! Jantung Nadia seolah mau copot karena sebenarnya dia juga sering mimpi Rivan namun tak pernah diungkapkan.

"Van sepertinya ini sudah tidak beres." Itu yang keluar dari mulut Nadia.

"Maksud Mama?" Rivan tak paham.

"Jujur aku juga sering mimpi kamu!" kata Nadia dan sekarang Rivan yang kaget luar biasa.Tak menduga akan seperti itu jawaban Nadia.

"Kenapa bisa sama?"

Setelah sama-sama diam, dengan kening yang sama-sama berkerut, Nadia membuka suara.

"Kalau begitu kamu jangan kemari lagi Van, seperrtinya ini sudah nggak bagus. Aku nggak mau terjadi apa-apa di antara kita.

Rivan sekali lagi menarik nafas panjang.

"Aku sendiri bingung Ma, rasanya aku nggak bisa jauh dari Mama dan Adrian."

Nadia menelan ludah sambil menarik napas panjang. Tiiba-tiba pikirannya menjadi ruwet. Tadi baru saja dia sedang menimbang-nimbang hatinya dan berusaha menepis semua itu. Tapi siapa sangka jika Rivan mempunyai kegelisahan yang sama.

"Ya Tuhan, jangan libatkan aku dengan orang yang di hadapanku ini. apapun alasannya. Tolong berikanlah pengertian terhadap hatiku ya Tuhanku. Dia adik mantan pacarku. Apa kata orang nanti jika aku terlibat lebih dalam dengan orang di hadapanku ini?" Nadia memohon dan bertanya pada Tuhan, dalam hati.

"Nggak usah bingung. Begini saja, mulai besok kamu jangan kemari dulu." Itu yang keluar dari mulut Nadia.

"Tapi Ma...."

"Dengan Van, kamu adik Oscar dan kamu tahu Oscar pernah jadi pacarku!"

Rivan hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa karena otaknya juga berpikir ke situ, sejak ia merasakan ada sesuatu dalam hatinya jika bersama Nadia yang semestinya dulu menjadi kakak iparnya.

"Jangan biarkan perasaan ini berkembang lebih jauh lagi, karena kita tidak akan pernah sampai ke muara yang pasti," kata Nadia lagi.

Rivan memainkan tangannya sendiri, terlihat sekali seperti orang kebingungan.

"Begitu saja Van."

Rivan hanya diam. Kemudian menatap Nadia, dan Nadia tak bisa menangkap maknanya, karena tatapan itu terlihat sangat menyedihkan dan sudah mulai membentuk cairan yang diap jatuh dari mata teduhnya. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 13 Mareti 2016 



Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi