TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Saturday, 2 April 2016

Bedoyo Robot Membelot

ANAK-ANAK perempuan itu tergopoh-gopoh menghadap guru tarinya, Raden Ayu Soelistyami Proboingrat, dengan sampurnya yang terjulai-julai kepanjangan. Menjilat-jilat tanah, sampur itu seolah mau lepas, begitu tebal dan melilit, dari jariknya yang membuat jalannya jentit-jentit. Ibu Probo menyambutnya dengan ebntangan tangan. Dan terkuasailah ruangan. Wajahnya yang sudah biasa memancarkan keayuan ditambah rambutnya yang legam panjang, membuat seluruh penampilannya sebagai tokoh yang tak tergoyahkan. Kehalusannya justru memperkokoh ketegarannya.

Anak-anak perempuan itu tergopoh-gopoh menghadap guru tarinya, Raden Ayu Soleistyarni Proboingrat, dengan sampurnya yang terjulai-julai kepanjangan. Menjilat-jilat tanah, sampur itu seolah mau lepas, begitu tebal dan melilit, dari jariknya yang membuat jalannya jentit-jentit. Ibu Probo menyambutnya dengan ebntangan tangan. Dan terkuasailah ruangan. Wajahnya yang sudah biasa memancarkan keayuan ditambah rambutnya yang legam panjang, membuat seluruh penampilannya sebagai tokoh yang tak tergoyahkan. Kehalusannya justru memperkokoh ketegarannya.

Anak-anak perempuan itu tergopoh-gopoh menghadap guru tarinya, Raden Ayu Soleistyarni Proboingrat, dengan sampurnya yang terjulai-julai kepanjangan. Menjilat-jilat tanah, sampur itu seolah mau lepas, begitu tebal dan melilit, dari jariknya yang membuat jalannya jentit-jentit. Ibu Probo menyambutnya dengan ebntangan tangan. Dan terkuasailah ruangan. Wajahnya yang sudah biasa memancarkan keayuan ditambah rambutnya yang legam panjang, membuat seluruh penampilannya sebagai tokoh yang tak tergoyahkan. Kehalusannya justru memperkokoh ketegarannya.

Anak-anak perempuan itu tergopoh-gopoh menghadap guru tarinya ....

Anak-anak perempuan itu tergopoh-gopoh ....

Anak-anak perempuan itu ....

"Anak-anak perempuan itu bekas murid Ibu. Tiga belas tahun yang lalu."

"... Atau lima belas ...."

"Tujuh belas tahun yang lalu ...."

"Nenek kami ...."

"Eyang buyut ...."

"EMbahnya embahnya embahnya embahnya embah kami," mereka menjelaskan.

Tapi malam pesta perkawinan itu sungguh meriah, hingga guru tari itu, yang wajahnya telah carut marut oleh goresan hidup, juga rambutnya yang panjang dan telah memutih itu, tidak memperhatikan obrolan, kenyataan, keterangan murid-muridnya. Apalagi yang sedang nerocos itu umur 7 tahun, mengatakan bahwa dia adalah generasi ke-8. Alangkah jauh. Alangkah lama perjalanan yang telah ditempuh seni tarinya. Seni tari RAden Ayu Probo, 87 tahun, telah dengan tekun dan setia menyelenggarakan pendidikan dengan perasaan tak bosan-bosan.

Di kamar rias darurat yang berada di dekat kamar konsumsi itu tak kalah sibuk dan ramainya. Masing-masing dipenuhi dara-dara remaja. dari 17 hingga 19 tahun. Kedengaran semua menghantarkan kebahagiaan.

"Lulur yang ada di punggung, ratain, dong."

"Bapak itu minta unjukan yang agak hangat ...."

"Memangnya ...."

"Sst, layani saja ...."

"Mataku kurang blalak-blalak ...?"

"Alis perlu dipertebal."

"Aduh bulumu ...."
(87 tahun aku telah bercokol di tempat yang lamban ini)

"Perkataan itu kurang mesra."

"Tapi kamu mennginjak sampurku."

"Lucu sekali ketika sampur itu tumpah di Mercy."
(keluwesan adalah pelajaran pertama dari seni tari)

"Menuang minuman saja, orang harus luwes."

"Titiek mau mendirikan diskotek di Jalan Senopati."

"Kamu kan udahan damai dengan si John, kan?"
(sampur itu harus bisa melenting)

"Free sex pertama justru dipopulerkan oleh raja-raja Jawa."

"Kamu ini kampungan, ke sini bawa radio segala."

"GUe gampar deh laki gue kalau macam-macam."

Terdengar gelas pecah, berdering. Di antara rasa penyesalan dan juga ketawa.

"Apa saja sih, yang dipikirin Eyang."

"Sst, dia tahu lho, kalau sedang diomongin."

"Deretan sana, sama sekali belum kebagian."

"Video yang serem itu pitanya dikusutin Siska."

Kodok ngorek, gending yang mengiringi temu pengantin itu terdengar. Sebagian gadis-gadis itu menghambur ke jendela yang menghubungkan ke ruangan yang luas, di mana pengantin berada. Mereka seperti kembang-kembang yang sedang merekah-rekahnya. Senyumannya, ketawanya, bisik-bisikannya, cekikikannya, sepak terjangnya, cara berjalannya, rasa malunya, sopan snatunnya, semuanya melukiskan watak ermajanya yang tak kurang memikatnya. Belum lagi tubuh dan susunan-susunan bagiannya. Mangga ranum.

Sepasang katak itu saling gendong. Menyelam dan menyembul. Menimbulkan ombak setinggi gunung. Membuahkan teratai dan duduklah para Nabi di atasnya. Gamelan dan suara para tamu itu ditelan sepasang katak itu. Ruang dan waktu lenyap. Rasa kepekatan yang dalam. Para malaikat merestui. Seperti silih berganti matahari dan bulan terjun dan menyembul ke dan dari lautan. Sepasang katak itu berenang cepat sekali.

Lalu sepasang binatang yang sedang mesra-mesraan itu jatuh di haribaan Soelistyami, 23 tahun, yang telah mulai mengajar. Gadis jelita ini kaget bukan main. Tapi karena kedua katak itu langsung mengikuti latihan menari bersama murid-murid manusia yang lain, guru muda yang sudah waktunya dipetik itu, menjadi terharu. Dia mengajar sambil meneteskan air mata. Murid-murid yang mungil tidka melihat gurunya sedang terharu. Mereka sibuk dengan sampur dan lambaian ujung jariknya.

Ketika pengantin laki-laki menginjak telur, seketika itu juga suara puluhan terompet menikahi suara gamelan itu, entah dari mana. Bau wangi campuran ramuan kayu cendana dengan bunga sedap malam memenuhi hidung seluruh hadirin. Ruang dan waktu mengokohkan. Gelas dan lepek saling berbenturan. Sendok garpu memukul-mukulkan dirinya pada piring. Kuah yang diaduk di dapur melonjak-lonjak dengan sendirinya. Api menjilat-jilat dengan tertib. Semuanya di dalam batas yang seyogyanya. Sebab, jika tidak demikian, malam pesta yang bagus itu akan terganggu.

Seetlah upacara temu itu selesai kembali gamelan mendengungkan musiknya untuk mengiringi tujuh belas penari Bedoyo. Ayu-ayu, remaja putri yang membuahkan semangat. Merekahkan suatu nilai yang gelang gemilang, yang ditebak bisa, tapi dipegang jangan.

Sekarang ada bau lain lagi yang semerbak mengatasi indra mata: kayu cendana, bunga sedap malam, ratus dan jebat kesturi, aduklah menjadi satu. Bau ini menguap dari tubuh para penari. Yang membalutnya seperti asap yang ikut ke mana-mana. Atau para penari ini baru saja keluar dari lemari es.

Melayang. Ya, kaki-kaki yang mungil dan mulus itu tidka menginjak tanah. Ujung jariknya berkibaran. Para niyaga, yang menabuh gamelan dengan mata antara jaga dan tidur itu menjaga keseimbangan ini, tidak saja secara emosi tapi suasana juga menjadi tanggung jawabnya.

Di atas semuanya itu, guru tari mereka, eyang itu, memegang kemudi. Langit dan bumi seperti di telapak tangannya. Ruang dan waktu seperti di sakunya. Matanya yang memancarkan kendali dari segala jenis keluwesan itu, tak pernah melepas menerkam anak-anak didiknya yang lemah gemulai. Menengadah dna miring. Lalu terbang mengitari mempelai, itu yang bila dilihat dari hukum keseimbangan, mereka pasti sudah jatuh terkapar di lantai.

Bedoyo apakah ini, yang ditarikan sebanyak itu, 17 orang, ternyata belum memiliki nama. Juga sang guru sulit memberikan alasan dari segala komposisi gerak yang hadir itu.

Di dalam undnagan dicantumkan selama 2 jam segala acara akan berlangsung. Tapi, karena tari Bedoyo ini tak kunjung rampung juga panitia mulai membuat kegaduhan yang merembet ke para tamu. Perasaan kurang senang ditujukan kepada eyang guru itu. Dan orang tua ini mengangkat bahu.

Maka di tengah tari-tarian yang mestinya selesai dalam 15 menit, sampai setengah jam kelihatannya belum apa-apa. Panitia mengumumkan supaya para hadirin menikmati makan malam yang sudah lama disediakan. Para tamu lalu berbondong-bondong antri di dua buah meja makan yang penuh lauk-pauk yang menerbitkan selera. Makan sambil berdiri, para tamu ngobrol sambil acuh tak acuh melihat kelanjutan tari suguhan itu.

Tiba-tiba seluruh penari turun dari pentas. Dengan masih dalam gerakan menari, mereka keluar ruangan. Gamelan masih terus mengiringinya. Cuma sekarang para penabuh benar-benar telah tertidur. Orang-orang jadi gempar. Eyang Soelistyamisudah tak mampu mengatasinya lagi. Beliau kelihatan gemetar. Keseimbangan itu telah goyah.

Atau jangan-jangan para penari telah memeproleh suatu keseimbangan yang lebih besar. Atau kebebasan mutlak. Begitu mereka sampai di pelataran, para tamu menghambur mengikutinya sambil menenteng piring nasinya. Yang punya hajat pesta itu juga merubung eyang guru itu. Tapi guru itu cuma menjawab dengan lelehan peluh di sekujur tubuhnya. Perempuan tua itu mula-mula kelihatan terhuyung, tapi ternyata itu ancang-ancang untuk melayang di udara. Dia kerahkan seluruh kekuatan dan keampuhan etnaganya untuk merebut kembali kendali yang kelihatan sudah tanpa harapan itu.

Orang tua para penai menjadi kecut. Beberapa ibu menjerit. Ada juga yang sudah jatuh pingsan. Ayah para penari tak dapat berbuat lain kecuali memeluk ibu-ibu yang berkaparan itu, sambil memandang putri-putri mereka yang makin menjauh. Ruang dan waktu buyar. Harapan untuk menggenggam kepekatan kelihatan tak mungkin terjangkau lagi.

17 penari itu makin lama makin tak tampak. Menuju horizon yang tak terhingga. Mereka seperti ditelan cakrawala. Lenyap. Dalam arah yang berlawanan, para penari lenyap ke Selatan, sedang guru mereka, Ibu Soelistyami melayang lenyap ke Utara, dalam ekadaan yang sama sekali tak berdaya.

Ketika orang-orang yang pingsan itu bangun kembali, mereka mendapatkan dirinya dalam keadaan segar-bugar. Suami-suami itu membimbing isteri-istreinya kembali ke bangsal pesta. Juga ditenteng piring dan gelas yang rupanya belum habis disantap. Sedang orang-orang yang tercengang itu kembali mendapatkan tubuhnya seperti habis bangun tidur.

Pesta itu meriah kembali, seperti tak pernah terjadi peristiwa yang kurang mengenakkan. Tapi begitulah paling tidak yang dirasakan semua orang, juga sang tuan rumah yang punya hajat. Tidak ada sesuatu pun yang pernah terjadi hingga pesta itu terganggu. Apa itu? Jadi yang tadi itu kejadian apa? Kejadian yang mana? Yang itu tadi! Tadi mana? Allah, yang barusan itu apa? Jangan mengada-ada, ah!

Beberapa orang emmang seperti merasakan ada sesuatu yang mengganggu pesta, tapi diingat-ingat kembali peristiwa apa itu, tak dapat seorang pun menceritakan lagi. Seperti ada di balik tembok tebal yang jauh di sana. Mimmpi yang terhapus. Apa itu?

Tapi para niyaga menabuh instrumen gamelannya juga dalam keadaan yang menyenangkan. Mereka juga merasa tak ada kejadian apa-apa selama pesta yang berlangsung mulai jam 7 tadi. Sungguh, tak ada sesuatu pun yang tak beres. Panitia bagian konsumsi juga lancar dalam pekerjaannya. Hanya memang tak pernah ada itu yang disebut ruang rias. Tak pernah ada penari. Karena memang tak ada acara tari-menari. Seni tari? Kenapa kamu sebut-sebut hal yang tak pernah ada dalam malam pesta ini?

Ibu-bapak dan saudara-saudara yang hadir malam itu dalam kondisi yang sebagus-bagusnya. Tak ada yang salah dalam tulang belulang dan otot daging mereka. Lalu kejadian yang barusan hadir dalam mata kepala mereka itu apa? Tak ada kejadian apa-apa. Tak ada tari-tarian. Tak ada Bedoyo. Tak ada penari. Tak ada Raden Ayu Soelistyami Probo Ningrat. Tak ada itu semua.

Sekali lagi ke 17 penari itu apa? Tak ada penari! Tak ada? Lalu Ningrum? Tak ada Ningrum. Bapak ibu Soetoyo tak pernah punya anak yang bernama Ningrum. Lalu Ningtyas? Tak ada apa itu yang disebut Ningtyas. Bapak -ibu Broto tak pernah merasa punya putri yang bernama Ningtyas. Prapti? Tuti? Sisri? Rika? Bonnie? Siska? Ting Ting? Wiwied? Iwuk? Rini? Nungki? Yeyen? Roussy? Pingki? Yuli?.....????????

Ibu bapak dan saudara-suadara yang hadir malam itu dalam kondisi yang sebagus-bagusnya. Mereka yakin bahwa dalam undangan pesta perkawinan itu tak pernah ada dicantumkan acara tarian.

Jakarta, 7 April 1981

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto 
[2] Pernah terpublikasikan di dalam buku kumpulan cerpen Danarto berjudul "Adam Ma'rifat" yang diterbitkan tahun 1982

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home