Perempuan Pantai - Manjujai* - Pagi Musim Ikan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 21 Maret 2016

Perempuan Pantai - Manjujai* - Pagi Musim Ikan


Perempuan Pantai 

Pagi sampai untuk ikan dan keranjang, untuk betis
hitam-kering, untuk lidah api di tungku dan gelegak
air laut, untuk tikar-tikar pandan berbau amis,
untuk umpatan yang berlayar di samudra.

Tak kau temukan jalan pergi di sini sejak mitos
dimulai.
Sepasang dada serupa bacang untuk mempelai,
anak-anak pembuka pintu rezeki, mulut dibungkam,
perempuan jadi tenaga kerja.

Tak seperti di tempat lain. Di sini cinta tidak perlu
bangku sekolah, kutek di kuku, salon tubuh,
hingga omong-omong politik. Kerja keras
satu-satunya pidato pembuka dan penutup.

Pagi sampai untuk sarapan, pamer uang
lima puluh ribu, merah bibir seadanya,
subang emas, gosip saat cari kutu,
dan mimpi-mimpi tak sampai ke tepi.

2016 

Manjujai* 

/1/
Bocah lima tahun, merengek
serupa keranjang penuh ikan diseret,
satu-dua kali mengusap bahu kering ibunya.
Dendangkan satu cerita untukku, Mak!

Ibu menghalau tangan kecilnya. Ia ingat
anjing buduk di pintu rumah tungku.
Ibu menyusun rantang, botol minum,
dan dibungkus sarung.

Tapi tak kunjung bercerita tentang
rasi bintang, Malin Kundang,
atau Malin Deman. Di luar, laut
terhampar, menyeret biduk terakhir.

/2/
Ia memeluk bocah itu di pangkuan,
membelai kepala-hitam-anyir,
menatap rimbang mungil matanya.
Di sebuah ruang yang dipenuhi

pukat, papan dayung, tikar pandan,
ia sulit menemukan kata pertama
pembuka cerita: Suatu hari seorang
perempuan pergi ke pantai, melihat

topi caping, kaki pancang dermaga,
lengan kaku kulit kayu. Perempuan itu
terpukau seakan mempelai terkejut
bunyi talempong. Padanya dikalungkan

nilon kasar-cokelat, laut menyindir,
pagi mendorong tubuhnya
dari anak dara jadi buruh nelayan.
Setiap hari terdengar teriakan anak payang.

Ia melangkah, menyalakan strongkeng,
menyulut api di tungku, menjerang air,
sebelum melayangkan salam pertama
pada langit yang masih kabur.

Ia tak tahu kata pertama pembuka cerita
hingga bocah itu mulai membaca buku,
menulis satu-dua surat panjang,
dan lambaian lembut di udara.

Bocah itu melihat jalan pergi
sementara ia tertahan di sini.

2016 

*Manjujai = istilah Minangkabau untuk mendendangkan cerita sebelum tidur.

Pagi Musim Ikan 

Aku ingin bermalasan di ranjang
sepanjang hari, rambut masai, mata
mengatup, seprai bagai laut saat badai.
Di luar, sauh diturunkan, tambang

ditambatkan, keranjang penuh ikan dilempar
dari biduk bercadik dua. Ada bau amis,
sorai anak-anak, negosiasi, umpatan,
tembakau, dan otot letih. Aku teringat satu

sekolah di tanah lapang, sejuk rumput basah,
tahi kerbau, langit biru, bau panas di baju
saat buka buku pelajaran. Pikirku, bangkit
dari tidur adalah cara meneruskan pagi

tak masalah banyak rencana diabaikan
umpama tikus mondar-mandir di dapur.
Tak ada waktu untuk secangkir kopi
aku harus memilah hasil tangkapan.

Tak perlu bertanya: apa kau bahagia?
Tak ada raut untuk bersedih
atau berpikir mengapa di tungku
 buih laut pecah begitu lincah.

2016 


Yona Primadesi lahir di Padang, Sumatra Barat, 26 Februari. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyakaryanya pernah dimuat di media lokal, nasional, dan beberapa antologi. Kini tengah melanjutkan pendidikan doktor di Universitas Padjadjaran, Bandung, sebagai dosen tetap di salah satu universitas negeri di Padang dan bergiat pada kegiatan literasi anak.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yona Primadesi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 20 Maret 2016
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi