Sajak tentang Seorang Murid - Sebelum Malam Susut - Perjumpaan ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 14 Maret 2016

Sajak tentang Seorang Murid - Sebelum Malam Susut - Perjumpaan


Sajak tentang Seorang Murid

Bertahun-tahun aku tinggal dan mengenal padang rumput ini, membaca bahasa pepohonan dan semak hutan, tapi yang kubaca hanya huruf-huruf kemuraman, amarah penuh getah, belukar ketidakmengertian.

Bertahun-tahun aku memperanakkan domba-dombaku, menghanyutkan diri dalam kegembiraan kelahiran dan kematian dari setiap penyembelihan, tapi darah dan dagingnya tak menuntaskan rasa laparku.

Bertahun-tahun aku mempelajari pergantian siang malam, melayarkan pengetahuanku ke lautan bintang-bintang, tapi yang kudapati hanya ledakan cahaya tak beraturan, melontarkanku dari panas yang murni, membuat pengertianku membeku dan kota-kota membatu.

Lalu kau lahir dari telaga yang hanya dicuri-dengar orang-orang dalam dongengan, dari rahim suci yang menimbulkan pertikaian banyak peradaban. Kau mengajarkan cara tertawa dan bersedih lebih dari yang kehidupan ajarkan kepadaku. Kau hidup di dalam sekaligus di luar kehidupanku tanpa memberiku cukup waktu untuk mempelajarimu.

Akulah murid malang itu, yang tak bisa menghapus papan tulis dengan bersih, yang terakhir mengangkat tangan ketika timbul pertanyaan, yang membiarkan seluruh ketidaktahuan membersihkanku, menjawab keraguan dan penyangkalanku.

Sebelum Malam Susut

Sebelum malam susut dari kedua alis matamu, aku tetap niatkan menawan sejumlah peristiwa yang terus kau sangkal, sebab perjuangan harusnya menjadi sakral jika kau tak diajari berkhianat oleh remah-remah roti yang melemahkan keteguhan perutmu. Sebab janji adalah nats, maka dalam tubuhnya hidup anak domba terbaik yang serat dagingnya akan menjadi lembing paling tajam untuk merobek lambung langit. Berjagalah, kesedihan paling redup justru akan menjadi nyala di sekujur tubuhmu dan membakar orang sezamanmu dalam keadaan tangan yang terlipat.

Sementara aku masih saja kebohongan yang menyamar di mulut para pemazmur, yang sibuk dengan perdebatan lezat mana mengecup bibir perempuan atau buah anggur. Sementara muslihat bersembunyi dalam sudut tergelap gusi, mengincar waktu yang tepat untuk menyantap daging persembahan terbaik dan menunggu waktu membusukkannya. Kupastikan tak lama lagi kita akan digempur oleh kata yang berbuih dan membuat kita mabuk seperti pada pesta kepulangan anak bungsu, sementara kejujuran akan sesegera mungkin mengumpankan dirinya menjadi makanan ternak dan diratapi oleh anak sulung.

Perjumpaan

Tak ada kesulitan untuk mengenalimu.
Sebab dalam jantungku telah kurajah nama
yang bermusim-musim menyandera napasku,
tempat kalut dan kabut menyamarkan waktu.

Tak ada kesusahan untuk mengenalimu.
Sebab dalam dadaku teregang tali panjang
hingga ke pusarmu, menghanyutkan kita dalam
pusaran yang sama: masa muda penuh niscaya.

Sementara kau masih berlari menujuku,
anak kecil dalam diriku gelisah mengingat
hari ketika kau tak lagi mengajak bermain atau
meminta menyelesaikan pekerjaan rumahmu.

Tanpa sepengetahuanmu, bertahun-tahun
kemudian, anak kecil itu telah menguasai
permainan paling menyenangkan itu:
menunggu. Sebab ia tak perlu lawan untuk
menang dan mengalahkan dirinya sendiri.



Adimas Immanuel lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 Juli 1991. Kumpulan puisinya bertajuk Pelesir Mimpi (2013) dan Di Hadapan Rahasia (2015).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 12 Maret 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi