Sekuntum Mawar untuk Emily ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 19 Maret 2016

Sekuntum Mawar untuk Emily


1

KETIKA Nona Emily Gierson meninggal dunia, semua penduduk kota kami datang ke pemakamannya : para lelaki terdorong oleh semacam rasa sayang dan hormat pada monumen yang tumbang, kebanyakan perempuan karena rasa ingin tahu yang menggelitik hendak melihat isi rumahnya yang tak didiami orang lain kecuali seorang lelaki tua pembantu merangkap tukang kebun dan juru masak yang terlihat di situ sekurang-kurangnya sepuluh tahun.

Rumah besar itu berbingkai persegi yang dulunya pernah putih, dihiasi dengan kubah dan menara serta balkon berukiran gaya tahun 1870-an yang sarat, menghala ke jalan yang paling elit. Akan tetapi bengkel dan tempat pemintal kapas telah menyeruak dan melenyapkan bahkan nama-nama tenar wilayah sekitar. Cuma rumah Nona Emily yang masih seperti dulu, bertahan dengan tegar dan mengada-ada di antara kereta pengangkut kapas dan pompa bensin—perusak pemandangan di antara sekian perusak pemandangan lainnya. Dan kini Nona Emily telah tiada pergi menyatukan diri dengan penyandang nama besar yang terbaring dalam pekuburan di bawah naungan pohon-pohon sedar antara nisan pasukan Serikat dan Konfederasi, perwira dan prajurit yang tewas dalam pertempuran di Jefferson.

Semasa hidupnya Nona Emily punya tradisi, kewajiban dan urusan; semacam balas budi yang diwajibkan pada kota itu, bertitiwangsa tahun 1894 ketika walikota kolonel Sartoris—orang yang membuat aturan agar tak seorang pun perempuan Negro boleh muncul di jalan tanpa memakai apron—membebaskan nona itu dari pajak. Dispensasi itu dimulai dari hari kematian ayahnya sampai seterusnya. Itu tidaklah berarti Nona Emily mendapat belas kasihan. Kolonel Sartoris menemukan kisah yang menyatakan bahwa ayah Nona Emily meminjamkan uangnya kepada kota itu sehingga sesuai dengan aturan dagang, kota itu harus membayar kembali. Hanya ada seorang lelaki dari generasi Kolonel Sartoris yang tahu tentang kisah itu dan hanya ada seorang perempuan yang mempercayainya. 

Ketika orang-orang dari generasi selanjutnya dengan pikiran yang lebih modern menjadi walikota dan anggota dewan kota, penetapan hak istimewa seperti itu terasa aneh. Pada tahun pertama mereka mengirimkan peringatan untuk membayar pajak melalui pos. Bulan Februari tiba, tak ada jawaban. Mereka kirimkan pula surat resmi, meminta agar dia datang ke kantor sheriff kapan saja dia sempat. Seminggu kemudian walikota sendiri yang menulis surat kepadanya mengharapkan kedatangannya dengan mengirimkan mobil penjemput. Jawaban diberikan berupa catatan yang ditulis dengan tulisan seperti kaligrafi pada kertas tempo dulu menyatakan dia tak akan datang. Peringatan tentang pembayaran pajak itu dihentikan tanpa komentar.

Setelah itu Dewan Kota mengadakan rapat khusus. Utusan dikirim kepada sang nona, ketukan pun terdengar di pintu yang tak pernah dilewati pengunjung sejak nona itu menghentikan pelajaran melukis lukisan gaya Cina delapan atau sepuluh tahun yang lalu. Orang-orang itu dterima oleh Negro tua pembantu di sebuah ruangan kelam tempat sebuah tangga loteng mendaki ke ruangan yang lebih kelam. Di antara bau debu dan kepengapan tercium udara lembab yang kental. Negro itu mengantar tamu-tamu ke ruang depan yang diisi dengan mebel yang serba berat bersalut kulit. Ketika si pembantu membuka kerai sebuah jendela, tamu-tamu itu dapat melihat kulit penyalut mebel itu sudah keriput. Dan ketika mereka duduk, nampak debu mengambang ke pinggang, perlahan-lahan menjalin garis cahaya matahari dan bintik-bintik debu. Di depan pendiangan pada penopang berkilat bintik-bintik bersandar poret pinsil ayah Nona Emily.

Tamu-tamu itu bangkit berdiri ketika sang nona muncul tubuhnya gemuk dan pendek, berbaju hitam, rantai emas tipis berjela sampai ke pinggang dan menyelip ke dalam ikat pinggangnya. Dia bertelekan pada tongkat kayu hitam berkepala emas. Sosoknya kecil rincus, karena itulah dipandang sekali imbas bangun tubuhnya seperti sintal padahal hanya gendut. Badannya lembek seperti daging yang terlalu lama berendam dalam air, warnanya sangatlah pucat. Matanya tenggelam dalam wajah yang sembab, nampak seperti dua butir arang yang ditekan ke dalam segumpal adonan gandum, bergerak dari satu wajah ke wajah lain ketika tamu-tamu itu menyatakan maksud kedatangan mereka.
Dia tidak menyilakan mereka duduk. Dia tetap berdiri di pintu, mendengarkan baik-baik perkataan si juru bicara yang tiba-tiba saja terdiam. Lalu terdengar bunyi detak-detik arloji yang tak kelihatan terikat pada ujung rantai emas nona. 

Suara perempuan itu begitu kering dan gemetar. “Saya tak dikenakan pajak di Jefferson ini. Kolonel Sartoris mengatakan begitu. Sebaiknya seorang di antara kalian meneliti kembali catatan pajak kantor agar kalian puas.”

“Tapi itu sudah kami lakukan. Kami ini pegawai pemerintah, Nona Emily. Apa anda mendapat panggilan dari sheriff yang ditandatanganinya?”

“Saya ada terima surat, memang!” jawab Nona Emily. “Agaknya orang itu mengangkat dirinya sendiri menjadi sherif …. Saya tak dikenakan pajak di Jefferson ini.”

“Tapi tak ada petunjuk dalam buku-buku tentang begini. Kami harus bekerja menurut ….”

“Pergi jumpa Kolonel Santoris. Saya tak dikenakan pajak di Jefferson.”

“Tapi, Nona Emily ….”

“Pergi jumpa kolonel Santoris.” (Kolonel Santoris telah meninggal dunia hampir sepuluh tahun yang lalu.) “Saya tidak dikenakan pajak di Jefferson. Tobe!” Si Negro muncul. “Tunjukkan tuan-tuan ini jalan keluar.”

2

DEMIKIANLAH dia menundukkan orang-orang itu seperti dulu dia menundukkan ayah-ayah mereka tiga puluh tahun yang lalu gara-gara bau busuk. Ketika itu ayah nona itu sudah dua tahun meninggal dan tak lama setelah dia ditinggalkan oleh kekasihnya yang konon akan mengawininya. Sejak kematian sang ayah dia jarang keluar; setelah ditinggalkan kekasihnya orang jarang sekali melihatnya. Beberapa orang perempuan yang agak nekad datang hendak menemuinya, tapi tak diterima, dan satu-satunya tanda kehidupan di tempat itu ialah si Negro—ketika itu masih muda lagi—keluar masuk rumah menjinjing keranjang belanja.

“Lelaki mana pula—siapa pun orangnya—yang dapat mengurus dapur dengan baik,” kata perempuan-perempuan itu. Jadi tak heran kalau bau busuk itu kian mengganggu. Ada kaitan lain tentang kebusukan itu, yaitu dunia yang padat dengan keluarga Gierson yang bermartabat dan berkuasa.

Seorang tetangga wanita mengadu kepada walikota Judge Stevens yang berusia delapan puluh tahun.
“Tapi, nyonya,” kata walikota itu, “Apa yang anda mau saya lakukan?”

“Apa?” seru perempuan itu. “Berikan peringatan kepadanya agar menghilangkan bau itu. Kan ada peraturan?”

“Saya kira itu tak perlu,” kata Judge Stevens. “Bau itu mungkin saja berasal dari bangkai ular atau bangkai tikus yang dibunuh pembantunya di pekarangan. Akan saya bicarakan nanti kepadanya.”

Pada hari berikutnya ia menerima dua pengaduan lagi. Satu di antaranya seorang lelaki yang datang dengan terburu-buru. “Kita benar-benar harus melakukan sesuatu tentang ini, Judge. Aku tak suka menyusahkan Nona Emily tapi kita harus berbuat sesuatu.” Malam itu juga diadakan rapat anggota Dewan Kota yang terdiri dari tiga orang tua dan seorang anak muda mewakili generasi baru yang mulai berpengaruh.

“Itu gampang saja,” kata anak muda itu. “Kita perintahkanlah dia membersihkan rumah dan pekarangannya. Berikan waktu sedikit, dan kalau dia masih juga ….”

“Tak ada gunanya,” sela Judge Stevens. “Apa kita harus terus menyalahkan dia karena bau itu?”

Demikianlah maka malam berikutnya, lewat tengah malam, empat orang lelaki memasuki halaman rumah Nona Emily dengan mengendap-endap sambil mengendus-endus di sepanjang bagian bawah dinding tembok dan pintu masuk ruang bawah tanah, sementara seorang di antara mereka menaburkan isi karung yang tergantung di bahunya. Mereka bongkar pintu ruang bawah tanah dan menaburkan tepung kapur di sekitar tempat itu, di dalam dan di luarnya. Ketika menyeberang halaman, jendela yang tadinya gelap tiba-tiba terang benderang dan kelihatan Nona Emily duduk di dalam kamar. Cahaya lampu di belakang yang menyinari perempuan itu memperlihatkan sosoknya seperti boneka kaku tanpa kepala. Perlahan-lahan keempat bayangan itu merangkak menyeberangi halaman rumah dan hilang dalam bayangan gelap di antara pohon-pohon yang berderet di sepanjang jalan. Setelah dua minggu, bau busuk itu pun lenyap.

Pada masa itulah orang-orang mulai merasa kasihan kepadanya. Penduduk kota kami masih ingat bagaimana Wyatt, saudara perempuan neneknya benar-benar menjadi gila; mereka menganggap keluarga Gierson terlalu membanggakan darah dan keturunannya. Tak seorang pun pemuda yang berhasil merebut hati Nona Emily. Lama kami membayangkan keadaan tersebut seperti sebuah tablo. Nona Emily yang sampai di latar belakang, ayahnya di muka seperti siluet semar memegang tali kekang, terbingkai oleh pintu yang menganga lebar. 

Lalu, ketika usianya mencapai tiga puluh dan masih tetap sendiri, kami merasa agak risih, tapi begitulah keadaannya. Seyogianya meskipun memiliki warisan sakit mental turunan dia tak perlu sampai menolak semua pinangan.

Ketika ayahnya meninggal, satu-satunya pusaka buatnya ialah rumah itu; dari satu sisi hal itu menggembirakan para penduduk. Akhirnya mereka dapat bersimpati kepada Nona Emily. Mungkin saja setelah menjadi sebatang kara dan menjadi orang tak punya, dia akan lebih bermasyarakat. Kini baru dia tahu tentang sulit dan pahitnya hidup. 

Sehari setelah kematian sang ayah, para wanita datang berziarah dan menyampaikan rasa sukacitanya serta sekadar pemberian, sebagaimana yang teradat bagi kami. Nona Emily menyongsong mereka di pintu dengan berpakaian seperti biasa tanpa memperlihatkan air muka orang berdukacita. Dia mengatakan kepada semua orang ayahnya tidak mati. Dia berkelakuan seperti itu selama tiga hari. Beberapa pendeta coba menenangkannya, beberapa dokter coba membujuk agar membiarkan jenazah ayahnya dikuburkan. Ketika hampir saja digunakan paksaan, dia jatuh pingsan, dan dengan segera penguburan dilaksanakan. 

Kami tak menganggapnya gila setelah kejadian itu. Kami kira hal itu dilakukannya karena terpaksa. Kami ingat berapa banyak lelaki yang pernah diusir oleh ayahnya, dan kami pun paham bahwa sebagai seorang anak gadis yang tidak akrab dengan siapa pun di sekitar tempat diamnya, tentulah dia menganggap sang ayah sebagai satu-satunya orang tempat bergantung yang kemudian terampas pula.

3

DIA jatuh sakit agak lama, ketika kami kembali melihatnya, rambutnya dipotong pendek, membuat raut mukanya terkesan seperti seorang gadis tanggung atau seperti gambar bidadari yang terpampang di jendela gereja—begitu tragis dan tenang.

Baru saja dibuat kontrak untuk pelebaran jalan kota, dan pelaksanaannya dimulai pada musim panas setelah ayah Nona Emily berpulang. Perusahaan konstruksi mendatangkan orang-orang Negro, alat-alat berat, mesin-mesin, dan seorang mandor Yankee bernama Homen Barron yang berbadan kekar, kulit agak gelap, lincah, bersuara parau, dan warna matanya lebih jernih daripada wajahnya. Anak-anak kecil segera datang berkerumun bila mendengar teriaknya memaki pekerja-pekerja Negro, sedangkan orang-orang berkulit hitam itu terus saja mengayun linggis sambil bernyanyi. Tak lama kemudian si Yankee sudah akrab dengan hampir semua penduduk kota itu. Kalau terdengar saja hiruk pikuk suara gembira di suatu tempat lapang, pastilah Homer ada di situ. Kami mulai melihat orang itu bersama Nona Emily menaiki kereta kuda beroda kuning pada suatu sore minggu bersiar di antara suara salak anjing dekat kandang kuda di sekitar situ.

Mulanya kami merasa gembira Nona Emily berubah seperti itu, karena banyak perempuan berkata, “Tentu saja seorang anggota keluarga Gierson tak akan memilih seorang lelaki dari utara, apalagi kerjanya sebagai buruh.” Tapi perempuan-perempuan yang lebih tua mengatakan bahwa bahkan kesedihan tak dapat melenturkan hati orang yang memandang sangat tinggi harkat derajat, meskipun mereka tidak memakai istilah noblesse oblige. Mereka cuma berkata “Kasihan, Emily! Tak ada sanak saudara yang datang berkunjung.” Dia mempunyai sanak saudara di Alabama, tapi beberapa tahun yang lalu ayahnya telah berselisih dengan mereka mengenai ladang milik Wyatt sehingga sejak itu hubungan mereka pun putus. Mereka bahkan tak menghadiri pemakaman sang ayah. 

Begitu perempuan yang lebih tua berkata, “Kasihan Emily”, desas-desus pun menyebar. “Apa kau kira benar begitu?” kata yang satu, “Tentu, mau apa lagi dia …” jawab yang lain. Mereka menutup mulut dengan tangan. Singkapan kain sutera satin terdengar mendesir di depan jendela tertutup ketika langkah-langkah kuda menderap pada setiap minggu sore. “Kasihan Emily!”

Dia tetap saja berkepala tegak—meskipun kami yakin sebenarnya dia telah runduk. Sepertinya dia menginginkan dirinya dipandang dengan penuh hormat sebagai anggota keluarga Gierson yang terakhir; semua itu untuk mengokohkan kedudukan dan harga dirinya. Misalnya ketika dia membeli racun tikus arsenik. Waktu itu setahun setelah orang-orang di sekitar menyatakan, “kasihan Emily!”, dan ketika dua orang perempuan saudara sepupunya berkunjung.

“Aku perlu racun,” katanya kepada pemilik kedai obat. Ketika itu usianya sudah lebih tiga puluh tahun, masih ramping tapi lebih kurus dari biasa. Ditatapnya si penjual dengan matanya yang cekung seperti penjaga mercu suar, dengan pandangan angkuh. “Aku perlu racun,” katanya.

“Ya, Nona Emily. Jenis apa? Untuk tikus atau apa? Saya kira ….”

“Aku perlu racun terbaik yang di sini. Tak perduli jenis apa.”

Si penjual meyebutkan nama beberapa jenis. “Semuanya baik, gajah pun bisa mati. Tapi Anda perlukan ….”

“Arsenik,” kata nona Emily. “Bagus atau tidak?”

“Arsenik? Baik, nona. Tapi apakah ….”

“Aku perlu arsenik.”

Lelaki itu membungkuk untuk memandangnya. Dia menantang pandangan mata si lelaki, tegak lurus, wajahnya cemberut. “Ada apa?” “Ya, tentu saja,” katanya. “Kalau itu yang Anda mau. Tapi peraturan mengharuskan Anda memberi tahu untuk apa gunanya.”

Nona Emily hanya menatap tajam, mengangkat kepala untuk lebih jelas, sehingga si penjual mengalihkan pandangan matanya dan pergi mengambil arsenik yang dipesan dan membungkusnya. Seorang pesuruh Negro mengantar bungkusan itu kepada Nona Emily; si penjual tak muncul lagi. Ketika dia membuka bungkusan itu setiba di rumah, ada tulisan di kotaknya di bawah gambar tengkorak dan tulang bersilang: “Untuk Tikus.”

4

DEMIKIANLAH besoknya kami semua berkata, “Dia mau bunuh diri.” Dan itulah yang terbaik sebenarnya. Ketika pertama kali dia berjalan-jalan dengan Homer Barron dulu kami bilang, “Dia akan kawin dengan lelaki itu.” Lalu kami bilang pula, “Dia akan merayu lelaki itu,” karena Homer sendiri menyatakan—ia suka sesama lelaki, dan semua orang tahu ia sering minum-minum dengan anak-anak muda di klub Elk—dan bahwa perkawinan tidak cocok baginya. Kemudian kami berkata, “Kasihan Emily” dari balik jendela kalau pada suatu sore minggu nampak mereka berdua berkeliling dengan kereta kuda, Nona Emily dengan kepala tegak dan Homer Barron dengan topi yang dimiringkan, sebatang cerutu melekat di bibir, sarung tangan kuning mencengkam cambuk dan tali kekang. 

Setelah itu beberapa perempuan terhormat mulai mengatakan bahwa semua itu merupakan hal yang memalukan seluruh kota dan contoh buruk bagi anak-anak muda. Para lelaki tak mau ikut campur, tapi akhirnya perempuan itu berhasil memaksa pendeta Baptis—keluarga Nona Emily anggota episkol—agar memanggilnya. Pendeta itu tak pernah menceritakan hasil pertemuannya, tapi ia tak mau mengulangi pertemuan itu. Hari minggu berikutnya Nona Emily dan Homer Barron nampak berganding di jalan, dan besoknya istri sang pendeta menulis surat kepada kerabat Nona Emily di Alabama.

Waktu itulah kerabatnya datang dan tinggal di rumah itu, dan kami menanti apa perkembangannya. Mula-mula tak ada yang terjadi. Kami yakin mereka akan kawin. Kami tahu Nona Emily pergi ke toko emas dan mengubah sang tukang agar membuat inisial H.B. pada satu set peralatan toilet perak. Dua hari kemudian kami tahu nona itu telah membeli sepasang pakaian lelaki, termasuk pakaian tidur, dan kami pun berkata, “Mereka kawin.” Kami benar-benar gembira. Kami gembira karena ternyata dua orang perempuan sepupunya bahkan lebih Gierson daripada Nona Emily sendiri.

Jadi kami tidaklah terkejut bila Homer Barron—pelebaran jalan sudah siap—tak pernah lagi kelihatan. Kami hanya sedikit kecewa karena bagian itu tidak mendapat cukup tanggapan dari pada penduduk, tapi kami sependapat mungkin kepergiannya ialah demi membuat persiapan bagi kedatangan Nona Emily, atau untuk memberi kesempatan menyingkirkan kedua saudara sepupunya. (Waktu itu seperti ada suatu komplotan rahasia, dan kami menjadi sekutu Nona Emily dalam usaha menyingkirkan kedua perempuan itu.) Hampir pasti, setelah suatu minggu mereka pun pergi. Dan, seperti yang kami kira, tiga hari kemudian, Homer Barron kelihatan datang kembali. Seorang tetangga melihat si pelayan negro mempersilakan Homer masuk dari pintu dapur pada petang menjelang malam. 

Dan itulah terakhir kali melihat Homer Barron. Dan juga nona Emily untuk beberapa waktu. Si pelayan Negro seperti biasa keluar masuk rumah itu sambil menjinjing keranjang belanja, tapi pintu depan rumah itu tak pernah dibuka, sekali-sekali kami melihat nona itu berdiri di jendela, seperti yang dulu dilihat oleh orang-orang yang menabur tepung malam-malam, tapi selama hampir enam bulan tak pernah muncul di jalan. Kami lalu sadar bahwa semua ini juga seperti yang sudah diperkirakan; nilai-nilai yang dianut sang ayah telah merintangi hidup anaknya demikian mendalam dan sulit dilenyapkan.

Apabila kami kemudian bertemu dengan nona Emily, dia telah menjadi gemuk dan rambutnya sudah kelabu. Selama beberapa tahun kemudian warna kelabu itu terus saja bertambah-tambah. Sampai pada hari kematiannya pada usia tujuh puluh empat tahun, warna kelabu itu demikian menonjol seperti halnya terjadi pada seorang pemikir aktif.

Pintu depan rumah terus tertutup, kecuali enam atau tujuh tahun, ketika dia berumur empat puluh, waktu dia membuka pelajaran lukisan cina. Dia menjadikan salah satu ruangan di rumahnya sebagai studio, tempat anak-anak dan para cucu kolonel Sartoris dengan tekun belajar melukis seperti tekunnya mereka pergi ke gereja pada hari Minggu sambil membawa dua puluh lima sen untuk sedekah.

Generasi berikutnya muncul menjadi tulang punggung dan semangat baru kota kami, anak-anak yang dulunya belajar lukisan Cina sudah dewasa, tak lagi mengunjungi sang nona, dan tak lagi setiap hari membawa kotak cat, kuas, dan guntingan gambar dari majalah wanita. Pintu depan rumah itu pun ditutup untuk seterusnya, ketika kota kami mendapat layanan pos, cuma Nona Emily yang melarang petugas menempelkan nomor di pintu dan meletakkan kotak surat di situ. Dia tak menghiraukan mereka.

Hari, bulan, tahun, semua beredar, kami melihat si Negro menjadi bertambah tua dan bungkuk, terus keluar masuk rumah itu sambil menjinjing keranjang belanja. Setiap bulan Desember kami mengirim rekening pajak ke rumahnya, tapi seminggu kemudian rekening itu dikembalikan, tanpa disentuh. Sekali-sekali nona itu kelihatan di jendela tingkat bawah—kamar loteng sudah dikunci mati—sosoknya seperti pahatan torso dalam tebukan dinding. Apalagi dia melihat kami atau tidak, sulit dipastikan. Demikianlah kehidupannya berlangsung terus dari satu generasi ke generasi selanjutnya—disayang, bertahan, tegar, tenang dan merunsingkan pikiran.

Dan demikianlah halnya dia meninggal dunia. Jatuh sakit di dalam rumah penuh dengan debu dan bayang-bayang, hanya berteman seorang Negro dungu. Kami semua bahkan tak tahu bila dia jatuh sakit; memang sudah sejak lama kami tak lagi coba mengorek keterangan tentang dia dari bibir pembantu Negro itu. Lelaki kulit hitam itu tak pernah berbicara dengan siapa pun, barangkali juga dia tidak dengan sang nona, karena suaranya kedengaran serak dan parau, seperti sudah lama tak digunakan. 

Nona itu meninggal dalam salah satu kamar di tingkat bawah, di atas sebuah ranjang yang terbuat dari kayu kenari, berat, berkelambu; rambut di kepalanya yang kelabu disangga oleh sebuah bantal kuning lusuh dan kumal karena tak pernah dijemur.

5

SI Negro menyambut para pelayat perempuan di depan pintu muka dan mengiringkan mereka masuk. Perempuan-perempuan itu berbisik dengan berisik, memandang di sekitar ruangan dengan rasa ingin tahu. Lalu orang kulit hitam itu pergi. Ia pergi ke belakang, keluar melalui pintu dapur, dan menghilang.

Kedua saudara sepupu sang nona segera datang. Mereka mengurus pemakamn pada hari kedua, disaksikan oleh penduduk kota yang datang berbondong-bondong untuk melihat Nona Emily di bawah timbunan bunga-bunga, dan potret sang ayah tiba-tiba seperti wajah cerah. Di serambi dan halaman rumah, beberapa lelaki tua—di antaranya ada yang memakai seragam Konfederasi—berbicara tentang Nona Emily seolah-olah perempuan itu hidup semasa dengan mereka, berkhayal pernah berdansa dengan dia, bahkan pernah pula merayunya. Mereka begitu keliru tentang perhitungan dan urutan waktu, seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang sudah terlalu tua. Bagi mereka semua yang telah terjadi di masa lampau dua atau tiga puluh tahun yang lalu bagaikan tak tergapai oleh sang waktu, seperti baru saja terjadinya. 

Sudah kami ketahui memang ada sebuah kamar di loteng yang tak pernah diketahui siapa pun selama empat puluh tahun, dan yang harus dibuka dengan paksa. Orang-orang menunggu sampai jenazah Nona Emily selesai dikebumikan sebelum membukanya. 

Gegar pintu yang dibuka paksa menyebabkan seluruh kamar itu penuh berisi debu. Kain rahap tipis berbau masam tajam seperti pada keranda nampak menutup barang-barang di ruangan itu yang ditata seperti kamar pengantin: di balik tabir-tabir beranda yang warna merahnya sudah luntur, dalam cahaya kemerahan yang sayup, ada susunan kristal dan meja toilet bersalut perak, begitu kusam sehingga huruf inisial yang digrafir hampir-hampir tak kelihatan. Di antara itu semua terdapat kerah dan dasi, seperti yang baru saja dipindahkan dari tempat asalnya, begitu benda-benda itu diangkat tinggallah berkas seperti bulan sabit pucat di tengah debu. Pada sebuah kursi tersidai sepasang pakaian terlipat rapi; di bawahnya ada sepasang sepatu usang dan kaus kaki yang terbiar.

Sosok tubuh lelaki terbaring di ranjang. Beberapa saat kami berdiri membatu, tunduk memandang pada kerangka manusia yang menyeringai. Nampaknya tubuh itu bekas berpelukan, namun kini tidur yang abadi telah melangkahi cinta, telah menaklukan bahkan ringisan cinta, mengkhianatinya. Apa yang masih tersisa hanyalah rongsokan di bawah pakaian tidur yang melekat sebati dengan ranjang tempatnya terbujur; dan yang atasnya pada bantal di samping, dengan setia melekat debu.

Pada bantal yang kedua ada bekas kepala berbaring di situ. Salah seorang di antara kami mengangkat sesuatu dari situ, sambil membungkuk, dalam debu yang kering, kusam dan bau asam yang tajam menusuk hidung, nampak sehelai rambut panjang berwarna kelabu.

MHD

(Diterjemahkan oleh Hasan Junus.  Bahan: J. Chesley Taylor, The Short Story: Fiction in Transition, Charles Scribner’s Son’s, New York, 1969, halaman 394-403)

William Faulkner (1897-1962), pemenang Hadiah Nobel Kesusasteraan 1949, terkenal dengan rangkaian novel-novel sepertinya Sastoris, The Sound and the Fury, Absalom, absalom, light in August, Intruder in the Dust, As I Lay Dying, Requiem for a Nun, The Hamlet, dll. Meskipun selalu menolak disebut intelektual namun pidato hadiah Nobelnya sangat terkenal, antara lain menyatakan, “Saya menolak menyetujui tamatnya riwayat manusia. Saya yakin akhirnya si manusia akan menang.”
Lahir dan besar di New Albany, Mississippi, Faulkner tak menyelesaikan pendidikannya di Universitas. Ia menjadi penerbang, wartawan, dan menghasilkan novelnya yang sulung berkat persahabatan dengan Sherwood Anderson yang menggesa Faulkner muda menyelesaikan Soldier’s Pay. Daerah imajinatifnya Yoknapatawpha yang sering muncul dalam karya-karyanya ialah daerah impian yang muncul dari seorang Selatan yang temperamental. “A Rose for Emily” merupakan cerita pendeknya yang paling terkenal, selalu dibacakan bagi para pengunjung di beranda Rowan Oak (rumah yang didiami sang pengarang selama 32 tahun, sekarang menjadi Museum Faulkner). (Matra, Juli 1991)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya William Faulkner dan dterjemahkan oleh Hasan Junus
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Juli 1991

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi