Pura-Pura tak Melihatmu - Purwarupaku - Gempa dan Kenangan Gempa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 28 Maret 2016

Pura-Pura tak Melihatmu - Purwarupaku - Gempa dan Kenangan Gempa


Pura-Pura tak Melihatmu 

masihkah kau bersembunyi di balik batu 
sedang lumut-lumut terus bernyanyi 
menyenandungkan namamu 
pasir terus bergerak 
menggambar tapak 
yang kau jejak 
tapak, tapak, tapak, 
terus bergerak merebahkan semak 

sedang aku pura-pura tak melihatmu 
“hei, kau dimana?“ 
aku memanggilmu di atas batu 
yang terus menyebut namamu 

Padang, 2015 

Purwarupaku 

purwarupaku, tak mengerti gernyit dahi, atau lipatan 
pipi 
yang kau tampilkan di depan layar televisi 
sebagai sarapan di pagi hari 
sebelum mandi sebelum membuka diri 
dari gigil yang menanti di keciprat air 

serupa sepotong berita 
yang kau hidangkan di sebelah kopi 
padahal aku 
belum membuka mata belum gosok gigi 
“hidup terasa asin dalam pahit kopi“ 

aku mandi dulu 
atur raut wajahvz 
dari setiap tingkah 
yang kau wartakan di ini pagi 
biar sembab tidur 
menjadi lentur 
dalam kebahagiaan semangsi kopi 
“hidup terasa manis dalam pahit kopi“ 

Padang, 2015 

Gempa dan Kenangan Gempa 

langit memerah 
sebab ada kabar-kabar yang bertebaran dalam tanah 
kabar yang membawa duka 
luka yang berlalu lalang dalam sukma 

merah senja bersimbah darah 
sebab matahari berpaling pasrah 
menyembunyikan mata berurai sembab 
hingga ia pergi, menenggelamkan tangis dalam gelap 

gemetar, 
gemuruh bergetar di kaki-kaki lumpuh 
membuka pintu perihal kepulangan 
mengucurkan air yang bermula dari sesak 
yang menghampar pada sesal-sesal di lembah 
kesedihan
jahanam sudah terlanjur menjadi kerabat
sementara tuhan sudah menggugurkan daun-daun
dengan tulisan fulan bin fulan
langit merah;
kaku pada lirih-lirih sesal
terdiam pada umpat
murung menampung ampun yang ditengadahkan ke
arah-nya

merah darah;
lindungan menjelma malaikat maut
menjemput siapa-siapa yang digariskan
juga tanah yang merekah menjelma menjadi kuburan

mata merah;
r i n t i h b e r s e m ay a m p a d a ny a w a ny a w a y a n g
berseliweran mencari keping-keping hati yang ikut
runtuh bersama puing-puing rumah, juga butir-butir
tanah

rumah tuhan, mereka membangun rumah yang telah
hancur, insyaf demi insyaf

Padang 

Roni V Sikumbang, lahir di Dumai, 20 Mei 1994. Sedang menempuh pendidikan di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang. Karya-karyanya telah dimuat di Republika, Harian Singgalang, Padang Ekspres, Harian Waspada, Banjarmasin Post, Detak Pekanbaru, dan beberapa antologi bersama.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Roni V Sikumbang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 27 Maret 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi