Potret Diri - Multicolor Technique - Exquisite Corpse - Impasto | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 21 Maret 2016

Potret Diri - Multicolor Technique - Exquisite Corpse - Impasto


Potret Diri

Dia melukismu sebagai sesuatu yang tak bakal tua. Sebagai langit
menyala. Sebagai tenung bagi teruna. Sebagai pohon dengan
cabang sederhana. Sebagai rimbun dukana. Sebagai sungai dengan 
nafsu ke utara. Sebagai bisu yang bisa berbahagia.

Dia mendudukkanmu di tengah sebagai menara. Sebagai kilat
pedang di udara. Sebagai tahun-tahun berburu dan menderita.
Sebagai apel busuk di sudut meja. Sebagai lidah terjulur cendekia.
Sebagai bangsa berwarna tanpa senjata. Sebagai perahu di tepi
dermaga

Dia ingin selalu memnbuatmu memesona. Sebagai sebuah tamasya
Sebagai kelinci di saku celana. Sebagai doa seorang hamba.
Sebagai sembilan ekor koi di muka telaga. Sebagai langkah
tertahan seorang perwira. Sebagai delapan kuda memercik ujung
samudra.

Dia membagi senyum dan pandanganmu ke segenap penjuru.
Sebagai hasrat. Sebagai halus ujung kuas mendarat dan menyapu
beragam warna. Sebagai tanda untuk dirinya -- suatu saat. Sebagai
mukjizat. Sebagai sesuatu yang kerap membuatmu terperanjat dan 
berpura-pura; tak ada sesiapa.

2016

Multicolor Technique

Dia menaruh serangkum hijau pada mulutmu.
Meletakkan kembali jingga pada dahi dan keningmu.
Setelah berpikir lama, dia simpan kembali sejumput biru
sebab dukamu tak perlu berwarna.

Pada leher dan dadamu, dia seka berulangkali merah
yang pasi. Isyarat bersedih di waktu pagi. Sebidang
ungu disanding dekat bahu. Di rambutmu, bersilang
kuning dan kelabu  -- seperti balon-balon tak meledak
di tanganmu yang mungil.

Karena kau tak bersuara, dia sapukan sedikit nila
pada sisi kiri dan kananmu. Tambah juga toska jadi
sebidang latar belakang. Dan setelah memercik putih
sebagai pendar cahaya, dia menarik garis coklat tua.

yang tak pernah ada di udara. Dan ketika seluruh
warna pelangi dihabiskan untuk menahbiskanmu,
dia bisa menjadi bening -- bulir hujan itu.

2016

Exquisite Corpse 

Dia membagikan empat potong
kain, dan kau mulai menuliskan
puisi-puisi, berbeda satu sama lain;

1/

Bagimu, dirinya adalah peta
Baginya, kau tubuh semata.
Waktu jadi perjalanan tak hingga,
tak ke mana-mana,
tapi tak di situ-situ juga.

Di tubuhmu, dia bicara angka:
gula darah 124, kolesterol 75,
Dan dalam setiap jaraknya,
kau bertanya: "Bagaimana dengan cuaca?"

Tak ada gerimis atau salju di bahunya.
Tapi kau cemas dan ragu menjalaninya.

Dia memecahkan tubuhnya
jadi empat, dan kau adalah
yang kelima. Agar sempurna
tanganmu menjelajahinya.

2/

Tuhan, jeritmu, Penjahit Sempurna

Dunia adalah kolase kain perca.
Penuh corak & warna.
Di tubuhnya, kau tak henti berdarmawisata
-- mengendarai usia.
mempelajari yang tak ada dan yang tak terhingga.

Cinta - jelujur benang itu  - harus jadi garis
dan tanda, katamu, supaya kau tak sering bertanya
atau tersesat di dalamnya.

Tapi, menurutnya,
tak akan ada doa
tanpa ada yang terbuka
untuk menerima -

karenanya,
dia berikan tubuhnya
untuk kaujadikan peta.

Bukan semata kain perca.

Meski kau cari juga potongan yang lain.
Kekosongan-kekosongan itu.

Dan kaucari juga penggenapan itu.
Meski sekadar kain peluh

di tubuh waktu

3/

Waktu akan runtuh
Dan keabadian berpenuh
Setiap mata akan selalu pejam
segala badan menemu redam,
tapi jiwa tak kunjung temaram.

Dia terus menunggu sisik ular itu
kembali jadi kulit khuldi
meski mustahil.
Meski sampai padam gemintang,
dan pasir jadi tiang garam.

Cinta, pisau berkarat itu, tetap
diasah hingga berkilat, katanya.
Sampai luput segala kabut,
yang remang, yang gelap,
seperti tertusuk dan terbelah.

dan membuka seluruh pintu
juga jendela. Menampakkan rahasia
paling purba: paruh gagak
di padang pengembaraan.

4/

Malam putih
dengan rembulan merah.
Pucuk-pucuk pinus
seperti tergantung
dan tak ingin ditegakkan lagi.

Dalam kabut hanya ada doa
mengambang seperti tangga gerimis.

Kaurapatkan mantel
dan mendekat ke altar kapel.
Seolah dunia hanya bayangan
yang jatuh tersimpuh di lorongnya.

Kau  buru bara kesepian itu dengan janjinya
:percayalah pada terang itu...

Tapi malam makin putih 
dan rembulan merah tegak
di atas pucuk-pucuk pinus
yang tergantung,

dan doa berkabut.

Hanya kaudengar kata "amin"
mengamankan kesepian itu
lekat di leher mantelmu
yang kaukatupkan rapat-rapat.

Di luar kapel, gerimis kian pekat.

2016

Impasto

Tasfrir & Zetsal

Menaiki gurun, menakik bukit dan gunung,
mencari arti dari yang arkaik, seperti membangkitkan cahaya
melalui sebuah warna.

Maka, dengan kuas tumpul,
dia coba perbaiki nasib - retak tulang dengkul

Dikuatkan tangan dan iman pada setiap goresan.
Doa - jika itu sebutannya - serabut semata,
dicampur untuk menghasilkan dugaan

(tepatnya harapan, tapi dia biarkan demikian)

dan beginilah yang terjadi
yang hancur hanya pulasan tipis-tipis - ujung kuas rambut
kuda selencir,
yang berpendar curahan besar - semarak warna dasar,
yang tegas, yang membayang - arsiran kuas bambu jepang.

Dan terjadilah ruang percakapan panjang
- masa lalu & sekarang,
dan sebuah perenungan yang tak kunjung kalis
dari hari pertama dalam kitab genesis.

2016


Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di jakarta. Buku kumpulan puisinya, antara lain Liburan Penyair (2014).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 19 Maret 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi