Surah ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 28 Maret 2016

Surah


(Surah1)

Aku berniat ngopi
dengan menghadap wajahku sendiri
yang membayang di latar cangkir

Aku bersiap ngopi
seraya menyebut semua rindu
yang sudah terangkum namamu

Aku mengawali ngopi
dengan menyebut namamu
yang telah dibasuh airmata ibu

Di bawah naungan kopi
aku berlindung dari kenangan
yang bersekutu dengan kegetiran

O, Sang Hyang Malam
aku sambut panggilanmu untuk ngopi
demi menyempurnakan kesepianku ini

(Surah2)

Qof Ha’ Wawu. Kopi itu petunjuk bagi
mereka yang senantiasa percaya pada sepi
Yaitu mereka yang beriman kepada rindu
mereka yang mendirikan kenangan
dan mereka yang menyerahkan malamnya
kepada senyap. Sesungguhnya mereka
termasuk orang-orang yang berbahaya.

Barangsiapa ngopi kesepiannya akan lekas diampuni
Dan mereka yang telat ngopi bakal rentan diserang sepi
Kopi yang baik adalah kopi yang begitu
diseduh dapat mengingatkan pada kekasihmu.
Terberkatilah mereka yang setiap pagi
teratur membasahi bibirnya dengan kopi

: Bahwa Ngopi menggarisbawahi adanya rizki

(Surah 3)

Cintaku hanyut bersama arus kopi yang kauseruput
Itulah sebabnya, Kekasih,batinku mudah kalut
setiap kali kau dan aku tak saling paut
Rinduku mengarus deras bersama kopi yang kauseduh
Karena itu, Kekasih, hatiku gampang rapuh
saban kali kau jauh

kuterka-terka mana yang lebih getir;
kopi yang menggenang di cangkirmu
atau rindu yang bersarang di dadaku?
Jika kelak, dengan cangkir yang sama
kausesap kopi itu, kuharap kau tak lupa bahwa
ampasnya telah menyimpan kenangan kita

Bahwa semua harum bunga
telah diringkas oleh aroma kopimu
Bahwa setiap jengkal dari masalaluku
telah disadur ke dalam kepekatan kopimu
Bahwa aku mendengar cikal-bakal sepi
berangsur bangkit dari dasar cangkir kopi

(Surah 4)

Dalam kehidupan yang sebentar ini, apa cita-citamu?
”Jadi cangkir kopi yang siap menadah kesepianmu”
Setelah ngopi denganku ini, apa harapanmu?
”Jadi kopi yang siaga menumpas kehampaanmu”

Di pagi itu ada banyak hal yang gagal kusampaikan
kepadamu
mungkin kata-kata lebih dulu mengendap di cangkir
kopimu
Dan sadarkah kita, kelak, ada saat kau+aku akan
kehabisan kopi
waktu itulah kita akan sama-sama menggigil dalam sepi

Betapa sementara, dua cangkir kita
tengadah di meja yang sama
kau atau aku, siapapun yang lebih dulu ngopi
akan selalu mampu mengurai teka-teki

andai kau kopi yang pahit itu
akulah cangkir yang siap menampungmu
akulah cawan yang membayangkanmu
sebagai kopi yang menggenang di ronggaku

: asal ada secangkir kopi
kita masih punya harga diri
asal secangkir kopi tetap ada
kita tak punya dalih putus-asa

Usman Arrumy adalah penyair kelahiran Demak, buku puisinya Jadzab (2012), Mantra Asmara (2014), Hammuka Daimun (75 puisi terjemahan arab Sapardi Djoko Damono, 2016). Sedang empersiapkan puisi-puisinya Nizar Qibbani terbit dalam bahasa Indonesia, juga sedang empersiapkan buku puisi Asmaraloka dan CD yang berisi 10 musikalisasi puisi. Kini ia sedang mengnyam pendidikan di Al-Azhar University, Kairo, Mesir. Fakultas Bahasa dan Sastra. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Usman Arrumy
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 27 Maret 2016

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi