Sebuah Kejujuran ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 01 Maret 2016

Sebuah Kejujuran


BELUM lama ini aku diajak ibu ke acara reuni SMA-nya. Banyak sekali anak-anak seumuranku juga dibawa. Orangtua satu sama lain saling mengenalkan. Seingatku hanya ada satu perempuan yang kukenal. Maklum, kami pernah satu sekolah waktu di taman kanak-kanak.

"Susi, mana anakmu? Ini anakku, Fajar, satu tahun yang lalu diterima jadi tentara di Semarang," ucap salah satu teman ibuku sambil menggandeng tangan anak laki-lakinya.

Rasanya aku harus bersyukur, karena kami langsung akrab dan dia dengan cekatan mengambilkanku minum sekaligus makanan. Tempat reuni juga mendukung, di warung apung yang dikelilingi kolam-kolam ikan dan nuansa taman hijau. Untuk sampai ke warungnya saja, kami diharuskan mengendarai bebek apung yang digenjot layaknya sepeda. Nikmat dan unik.

Fajar tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku duduk di atas lincak sambil menikmati suasana.

"Asri, semalam Ibu kamu cerita  nggak alasan ngajak kamu ke reuniannya beliau?" tanya fajar sambil mendekatkan tempat duduknya di depanku. Kira-kira menyisakan jarak tatap 10 sentimeter di antara kami.

Jujur aku tidak nyaman. Meskipun di SMK menjadi sekolah mayoritas laki-laki, tetapi aku masih menjaga jarak kedekatan antarmereka. Bukan malah seperti kelakuan Fajar.

"Tidak cerita apa-apa, Mas," jawabku datar. Sebentar mencoba menatap matanya, ada gurat kekecewaan tampaknya. Aku sendiri sampai saat ini bingung. Kenapa ibuku mengajak ke acara reuni? Setiap kutanya alasannya, jawabannya selalu menggantung.

"Kau tahu, Asri? Ibuku bilang, dulu smeasa Ibuku sedang mengandungku, Ibumu main ke rumah. Setelah berbincang-bincang lama, mereka sepakat saling menjodohkan jika Ibumu mengandung anak perempuan. Akhirnya jadilah aku dan kamu bertemu sekarang," jelas fajar begitu ngalirnya. Seakan dia menerima suatu perjodohan.

Belum sempat aku menjawab, dia kembali melanjutkan penjelasannya, "Kalau aku sih nggak masalah. Soalnya Ibuku selalu menceritakan tentangmu, dan sepertinya sesuai kriteriaku. Makanya aku meminta lebih cepat  kenalan sama kamunya."

Baru kali ini aku menjumpai lelaki yang percaya dirinya teramat tinggi. Apa-apaan ibuku sampai ingin menjodohkan? Aku ini masih mau menikmati masa remaja menuju dewasa.

"Bukan zaman Siti Nurbaya kali pakai dijodohkan, Mas" selorohku sambil menahan tawa bercampur jengkel.

***
AKU yang jarang-jarang membuka akun facebook, tiba-tiba saja seperti ada malaikat yang menyuruhku membukanya. Ada satu permintaan pertemanan, namanya Arif. Dan tanpa beban aku menginformasi berteman dengannya. Padahal, selama ini aku sangat tertutup pada hal-hal yang tidak kukenali. Ini aneh. Sudahlah, biarkan saja, toh berdampak baik jika menambah tali silaturahmi.

Sejak pertemanan itu, kami selalu chatting sampai lupa waktu. Bahkan, mungkin pernah lupa makan. Bisa dibilang dia sangat enak diajak bicara. Tanpa sadar kami sudah melangsungkan chatting selama lebih kurang dua bulanan. Anehnya, kami sama-sama lupa menanyakan asal tempat tinggal.

"Adik tinggal di Yogyakarta."

Setelah dia juga memberitahu tempat tinggalnya, aku kaget bukan main. Sebab dia menyebut sebuah kabupaten yang baru pertama kali aku mendengarnya. Mungkin aku kurang mengasah ilmu untuk mengenali wilayah-wilayah Indonesia. Ya, dia tinggal di kabupaten yang kepulauannya.

Suatu ketika aku dikagetkan dengan emoticon yang dia kirim kepadaku. Untuk soal ini aku sedikit paham, soalnya temanku kerap menunjukkan emoticon tersebut jika pacarnya mengirim. Tidak salah lagi itu emoticon peluk. Tiba-tiba saja mengingatkanku pada Fajar, yang dulu juga mengagetkanku lewat kelakuannya menghadapkan wajahnya ke wajahku dalam jarak dekat. Tetapi lagi-lagi, ada apa sebenarnya yang menempel di kepalaku soal Arif? Apa pun kelakuannya padaku, dengan serta merta aku menanggapinya secara manis.

Dua bulan berlalu sampai menuju enam bulan. Tepat di bulan ke enam adalah bulan Ramadhan. Arif menyuruku menyambangi pulaunya. Tetapi ibuku melarang, pikiran beliau katanya tidak nyaman jika aku memilih melakukannya. Kujelaskan pelan-pelan pada Arif, dia bisa menerima. Hanya saja sikapnya mulai berubah dan aku merasa tersiksa. Perlahan-lahan aku mulai menyukainya, padahal kami belum pernah saling bertemu. Hingga suatu ketika kami berdebat lewat telepon secara serius.

"Adik, Tuhan itu tidak adil. Mengapa mengenalkan kita dalam jarak yang membentang?" tanya Arif dengan nada penyesalan.

"Ini sudah takdir, Kak. Maafkan adik belum bisa berkunjung, lebih baik kakak yang ke sini," jawabku penuh harap.

Sebulan setelah Lebaran, Arif semakin mengagetkanku, ia sudah sampai di terminal Gamping. Salah satu terminal di Yogyakarta yang cukup dekat dengan kampusku. Aku kelabakan mendapat kabarnya. Untung saja malam itu aku masih di kampus, sejurus kemudian aku menjemputnya. Dia memintaku menemani menghabiskan malam di Malioboro sebelum menginap di rumah temannya. Sungguh aku bahagia dengan kenyataan tersebut. Di Malioboro, para penjual mawar mulai menjajakan dagangan. Kami tak begitu menghiraukan. Sibuk memilih kaos untuk oleh-oleh keponakannya. Suasana saat itu kebetulan berbeda dari biasanya, sedikit lebih berkurang keramaiannya. Sementara kami sedang asyik memilih kaos, muncul seorang anak menghampiri dengan dua tangkai mawar merah di tangan.

"Kak, ayo beli mawarnya. Sepuluh ribu kok. Buat nyeneng-nyenengin pacarnya," ucap anak kecil laki-laki berbaju putih mencoba menawarkan.

"Dia bukan pacarku. Aku sudah tunangan Dik," jawab Arif dengan senyum kegetiran.

Aku yang berdiri di sampingnya benar-benar luka. Tanpa berpikir panjang aku beranjak meninggalkannya. Dia mengejarku, terus mengejarku. Sampai menghentikanku di samping pasar Beringharjo, di sebuah jalan tembusan Taman Budaya Yogyakarta.

"Dik, maafkan aku tidak jujur padamu dari awal. Kakak tahu kamu pasti menyimpan rasa, begitu pula sebaliknya. Tetapi jarak mempersulit. Sedangkan Ibuku tak ingin jauh dariku nantinya," terang Arif dengan nada pasrah.

Aku memilih bungkam mendengar keterangannya. Harusnya, jika dia hendak berjuang, dia akan selalu mencari jalan. Dan bagiku, ucapan terakhirnya adalah muslihat penutup kesalahannya.  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Annisa Siwi Prastiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 28 Februari 2016


Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi