Perjalanan Panjang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Jumat, 04 Maret 2016

Perjalanan Panjang


“SELAMAT SIANG, PAK.”

“Selamat siang,” Berli menunjukkan boarding-passnya pada pramugari berseragam biru-hijau itu, yang kemudian menghantarkannya ke tempat duduk di kelas eksekutif. Ia bernafas lega. Hampir saja terlambat. Gara-gara camat brengsek itu, yang terlalu bertele-tele bicara, terlalu banyak basa-basi melepas kepergiannya. Padahal bisa saja langsung tanda-tangan dan mengatakannya. Apa sih susahnya? Akibatnya, itulah, terpaksa dia tadi berurusan dengan petugas counter lantaran tiketnya sudah dioper ke orang lain. Bukan soal tiket hilang yang membuatnya berang, tapi ucapan petugas itu yang bernada menghina betul. “Kalau mau, ambil saja kelas eksekutif, tapi mahal.” Sialan. Terpaksalah Berli menerangkan bahwa ia beli tiket kelas ekonomi bukan karena duitnya pas-pasan tapi akibat kekeliruan petugas hotel yang salah-pesan. Ia juga terpaksa menceramahi petugas hotel itu bahwa hotel berbintang empat pun bisa melakukan kecerobohan.

Namun Berli bukannya penumpang yang paling terlambat. Seorang berumur enampuluhan bergegas masuk dan kemudian duduk di samping Berli. Segera setelah itu pintu pesawat ditutup. Tangga beroda ditarik menepi.

Berli melepas kacamatanya. “Oom Hendro … ?”

Pria berambut putih itu menengok ke Berli. “Lho! Sama siapa?”

“Sendirian, oom.”

“Bapak apa kabar? Sehat?”

“Sehat-sehat saja, oom.”

“Waktu itu saya dengar berobat ke Jerman?”

“Ah, chek-up rutin saja. Sekalian refreshing.”

Pesawat bergerak melintasi taxi-way. Pramugari hilir-mudik memeriksa sabuk pengaman dengan muka yang luar biasa mahal senyum hingga gayanya lebih mirip polisi mencari-cari barang terlarang. Sesaat kemudian pesawat take-off meninggalkan bandara udara Juanda. 

“Lagi ada kegiatan apa di Surabaya?”

“Kita baru merencanakan bangun hotel di Tretes, oom.”

“Tretes? Apa belum jenuh bisnis perhotelan di sana?”

“Kelas-kelas losmen memang banyak, tapi citranya sudah pada jatuh sebagai tempat begituan. Makanya kita ingin bangun hotel berbintang empat sekalian di sana.”

“Wah, minggu depan kalau balik lagi ke sini saya mau lihat.”

“Belum apa-apa, oom. Baru proses pembebasan tanah.”

“Lancar?”

“Yaaah, namanya juga pembebasan tanah. Di mana-mana pasti ada rame-rame sedikit. Biasalah oom. Lebih-lebih di Surabaya banyak koran baru. Suara petasan bisa terdengar seperti ledakan bom. Tapi dua minggu terakhir ini sudah reda. Beda dengan waktu kita bangun sirkuit formula di Gunung Kidul tempo-hari, kali ini bukan soal penduduk yang rewel soal ganti rugi, tapi justru camatnya yang banyak tingkah. Berlagak mewakili suara rakyat-lah, inilah, itulah ….”

“Kan ada oom Dal? Masih tugas di Surabaya atau sudah pindah?”

“Masih. Justru itu, camat satu ini tadinya belum tahu kalau saya keponakannya oom Dal. Hahahaha … !”

Pramugari menyodorkan segelas jeruk-peras sambil tersenyum seperempat detik.

“Adik yang laki-laki itu di mana sekarang? Siapa namanya?”

“Chandra. Lebih banyak nongkrong di Jakarta. Kita sepakat menempatkan dia di kantor pusat.”

“Sekolah komputernya apa kabar?”

“Bulan kemarin ini dia buka cabang yang ke duapuluh-empat. Di Denpasar.”

“Waduh! Sudah sampai Bali?”

“Tahun depan mungkin Ujungpandang atau Manado.”

“Pakai merek apa untuk praktikum?”

“Semua IBM.”

“Wah!”

“Justru kalau kita merek lain jatuhnya bisa lebih mahal. Semua itu kan cuma kelanjutan dari suplai untuk lima departemen. Waktu itu Chandra minta tolong pada oom Sis, bisa nggak mengusahakan fasilitas itu. Nyatanya bisa, ya syukur. Lumayan juga, oom. Lima puluh persen dari harga pasaran.”

Pramugari yang bersuara macam penyiar iklan obralan di department store mengumumkan ketinggian pesawat, cuaca setempat, perkiraan lama perjalanan dan lain-lain. Ia menyebutkan pula bahwa Jakarta saat ini tengah diguyur hujan. Beberapa penumpang pada berdecak.

“Pernah saya terima undangan dari PT. Agri Raksasa Jaya atau ….”

“Agri Raksasa Perkasa. Kepunyaan mas Agri itu, oom.”

“Oh, itu sudah saya duga.”

“Undangan syukuran. Container ke seribu ekspor hasil ke Uni Soviet. Sebenarnya waktu itu mas Agri mau sekalian konsultasi sama oom.”

“Sama saya? Soal apa?”

“Dia punya kenalan mantan orang Stanvac pusat, ahli di bidang geophysical exploration. Omong punya omong sampai pada cerita pengalamannya waktu kerja di sini. Dia bilang banyak daerah berpotensi yang belum tergarap. Dia ceritakan masalah detail yang sebetulnya termasuk rahasia negara. Mungkin orang ini cuma omong-besar juga, tapi yang jelas akhirnya mas Agri tertarik untuk masuk ke bisnis perminyakan.”

“Di bidang apanya? Drilling-nya, misal, atau transportasi saja? Secara teknis sebenarnya tidak terlalu rumit. Biaya investasinya memang tidak main-main, tapi itu pun toh bisa diusahakan. Masalahnya justru segi hukumnya.”

“Justru itu mas Agri kepengin konsultasi oom Hendro. Dia mau menggali peluang-peluang di mana kita bisa masuk. Kalau kita bisa tanam lalu jual minyak goreng di supermarket, kenapa tidak bisa sedot minyak lalu jual di jalanan? Tantangan terbesarnya memang opini masyarakat yang tahunya minyak itu urusan negara. Swasta masuk pasti ribut. Tapi kalau kita bisa lebih efisien dan menawarkan harga lebih murah tanpa mengemis-ngemis subsidi, mungkin saja ada kans.” Kereta dorong pelan-pelan melintasi lorong pesawat, membawa hidangan siang. 

“Saya senang betul kalau dengar yang muda-muda sekarang sudah pada maju. Betul-betul luar biasa. Kadang-kadang kita yang tua-tua sampai merasa iri dinamisnya cara berpikir anak-anak sekarang. Saya mana pernah berpikir sejauh Agri itu. Soalnya sederhana saja. Bagi kita, tidak terbayang kemerdekaan yang dulu kita perjuangkan hanya dengan modal semangat dan keberanian ini begitu cepat membuahkan hasil.”

“Pada dasarnya ini soal manajemen, oom. Kalau manajemennya rapi, perencanaan jangka panjang-pendek rapi, keberhasilan itu hanya akibat logis saja.”

“Yayayaya … !”

Kursi pesawat terasa bergoyang. Rupanya di depan dan kiri-kanan penuh dengan kabut tebal. Lampu peringatan untuk pemakaian sabuk pengaman menyala. Seorang ibu tua berkain-kebaya memejamkan matanya. 

“Kalau adik yang bungsu, si Dinar, ya? Sudah selesai kuliahnya?”

“Saya kurang begitu mengikuti perkembangan dia. Barangkali tahun ini selesai.”

“Kuliah di mana?”

“Massachusetts.”

“Di Cambridge atau Boston?”

“Mmm … pokoknya ambil MBA-lah. Saya sendiri tidak tahu universitas mana.”

“Wah, putranya bapak jadi semua, ya? Dapat MBA pulang-pulang jadi rebutan. Yang terasa kosong sekarang ini manajer-manajer marketing. Betul-betul kita kekurangan. Oom baru saja kehilangan satu. Dibajak oleh Dharmawangsa grup. Mereka kan baru mengembangkan peternakan kambing di Sukabumi. Saya dengar dia dapat gaji empat kali lipat di sana. Sontoloyo benar.”

“Kalau kita lihat segi positifnya, itu satu pertanda bahwa profesionalisme makin dihargai.”

“Betul. Sekarang ini manusia bukan lagi diistilahkan tenaga-kerja, tapi sudah merupakan bagian dari asset. Ini memang konsekuensi logis dari kemajuan jaman, kemajuan teknologi. Yang rutin-mekanistik sudah digantikan oleh mesin. Yang rutin-matematik sudah digantikan komputer. Malah mesin-mesin sekarang sudah computerized semua. Lha manusianya kan tinggal berpikir yang tidak rutin. Strategi. Pemasaran.”

“Dan untuk itu mereka pantas dibayar mahal.”

“Bukan lagi pantas, tapi harus. Mereka mestinya lebih berharga dari mesin. Iya, dong! Dan kongkretnya saja, biaya belajar mereka kan mahal juga. Makanya saya suka prihatin sama Yuni. Kenalkan sama anak saya itu?”

“Dulu sempat satu sekolah waktu di SMA. Praktek di mana sekarang dia?”

“Itulah. Sudah belajarnya hampir sepuluh tahun, badan jadi kurus, eh, mau-maunya terima pekerjaan di puskesmas di Halmahera sana.”

“Gila Halmahera Nusa-Tenggara sana?”

“Bukan, Maluku. Padahal dulu oomnya sendiri yang di Depkes sudah menawari, kalau mau bisa diaturlah. Berbakti ya berbakti, tapi di Jakarta kan bisa juga berbakti. Lha kok malah dia sendiri yang menolak. Yuni ini rikuh kalau diistimewakan. Saya bilang sama dia, sekarang berpikir yang realistis sajalah. Lho bener toh? Sekolah mahal-mahal kalau akhirnya melarat di rantau orang kan nggak lucu.”

“Barangkali … semangat oom sebagai pejuang menurun ke Yuni.”

“Hahahaha … jij bisa ‘aja! Dulu oom ikut berjuang kan cuma ikut-ikutan saja. Takut kehilangan teman-teman. Ah, kalau Berli lahir dan besar pada masa itu otomatis pasti ikut berjuang juga-lah. Kenal sama oom Gun, tidak? Berli pikir dia memang bercita-cita ingin jadi tentara? Oooo, penakut sekali dia dulu. Penakut dan pengecut. Sekarang sudah tidak ada yang ditakuti, jadi ya tinggal pengecutnya saja. Hahahaha … !”

“Oom sendiri bagaimana?”

“Kalau saya sih termasuk orang yang … senang bersyukur. Tua-tua begini tidak terlunta-lunta, ini saja sudah penting untuk disyukuri. Terus terang oom sering bertanya-tanya, seandainya dulu tidak ada revolusi, tidak ada perjuangan kemerdekaan, yang ibaratnya memungkinkan orang dari prajurit langsung jadi letnan, waaaaah, nggak tahu bagaimana keadaan oom sekarang. Saya rasa tidak bisa nyaman naik pesawat seperti sekarang ini. Lho, betul, blak-blakan sajalah. Saya, juga oom Gun, mana pernah sih jadi orang sekolahan yang bener? Tapi sampai sekarang toh masih diberi kepercayaan mengelola hutan di Kalimantan. Coba anak-anak sekarang, belajar ngelotok puluhan tahun, di Amerika sekalipun, belum tentu bisa memperoleh kesempatan itu. Ya, nggak? Sampai kadang oom malu sendiri kalau diundang ceramah dan organisasi-organisasi pemuda itu. Habis mau tak mau kan mesti bicara soal semangat perjuangan. Padahal semangat saya cuma semangat ikut-ikutan. Hahahaha … !”

SEKONYONG-KONYONG goncangan keras dirasakan oleh semua penumpang. Berli yang sempat tertidur sepuluh menit menjelang jadwal landing langsung terbangun kaget. Ibu tua berkain-kebaya yang sejak tadi sudah ketakutan, wajahnya kini memucat berkeringat. Pramugari hilir-mudik memeriksa sabuk pengaman, kali ini benar-benar tanpa senyum. Beberapa saat kemudian kapten pilot mengumumkan bahwa cuaca bandara Soekarno-Hatta maupun Halim Perdanakusumah sangat buruk hingga tak mungkin untuk didarati, dan tengah diusahakan pendaratan darurat di Curug ataupun Bandung. Kepanikan pun merebak. Di luar jendela yang nampak cuma kabut hitam bergulung-gulung. Berkali-kali petir menerangi seisi pesawat. Para penumpang mulai memeriksa dan mengambil sekaligus mengenakan baju pelampung penyelamat. Seorang pria berbadan tegap berteriak-teriak setengah menangis karena di bawah tempat duduknya tidak diketemukan baju warna oranye itu. Dua pramugari sekaligus mendatangi pria itu, menenang-nenangkannya dengan suara yang tidak tenang. Lima menit, sepuluh menit. Dua belas menit. Pesawat melayang kehilangan kontrol. Hubungan radio terputus. Rasa-rasanya perjalanan menjadi begitu lama. Jangan-jangan sudah kelewat jauh menyeberangi Selat Sunda, atau malah sudah sampai selatan Pakistan … Srilangka … India ….

Begitu tersadar Berli menemukan dirinya tersangkut di sebuah pohon beranting dan berdaun lebat, di tengah guyuran hujan deras. Benar pastilah ini India! Atau Bangladesh! Sebuah rumah terpencil di sana amatlah buruk. Seorang anak kecil menunggui bayi berperut buncit di kain gantungan. Orang tuanya ke mana tak jelas. Mungkin bersama penduduk lain menonton reruntuhan pesawat, entah di mana. Oom Hendro, pramugari-pramugari mahal senyum itu, mungkin semua mati. Tinggal dia sendiri, berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak, naik turun perbukitan terjal. Sore. Senja. Malam. Lelah. Kantuk. Sulit membedakan antara tertidur dan pingsan, sampai matahari membangunkan lagi. 

Tidak ada mobil, tidak ada sepeda motor, sampai kemudian Berli berjumpa dengan seorang lelaki bertelanjang dada membawa setumpukan tempayan yang terpanggul di punggungnya, berjalan tanpa alas kaki menyusuri jalan setapak berbatu. Oh, India, oh Bangladesh, di tengah era komputer masih ada saja manusia berniaga dengan cara amat primitif begini.

“Bade ka mana?”

Berli kaget mendengar lelaki itu menyapanya dalam bahasa Sunda. Alamak! Ternyata masih di Jawa Barat ….

Oleh “pedagang primitif” ini Berli diantar sampai “perkampungan primitif” tempat tinggalnya. Tidak ada toko, kantor telepon, kantor polisi, kantor camat. Tidak ada bar, coffee shop, Pizza Hut, King Burger, Kentucky, tempayaki, shabu-shabu, karaoke, videotheque, panti-pijat. Tidak ada semua itu, kecuali reruntuhan SD Inpres yang telah dirimbuni alang-alang liar. 

Orang-orang mengerumuninya, bertanya-tanya dalam bahasa Sunda, Berli tak tahu artinya. Berli panjang-lebar menceritakan kejadian yang menimpanya dalam bahasa Indonesia, orang-orang tak menangkap maksudnya. Hanya ada seorang pemuda—nampaknya paling pintar di antara mereka—yang akhirnya sedikit-sedikit mengerti apa yang diceritakan Berli. Orang ini kemudian mengantarkan Berli sampai perbatasan desa yang mereka capai selama setengah hari dengan berjalan kaki.

Sungai nampak membentang di depan. Tanah perbukitan telah berlalu. Dari seberang sanalah, menurut pemuda tadi, nantinya ada jalan ke kota.

Dengan rakit bambu Berli menyeberangi sungai. 

“Dari sini ada mobil ke kota, mang?”

Tukang rakit heran mendengar pertanyaan Berli. “Belum pernah ada mobil bisa masuk sampai sini.”
“Ojek?”

“Ada di pasar. Jarang-jarang sampai kemari.”

“Jauh pasarnya?”

“Dekat jalan kaki dua jam juga sampai.”

Berli menarik nafas berat. “Ini di mana?”

“Apanya?”

“Kota mana ini?”

“Kalau kota mah jauh. Dari pasar naik ojek ke jalan raya. Dari situ naik oplet ke Soreang. Dari Soreang banyak bis ke Bandung.”

Rakit sampai di seberang. Berli mengambil dompet. “Berapa, mang?”

“Limapuluh.”

Berli membuka dompet. Ia tertegun. Celaka! Sepuluhribuan, sepuluhribuan lagi, puluhan US dollar, dollar Hongkong, recehan poundsterling, Visa-card, Amex-card, BCA card, catatan nomor telepon, nomor rekening giro, kartu nama, KTP, SIM internasional, foto porno ukuran enam kali sembilan, member-card Hilton executive club, Mandarin fitness-centre, … tidak ada uang receh!

“Emmm … ada kembalian?”

Melihat uang sepuluhribuan, kedengaran memaki pelan dengan kata-kata yang—untungnya—Berli tak mengerti, lalu begitu saja kembali mengayuh rakitnya.

“Atau sebentar saya tukar di warung!”

Tapi rakit sudah lebih dulu melaju. Berli melangkah bingung menuju warung tepi kali. Orang-orang di situ memandanginya seperti maling. Dengan suara lemah ia memesan kopi dan menyambar juadah goreng. Baru kemudian diujukkannya selembar sepuluhribuan. “Tolong sekalian tukar.” Para pengunjung warung saling berpandangan. Si penjual menggeleng-gelengkan kepalanya. Dibukanya kotak uang dan diperlihatkan isinya pada Berli. Tangannya yang kotor mengaduk-aduk sekian banyak uang receh di dalam situ. Ratusan merah kumal tujuh lembar, empat lembar limaratusan yang sama-sama kumal, selembar di antaranya pernah robek disambung dengan cello-tape biru-tua, sekian banyak receh logam limapuluhan, duapuluhlimaan, sepuluh-perakan, lima-perakan ukuran besar terbitan tahun 1968, juga selembar ribuan bergambar jenderal sudirman yang sudah kedaluwarsa ….

Berli putus-asa. Ia tak mengerti lagi harus berbuat apa. Ia merasa dirinya berada di bagian dunia yang paling asing. Kali ini tenaganya benar-benar terkuras habis. Tubuhnya melemah. Pandangannya mengabur. 

Samar-samar ia seperti melihat hotel berbintang yang dibangunnya telah berdiri megah. Ia duduk di sofa president-suite memesan helikopter. Helikopter datang dan membawanya ke tempat peristirahatan di pulau Seribu. Di sana ia membuka-buka bundel Business Review, mencari-cari sepotong berita tentang keberhasilan dalam berpartisipasi membangun dunia ketiga …. 

JAKARTA, 1 JULI 1990

Jujur Prananto. Lahir di Salatiga, 30 Juni 1960. Menamatkan SMA-nya di Yogyakarta dan langsung ke Jakarta, melanjutkan kuliah di Akademi Sinematografi LPKJ/IKJ. Menulis cerita pendek sejak SMP, dan beberapa cerpennya dimuat di Media Muda terbitan P & K, juga di Majalah Humor Astaga.
Cerpen-cerpen karyanya tersebar di banyak media, antara Majalah ZAMAN, FEMINA, GADIS dan KOMPAS. Belakangan ini kegiatan menulis cerita pendek agak menurun, lantaran ia lebih aktif di dunia film sebagai pembantu sutradara Hasmanan, Iman Tantowi dan tersering, Chaerul Umam.
Cita-citanya? Membuat film dan skenario yang yahud.

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jujur Prananto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" Oktober 1990

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi